“Melalui tekanan, tempaan dan
proses yang keras, barulah batu hitam bisa menjadi berlian yang indah. Begitupula manusia ketika Ia bisa
melewati proses ditempa oleh berbagai macam kesulitan hidup, maka ia akan lebih
bersinar (naik derajatnya) .”
"Go****
Idiot.." Kata itu kembali dilayangkan kepadaku..
Masuk
ke dalam telinga lalu menembus ke hati, di panas terik ini. Rasanya membakar
jiwa, karena seharian ini sudah beberapa kali aku di semprot oleh Bos ku.
Aku
hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Praktis
Aku yang hanya bawahan, tak bisa membantah.
Diam
adalah cara terbaik agar amarahnya tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit
tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu
bakar ke dalam api.
"Itu
ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku
"Masa
gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak
meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.
"Iya
Pak, maaf" Kataku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik
ke arah Bosku.
Saat
Pak Bayu beranjak pergi. Akhirnya jantungku baru terasa berdetak lagi. Tabiatnya
yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang sekali dua
kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar,
salah di matanya.
Kala
ku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh mengapa perlakuan Pak Bayu
seperti itu, Bukankah seharusnya Namanya seperti Bayu, Air yang adem, dingin
menenangkan.
Aku
berharap, atasan yang menaungi bawahannya dengan baik. Bukan malah menyemprotku
dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.
Temanku,
Aisyah hanya bergumam.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "
"Bisa
apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja.." Ujarnya lagi,
menasehati.
"Tapi
kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku
sambil cemberut..
"Mending
aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.
"Duh
jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu.."
Balasnya Sambil memegang lenganku..
"Kita
harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur"
Ujarnya lagi sambil membujukku. Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak
Bayu.
Apalagi
Sifat bosku yang perfeksionis, selalu meminta tiap pekerjaan sesuai dengan
keinginannya, tak boleh bercela. Bahkan untuk titik dan koma harus sesuai
letaknya di proposal yang ia minta.
Aku
hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak
Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Kumisnya
yang tebal seperti Pak Raden dalam serial Unyil, makin membuat sangar wajahnya.
Kumis
tersebut akan bergerak turun naik diiringi amarah yang kadang tetiba muncul.
Begitu reaktifnya seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, tak ingat
waktu dan tempat.
Ingatanku
melayang di suatu malam, saat libur pun hpku harus selalu stand by di
telponnya. Karena Beliau ingin meminta reschedule tiket penerbangan.
Kala
itu jalanan Surabaya yang macet, sehingga praktis Ia ketinggalan check in masuk
ke pesawat. Dan tentu saja aku harus siap dengan tugas tanpa kenal waktu.
Gercep cek dan
beli tiket pesawat, booking hotel serta akomodasi haruslah sesuai keinginannya.
Ia tak peduli jika uang nya harus ku talangi dengan uang pribadiku dahulu.
Ya..
begitulah konsekuensi bekerja. Dan Aku hanya bisa mengelus dada setiap harinya.
Di mana Bos selalu benar, dan tentu bawahan yang selalu di salahkan.
Namun
beberapa tahun kemudian, Aku baru merasakan dampak bekerja dibawah asahan Bosku
ini. Kerjaku semakin cepat, dan lebih mudah memahami arahan atasan.
Menjadikanku terbiasa sat-set, gercep, membuat instingku lebih peka,
serta makin terarah pula memahami keinginan klien.
Ritme
kerja keras ini seolah Allah sengaja ajarkan kepadaku. Hal yang akhirnya membuat
perlahan jabatanku dipromosikan naik. Dan diberikan berbagai reward,
hadiah dari perusahaan.
Kini
Aku merasa, sepertinya harus berterimakasih kepada Bosku yang kini sudah
meninggal. Karena berkat didikannya, Aku bisa lebih kuat mental menghadapi
klien yang terkadang banyak inginnya seperti Raja.
Sebuah surat dalam Quran begitu pas menggambarkan keadaan
ini, QS. Al-Baqarah (2:216): "Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita, meski kita
tidak menyadarinya). PutriEkaSari, Jan26
Profil Penulis:
Nama : Putri Eka Sari S.T
Profesi :
Penulis
Domisili :
Jakarta
Alamat Pos-el : putri.ekasari@gmail.com
Media
Sosial : putri ekasari (Fanpage Facebook), @putrie_bundapaipia (Instagram)







