Jumat, 04 September 2026

Antologi 25 : Kebaikan adalah warisan terbaik (Tak terhingga sepanjang masa, Wonderful Agustus26)

Kebaikan adalah Warisan Terbaik

Oleh: Putri Eka Sari

“Kebaikan adalah salah satu investasi yang tak pernah gagal .”

Hari ini adalah ramadhan pertama dalam hidupku sebagai anak rantau yang tinggal di luar kota. Jauh dari keluarga dan sanak saudara, membuatku merasa asing berada di kota kecil, Nusa Tenggara.

Padahal biasanya dahulu dimana saja Aku bisa menemukan beragam menu makanan yang bisa dikirim instant. Go-food adalah penyelamat saat Ibu sedang tak masak atau ingin mencoba menu viral terbaru di Jakarta.

Di tengah kota kecil ini Aku di tugaskan kantor pusat untuk bekerja dengan hanya didampingi dua orang rekan laki-laki yang notabene tak kenal terlalu dekat. Membuat semuanya terasa membingungkan, hampa dan sepi. Menghadirkan kilasan rindu akan kenangan ramadhan yang hangat, saat berkumpul dengan keluarga. Duh sang melankolis sedang home sick..

Tok.. tok.. Tiba-tiba ketukan di pintu menyadarkan lamunanku. 

Ah.. siapa sore-sore senja menjelang magrib begini ke rumah. Bukankah di kota ini Aku belum kenal banyak orang. Mungkinkah pekerja proyek di taman depan yang sedang merapihkan taman, atau siapa ya? Sambil terus menebak-nebak Ku hampiri pintu perlahan

"Nak.. ini ada kolak sedikit buat buka puasa.." Kata Seorang Ibu separuh baya, setelah pintu terbuka.

"Eh.. iya Bu.." Jawabku kebingungan, ini Ibu entah siapa dan darimana datangnya, kok tiba-tiba memberikan kolak, batinku.

"Saya Bu Joko, Bu RT disini.." Bu Joko memperkenalkan diri.

"Kelihatannya kamu tinggal sendiri ya.. Ayo mampir ke rumah Ibu di ujung gang itu ya kapan-kapan.. " Jari Bu Joko menunjuk ke rumah bercat orange di ujung jalan, sambil terseyum ramah dan bersiap meninggalkan rumahku karena sebentar lagi azan akan tiba.

Oh.. ternyata Bu RT di komplek perumahan ini. Aku yang orang baru, memang masih belum banyak kenal orang di sini, masih gagap dengan kehadiran orang lain.

"Baik Bu.. terimakasih ya.." Jawabku sambil membalas senyumannya. Memperhatikannya pergi dan menutup pintu.

Aroma kolak yang manis dan harum pandan menyeruak masuk ke hidung dan mengudara di sekitarku. Hidangan itu terlihat menari-nari cantik dalam mangkuk, berisi pisang, ubi dan pacar cina berpadu dalam warna-warni. Tersaji dengan menggiurkan.

Semerbak sendu menghadirkan bayangan wajah Ibunda di kampung halaman. Sesuatu yang dulu mungkin rasanya biasa saja ketika masih bersama. Kala Ibu membuatkanku kolak sebagai hidangan berbuka puasa dahulu, sebelum aku pindah untuk dinas kerja di luar kota. 

Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Tak terasa, azan magrib pun berkumandang di masjid dekat rumah. Menandakan waktu magrib dan berbuka puasa telah tiba. Selepas membatalkan puasa dengan membaca doa berbuka, meminum segelas air putih dan sebiji kurma. Aku pun tak sabar menikmati hidangan kolak yang tersaji di meja.



Suapan pertama ketika kuahnya meluncur di lidah, entah mengapa menimbulkan rasa yang istimewa. Hmm.. Enak, tak terlalu manis. Ada sensasi menenangkan mulai mengalir dari tenggorokan ke hatiku.

Aliran energi yang sebagian orang bisa rasakan, jika menyantap makanan yang dimasak dengan penuh cinta, suka cita dan keikhlasan. Dan Aku pun menyesapi rasa itu di sana lewat suapan kolak dengan gembira.

Yang Allah izinkan hadir dari seorang Ibu tetangga yang tak ku kenal secara akrab. Meski Aku yang jauh di sebrang pulau. T atas kasih Allah jugalah yang menggerakkan hati Bu RT untuk memberikan semangkuk kolak kepadaku.

Hal yang mungkin terkesan remeh bagi orang lain, namun bagiku yang sedang kesepian di kampung orang. Dan tengah dilanda rindu, semangkuk kolak datang dengan beragam makna.

Aku jadi teringat, di ribuan kilometer nun jauh di sana. Ibuku yang juga sering berbagi makanan ke tetangga sebelah rumah. Bahkan terkadang berbagi makanan ke orang yang tak ia kenal, diantaranya tukang sol sepatu yang pernah tak sengaja berteduh di depan rumah saat hujan. 

Atau Ayah yang sering mentraktir teman-temannya makan siang, terutama di saat tanggal tua, belum gajian. Ah.. ternyata kebaikan itu seperti benih. Balasan serta tunas kebaikan tak selalu datang saat itu juga, namun bisa beberapa tahun kemudian. Meski jauh jaraknya, kebaikan bisa saja sampai. Bahkan serupa tabungan yang mungkin akan di tuai ketika di akhirat kelak, selayaknya investasi jangka panjang.

Saya pun menyaksikan langsung, bahwa kebaikan adalah warisan terbaik dari orang tua pun akan sampai kepada anaknya. Meski dimanapun sang anak berada. Allahumma baarik, Terimakasih Ayah dan Ibu..

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejehatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (pula)." (QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8) #PutriEkaSari, Jan26

 

Profil Penulis:

Nama               : Putri Eka Sari S.T

Profesi            : Penulis

Domisili           : Jakarta

Alamat Pos-el : putri.ekasari@gmail.com

Media Sosial  : putri ekasari (Fanpage Facebook), @putrie_bundapaipia (Instagram)

Antologi 24 : Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan (Keping Lazuardi Hidupku, Agustus26)

Dibalik Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

oleh Putri Eka Sari

"Go**** Idiot.." Kata itu kembali dilayangkan kepadaku.. 

Terasa bergetar sakit masuk ke dalam telinga lalu menembus ke hati, di panas terik ini. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini sudah beberapa kali aku di semprot oleh Bos ku.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Juga tak bisa membantah kata-katanya.

Diam adalah cara terbaik agar amarahnya tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Kataku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Akhirnya jantungku baru terasa berdetak lagi.

Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang sekali dua kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, selalu salah di matanya.

Beberapa kali aku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh kesah mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu kepadaku. Bukankah seharusnya Namanya seperti Bayu, Air yang adem, dingin menenangkan.

Aku sering bertanya tanya pada sobatku, bukankah seharusnya atasan bisa menaungi bawahannya dengan baik? Bukan malah sering menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya bergumam.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja ini melawan senior, apalagi bos.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu. Lembek.." Balas Aisyah Sambil memegang lenganku..

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur" Ujarnya lagi sambil membujukku. Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Namun karena posisiku persis di bawah Pak Bayu dalam struktur perusahaan, aku kerap lebih sering bersinggungan pekerjaan dengan Bosku itu.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Kumisnya yang tebal seperti Pak Raden dalam serial Unyil, makin membuat wajahnya terlihat sangar.

Kumis tersebut akan bergerak turun naik diiringi amarah yang kadang tetiba muncul. Begitu reaktifnya seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, tak ingat waktu dan tempat.

Pernah di suatu malam hari, saat libur pun aku di telponnya. Karena Beliau ingin meminta reschedule tiket penerbangan. Ingatanku melayang kala itu..

"Resti, ini saya sepertinya telat check-in di Bandara Juanda, Ada pawai menyambut ramadhan tadi di jalan." Katanya di seberang telepon, setengah panik karena besok pagi harus sudah sampai Jakarta untuk meeting dengan klien.

"Coba kamu pesankan pesawat berikutnya yang bisa langsung berangkat" Perintahnya tanpa memberi salam, atau memberiku jeda untuk bertanya dan menjawab.

"Baik Pak.." Aku hanya bisa menjawab singkat. Mencerna apa yang harus ku lakukan setelahnya.

Sebagai anak buah, tentu aku tak bisa menolak perintah atasan. Aku yang di Jakarta tentu harus memahami situasi dengan cepat dan gercep dalam bertindak.

Meski aku tak melihat langsung di lokasi, yang kala itu kabarnya jalanan Surabaya yang macet parah. Sehingga praktis Pak Bayu ketinggalan check-in masuk ke pesawat. Dan tentu saja aku harus siap dengan tugas, stand by untuk mengklik tiket penerbangan berikutnya.

"Malam Pak, Itu penerbangan terakhir ke Jakarta Pak malam ini" Sahutku kembali menelepon Pak Bayu.

"Tiket baru ada besok subuh Pak" Kataku lagi.

"Jika tak ada jadwal penerbangan, pesankan kamar saya di hotel biasa" Jawabnya sambil mematikan telpon, tanpa ucapan terimakasih.

Aku menjawab "Siap.." Diantara nada telpon yang sudah di tutup, mati.

Ya, aku harus siap membooking hotel sesuai keinginannya. Ia tak peduli jika uang nya harus ku talangi dengan uang pribadiku dahulu. Tak peduli jika itu bukan deskripsi pekerjaanku. Anggapannya, meski aku merupakan staff accounting, aku harus siap setiap saat untuk melakukan pekerjaan lain yang berhubungan dengannya. huffft.. Begitulah sebuah konsekuensi kerja di perusahaan.

Jika tak siap, dapat Ku bayangkan. Kala amarah melanda, raut muka Pak Bayu yang merah padam. Seolah kereta api uap yang sedang mengepul uap keluar dari atas kepalanya.

Sifatnya yang perfeksionis selalu meminta tiap pekerjaan sesuai dengan keinginannya, tak boleh bercela. Bahkan untuk titik dan koma harus sesuai letaknya di proposal yang ia minta. Layaknya membuat skripsi yang sempurna.

Ya.. begitulah konsekuensi bekerja dengan orang lain. Aku hanya bisa mengelus dada setiap harinya. Di mana Bos selalu benar, dan tentu bawahan yang selalu di salahkan.

Beruntungnya aku makian itu bukan berupa kata-kata binatang, seperti cerita seorang temanku di perusahaan lain. Ketika Bos nya marah, kata makian berupa umpatan dengan nama hewan di kebun binatang. Seperti Anjing, Monyet, Babi, akan dilayangkan padanya tanpa pandang bulu. Hingga tak terhitung berkali-kali temanku menangis, sedih.

Padahal tentu hal seperti ini tak pantas untuk dilakukan. Karena pasti akan menyinggung perasaan orang lain.

Pantaslah, jika bekerja dengan orang seperti ini bisa menyebabkan stres, depresi, sebuah penyakit mental bagi sebagian orang. Bahkan beberapa orang lain mengalami sakit hati, dan tersulut emosi kadang bisa terjadi.

Tak terhitung banyak kasus dan kejadian yang kita dapat jumpai di media sosial atau TV. Bermacam kasus kriminal yang disebabkan emosi dan amarah. Mengingat tidak adanya respect, saling menghormati antara atasan-bawahan, bos dan anak buahnya.

Waktu berganti, beberapa tahun kemudian..

Aku tiba di Bandara Haneda Tokyo, menjinjing koper dengan gembira. Siap untuk liburan di Disneyland, dan beberapa tempat wisata lainnya di Jepang.

Atas rekomendasi Pak Bayu, aku bisa mendapatkan reward 15 tahun bekerja di Perusahaan. Allah memberikan hadiah manis dari setiap kesabaran yang telah kupupuk selama bertahun-tahun lamanya.

Atas izin dan karunia Allah, aku dididik dan diasah seperti intan. Yang ditempa dengan berbagai ujian. Aku berusaha menjalani segala ujian yang Allah berikan dengan sabar dan berusaha ikhlas. Meski terkadang berat, galau, sedih ingin nangis bombay berhari-hari, bahkan beberapa kali ingin resign dari pekerjaan.

Tapi Aku percaya, semua akan menjadi indah dan berbuah manis pada waktunya. Seperti sebuah hadis Rasulullah: Man Shabara Zhafira; Barang siapa yang bersabar, ia akan beruntung.

Aku berusaha kebal dengan cercaan, makian serta tumpukan kerjaan yang ada. Berat tentu saja jika dirasa-rasa, namun Aku berusaha mengalihkan perasaaan dan melihat sisi hal lain yang mungkin bisa dipelajari dari tiap kejadian.

Sebab, diri sendiri lah yang memiliki peran atas regulasi emosi yang ada dalam kehidupan. Diri sendiri yang harus memilih, untuk bisa tegak serta bertahan atau terpuruk. Dan alhamdulillah perjuangan dan proses yang ku lewati dengan ridho, keyakinan dan doa orang tua membuahkan hasil.

Teruntuk teman-teman lainnya yang masih berjuang, mari yakin terhadap Allah dan jangan menyerah.. Karena selepas hujan, ada pelangi yang indah dan terang yang menyertainya.

#PutriEkaSari , Maret25

 

Antologi 23 : Meluruskan Niat, Menata Ikhlas (Belajar Melepaskan, Alineaku26)

 Meluruskan Niat, Menata Ikhlas

Oleh Putri Eka Sari

Mbak... jangan lupa uangnya, ini saya butuh banget buat lebaran, ga punya uang, jadi tak ada makanan di rumah” Ucap Bang Bokir sambil berkata lirih.

“Nanti saya bawakan sembako dan ketupat kalau begitu bang” Jawabku Iba sambil berusaha memberikan solusi.

“Kalau bisa uang aja Mba, biar anak-anak bisa beli baju lebaran, kasian Mbak kalau teman-temannya pakai baju baru, sementara anak saya ga punya” Bang Bokir merayuku agar memberikan uang sebagai pengganti sembako, menurutnya uang lebih penting dan dibutuhkan saat hari lebaran.

“Bocah pengen juga makan daging rendang ama kue nastar kayak di rumah sodara-sodaranya mba” Lanjutnya lagi.

“Lah kalau uang pinjaman kemarin aja belum lunas hutangnya bang..” Pungkasku, bermaksud agar Bang Bokir tak terlalu banyak hutangnya menumpuk, mungkin Aku bisa memberikan bahan kebutuhan saja untuk keperluan lebaran di rumahnya.

Ingin ku melanjutkan, Bang ga usah dipaksakan, masak rendang ayam aja biar tak terlalu mahal. Tapi kata itu tercekat di tenggorokan dan tak sampai hati terlontar, khawatir nanti disangka menggurui orang yang lebih tua, pikirku.

“Utang mah gampang Mba, Nanti tinggal potong aja kalau saya kerja di rumah mba, hitung aja nanti juga pasti lunas” Celetuknya enteng, seolah itu adalah perkara mudah.

Aku hanya mengelus dada, tak terhitung berapa banyak utang bang Bokir yang sering gali lobang tutup lobang dariku atau tetangga lain.

“Siap..” Ujarku mengiyakan, malas untuk mendebatnya.

Dalam hati hanya bergumam, yang penting jangan dibeliin rokok aja ini. Bukan karena Aku tak ikhlas meminjamkan. Bukan pula karena berburuk sangka pada Bang Bokir. Namun sudah menjadi rahasia umum antara tetangga, tentang kebiasaan Bang Bokir yang seorang perokok berat.

Ia yang memiliki pekerjaan serabutan di lingkungan rumah kami, paling senang diberikan upah dalam bentuk uang dan rokok. Ketika mengerjakan plafon rumah Ibu pun, Ia lebih memilih diberikan uang untuk rokok daripada kami berikan snack atau makan siang. Baginya dengan rokok beban hidup terasa lebih ringan, pikirannya lebih tenang ketika ada rokok di tangan.

Seolah dengan asap rokok yang membumbung keluar dari mulutnya, masalah bisa terbang terbawa angin entah kemana, meringankan beban hidup yang ia pikul. Hingga Ia akan rela menghabiskan berpuluh batang rokok sehari disertaI kopi, namun jarang makan.

Padahal bukankah paling baik jika uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan pokok keluarga atau ditabung untuk masa depan anak-anak? Sehingga mereka tak lagi kekurangan financial. Aku beristighfar sambil bertanya-tanya sendiri dalam hati, bukankah yang dibutuhkan tubuh adalah nutrisi dari makanan.

Mengapa malah begitu banyak orang yang memilih memasukkan racun ke dalam tubuh mereka lewat rokok. Hii.. Aku bergidik ngeri akan ratusan pertanyaan yang memenuhi kepala. Begitupula sang Istri bang Bokir, Mpok Siti memiliki sifat yang mirip.

Setali tiga uang dengan sang suami. Ia pun senang berhutang namun untuk membeli barang yang tidak perlu. Entah kredit panci, perabotan rumah, membeli perlengkapan sekolah anak-anak yang begitu lux, dan baju yang rupawan atau sekadar nongkrong di kafe atau berjalan-jalan di mall kala weekend. Baginya itu adalah self reward untuk dirinya yang ikut mencari nafkah pontang panting sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah tetangga.

Rasanya ikut pening kepala, kala ku bertanya keheranan tentang perilakunya yang gemar meminjam padaku atau tetangga lain, saat tagihan kontrakan belum terbayarkan.

“Mpok, bukannya capek kalau punya hutang banyak?”

“Ga Kok mba, malah saya jadi semangat berusaha lebih keras, cari duit buat bayar hutang” Jawabnya lugas.

Hal yang kemudian membentuk karakter anak-anak mereka di kemudian hari. Bahwa hidup enak untuk hari ini, adalah bentuk menikmati rasa syukur. Dengan keyakinan, esok hari pasti Tuhan akan berikan jalan-Nya. Ah, Sungguh Aku tak berani menilai seberapa keras hidup orang lain. Dan bagaimana orang lain mencoba untuk bertahan tetap waras, mencari kompensasi, pengalihan stres ditengah gempuran kesulitan ekonomi serta ujian yang bertubi-tubi.

Tentu prinsip hidup tiap orang berbeda-beda, Aku berusaha menerima tanpa menghakimi. Mungkin hidupku saja yang agak berbeda dengan orang kebanyakan. Sering dicap terlalu sederhana. Hingga nyaris menggunakan suatu barang hingga benar-benar rusak baru membeli.

Tak terbilang dasterku yang itu-itu saja, robek pun siap untuk ditambal sulam. Terlihat begitu kontras di tengah gempuran fashion yang menggoda di mall, medsos, e commerce maupun baju thrifting bermerk terkenal yang banyak ditampilkan para selebgram.

Mungkin Aku terlalu memandang simple sesuatu, hingga berusaha tak ikut arus konsumtif dan hedonis sebagian besar orang. Namun ada masa depan yang sedang ku tata, terutama untuk pendidikan anak-anak yang sedang diperjuangkan.

Mari sibukkan diri tak hanya berpikir tentang hari ini, namun siapkan untuk berinvestasi, memikirkan atau menata masa depan kala tua dan pensiun kelak. Agar bisa hidup berdikari di atas kaki sendiri dan tak merepotkan anak-anak, bertekad sehat serta mapan secara financial, slow living tanpa terlibat hutang yang membebani.

Kisah di atas adalah sebuah refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan ikhlas. Meski beberapa orang di sekeliling menguji kesabaran,dan niat kita dalam membantunya. Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (QS Al Baqarah: 155). PutriEkaSari, Apr26.

Antologi 22 : Mie Ayam Kesukaan Ayah (Langit Dibahunya-Alineaku Juli26)

 Mie Ayam Kesukaan Ayah

Putri Eka Sari

Ku sendokkan suapan terakhir mie ayam pangsit rebus beserta kuahnya yang gurih ke mulut Ayah. Tentu jika dokter melihat, Ia akan melarang Ayah makan mie ayam. Karena kaldunya yang enak kaya akan micin, penyedap. Tapi kali ini biarlah, Aku ingin memberikan sedikit kelonggaran, sehari saja. Kulirik Ayah yang asyik melahap habis mie dengan antusias.

Menyisakan mangkuk kosong di hadapan, kandas tak bersisa hingga tetes terakhir. Entah mengapa melihatnya menimbulkan sesak yang tersirat di hatiku, sesuatu yang tak bisa kulukis dengan kata. Ayahanda yang dahulunya gagah perkasa, kini terkulai tanpa daya di tempat tidur. Penyakit stroke telah menggerogoti tubuhnya beberapa tahun belakangan, semakin menyebabkan Ia kesulitan untuk berjalan, berpikir bahkan menelan.

Namun sepertinya lidah sebagai indera perasanya tetap berfungsi. Maka tak ayal jika diberikan mie ayam, matanya seolah bersinar menikmati helai demi helai mie yang masuk ke dalam mulutnya. Meskipun tak terucap kata dari bibirnya yang terkunci akibat penyakit ini.

Mungkin kelezatan mie ayam masih memiliki tempat tersendiri di ruang hatinya. Meninggalkan kenangan indah saat menikmati mie favorite dengan bumbu racikan istimewa yang memanjakan lidah. Potongan hal kecil yang masih terpatri dan tersimpan di sebagian memori otaknya.

Ya, Mie ayam adalah makanan kesukaan Ayah. Menu favorite yang murah meriah, praktis, simple dan mudah dicari dimana saja. Bahkan kita banyak menemui di pinggir jalan, abang penjual mie ayam dengan gerobaknya yang khas. Kemanapun kami pergi jika keluar rumah, pasti mie ayam adalah makanan andalan yang pertama kali dicari.

Bagiku, sesi terbaik ngedate bersama Ayah adalah saat memakan penganan ini bersamanya. Akan kulihat binar indah di matanya, pertanda sukanya terhadap makanan ini. Apalagi jika dimakan di tempat kios mie ayam langganannya, wah.. dijamin semangkuk mie pun bisa tandas dengan cepat dalam hitungan menit. Jangan ditanya seberapa seringnya kami ditraktir mie ayam oleh Ayah.

Biasanya kami hanya bisa makan di waktu tertentu, di awal bulan. Satu hal yang menandakan bahwa Ayah habis gajian. Sesi dating anak-Ayah ini mungkin hanya suatu yang sederhana, tidak mewah dan biasa saja bagi sebagian orang.

 Tapi bagiku saat itu, makan mie ayam merupakan sebuah ritual makan di luar yang menyenangkan, di tengah kondisi hidup dengan ekonomi yang pas-pasan. Sehingga jajan pun hanya bisa dihitung dengan jari. Meskipun nyaris tidak setiap bulan, karena program penghematan ketat yang dijalani Ayah dan Ibu kala itu, yang sedang fokus membangun rumah.

Maka menyantap mie ayam kala itu terasa begitu wah. Karena sehari-hari Ibu hanya akan menambal penganan cemilan kami dengan memasak sendiri di rumah. Memanfaatkan bahan yang ada di kebun atau lingkungan sekitar tempat tinggal. Dari semangkuk mie ayam, Aku pun belajar arti ketulusan seorang Ayah.

Di balik diamnya dan meskipun didera kekurangan financial, pusing serta lelahnya menghadapi pekerjaan yang tak pernah Ia ceritakan. Ia sisihkan uang untuk mentraktir anaknya bergantian. Tiba-tiba ingatanku melayang ke suatu siang yang panas.

Selepas interview pekerjaan di pusat kota. Kami memarkirkan motor, dan duduk di bangku kayu Abang penjual mie ayam pinggir jalan. Sambil tak bersemangat, Ku aduk sambal diantara tumpukan mie yang sarat dengan ayam kecap, bawang goreng dan topping favoritku, pangsit rebus.

”Sudah jangan ditekuk gitu mukanya” Kata Ayah yang mungkin memperhatikan mukaku yang masam selepas interview tadi. Ia rupanya bisa membaca bahasa tubuhku yang kecewa, meski di antara debu jalanan dan bisingnya kendaraan yang hilir mudik. ”Maafin Aku yah.. sampai sekarang belum bisa diterima kerja, padahal Ayah sudah repot mondar-mandir antar” Ucapku sambil tertunduk, malu.

Ada perasaan sedih, kecewa dan rasa bersalah jadi satu yang membebani pundakku. Bagai batu berat tak terlihat yang bertengger di atas bahu sang anak pertama. Karena belum bisa mewujudkan harapan orang tua yaitu mendapatkan pekerjaan yang layak.

Energi negatif menggelayut membuat tubuh semakin lelah. Karena beberapa kali mencoba ikut interview kerja dengan diantar Ayah. Namun hasilnya masih nihil, belum juga diterima bekerja. “Tidak apa kak, insya Allah rezeki ga akan kemana” Jawab Ayah sambil tersenyum.

“Tetap berusaha lagi ya Kak, nanti akan Ayah antar. Percayalah, Allah Tidak tidur, pasti akan ada jalannya untuk Kakak” Katanya terus menyemangati hatiku yang sendu.

“Iya yah, terimakasih ya..” Mataku mulai berkaca kaca.

Dalam hati Ku kumpulkan lagi serpihan keyakinan itu, bahwa Aku pasti akan menemukan pekerjaan yang terbaik. Saat ini mungkin belum waktunya. Ingatan itu seperti flashback yang menarikku kembali. Ah.. ternyata doa terbaik itu tak hanya dari Ibu, Ayah juga berdoa dalam diamnya.

Ia mungkin tidak berisik bercerita tentang lelahnya, atau dalam mengungkapkan perasaannya. Namun jelas terlihat dalam tindakannya. Ada cinta diam-diam dan kerja keras yang dilakukan untuk anak-anaknya. Meski Ia mungkin tak sempurna dan selalu hadir saat paling genting dalam kehidupan ananda.

Namun tetap diluangkannya waktu untuk mengajak anaknya meski hanya sekedar makan sederhana. Sebuah ritual yang ku kenang indah, hingga sebelum menikah. Meninggalkan jejak waktu tentang gambaran indah hubungan Ayah dan anaknya. Sebuah doa khusyuk ku panjatkan kepada Allah,

“Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira: Ya Allah ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil (QS Al-Isra:24). PutriEkaSari April26




Kamis, 30 April 2026

Antologi 21 : Perempuan yang Berani Berkata Tidak (Yang Tak Terucap, Alineaku Apr26)

Perempuan yang Berani Berkata Tidak

Putri Eka Sari


Buku Antologi : Yang Tak Terucap

"Sayang.. Bisa pinjamkan Aku uang lagi? Aku ingin interview dan butuh uang pelicin agar lolos tes” Desak Mas Bimo kepadaku.

“Lagi??” Tanyaku sambil menatap matanya yang coklat bening, lama. Bulu mata lentik dan rupanya yang menawan tentu mampu meluluh lantakkan banyak hati perempuan. Entah berapa banyak wanita yang mungkin bertekuk lutut dihadapannya.

Aku menatap ke dalam mata itu, berharap Tuhan memberiku jawaban. Atas ragu, sesuatu yang berdesir dalam hatiku yang tak bisa dimengerti. Pernyataan Mas Bimo tadi membuat mataku yang mengantuk tertiup angin danau yang sepoi-sepoi seolah disentak dan ditarik kelopaknya, mataku membelalak.

Tak tau mengapa angin danau yang sejuk, sinar mentari senja yang teduh tak bisa menenangkan perasaanku yang tak enak. Tetiba terlintas pikiran aneh menelusup, Ah pantas saja tadi Mas Bim mengajakku ke Danau yang terkenal romantis bagi beberapa pasangan.

“Bukankah yang lalu saja 2juta belum Kembali mas? masa sekarang lagi?” Tanyaku menyelidik, di tahun kedua hubungan kami yang seperti jalan ditempat.

“Lalu bagaimana dengan interview sebelumnya mas? Apakah berhasil?” Cecarku dengan berbagai pertanyaan kepada Mas Bimo, seseorang yang kuanggap kekasih.  

“Masa kamu ga percaya kalau sudah lolos tes akan ku kembalikan de? bahkan lebih”Jawabnya sambil menatap dan meremas tanganku, seolah ingin meyakinkan, agar Aku mempercayai tiap kata-katanya.

”Ini berarti kali kedua Mas, apakah tak ada pekerjaan yang tak perlu pakai pelicin segala?” Ucapku sambil berpikir, karena jika Aku meminjamkan uang. Tentu setelahnya Aku yang harus berhemat selama satu bulan ke depan. Maklumlah gaji UMR, tentu harus bijak mengelola keuangan.

”Kamu kan tau, saat ini sulit mencari pekerjaan jika tak punya koneksi, maka uang pelicin itu dibutuhkan”Lanjut mas Bimo lagi.

“Anggap saja pelicin itu nanti untuk Tabungan pernikahan kita de” Pungkasnya ringan, seakan-akan Aku terlalu perhitungan kepadanya yang sedang berusaha menata masa depan kami.

Aku hanya menunduk, diam. Berusaha berdalih, mencari kata-kata untuk menyanggahnya yang menyebut pernikahan. Sebuah kata manis yang tentu saja menjadi impian banyak Perempuan. Menikah dengan pria pujaaan tentu menjadi tujuan masa depan di salah satu fase hidup.

Perempuan mana yang sudah dalam usia matang sepertiku begini, tak menginginkan pernikahan, batinku.

Bahkan perempuan sebayaku sudah beberapa menggendong anak, tak terhitung teman-teman kecil yang sebaya sudah beranak dua. Tapi Aku, masih saja merasa betah sendiri, karena menurut orang tuaku, sifat diri ini yang begitu selektif, pemilih.

Sementara kedua orangtuaku begitu takut jika anaknya disebut perawan tua, dicap tak laku oleh tetangga di kampung. Astaghfirullah, Aku beristighfar dalam hati.

Tapi, salahkah jika aku memilih untuk masa depan yang lebih baik? Pertanyaan itu entah mengapa terus hinggap di kepalaku.

Hal yang mungkin lumrah bagi perempuan terutama yang sudah cukup matang sepertiku. Jika memiliki sifat yang perasa, sensitive, dan didasari dengan insting. Sesuatu yang merupakan anugerah dari Allah untuk hambanya, Perempuan.

Meski perempuan mungkin mudah takluk oleh cinta, seperti banyak digambarkan dengan lagu-lagu. Sentuhlah ia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan sepenuh jiwa, buat hatinya terbang melayang.

Hal yang menggambarkan seolah hati, perasaan perempuan mudah ditaklukan, dan sering dieksploitasi lebih dalam oleh orang lain. Dalam beberapa cerita yang kujalani di kehidupan sehari-hari pun demikian.

Beberapa Perempuan yang ku kenal menjadi bucin, budak cinta oleh pasangannya sendiri. Ia seolah diperas habis kekuatan, dan kasih sayangnya. Seolah cintanya dimanfaatkan oleh orang lain.

Dan kini kisah pemanfaatan, eksploitasi perempuan ini khususnya oleh laki-laki yang sering disebut Mokondo, modal K***** doang. Aku bergidik ngeri ketika mendengar tanda Red Flag itu muncul.

Entah mengapa, sekelebat bayangan sahabatku, Maria hadir di kepalaku. Ia menangis sesenggukan bercerita tentang suaminya yang tidak mau bekerja. Lebih senang di rumah saja, main games atau judi online.

Jika Maria menuntut nafkah, suaminya akan memberi uang, berdalih itu hasil menang judi. Namun kenyataannya, ternyata uang itu didapatkan dari pinjaman online.

Dan tentu saja Maria harus melunasinya ketika rombongan debt collector berkali datang ke rumah orang tua tempat mereka menumpang tinggal. Para penagih menuntut pinjaman dilunasi dengan berbagai ancaman, agar uang dikembalikan.

Dan Maria terpaksa harus bekerja lebih keras dari biasanya, pontang panting kesana-kemari gali lobang tutup lobang. Sambil meratapi dan menerima kelakuan sang suami, berusaha berlapang dada.

Ah kehidupan pernikahan memang begitu rumit. Pantas saja jika banyak orang berkata bahwa pernikahan adalah ibadah yang panjang dan sangat lama. Maka tak jarang, banyak orang yang terpenjara akan pernikahannya sendiri.

Meskipun ada juga kisah beberapa teman yang memiliki keberhasilan serta kebahagiaan dalam pernikahannya. Suami yang bertanggung jawab dan menyayangi, anak-anak yang sehat serta sholih-sholihat. Tentu merupakan takdir baik yang menjadi impian tiap perempuan.

Nah sebuah kisah tadi adalah cerita tentang seorang yang berani berkata tidak, kepada hal yang mungkin mengganjal dalam hati. Keburukan, kemungkaran yang terselubung oleh kata-kata manis, bujuk rayuan. Semoga kita dan anak-anak kita dijauhkan dari yang demikian. Putri Eka Sari, Mar26

Antologi 20 : Biar Hanya Tuhan Yang Tau (Lara dalam Hening, Alineaku Apr26)

 Biar Hanya Tuhan yang Tau

Putri Eka Sari

Buku Antalogi : Lara dalam Hening

"Neng.. jangan bengong, entar kesambet jin lho..”Kata Tukang ketoprak menegurku sambil tertawa, tangannya menyodorkan piring di hadapanku, berisi ketoprak lengkap beserta telur dan kerupuknya.

“Hehe iya Bang..”Jawabku perlahan, sekenanya, pikiranku berkecamuk. Tubuhku yang terasa begitu lelah, seolah ada disini, tapi jiwaku kosong, entah tertinggal dimana.

“Lagi banyak pikiran ya Neng? Mukanya kucel gitu?” Tanya si Abang ketoprak, kepo. Pandangannya menyelidik.

“Hehe Ga kok Bang, ngantuk dan lagi capek aja”Jawabku asal, sambil berusaha makan secepatnya. Berharap setelahnya tidak ditanya-tanya lagi oleh si Abang ketoprak.

Entah mengapa rasanya begitu kesal jika ditanya-tanya oleh orang tak dikenal terutama tentang sesuatu yang sifatnya pribadi. Sedangkan kepada orang yang dikenal saja Aku malas untuk bercerita.

Bagiku yang introvert, sulit untuk berbicara terbuka kepada orang lain. Meski itu teman, saudara, mereka semua biasa ku sebut netizen. Yang seringnya terlalu ingin tahu dengan kehidupan pribadi orang lain.

Kemudian berkomentar dan hanya bisa menjudge, menghakimi saja jika tidak sesuai dengan jalan pikiraannya. Sangat jarang orang yang setelah mengetahui masalah orang lain, benar-benar berempati, berusaha menghargai dan memandang dengan penuh kasih dari sudut yang lain.

Sehingga kadang komentar netizen hanya mengacaukan batin dan pikiran, menyulut rasa kesal di dad. Serta menambah luka, perih, bahkan bisa memicu pertengkaran jika pikiran tak sejalan.

Mereka pun tak bisa memberi jawaban yang tepat, hanya sekedar penghiburan semata. Kata dan motivasi hanya sekadarnya, tanpa bisa membantu pendampingan yang utuh hingga ke dalam jiwa yang lelah. Wajar saja, mungkin karena mereka pun tentu juga memiliki masalah lain juga, hingga hanya bisa membantuku sekenanya.

Padahal masalah yang ku hadapi pun begitu kompleks, mulai dari divonis penyakit, keluarga yang kurang harmonis, pekerjaan yang sedang kurang lancar. Kehidupan percintaan yang tidak berjalan mulus, ataupun beban lain yang rasanya malas untuk dibagikan kepada orang lain.

Karena seringnya jika dishare, atau diceritakan malah dinilai tidak cakap menjalankan pekerjaan, atau bahkan dianggap kurang bersyukur. Maka, biarlah masalah yang ada itu menjadi privasi, rahasia.

Sebab ada hal yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain karena malu, khawatir malah menimbulkan gosip di belakangku, sehingga inginnya malah ditutup rapat. Khawatir nanti malah mengumbar aib diri, keluarga atau atasan di kantor.

Meski rasanya lelah untuk menyimpan beban itu sendirian. Namun jika diceritakan kepada para ahli pun, misalnya kepada psikiater, tentu Aku tak punya uang lebih untuk membayarnya. Maka menelan semua hal pahit dalam hidup adalah ku anggap sebuah kebijaksanaan.

Kupikir, tak semua luka harus disuarakan. Kadang kita hanya butuh menangis sendirian di pojokan. Setelah bosan menangis, diri akan berusaha bersikap tak acuh lagi pada dunia.  

Atau hidup sebenarnya hanya butuh penerimaan atas takdir yang telah Allah gariskan, sendirian. Sambil sesekali hanya berkaca, introspeksi dalam diam atau di keheningan yang sunyi.

Dalam kesendirian, Aku belajar untuk menerima tanpa banyak bicara dan berisik. Meski kadang diam meresahkan, namun juga terkadang menguatkan. Karena diri tak ingin bagai tong kosong yang nyaring sekali bunyinya.

Misalnya dengan mengumbar di media sosial, seolah ingin didengar, dikasihani sejagat raya. Hingga mengundang perhatian dan jadi viral, terkenal.

Padahal diluar sana ada yang nasibnya lebih parah tapi tak berisik, tak sibuk ingin diakui, divalidasi. Namun malah belajar bersembunyi, dengan tenang dan berusaha dewasa, meski harus memendam perih dan luka.

Tapi dalam diam sibuk menemukan penawar luka. Meyembuhkan diri dan bangkit  tanpa riuh, tanpa sorak sorai dan tepuk tangan.

Karena kita hanya perlu berlari kepada Allah, tempat terbaik untuk mengadu. Hanya Allah yang mendengarkan, meski kita berteriak, mengangis dengan terguling-guling.

Menghalau ketakutan yang melanda. Dan bismillah.. Aku melangkah maju sendirian, tanpa perlu terlalu berharap berlebihan pada suami, ataupun membebani orangtua.

Aku khawatir, jika suami mengetahui ia akan menjadi khawatir akan kesehatanku. Padahal toh Aku yang akan menjalani semua ini, bukan orang lain. Aku lah yang harus berusaha menguatkan hati, menerima apapun ketentuan, takdir yang Allah akan gariskan.

Dari berbagai momen dalam hidup ini, Aku belajar tentang pentingnya berserah kepada Allah. Mengantungkan segala harapan hanya kepadaNya.

Lewat berbagai masalah dalam, Allah mungkin menyentilku, untuk lebih mendekatkan diri kembali kepadaNya. Serta bermuhasabah, introspeksi diri atas segala hal yang pernah ku lakukan. Sebagai hamba yang sering lupa, banyak dosa dan lalai akan perintahNya.

Problematika hidup sebuah alarm, reminder, bahwa Aku seseungguhnya bukan siapa-siapa. Tak ada yang bisa disombongkan di dunia atas apa yang ku punya.

Aku begitu kerdil dan mengharap kebaikan dari Allah Sang maha. Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik di masa depan.

Sakit, masalah rumah tangga, pekerjaan tentu menjadi ujian, namun untuk menaikkan derajat diri kita.                     

Aku yakin, dibalik sakit dan masalah yang sedang dihadapi pasti ada kemudahan lain yang menyertainya. Seperti janji Allah, Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan (QS Al Insyirah 5-6).  Putri Eka Sari, Feb26

Antologi 19 : Bersyukur di saat Senang dan Sedih (Perjalanan Menemukan Tuhan, Alineaku Apr26)

 Bersyukur di saat Senang dan Sedih

Putri Eka Sari


Buku Antologi : Perjalanan Menemukan Tuhan

Aku tersenyum dalam hati di pojok ruangan mushola. Senyum bahagia, meski keadaan di luar dingin, penuh nuansa putih, namun pemandangannya cantik penuh salju. Hatiku diliputi takjub, hingga tak berhenti berdesir kegirangan, saat tanganku merasakan salju pertama yang Allah ciptakan.

Salju di Pulau Nami, Korea Selatan. Yang biasanya hanya bisa kusaksikan di film (drama Korea) atau medsos. Terutama begitu hits di film Winter Sonata (2002), film Korea bergenre romantis.

Salju yang biasanya sering kudengar sekilas dari cerita teman yang sudah pernah ke negara empat musim. Kini terhampar luas menutupi seluruh bagian pulau ini kala winter, musim dingin tiba.   

Sebelumnya di Jakarta Aku pernah merasakan salju buatan di salah satu mall di Bekasi. Dan sensasinya kini terasa berbeda, saat ku genggam salju asli yang Allah turunkan dari langit, dan Ia izinkan untuk ku saksikan secara nyata.

keningku menyentuh  sajadah, lama sekali. Ada getar damai, seolah otak berubah frekuensi. Masuk ke dimensi lain, saat diri berada dalam posisi terendah, mendekat ke tanah.

Aku bersujud padaMu ya Allah.. dalam keadaan penuh syukur, gembira atas rahmat, kebaikan yang Engkau berikan.

Setelah sebelum-sebelumnya Aku mungkin bersujud dalam kondisi hati yang compang camping. Sujud dengan posisi berserah, berharap beban di bahu pun seolah berjatuhan satu persatu, setelah memberatkan pundak sekian lama.

Terbayang semua kejadian beberapa tahun belakangan, yang berkelebatan silih berganti. Ujian menghantam tak kenal ampun, mulai dari sakit, keadaan ekonomi yang sulit, hambatan pekerjaan, bentrok dengan keluarga, konflik pasangan ataupun teman.

Masalah bertubi-tubi yang menghantam mebuatku ciut, tak punya nyali. Berat, dan rasanya ingin menyerah.

Kini Aku paham, pertolongan Allah itu nyata jika kita meyakininya. Berprasangka terbaik kepadanya adalah jalan untuk terus bertahan. Mungkin bagi sebagian orang lain memilih untuk mengakhiri hidupnya. Karena mengalami kebuntuan, tak ada jalan keluar.

Beragam pertanyaan yang sebelumnya juga hadir dalam diriku. Kenapa, mengapa harus Aku yang mengalami, dan terus ku tanyakan dalam lisan yang berbisik saat hidung mencium sajadah, bersujud pada yang Maha. Kata meluap, membuncahkan isi hati yang sesak, tertuju kepada Allah Sang pencipta, yang bertahun kini baru terjawab.

Aku galau, kecewa, rapuh dan tak tau kemana jalan pulang ya Allah.. Ku mohon, bimbinglah Aku.. Jangan biarkan Aku begitu patah dan tak bisa berpikir jernih, ucap bibir lirih kala itu.

Air mata pun menetes deras  layaknya hujan. Ku biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah, saat ini penuh dengan rasa syukur.

Setelah sebelumnya penuh dengan sesi menangis, dan berserah. Fragmen curhat panjang pada Allah yang paling ku tunggu saat tengah malam. Karena tanpa pura-pura, basa-basi, dan judgement (penghakiman) dari orang lain.

Lewat uraian air mata dan banyaknya ratap dalam harapan, Ku akui kelemahan dan mengharap kekuatan dari Sang pencipta.

Malam yang sebelumnya menjadi saksi bisu tentang kegundahan yang merajalela, tentang ketakutan akan aib, masa lalu yang buruk. Atau masa depan yang belum nampak seperti apa. Dan sering diliputi beragam pertanyaan.

Ya Rab.. Bisakah esok menjadi cerah seperti inginku? Pantaskah Aku yang penuh dosa ini meghiba padaMu? Bolehkah aku berharap mendapatkan cahaya?

Diri yang biasanya bermunajat dengan pilu, meminta kekuatan, kemudahan meski rasanya masalah menghujam hingga Aku bahkan tak kuat untuk berdiri, menegakkan langkah kaki dan menatap masa depan.

Kini, Aku berdiri di sini pada sebuah pulau di Korea Selatan yang diidamkan banyak orang untuk bisa berkunjung ksini. Aku berdiri dari sujud, di tempat asing jauh dari tanah kelahiran. Seolah Allah berkata padaku, inilah buah dari kesabaranmu. Hal yang selalu Ku pertanyakan dalam diam atas kuasaNya.

Aku larut dalam isak, ya Rabb ampuni Aku.. Tenggorokan tercekat, kala lafadz surat Al Fatihah ayat 6 mengalir dari bibir, Aku mengejanya dengan terbata-bata.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, Ya Allah.. ku pahami lagi ayat itu, segenap jiwa mengeja lalu mengiba. Ya Tuhanku, bimbinglah diri yang banyak khilaf ini. Aku memohon petunjuk Allah untuk kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik.

Menyadari sepenuhnya, bahwa segala yang kualami sebelumnya adalah ujian yang terbaik untuk menguatkan mentalku. Ya Rabb, kini Aku paham, ujian itu ternyata agar Aku naik kelas, menjadi level (derajat) yang berbeda. Kini Aku mengerti tentang hikmah dan kebaikan yang lebih baik yang akan Kau ganti, meski mungkin tak sesuai ingnku, tetapi sesuai yang kubutuhkan.

Begitu pula dengan pelaut yang kuat jika menghadapi banyaknya ombak, pilot yang hebat menghadapi banyaknya turbulence.

Ku yakin, bahkan sekedar daun yang jatuh, angin yang berhembus. Semua hal sudah Kau gariskan takdirnya.

Ya.. Talk to Allah lewat zikir, mengeja kebesaran namaNya. Doa panjang atau sujud lama yang mendekatkan jarak antara dirimu dan Sang pencipta. Yang mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik, sehingga bisa berpikir lebih jernih. 

Di sini, Aku pun bersyukur akan berbagai keadaan yang Allah hadirkan dalam hidupku. Terimakasih ya Allah, karena Engkau menguatkan jiwaku, untuk tetap tegar, tak kalah oleh keadaan.

*Putri Eka Sari, Nami Island-Korea Selatan, Desember 2025