Kisah Ibu dan Caesar
Putri Eka Sari
Alhamdulillah,
Segala puji bagi Allah.. Tak henti bibirku mengucap syukur. Diselingi keharuan
kala mendengar tangis pertama anakku di ruang operasi.
”Alhamdulillah..
bayinya sehat Bu” Ucap dokter setelah membersihkan bayi dan kemudian
menempelkannya ke dadaku.
Ada getar
rindu ketika kulit kemerahannya menyentuh kulitku. Dan untuk pertama kalinya Ku
dengar degup jantungnya yang pelan menembus gendang telingaku. HIngga air
mataku pun mengalir, bahagia. Allahu Akbar, Rabbi habli minasholihin,
bisikku ke telinga mungilnya.
Proses
melahirkan ini, memproklamirkan diriku yang kini sudah sah bertransformasi
menjadi seorang Ibu. Tugas baru dengan amanah yang berat, mendidik ananda
dengan segenap cinta dan kasih sayang.
Lewat proses
operasi yang berjalan cepat dan lancar selang sekitar 15 menit masuk kamar
operasi, anak pertamaku sudah berhasil dikeluarkan dari 7 lapisan dalam
perutku. Antara percaya dan tidak, dan sejuta takjub atas kekuasaan Allah.
Dalam doa
dan iringan zikir panjang, Aku merasakan pertolongan dan kasih sayang Allah
yang Maha besar. Hingga akhirnya tim dokter yang ahli bisa melakukan proses
operasi dengan lancar sekitar 1 jam.
Mungkin bagi
sebagian orang, termasuk diriku tentu mengharapkan untuk bisa bersalin dengan
normal. Apalagi belakangan muncul cibiran netizen bahwa melahirkan dengan Caesar sering dianggap belum
menjadi Ibu seutuhnya, karena tidak mengalami proses mengejan secara alami saat
pembukaan hingga proses kelahiran bayi, meskipun para Ibu juga berjuang dengan
cinta dan mempertaruhkan nyawa.
Namun untuk
alasan medis, beberapa orang salah satunya diriku disarankan oleh dokter untuk
bersalin melalui Caesar. Bagiku yang memiliki riwayat penyakit Glaukoma pada
mata. Operasi SC adalah ikhtiar untuk memperkecil resiko kerusakan pada syaraf
mata.
Sebab
proses persalinan normal adalah hal yang sangat dihindari bagi penderita
Glaukoma, yang memiliki riwayat tekanan bola mata tinggi sepertiku. Karena
disinyalir dapat semakin memperparah bahkan bisa menyebabkan kebutaan pada mata,
jika dipaksakan menjalani proses melahirkan normal.
Banyak
orang menyepelekan dan berkata bahwa melahirkan dengan jalan operasi Caesar
begitu enak dan mudah. Tinggal bedah perut, tak perlu mengejan, minim resiko.
Padahal resiko dapat saja terjadi, terutama proses pemulihan pasca operasi SC
yang terbilang lebih lama.
Setelah
proses pemulihan pasca operasi selesai dan Aku dipindahkan ke ruang kamar perawatan.
Tetiba suhu tubuhku mulai mengalami penurunan drastis, dan menyebabkan badan
terasa mengigil kedinginan meski sudah menggunakan selimut berlapis.
Yang
dalam ilmu kedokteran salah satunya disebabkan respon tubuh terhadap sisa
anestesi (pembiusan) spinal (mati rasa dari pinggang ke bawah kaki), yang pada
sebagian orang berefek samping menggangu pengukuran suhu tubuh (gejalanya
seperti hipotermia, mirip seperti saat menanjak di atas gunung yang tinggi
akibat cuaca dingin yang ekstrim).
Kabar
sedih datang kala Aku mendapat kabar dari suster bahwa anakku di diagnosis
mulai mengalami gejala penyakit kuning, pada mata dan tubuhnya. Menurut dokter
hal ini biasa terjadi pada kasus bayi prematur, yang lahir pada usia kandungan
yang tidak mencapai 9 bulan.
Pada
anakku, Ia lahir pada usia 8 bulan. Menyebabkan beberapa organ di tubuhnya
belum matang paripurna. Salah satunya hati yang belum sempurna memproses
bilirubin, sehingga terdapat kadar birilurbin yang tinggi dalam darah.
Qadarullah,
anakku pun diberi perawatan intensif di NICU dan masuk ke dalam inkubator. Untuk
diberikan foto terapi (sinar biru yang dapat membantu untuk memecah bilirubin
berlebih dalam tubuh).
Selain
itu karena organ parunya pun masih belum berkembang sempurna, atau istilahnya
seperti masih menguncup (belum berkembang ideal). Maka untuk bernafas memerlukan
alat bantu ventilator untuk menjaga saluran nafas terbuka dan membantu paru
menjalankan tugasnya.
Di tengah
rasa panik tidak bisa bertemu langsung dengan bayi. Aku hanya bisa berdoa dan
memeras ASI, sebagai makanan terbaik yang akan diberikan kepada anakku dari
botol. Karena selama perawatan intensif yang steril di NICU, anakku tidak
diperkenankan dibawa ke ruang perawatan Ibunya. Meski sesekali Aku
diperkenankan menjenguknya, dan hanya diperkenankan melihat dari jendela.
Saat dilanda rasa galau, gelisah dan sedih
karena kepikiran ananda di ruang NICU dalam inkubator. Aku mendengarkan
tangisan diantara percakapan di ranjang sebelahku.
”Mas,
maafkan Aku karena tidak bisa mempertahankan bayi kita”. Kata perempuan yang
terisak, tangisannya begitu terdengar meyayat hatiku. Menembus ke telingaku,
karena ranjang kami hanya terpisah dengan tirai horden yang tipis.
”Tidak
apa De, mungkin belum rezeki kita”Jawab sang suami yang berusaha menenangkan
kesedihan istrinya.
Tak
berapa lama, sang suami keluar dari ruangan untuk membeli makanan. Meninggalkan
sang istri yang akhirnya sendirian. Dan entah bagaimana Kak Wuri, begitu Ia
memperkenalkan diri. Setelah akrab curhat kepadaku sebagai sesama perempuan.
Ia telah
menikah selama 7tahun, dan selama ia mengalami 7 kali keguguran. Namun kali ini
bayinya meninggal dalam kandungan, di usia kehamilan yang nyaris 7bulan. Hal
ini menurut dokter disebabkan karena perbedaan Rhesus darah antara anak dan
Ibu.
Sehingga
menyebabkan antibodi Ibu menyerang sel darah merah anaknya sendiri, yang
dianggap sebagai benda asing dalam tubuhnya. Meskipun sudah diantisipasi oleh
dokter dengan vitamin, obat dsb. Namun kerusakan organ pada janin anak tetap
terjadi.
Air
mataku mengalir deras, sungguh memiliki keturunan adalah sebuah titipan dari
Allah. Layaknya harta, anak merupakan perhiasan dunia yang dapat memberikan
orang tua kebahagiaan, kebanggan serta keindahan hidup di dunia (QS Al Kahfi:
46). Namun sebaliknya, anak juga bisa menjadi ujian atau fitnah bagi kedua
orang tuanya.
Semoga
dibalik rasa bahagia serta syukur sebagai Ibu. Allah mudahkan kita para Ibu
untuk mendidik anak-anak untuk mencari ridho dan surga Allah. Aamiin.. *Putri
Eka Sari, Februari 2026














