Jumat, 23 Oktober 2026

Buku Antologi 27 : Secangkir kopi, berjuta rasa - Meja sudut kedai (Alineaku - Okt26)

 Secangkir kopi, berjuta rasa

Putri Eka Sari

Aku terpana memandang ramainya orang berlalu-lalang dari balik kaca Hoshino café, salah satu  café di sisi sungai Dotonbori, Osaka-Jepang. Sambil menyeruput kopi latte hangat yang tersaji di meja. Dalam tiap tegukan, ada rasa syukur yang menyeruak dalam dada.

Alhamdulillah Aku bisa sampai juga di Jepang- Negeri Sakura, bisikku dalam hati. Tak terbayangkan dulu hanya melihat anime, kartun saja di TV. Kini raga bisa berwisata di Negeri Doraemon ini.

Sesi me time ini terasa semakin menyenangkan, karena tanpa deadline kerjaan kantor. Netraku pun kembali mengitari sekeliling, mengamati para pelancong yang mengobrol. Bersisian dengan rombongan parade musik yang melintas membelah Kanal Dotonbori, salah satu Sungai hits di Jepang ini. Orkestra musik dengan perahu yang melintasi Sungai seperti ini mirip seperti layaknya di Venice-Italia.

Di antara kopi dan gemerlap Dotonbori, tak hentinya syukur menggema dalam hati. Daerah ini memang sangat terkenal sebagai pusat hiburan dan surganya kuliner dan tempat belanja.

Jadi tak heran jika wilayah ini ramai hampir 24jam. Terutama malam hari, pusat kehidupan malam begitu gemerlap oleh cahaya lampu neon yang terang dari berbagai papan reklame 3D yang ikonik dan sorot lampu dari Gedung sekitar, menambah semarak.

Sebelumnya Aku pun salah satu orang yang ikut mengantri diantara banyaknya orang Indonesia yang ingin berkeliling dan berswafoto dengan latar papan iklan Glico-Running Man, salah satu billboard legendaris. Kabarnya belum Sah ke Osaka, jika belum mengabadikan foto di sana.

Di Seberang café, Ku lihat beberapa orang turis asyik menonton spiderman jalanan yang berakrobat di atas sepeda, layaknya pengamen jalanan. Wah.. Hal yang juga sering ku lihat di sudut lampu merah Jakarta ternyata ada juga di Jepang lho. Namun tampaknya di Jepang belum ku lihat manusia silver, Hahaha.

Di tengah asyiknya melihat keramaian, panggilan alam pun menuntunku ke WC. Sepertinya kombinasi udara dingin dan kopi membuatku ingin buang air kecil alias beser.

Duk.. Aduh..

“Sumimasen..” Seorang pemuda menabrakku yang tak memperhatikan Langkah saat terburu-buru.

Sambil mengatupkan tangan di dada, Aku membalas dengan senyuman. Rasanya malu sekali, karena mataku tak memperhatikan orang yang lewat dan tak sengaja menabraknya.

Namun lucunya, orang Jepang memang terkenal sangat sopan. Hingga tak jarang mereka meminta maaf duluan, meskipun orang lain, dalam hal ini Aku yang melakukan kesalahan.   

Sebenarnya, tak terhitung berapa kali Aku yang terantuk, tersandung tangga, lutut kejedot meja saat makan di restoran Jepang. Pengelihatanku yang tak awas menyebabkan terkadang diri tak bisa memperkirakan jarak dengan tepat, maka tak jarang ada saja bagian tubuh yang sering benjol, tersandung, memar atau luka karena sering tersenggol benda-benda di sekitar.

Di awal saat penglihatanku bermasalah, sempat anxiety, galau. Bahkan depresi melanda dalam jiwa, membayangkan masa depan yang sepertinya terasa suram dan tidak baik-baik saja,

Namun setelah 17 tahun lebih, Aku mulai berdamai, bahkan bersahabat dengan penyakit Glaukoma ini. Nampaknya keresahanku dahulu tentang penyakit yang menyebabkan kerusakan saraf pada mata ini hanya kekhawatiran semata. Karena nyatanya Aku juga bisa berdikari, mandiri dan menyelesaikan segala permasalahan tentang kekurangan di mataku, dan sadar bahwa benar adanya.

Tuhan memberi cobaan karena Ia Maha mengetahui, bahwa Aku mampu. Bisa melewati setiap proses dalam kehidupan ini dengan baik. Namun Aku malah yang sering meragukan diri sendiri.

Sambil meneruskan tegukan kopi latte dan mencicipi roti panggang, aku merenung Kembali tentang jalan hidup yang telah Allah gariskan. Berkaca dan berintrospkesi ke dalam diri, sudah sejauh mana perjalanan hidup yang ku tempuh kini. Adakah pelajaran yang bisa kupetik?

Seketika Aku tersadar, bahwa waktu begitu berharga. Setiap penglihatan yang ku miliki adalah kesempatan untuk melihat dunia, ciptaan Allah yang indah.

Hidup harus dinikmati dan disyukuri, tak patut untuk menyiakan waktu serta kesempatan yang ada. Adalah sebuah anugerah, karunia yang harus diisi dengan penuh rasa syukur dan menjadi manfaat untuk orang lain di sekitar. Apalagi jika diberikan hadiah dari Allah seperti kali ini di Jepang. Untuk beribadah dengan berjalan-jalan di muka bumi Allah yang luas.

Ku percaya bahwa di balik kesulitanku pasti ada kemudahan. Sesuai dengan janji Allah dalam QS Al Insyirah ayat 5.

Dengan kesulitan, kekurangan yang Ku miliki, Allah berikan kemudahan lain dalam hidupku. Mengunjungi beberapa Negara Impian yang ada dalam bucket listku menjadi sebuah kenyataan dan bukan sebuah kemustahilan.

Kesadaran ini menghapus berbagai pikiran negative yang kerap singgah. Membuatku menata hati kembali, sehingga semakin berbaik sangka terhadup Rabb ku. Law of attaction (hukum tarik menarik) tentu akan bekerja kepada semesta di sekitar kita.

 Sambil menyesap aroma kopi yang menguar di udara, pikiranku Kembali melayang. Rasa manis kopi mempresentasikan bayangan diriku yang memiliki kekurangan ini pun ternyata bisa menjelajah tak hanya di dalam Negeri. Tapi Allah izinkan untuk berkelana ke luar Negeri seperti Jepang, Arab Saudi (Mekah-Madinah), Singapura dan Korea.

Dengan segala keterbatasan yang kupunya, ternyata tak ada yang mustahil bagi Allah. Kun Fayakun, Jika Allah berkehendak maka terjadilah.

Aku yang awalnya dahulu merasa begitu lemah, tak berdaya karena kurangnya financial, memiliki kekurangan pada mata. Namun dimampukan oleh Allah yang Maha Hebat.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi teman-teman lain, bahwa jangan takut bermimpi, berdoa dan meletakkan keyakinan pada Allah yang Maha Besar. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya

-Putri Eka Sari, Sept26

Antologi 26 : Bakti (Dialog dengan diri, Alineaku- Oktober26)

 Bakti

oleh Putri Eka Sari

“a.. Pa.. Ayo dimakan..”Ucapku sambil membujuk Papa menghabiskan makanannya. Dengan semangat menguyah, Papa menggigit daging rendang yang sudah ku suwir halus agar Ia bisa makan dengan nyaman tanpa tersedak.

Kali ini, menu masakan yang mama buat Adalah kesukaan Papa, rendang padang. Aku ingat, dahulu betapa Papa menyukai makan rendang padang dengan kuah yang melimpah di nasi. Ia akan bisa nambah nasi beberapa kali jika Mama memasak rendang.

 Sambil menyuapi Papa, lamunanku melayang. Ah.. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, dahulu statusku adalah seorang anak yang disuapi oleh Papa makan. Kini berbalik, Aku lah yang meyuapinya.

Tanpa sadar sang anak pun berada di fase hidup saat ini, menjadi tumpuan keluarga, sandwich generation. Seolah diri terjepit di lapisan tengah antara orang tua dan mengasuh anak sendiri, layaknya roti sandwich.

Dimana semua hal di hadapan adalah tanggung jawab, yang menuntut harus dikerjakan dan ingin didahulukan. Duh.. Kepala rasanya penuh akan berbagai peran. Sebagai seorang anak, Ibu, istri, pekerja dan juga menjadi individu.

Mungkin memang sudah takdirnya di usia ini Aku tak hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri, Namun  membantu memecahkan masalah orang lain di sekitarku, alias bermanfaat.

Meski badan terasa Lelah, jiwa terasa penat dengan beban yang bergelayut berat di pundak. Tapi sesuatu yang ku yakini. Seperti kata sebuah Hadis: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

“Uhuk.. uhuk..” tiba-tiba Papa terbatuk pelan sambil menyemburkan makanan ke arahku. Sepertinya ada sedikit daging yang tersangkut di tenggorokannya. Semenjak mengalami stroke ke tiga kalinya, Papa menjadi semakin kesulitan untuk menelan makanan dan minuman.

Menurut dokter ada gangguan di tenggorokan. Penyakit stroke menyebabkan gerak peristaltik pada otot tenggorokan melemah.

Rasanya sedih melihat Papa kesulitan untuk menelan. Padahal dahulunya Papa adalah orang yang sehat dan kuat. Ia bisa kuat bekerja shift malam, dan baru akan pulang pukul 3 dini hari ke rumah.

   Papa yang tidak pandai bercerita akan kelelahan atau kantuk yang mungkin Ia rasakan kala pulang pagi. Aku, Mama dan adik-adik tidak pernah langsung bertanya padanya, apakah Ia Lelah menjalani hidup. Ia pun tak pandai bicara, hanya citra berwibawa yang terkadang terasa sangat otoriter di hadapan kami.

Mungkin hal ini dilatar belakangi bahwa pada masa selepas penjajahan VOC, begitu banyak lelaki dewasa lainnya di era Baby Boomers, dibesarkan di saat-saat sulit setelah perang kemerdekaan. Maka sesulit apapun keadaanya, tentu laki-laki tak diizinkan menangis, bersedih, meratap dan menjadi cengeng. Seolah perasaan mereka diredam sedemikian rupa.

Yang ada laki-laki harus berjuang, kuat bertahan dan terbiasa memendam apa yang dirasa dan diinginkan dalam hati, Tanpa bisa banyak bercerita kepada orang lain, seolah laki-laki yang terlalu banyak bicara merupakan sesuatu yang dianggap tabu.

Pengalaman kecil yang tidak terlalu dekat dengan Papa mengingatkanku tentang sebuah cerita singkat di sebuah platform media sosial. Di suatu tempat di luar negri, ada sebuah adat yang mengharuskan anak membawa orang tua yang sudah lansia ke atas gunung dan meninggalkannya disana, tanpa tempat tinggal.

Si anak hanya bertugas membawa orang tuanya dan menaruhnya dengan membawa kebutuhan orang tua seadanya tanpa memikirkan keadaan orang tuanya kelak seperti apa di atas gunung tersebut. Dan orang tua pun hanya menangis ketika ditinggalkan, tanpa bisa menolak karena sudah ketentuan adatnya. Aku hanya bergidik sedih membayangkannya.

Aku sendiri seperti merasa kurang sreg jika sebagai anak menganggap bahwa memiliki tanggung jawab orang tua seolah sebagai beban. Bagaimana tidak, rasanya begitu tak pantas jika kita mengganggap kedua orang tua yang membesarkan anaknya dengan kasih sayang ketika si anak kecil, malah dianggap sebagai "sesuatu yang meresahkan" dan beban, ketika si anak telah tumbuh dewasa.

Benarlah kata pepatah, seorang Ibu bisa merawat banyak anaknya, namun belum tentu banyak anak bisa merawat seorang Ibu. Terasa sangat miris.

Namun pepatah tersebut belakangan terasa benarnya, jika dikaitkan dengan kehidupan di era milenial saat ini yang banyak orang ingin memiliki hidup praktis dan ekonomis. Jauh dari segala "keribetan" nya. Karena tentu setiap orang sangat ingin hidup nyaman dan enak. Jika perlu tanpa susah payah dan kesulitan.

Beberapa pendapat mengkaitkan bahwa membantu keuangan orang tua tentu untuk yang memiliki ekonomi (keuangan) yang cukup. Namun jika berpenghasilan pas-pasan, rasanya cukup berat untuk juga menyangga ekonomi orang tuanya. Mungkin sudut pandang tersebut bisa saja berlaku pada sebagian orang.

Beberapa orang berpegang teguh akan prinsip kemandirian hidupnya sendiri, dan sebagian lagi memiliki pandangan yang berbeda tentang hal ini. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan memandang segala aspek yang ada padanya. Karena hidup adalah pilihan, bagai dua sisi mata uang, yang di dalamnya terdapat konsekuensi dari pilihan yang diambil. Maka pilihlah sesuai hati nurani, bukan berdasarkan Ego diri.  



Namun bagiku, selama ada niat dan keikhlasan untuk merawat orang tua, akan membawa keberkahan dalam hidup. Sesuai dengan keteladanan yang di contohkan dalam islam oleh Rasulullah dan orang shalih terdahulu yaitu birrul walidain (berbakti/ berbuat baik kepada orang tua).

Hal ini pun terdapat dalam beberapa hadist Rasulullah, bahwa Allah akan memberikan umur yang panjang dan ditambahkan rejekinya, bagi kita yang berbakti kepada kedua orang tuanya (HR Ahmad).

Karena hal Itu yang Ku alami sendiri. Rejeki terasa lebih berkah dan melimpah saat merawat orang tua. SEhingga semua kebutuhan bisa terpenuhi, bahkan terasa berlebih. Semoga itulah yang dinamakan keberkahan, hal yang juga mendekatkan kepada Allah, Sang Maha Pencipta, Maha pemberi rezeki.                  Putri Eka Sari, Sept26

Jumat, 04 September 2026

Antologi 25 : Kebaikan adalah warisan terbaik (Tak terhingga sepanjang masa, Wonderful Agustus26)

Kebaikan adalah Warisan Terbaik

Oleh: Putri Eka Sari

“Kebaikan adalah salah satu investasi yang tak pernah gagal .”

Hari ini adalah ramadhan pertama dalam hidupku sebagai anak rantau yang tinggal di luar kota. Jauh dari keluarga dan sanak saudara, membuatku merasa asing berada di kota kecil, Nusa Tenggara.

Padahal biasanya dahulu dimana saja Aku bisa menemukan beragam menu makanan yang bisa dikirim instant. Go-food adalah penyelamat saat Ibu sedang tak masak atau ingin mencoba menu viral terbaru di Jakarta.

Di tengah kota kecil ini Aku di tugaskan kantor pusat untuk bekerja dengan hanya didampingi dua orang rekan laki-laki yang notabene tak kenal terlalu dekat. Membuat semuanya terasa membingungkan, hampa dan sepi. Menghadirkan kilasan rindu akan kenangan ramadhan yang hangat, saat berkumpul dengan keluarga. Duh sang melankolis sedang home sick..

Tok.. tok.. Tiba-tiba ketukan di pintu menyadarkan lamunanku. 

Ah.. siapa sore-sore senja menjelang magrib begini ke rumah. Bukankah di kota ini Aku belum kenal banyak orang. Mungkinkah pekerja proyek di taman depan yang sedang merapihkan taman, atau siapa ya? Sambil terus menebak-nebak Ku hampiri pintu perlahan

"Nak.. ini ada kolak sedikit buat buka puasa.." Kata Seorang Ibu separuh baya, setelah pintu terbuka.

"Eh.. iya Bu.." Jawabku kebingungan, ini Ibu entah siapa dan darimana datangnya, kok tiba-tiba memberikan kolak, batinku.

"Saya Bu Joko, Bu RT disini.." Bu Joko memperkenalkan diri.

"Kelihatannya kamu tinggal sendiri ya.. Ayo mampir ke rumah Ibu di ujung gang itu ya kapan-kapan.. " Jari Bu Joko menunjuk ke rumah bercat orange di ujung jalan, sambil terseyum ramah dan bersiap meninggalkan rumahku karena sebentar lagi azan akan tiba.

Oh.. ternyata Bu RT di komplek perumahan ini. Aku yang orang baru, memang masih belum banyak kenal orang di sini, masih gagap dengan kehadiran orang lain.

"Baik Bu.. terimakasih ya.." Jawabku sambil membalas senyumannya. Memperhatikannya pergi dan menutup pintu.

Aroma kolak yang manis dan harum pandan menyeruak masuk ke hidung dan mengudara di sekitarku. Hidangan itu terlihat menari-nari cantik dalam mangkuk, berisi pisang, ubi dan pacar cina berpadu dalam warna-warni. Tersaji dengan menggiurkan.

Semerbak sendu menghadirkan bayangan wajah Ibunda di kampung halaman. Sesuatu yang dulu mungkin rasanya biasa saja ketika masih bersama. Kala Ibu membuatkanku kolak sebagai hidangan berbuka puasa dahulu, sebelum aku pindah untuk dinas kerja di luar kota. 

Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Tak terasa, azan magrib pun berkumandang di masjid dekat rumah. Menandakan waktu magrib dan berbuka puasa telah tiba. Selepas membatalkan puasa dengan membaca doa berbuka, meminum segelas air putih dan sebiji kurma. Aku pun tak sabar menikmati hidangan kolak yang tersaji di meja.



Suapan pertama ketika kuahnya meluncur di lidah, entah mengapa menimbulkan rasa yang istimewa. Hmm.. Enak, tak terlalu manis. Ada sensasi menenangkan mulai mengalir dari tenggorokan ke hatiku.

Aliran energi yang sebagian orang bisa rasakan, jika menyantap makanan yang dimasak dengan penuh cinta, suka cita dan keikhlasan. Dan Aku pun menyesapi rasa itu di sana lewat suapan kolak dengan gembira.

Yang Allah izinkan hadir dari seorang Ibu tetangga yang tak ku kenal secara akrab. Meski Aku yang jauh di sebrang pulau. T atas kasih Allah jugalah yang menggerakkan hati Bu RT untuk memberikan semangkuk kolak kepadaku.

Hal yang mungkin terkesan remeh bagi orang lain, namun bagiku yang sedang kesepian di kampung orang. Dan tengah dilanda rindu, semangkuk kolak datang dengan beragam makna.

Aku jadi teringat, di ribuan kilometer nun jauh di sana. Ibuku yang juga sering berbagi makanan ke tetangga sebelah rumah. Bahkan terkadang berbagi makanan ke orang yang tak ia kenal, diantaranya tukang sol sepatu yang pernah tak sengaja berteduh di depan rumah saat hujan. 

Atau Ayah yang sering mentraktir teman-temannya makan siang, terutama di saat tanggal tua, belum gajian. Ah.. ternyata kebaikan itu seperti benih. Balasan serta tunas kebaikan tak selalu datang saat itu juga, namun bisa beberapa tahun kemudian. Meski jauh jaraknya, kebaikan bisa saja sampai. Bahkan serupa tabungan yang mungkin akan di tuai ketika di akhirat kelak, selayaknya investasi jangka panjang.

Saya pun menyaksikan langsung, bahwa kebaikan adalah warisan terbaik dari orang tua pun akan sampai kepada anaknya. Meski dimanapun sang anak berada. Allahumma baarik, Terimakasih Ayah dan Ibu..

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejehatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (pula)." (QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8) #PutriEkaSari, Jan26

 

Profil Penulis:

Nama               : Putri Eka Sari S.T

Profesi            : Penulis

Domisili           : Jakarta

Alamat Pos-el : putri.ekasari@gmail.com

Media Sosial  : putri ekasari (Fanpage Facebook), @putrie_bundapaipia (Instagram)

Antologi 24 : Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan (Keping Lazuardi Hidupku, Agustus26)

Dibalik Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

oleh Putri Eka Sari

"Go**** Idiot.." Kata itu kembali dilayangkan kepadaku.. 

Terasa bergetar sakit masuk ke dalam telinga lalu menembus ke hati, di panas terik ini. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini sudah beberapa kali aku di semprot oleh Bos ku.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Juga tak bisa membantah kata-katanya.

Diam adalah cara terbaik agar amarahnya tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Kataku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Akhirnya jantungku baru terasa berdetak lagi.

Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang sekali dua kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, selalu salah di matanya.

Beberapa kali aku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh kesah mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu kepadaku. Bukankah seharusnya Namanya seperti Bayu, Air yang adem, dingin menenangkan.

Aku sering bertanya tanya pada sobatku, bukankah seharusnya atasan bisa menaungi bawahannya dengan baik? Bukan malah sering menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya bergumam.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja ini melawan senior, apalagi bos.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu. Lembek.." Balas Aisyah Sambil memegang lenganku..

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur" Ujarnya lagi sambil membujukku. Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Namun karena posisiku persis di bawah Pak Bayu dalam struktur perusahaan, aku kerap lebih sering bersinggungan pekerjaan dengan Bosku itu.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Kumisnya yang tebal seperti Pak Raden dalam serial Unyil, makin membuat wajahnya terlihat sangar.

Kumis tersebut akan bergerak turun naik diiringi amarah yang kadang tetiba muncul. Begitu reaktifnya seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, tak ingat waktu dan tempat.

Pernah di suatu malam hari, saat libur pun aku di telponnya. Karena Beliau ingin meminta reschedule tiket penerbangan. Ingatanku melayang kala itu..

"Resti, ini saya sepertinya telat check-in di Bandara Juanda, Ada pawai menyambut ramadhan tadi di jalan." Katanya di seberang telepon, setengah panik karena besok pagi harus sudah sampai Jakarta untuk meeting dengan klien.

"Coba kamu pesankan pesawat berikutnya yang bisa langsung berangkat" Perintahnya tanpa memberi salam, atau memberiku jeda untuk bertanya dan menjawab.

"Baik Pak.." Aku hanya bisa menjawab singkat. Mencerna apa yang harus ku lakukan setelahnya.

Sebagai anak buah, tentu aku tak bisa menolak perintah atasan. Aku yang di Jakarta tentu harus memahami situasi dengan cepat dan gercep dalam bertindak.

Meski aku tak melihat langsung di lokasi, yang kala itu kabarnya jalanan Surabaya yang macet parah. Sehingga praktis Pak Bayu ketinggalan check-in masuk ke pesawat. Dan tentu saja aku harus siap dengan tugas, stand by untuk mengklik tiket penerbangan berikutnya.

"Malam Pak, Itu penerbangan terakhir ke Jakarta Pak malam ini" Sahutku kembali menelepon Pak Bayu.

"Tiket baru ada besok subuh Pak" Kataku lagi.

"Jika tak ada jadwal penerbangan, pesankan kamar saya di hotel biasa" Jawabnya sambil mematikan telpon, tanpa ucapan terimakasih.

Aku menjawab "Siap.." Diantara nada telpon yang sudah di tutup, mati.

Ya, aku harus siap membooking hotel sesuai keinginannya. Ia tak peduli jika uang nya harus ku talangi dengan uang pribadiku dahulu. Tak peduli jika itu bukan deskripsi pekerjaanku. Anggapannya, meski aku merupakan staff accounting, aku harus siap setiap saat untuk melakukan pekerjaan lain yang berhubungan dengannya. huffft.. Begitulah sebuah konsekuensi kerja di perusahaan.

Jika tak siap, dapat Ku bayangkan. Kala amarah melanda, raut muka Pak Bayu yang merah padam. Seolah kereta api uap yang sedang mengepul uap keluar dari atas kepalanya.

Sifatnya yang perfeksionis selalu meminta tiap pekerjaan sesuai dengan keinginannya, tak boleh bercela. Bahkan untuk titik dan koma harus sesuai letaknya di proposal yang ia minta. Layaknya membuat skripsi yang sempurna.

Ya.. begitulah konsekuensi bekerja dengan orang lain. Aku hanya bisa mengelus dada setiap harinya. Di mana Bos selalu benar, dan tentu bawahan yang selalu di salahkan.

Beruntungnya aku makian itu bukan berupa kata-kata binatang, seperti cerita seorang temanku di perusahaan lain. Ketika Bos nya marah, kata makian berupa umpatan dengan nama hewan di kebun binatang. Seperti Anjing, Monyet, Babi, akan dilayangkan padanya tanpa pandang bulu. Hingga tak terhitung berkali-kali temanku menangis, sedih.

Padahal tentu hal seperti ini tak pantas untuk dilakukan. Karena pasti akan menyinggung perasaan orang lain.

Pantaslah, jika bekerja dengan orang seperti ini bisa menyebabkan stres, depresi, sebuah penyakit mental bagi sebagian orang. Bahkan beberapa orang lain mengalami sakit hati, dan tersulut emosi kadang bisa terjadi.

Tak terhitung banyak kasus dan kejadian yang kita dapat jumpai di media sosial atau TV. Bermacam kasus kriminal yang disebabkan emosi dan amarah. Mengingat tidak adanya respect, saling menghormati antara atasan-bawahan, bos dan anak buahnya.

Waktu berganti, beberapa tahun kemudian..

Aku tiba di Bandara Haneda Tokyo, menjinjing koper dengan gembira. Siap untuk liburan di Disneyland, dan beberapa tempat wisata lainnya di Jepang.

Atas rekomendasi Pak Bayu, aku bisa mendapatkan reward 15 tahun bekerja di Perusahaan. Allah memberikan hadiah manis dari setiap kesabaran yang telah kupupuk selama bertahun-tahun lamanya.

Atas izin dan karunia Allah, aku dididik dan diasah seperti intan. Yang ditempa dengan berbagai ujian. Aku berusaha menjalani segala ujian yang Allah berikan dengan sabar dan berusaha ikhlas. Meski terkadang berat, galau, sedih ingin nangis bombay berhari-hari, bahkan beberapa kali ingin resign dari pekerjaan.

Tapi Aku percaya, semua akan menjadi indah dan berbuah manis pada waktunya. Seperti sebuah hadis Rasulullah: Man Shabara Zhafira; Barang siapa yang bersabar, ia akan beruntung.

Aku berusaha kebal dengan cercaan, makian serta tumpukan kerjaan yang ada. Berat tentu saja jika dirasa-rasa, namun Aku berusaha mengalihkan perasaaan dan melihat sisi hal lain yang mungkin bisa dipelajari dari tiap kejadian.

Sebab, diri sendiri lah yang memiliki peran atas regulasi emosi yang ada dalam kehidupan. Diri sendiri yang harus memilih, untuk bisa tegak serta bertahan atau terpuruk. Dan alhamdulillah perjuangan dan proses yang ku lewati dengan ridho, keyakinan dan doa orang tua membuahkan hasil.

Teruntuk teman-teman lainnya yang masih berjuang, mari yakin terhadap Allah dan jangan menyerah.. Karena selepas hujan, ada pelangi yang indah dan terang yang menyertainya.

#PutriEkaSari , Maret25

 

Antologi 23 : Meluruskan Niat, Menata Ikhlas (Belajar Melepaskan, Alineaku26)

 Meluruskan Niat, Menata Ikhlas

Oleh Putri Eka Sari

Mbak... jangan lupa uangnya, ini saya butuh banget buat lebaran, ga punya uang, jadi tak ada makanan di rumah” Ucap Bang Bokir sambil berkata lirih.

“Nanti saya bawakan sembako dan ketupat kalau begitu bang” Jawabku Iba sambil berusaha memberikan solusi.

“Kalau bisa uang aja Mba, biar anak-anak bisa beli baju lebaran, kasian Mbak kalau teman-temannya pakai baju baru, sementara anak saya ga punya” Bang Bokir merayuku agar memberikan uang sebagai pengganti sembako, menurutnya uang lebih penting dan dibutuhkan saat hari lebaran.

“Bocah pengen juga makan daging rendang ama kue nastar kayak di rumah sodara-sodaranya mba” Lanjutnya lagi.

“Lah kalau uang pinjaman kemarin aja belum lunas hutangnya bang..” Pungkasku, bermaksud agar Bang Bokir tak terlalu banyak hutangnya menumpuk, mungkin Aku bisa memberikan bahan kebutuhan saja untuk keperluan lebaran di rumahnya.

Ingin ku melanjutkan, Bang ga usah dipaksakan, masak rendang ayam aja biar tak terlalu mahal. Tapi kata itu tercekat di tenggorokan dan tak sampai hati terlontar, khawatir nanti disangka menggurui orang yang lebih tua, pikirku.

“Utang mah gampang Mba, Nanti tinggal potong aja kalau saya kerja di rumah mba, hitung aja nanti juga pasti lunas” Celetuknya enteng, seolah itu adalah perkara mudah.

Aku hanya mengelus dada, tak terhitung berapa banyak utang bang Bokir yang sering gali lobang tutup lobang dariku atau tetangga lain.

“Siap..” Ujarku mengiyakan, malas untuk mendebatnya.

Dalam hati hanya bergumam, yang penting jangan dibeliin rokok aja ini. Bukan karena Aku tak ikhlas meminjamkan. Bukan pula karena berburuk sangka pada Bang Bokir. Namun sudah menjadi rahasia umum antara tetangga, tentang kebiasaan Bang Bokir yang seorang perokok berat.

Ia yang memiliki pekerjaan serabutan di lingkungan rumah kami, paling senang diberikan upah dalam bentuk uang dan rokok. Ketika mengerjakan plafon rumah Ibu pun, Ia lebih memilih diberikan uang untuk rokok daripada kami berikan snack atau makan siang. Baginya dengan rokok beban hidup terasa lebih ringan, pikirannya lebih tenang ketika ada rokok di tangan.

Seolah dengan asap rokok yang membumbung keluar dari mulutnya, masalah bisa terbang terbawa angin entah kemana, meringankan beban hidup yang ia pikul. Hingga Ia akan rela menghabiskan berpuluh batang rokok sehari disertaI kopi, namun jarang makan.

Padahal bukankah paling baik jika uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan pokok keluarga atau ditabung untuk masa depan anak-anak? Sehingga mereka tak lagi kekurangan financial. Aku beristighfar sambil bertanya-tanya sendiri dalam hati, bukankah yang dibutuhkan tubuh adalah nutrisi dari makanan.

Mengapa malah begitu banyak orang yang memilih memasukkan racun ke dalam tubuh mereka lewat rokok. Hii.. Aku bergidik ngeri akan ratusan pertanyaan yang memenuhi kepala. Begitupula sang Istri bang Bokir, Mpok Siti memiliki sifat yang mirip.

Setali tiga uang dengan sang suami. Ia pun senang berhutang namun untuk membeli barang yang tidak perlu. Entah kredit panci, perabotan rumah, membeli perlengkapan sekolah anak-anak yang begitu lux, dan baju yang rupawan atau sekadar nongkrong di kafe atau berjalan-jalan di mall kala weekend. Baginya itu adalah self reward untuk dirinya yang ikut mencari nafkah pontang panting sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah tetangga.

Rasanya ikut pening kepala, kala ku bertanya keheranan tentang perilakunya yang gemar meminjam padaku atau tetangga lain, saat tagihan kontrakan belum terbayarkan.

“Mpok, bukannya capek kalau punya hutang banyak?”

“Ga Kok mba, malah saya jadi semangat berusaha lebih keras, cari duit buat bayar hutang” Jawabnya lugas.

Hal yang kemudian membentuk karakter anak-anak mereka di kemudian hari. Bahwa hidup enak untuk hari ini, adalah bentuk menikmati rasa syukur. Dengan keyakinan, esok hari pasti Tuhan akan berikan jalan-Nya. Ah, Sungguh Aku tak berani menilai seberapa keras hidup orang lain. Dan bagaimana orang lain mencoba untuk bertahan tetap waras, mencari kompensasi, pengalihan stres ditengah gempuran kesulitan ekonomi serta ujian yang bertubi-tubi.

Tentu prinsip hidup tiap orang berbeda-beda, Aku berusaha menerima tanpa menghakimi. Mungkin hidupku saja yang agak berbeda dengan orang kebanyakan. Sering dicap terlalu sederhana. Hingga nyaris menggunakan suatu barang hingga benar-benar rusak baru membeli.

Tak terbilang dasterku yang itu-itu saja, robek pun siap untuk ditambal sulam. Terlihat begitu kontras di tengah gempuran fashion yang menggoda di mall, medsos, e commerce maupun baju thrifting bermerk terkenal yang banyak ditampilkan para selebgram.

Mungkin Aku terlalu memandang simple sesuatu, hingga berusaha tak ikut arus konsumtif dan hedonis sebagian besar orang. Namun ada masa depan yang sedang ku tata, terutama untuk pendidikan anak-anak yang sedang diperjuangkan.

Mari sibukkan diri tak hanya berpikir tentang hari ini, namun siapkan untuk berinvestasi, memikirkan atau menata masa depan kala tua dan pensiun kelak. Agar bisa hidup berdikari di atas kaki sendiri dan tak merepotkan anak-anak, bertekad sehat serta mapan secara financial, slow living tanpa terlibat hutang yang membebani.

Kisah di atas adalah sebuah refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan ikhlas. Meski beberapa orang di sekeliling menguji kesabaran,dan niat kita dalam membantunya. Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (QS Al Baqarah: 155). PutriEkaSari, Apr26.

Antologi 22 : Mie Ayam Kesukaan Ayah (Langit Dibahunya-Alineaku Juli26)

 Mie Ayam Kesukaan Ayah

Putri Eka Sari

Ku sendokkan suapan terakhir mie ayam pangsit rebus beserta kuahnya yang gurih ke mulut Ayah. Tentu jika dokter melihat, Ia akan melarang Ayah makan mie ayam. Karena kaldunya yang enak kaya akan micin, penyedap. Tapi kali ini biarlah, Aku ingin memberikan sedikit kelonggaran, sehari saja. Kulirik Ayah yang asyik melahap habis mie dengan antusias.

Menyisakan mangkuk kosong di hadapan, kandas tak bersisa hingga tetes terakhir. Entah mengapa melihatnya menimbulkan sesak yang tersirat di hatiku, sesuatu yang tak bisa kulukis dengan kata. Ayahanda yang dahulunya gagah perkasa, kini terkulai tanpa daya di tempat tidur. Penyakit stroke telah menggerogoti tubuhnya beberapa tahun belakangan, semakin menyebabkan Ia kesulitan untuk berjalan, berpikir bahkan menelan.

Namun sepertinya lidah sebagai indera perasanya tetap berfungsi. Maka tak ayal jika diberikan mie ayam, matanya seolah bersinar menikmati helai demi helai mie yang masuk ke dalam mulutnya. Meskipun tak terucap kata dari bibirnya yang terkunci akibat penyakit ini.

Mungkin kelezatan mie ayam masih memiliki tempat tersendiri di ruang hatinya. Meninggalkan kenangan indah saat menikmati mie favorite dengan bumbu racikan istimewa yang memanjakan lidah. Potongan hal kecil yang masih terpatri dan tersimpan di sebagian memori otaknya.

Ya, Mie ayam adalah makanan kesukaan Ayah. Menu favorite yang murah meriah, praktis, simple dan mudah dicari dimana saja. Bahkan kita banyak menemui di pinggir jalan, abang penjual mie ayam dengan gerobaknya yang khas. Kemanapun kami pergi jika keluar rumah, pasti mie ayam adalah makanan andalan yang pertama kali dicari.

Bagiku, sesi terbaik ngedate bersama Ayah adalah saat memakan penganan ini bersamanya. Akan kulihat binar indah di matanya, pertanda sukanya terhadap makanan ini. Apalagi jika dimakan di tempat kios mie ayam langganannya, wah.. dijamin semangkuk mie pun bisa tandas dengan cepat dalam hitungan menit. Jangan ditanya seberapa seringnya kami ditraktir mie ayam oleh Ayah.

Biasanya kami hanya bisa makan di waktu tertentu, di awal bulan. Satu hal yang menandakan bahwa Ayah habis gajian. Sesi dating anak-Ayah ini mungkin hanya suatu yang sederhana, tidak mewah dan biasa saja bagi sebagian orang.

 Tapi bagiku saat itu, makan mie ayam merupakan sebuah ritual makan di luar yang menyenangkan, di tengah kondisi hidup dengan ekonomi yang pas-pasan. Sehingga jajan pun hanya bisa dihitung dengan jari. Meskipun nyaris tidak setiap bulan, karena program penghematan ketat yang dijalani Ayah dan Ibu kala itu, yang sedang fokus membangun rumah.

Maka menyantap mie ayam kala itu terasa begitu wah. Karena sehari-hari Ibu hanya akan menambal penganan cemilan kami dengan memasak sendiri di rumah. Memanfaatkan bahan yang ada di kebun atau lingkungan sekitar tempat tinggal. Dari semangkuk mie ayam, Aku pun belajar arti ketulusan seorang Ayah.

Di balik diamnya dan meskipun didera kekurangan financial, pusing serta lelahnya menghadapi pekerjaan yang tak pernah Ia ceritakan. Ia sisihkan uang untuk mentraktir anaknya bergantian. Tiba-tiba ingatanku melayang ke suatu siang yang panas.

Selepas interview pekerjaan di pusat kota. Kami memarkirkan motor, dan duduk di bangku kayu Abang penjual mie ayam pinggir jalan. Sambil tak bersemangat, Ku aduk sambal diantara tumpukan mie yang sarat dengan ayam kecap, bawang goreng dan topping favoritku, pangsit rebus.

”Sudah jangan ditekuk gitu mukanya” Kata Ayah yang mungkin memperhatikan mukaku yang masam selepas interview tadi. Ia rupanya bisa membaca bahasa tubuhku yang kecewa, meski di antara debu jalanan dan bisingnya kendaraan yang hilir mudik. ”Maafin Aku yah.. sampai sekarang belum bisa diterima kerja, padahal Ayah sudah repot mondar-mandir antar” Ucapku sambil tertunduk, malu.

Ada perasaan sedih, kecewa dan rasa bersalah jadi satu yang membebani pundakku. Bagai batu berat tak terlihat yang bertengger di atas bahu sang anak pertama. Karena belum bisa mewujudkan harapan orang tua yaitu mendapatkan pekerjaan yang layak.

Energi negatif menggelayut membuat tubuh semakin lelah. Karena beberapa kali mencoba ikut interview kerja dengan diantar Ayah. Namun hasilnya masih nihil, belum juga diterima bekerja. “Tidak apa kak, insya Allah rezeki ga akan kemana” Jawab Ayah sambil tersenyum.

“Tetap berusaha lagi ya Kak, nanti akan Ayah antar. Percayalah, Allah Tidak tidur, pasti akan ada jalannya untuk Kakak” Katanya terus menyemangati hatiku yang sendu.

“Iya yah, terimakasih ya..” Mataku mulai berkaca kaca.

Dalam hati Ku kumpulkan lagi serpihan keyakinan itu, bahwa Aku pasti akan menemukan pekerjaan yang terbaik. Saat ini mungkin belum waktunya. Ingatan itu seperti flashback yang menarikku kembali. Ah.. ternyata doa terbaik itu tak hanya dari Ibu, Ayah juga berdoa dalam diamnya.

Ia mungkin tidak berisik bercerita tentang lelahnya, atau dalam mengungkapkan perasaannya. Namun jelas terlihat dalam tindakannya. Ada cinta diam-diam dan kerja keras yang dilakukan untuk anak-anaknya. Meski Ia mungkin tak sempurna dan selalu hadir saat paling genting dalam kehidupan ananda.

Namun tetap diluangkannya waktu untuk mengajak anaknya meski hanya sekedar makan sederhana. Sebuah ritual yang ku kenang indah, hingga sebelum menikah. Meninggalkan jejak waktu tentang gambaran indah hubungan Ayah dan anaknya. Sebuah doa khusyuk ku panjatkan kepada Allah,

“Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira: Ya Allah ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil (QS Al-Isra:24). PutriEkaSari April26




Kamis, 30 April 2026

Antologi 21 : Perempuan yang Berani Berkata Tidak (Yang Tak Terucap, Alineaku Apr26)

Perempuan yang Berani Berkata Tidak

Putri Eka Sari


Buku Antologi : Yang Tak Terucap

"Sayang.. Bisa pinjamkan Aku uang lagi? Aku ingin interview dan butuh uang pelicin agar lolos tes” Desak Mas Bimo kepadaku.

“Lagi??” Tanyaku sambil menatap matanya yang coklat bening, lama. Bulu mata lentik dan rupanya yang menawan tentu mampu meluluh lantakkan banyak hati perempuan. Entah berapa banyak wanita yang mungkin bertekuk lutut dihadapannya.

Aku menatap ke dalam mata itu, berharap Tuhan memberiku jawaban. Atas ragu, sesuatu yang berdesir dalam hatiku yang tak bisa dimengerti. Pernyataan Mas Bimo tadi membuat mataku yang mengantuk tertiup angin danau yang sepoi-sepoi seolah disentak dan ditarik kelopaknya, mataku membelalak.

Tak tau mengapa angin danau yang sejuk, sinar mentari senja yang teduh tak bisa menenangkan perasaanku yang tak enak. Tetiba terlintas pikiran aneh menelusup, Ah pantas saja tadi Mas Bim mengajakku ke Danau yang terkenal romantis bagi beberapa pasangan.

“Bukankah yang lalu saja 2juta belum Kembali mas? masa sekarang lagi?” Tanyaku menyelidik, di tahun kedua hubungan kami yang seperti jalan ditempat.

“Lalu bagaimana dengan interview sebelumnya mas? Apakah berhasil?” Cecarku dengan berbagai pertanyaan kepada Mas Bimo, seseorang yang kuanggap kekasih.  

“Masa kamu ga percaya kalau sudah lolos tes akan ku kembalikan de? bahkan lebih”Jawabnya sambil menatap dan meremas tanganku, seolah ingin meyakinkan, agar Aku mempercayai tiap kata-katanya.

”Ini berarti kali kedua Mas, apakah tak ada pekerjaan yang tak perlu pakai pelicin segala?” Ucapku sambil berpikir, karena jika Aku meminjamkan uang. Tentu setelahnya Aku yang harus berhemat selama satu bulan ke depan. Maklumlah gaji UMR, tentu harus bijak mengelola keuangan.

”Kamu kan tau, saat ini sulit mencari pekerjaan jika tak punya koneksi, maka uang pelicin itu dibutuhkan”Lanjut mas Bimo lagi.

“Anggap saja pelicin itu nanti untuk Tabungan pernikahan kita de” Pungkasnya ringan, seakan-akan Aku terlalu perhitungan kepadanya yang sedang berusaha menata masa depan kami.

Aku hanya menunduk, diam. Berusaha berdalih, mencari kata-kata untuk menyanggahnya yang menyebut pernikahan. Sebuah kata manis yang tentu saja menjadi impian banyak Perempuan. Menikah dengan pria pujaaan tentu menjadi tujuan masa depan di salah satu fase hidup.

Perempuan mana yang sudah dalam usia matang sepertiku begini, tak menginginkan pernikahan, batinku.

Bahkan perempuan sebayaku sudah beberapa menggendong anak, tak terhitung teman-teman kecil yang sebaya sudah beranak dua. Tapi Aku, masih saja merasa betah sendiri, karena menurut orang tuaku, sifat diri ini yang begitu selektif, pemilih.

Sementara kedua orangtuaku begitu takut jika anaknya disebut perawan tua, dicap tak laku oleh tetangga di kampung. Astaghfirullah, Aku beristighfar dalam hati.

Tapi, salahkah jika aku memilih untuk masa depan yang lebih baik? Pertanyaan itu entah mengapa terus hinggap di kepalaku.

Hal yang mungkin lumrah bagi perempuan terutama yang sudah cukup matang sepertiku. Jika memiliki sifat yang perasa, sensitive, dan didasari dengan insting. Sesuatu yang merupakan anugerah dari Allah untuk hambanya, Perempuan.

Meski perempuan mungkin mudah takluk oleh cinta, seperti banyak digambarkan dengan lagu-lagu. Sentuhlah ia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan sepenuh jiwa, buat hatinya terbang melayang.

Hal yang menggambarkan seolah hati, perasaan perempuan mudah ditaklukan, dan sering dieksploitasi lebih dalam oleh orang lain. Dalam beberapa cerita yang kujalani di kehidupan sehari-hari pun demikian.

Beberapa Perempuan yang ku kenal menjadi bucin, budak cinta oleh pasangannya sendiri. Ia seolah diperas habis kekuatan, dan kasih sayangnya. Seolah cintanya dimanfaatkan oleh orang lain.

Dan kini kisah pemanfaatan, eksploitasi perempuan ini khususnya oleh laki-laki yang sering disebut Mokondo, modal K***** doang. Aku bergidik ngeri ketika mendengar tanda Red Flag itu muncul.

Entah mengapa, sekelebat bayangan sahabatku, Maria hadir di kepalaku. Ia menangis sesenggukan bercerita tentang suaminya yang tidak mau bekerja. Lebih senang di rumah saja, main games atau judi online.

Jika Maria menuntut nafkah, suaminya akan memberi uang, berdalih itu hasil menang judi. Namun kenyataannya, ternyata uang itu didapatkan dari pinjaman online.

Dan tentu saja Maria harus melunasinya ketika rombongan debt collector berkali datang ke rumah orang tua tempat mereka menumpang tinggal. Para penagih menuntut pinjaman dilunasi dengan berbagai ancaman, agar uang dikembalikan.

Dan Maria terpaksa harus bekerja lebih keras dari biasanya, pontang panting kesana-kemari gali lobang tutup lobang. Sambil meratapi dan menerima kelakuan sang suami, berusaha berlapang dada.

Ah kehidupan pernikahan memang begitu rumit. Pantas saja jika banyak orang berkata bahwa pernikahan adalah ibadah yang panjang dan sangat lama. Maka tak jarang, banyak orang yang terpenjara akan pernikahannya sendiri.

Meskipun ada juga kisah beberapa teman yang memiliki keberhasilan serta kebahagiaan dalam pernikahannya. Suami yang bertanggung jawab dan menyayangi, anak-anak yang sehat serta sholih-sholihat. Tentu merupakan takdir baik yang menjadi impian tiap perempuan.

Nah sebuah kisah tadi adalah cerita tentang seorang yang berani berkata tidak, kepada hal yang mungkin mengganjal dalam hati. Keburukan, kemungkaran yang terselubung oleh kata-kata manis, bujuk rayuan. Semoga kita dan anak-anak kita dijauhkan dari yang demikian. Putri Eka Sari, Mar26