Ramadhan dan Kue Lebaran
Kak.. tolong matiin kompornya..” Kata Mama dari arah kamar selepas salam, setelah salat Ashar. “Siap Ma..” Kataku sambil berjalan menghampiri oven kami yang nangkring di atas kompor minyak tanah. Pada zaman dahulu, oven listrik memang belum lazim dimiliki. Kompor gas atau listrik pun masih terbilang elite, jarang ada yang punya. Hmmmm… Harum wangi kue yang terpanggang di dapur Mama begitu semerbak, menggelitik hidung. Wangi mentega wijsman yang kaya rasa mengudara di seluruh seantero rumah.
Pandanganku tertuju pada bulatan nastar keemasan yang menggoda jiwa, begitu bulat montok dan menul-menul bermahkota cengkeh di atasnya. Glek, spontan ku melirik keadaan sekitar. Rasanya ingin diam-diam ku comot salah satu bulatan nastar di deretan paling depan, tentu rasanya begitu enak, batinku.
Baunya saja membuat hidungku kembang kempis. Usus dalam perut pun seolah meronta-ronta, terbangunkan oleh rasa lapar. Setelah setengah hari berpuasa, dan melawan godaan untuk tidak mencicipi adonan kue nastar legendaris buatan Mama. Kue nastar yang menurut aku dan adik-adik juara di hati kami. Begitu lembut, lumer di mulut. Dengan isian selai nanas yang dibuat sendiri. Terutama jika dibandingkan dengan kue buatan toko-toko yang terasa sepo (hambar). Nastar buatan Mama tentu lebih menggugah selera.
Pegangan Istimewa yang hanya ada saat menyambut lebaran saja. Sehingga praktis kami hanya bisa mencicipinya setahun sekali. Maka sensasi ketika menggigit kue lebaran tentu akan terasa sangat menyenangkan. Apalagi saat kecil, kami masih memiliki keterbatasan (ekonomi yang pas-pasan).
Maka untuk dapat membuat cemilan lebaran baru bisa dilakukan setelah THR (Tunjangan Hari Raya) keluar. Maklumlah untuk membuat kue lebaran yang enak dengan citra rasa premium, dibutuhkan dana yang cukup lumayan. Sehingga makan kue lebaran terasa begitu Istimewa dan dinanti.
Apalagi kue lebaran belum banyak diproduksi masal (hanya ada saat momen Idul Fitri atau natal saja). Hal yang menyebabkan tiap tahun terasa rindu berat sama kue yang satu ini. Dan mencicipi kue legendaris ini baru bisa dilakukan setelah azan magrib tiba. Bagiku, azan menjadi momen yang paling ditunggu bukan hanya untuk berbuka puasa. Namun juga waktu untuk bisa mencicipi kue yang baru dipanggang tadi siang.
Setelah menahan lapar dan keinginan untuk makan kue yang tadi Mama panggang. Rasanya berdebar Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulut. Melahap nastar yang nanasnya begitu lumer, pecah dalam rongga mulut, adalah suatu kesenangan tersendiri. Kegiatan membuat penganan lebaran memang merupakan ciri khas dari masing-masing rumah. Hal ini biasa dilakukan di 10 hari terakhir lebaran, sebelum liburan dan mudik lebaran tiba.
Selalu ada warna kebahagiaan dan kehangatan tersendiri saat
masing-masing keluarga menyiapkan cemilan penganan untuk hari Raya Idul Fitri
secara bersama-sama. Dan menjadi kenangan indah, manis, yang hingga dewasa
sulit untuk dilupakan. Meskipun tak jarang dapur menjadi kotor karena tepung
terigu, gula yang berhamburan di mana-mana. atau mentega belepotan yang
menyebabkan dapur menjadi lengket.
Selalu ada cerita seru dan menyenangkan disetiap membuat kue lebaran. “De.. itu selai nanasnya masa gede banget segede bakso, nanti nastarnya sebesar apa?” Tegurku sambil cekikikan kepada Adik yang membuat isian nastar kebesaran. “Biarin we.. ini kan buat nastar special, buatanku untuk Nenek yang nanasnya paling gede..” Jawab Ari sambil menjulurkan lidahnya meledek.
“Makin besar nastarnya, siapa tau makin gede juga angpaunya Kak..” Lanjut Ari lagi. Adikku ini selalu suka memulung-mulung adonan selai nanas sebagai isian kue nastar. Ia yang paling sibuk menggelundungkan selai nanas kesana kemari. Dari pinggir oven Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“De.. jangan dimainin dong adonan selainya, nanti kan dimakan sama orang yang lebih tua..” Kata Mama mulai menasihati.
“Kita buat makanan yang
baik ya De.. Terutama sebagai bentuk menghargai makanan, apalagi jika tujuanmu
untuk dimakan oleh Nenek, orang tua yang harus dihormati” Ujar Mama lagi. “Tuh
kan De.. dibilangin Kakak juga..” Ujarku menimpali kejahilan Adik yang selalu
menganggap membuat kue bagai bermain plastisin, play dough.
Adik memang anak lelaki kecil yang sebenarnya kreatif dan senang bereksperimen, ia tak pernah melewatkan kegiatan membantu Mama membuat kue lebaran. Sepertiku dahulu saat kecil, masa bebas membentuk adonan kue menjadi berbagai macam rupa Adalah sesuatu yang menyenangkan. Kenangan masa anak-anak yang belum rusak dengan aktivitas Bersama gadget.
Kami akan bebas mencetak berbagai rupa kue, dari mulai bentuk ulat, kupu-kupu, bunga, matahari, dan Mama pun memperbolehkan membuat kue Pelangi, dengan menambahkan pewarna makanan pada kue. Rasanya sungguh menyenangkan sekali. Setiap keluarga tentu memiliki hidangan serta cemilan favorit untuk lebaran yang berbeda, tergantung oleh selera masing-masing. Keluargaku seperti keluarga pada umumnya, yang menyiapkan penganan berupa kue lebaran kering, misalnya nastar, kastengel (kue keju), kue semprit, lidah kucing, kue putri salju.
Kue yang biasa dibuat dan ada hampir setiap rumah di Jakarta. Sedangkan
penganan lain sebagai pendamping misalnya kacang bawang. Maupun hidangan khas
seperti wajik nanas, tape uli, biji Ketapang, akar kelapa, keripik bawang
ataupun cheese stick menjadi pendamping popular. Sepiring penganan kue lebaran
bareng keluarga semakin menghidupkan suasana silaturahmi yang tak terlupakan.
Putri Eka Sari, Jakarta 30 November 2025







