Selasa, 03 Februari 2026

Buku Antologi 12 : Renungan dan Nostalgia Ramadhan

Ramadhan dan Kue Lebaran

    Kak.. tolong matiin kompornya..” Kata Mama dari arah kamar selepas salam, setelah salat Ashar. “Siap Ma..” Kataku sambil berjalan menghampiri oven kami yang nangkring di atas kompor minyak tanah. Pada zaman dahulu, oven listrik memang belum lazim dimiliki. Kompor gas atau listrik pun masih terbilang elite, jarang ada yang punya. Hmmmm… Harum wangi kue yang terpanggang di dapur Mama begitu semerbak, menggelitik hidung. Wangi mentega wijsman yang kaya rasa mengudara di seluruh seantero rumah.

    Pandanganku tertuju pada bulatan nastar keemasan yang menggoda jiwa, begitu bulat montok dan menul-menul bermahkota cengkeh di atasnya. Glek, spontan ku melirik keadaan sekitar. Rasanya ingin diam-diam ku comot salah satu bulatan nastar di deretan paling depan, tentu rasanya begitu enak, batinku. 

    Baunya saja membuat hidungku kembang kempis. Usus dalam perut pun seolah meronta-ronta, terbangunkan oleh rasa lapar. Setelah setengah hari berpuasa, dan melawan godaan untuk tidak mencicipi adonan kue nastar legendaris buatan Mama. Kue nastar yang menurut aku dan adik-adik juara di hati kami. Begitu lembut, lumer di mulut. Dengan isian selai nanas yang dibuat sendiri. Terutama jika dibandingkan dengan kue buatan toko-toko yang terasa sepo (hambar). Nastar buatan Mama tentu lebih menggugah selera. 

    Pegangan Istimewa yang hanya ada saat menyambut lebaran saja. Sehingga praktis kami hanya bisa mencicipinya setahun sekali. Maka sensasi ketika menggigit kue lebaran tentu akan terasa sangat menyenangkan. Apalagi saat kecil, kami masih memiliki keterbatasan (ekonomi yang pas-pasan). 

    Maka untuk dapat membuat cemilan lebaran baru bisa dilakukan setelah THR (Tunjangan Hari Raya) keluar. Maklumlah untuk membuat kue lebaran yang enak dengan citra rasa premium, dibutuhkan dana yang cukup lumayan. Sehingga makan kue lebaran terasa begitu Istimewa dan dinanti.

    Apalagi kue lebaran belum banyak diproduksi masal (hanya ada saat momen Idul Fitri atau natal saja). Hal yang menyebabkan tiap tahun terasa rindu berat sama kue yang satu ini. Dan mencicipi kue legendaris ini baru bisa dilakukan setelah azan magrib tiba. Bagiku, azan menjadi momen yang paling ditunggu bukan hanya untuk berbuka puasa. Namun juga waktu untuk bisa mencicipi kue yang baru dipanggang tadi siang. 

    Setelah menahan lapar dan keinginan untuk makan kue yang tadi Mama panggang. Rasanya berdebar Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulut. Melahap nastar yang nanasnya begitu lumer, pecah dalam rongga mulut, adalah suatu kesenangan tersendiri. Kegiatan membuat penganan lebaran memang merupakan ciri khas dari masing-masing rumah. Hal ini biasa dilakukan di 10 hari terakhir lebaran, sebelum liburan dan mudik lebaran tiba. 

    Selalu ada warna kebahagiaan dan kehangatan tersendiri saat masing-masing keluarga menyiapkan cemilan penganan untuk hari Raya Idul Fitri secara bersama-sama. Dan menjadi kenangan indah, manis, yang hingga dewasa sulit untuk dilupakan. Meskipun tak jarang dapur menjadi kotor karena tepung terigu, gula yang berhamburan di mana-mana. atau mentega belepotan yang menyebabkan dapur menjadi lengket.

    Selalu ada cerita seru dan menyenangkan disetiap membuat kue lebaran. “De.. itu selai nanasnya masa gede banget segede bakso, nanti nastarnya sebesar apa?” Tegurku sambil cekikikan kepada Adik yang membuat isian nastar kebesaran. “Biarin we.. ini kan buat nastar special, buatanku untuk Nenek yang nanasnya paling gede..” Jawab Ari sambil menjulurkan lidahnya meledek. 

“Makin besar nastarnya, siapa tau makin gede juga angpaunya Kak..” Lanjut Ari lagi. Adikku ini selalu suka memulung-mulung adonan selai nanas sebagai isian kue nastar. Ia yang paling sibuk menggelundungkan selai nanas kesana kemari. Dari pinggir oven Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. 

“De.. jangan dimainin dong adonan selainya, nanti kan dimakan sama orang yang lebih tua..” Kata Mama mulai menasihati. 

“Kita buat makanan yang baik ya De.. Terutama sebagai bentuk menghargai makanan, apalagi jika tujuanmu untuk dimakan oleh Nenek, orang tua yang harus dihormati” Ujar Mama lagi. “Tuh kan De.. dibilangin Kakak juga..” Ujarku menimpali kejahilan Adik yang selalu menganggap membuat kue bagai bermain plastisin, play dough.

Adik memang anak lelaki kecil yang sebenarnya kreatif dan senang bereksperimen, ia tak pernah melewatkan kegiatan membantu Mama membuat kue lebaran. Sepertiku dahulu saat kecil, masa bebas membentuk adonan kue menjadi berbagai macam rupa Adalah sesuatu yang menyenangkan. Kenangan masa anak-anak yang belum rusak dengan aktivitas Bersama gadget. 

    Kami akan bebas mencetak berbagai rupa kue, dari mulai bentuk ulat, kupu-kupu, bunga, matahari, dan Mama pun memperbolehkan membuat kue Pelangi, dengan menambahkan pewarna makanan pada kue. Rasanya sungguh menyenangkan sekali. Setiap keluarga tentu memiliki hidangan serta cemilan favorit untuk lebaran yang berbeda, tergantung oleh selera masing-masing. Keluargaku seperti keluarga pada umumnya, yang menyiapkan penganan berupa kue lebaran kering, misalnya nastar, kastengel (kue keju), kue semprit, lidah kucing, kue putri salju. 

Nastar dan Kue Lebaran

    Kue yang biasa dibuat dan ada hampir setiap rumah di Jakarta. Sedangkan penganan lain sebagai pendamping misalnya kacang bawang. Maupun hidangan khas seperti wajik nanas, tape uli, biji Ketapang, akar kelapa, keripik bawang ataupun cheese stick menjadi pendamping popular. Sepiring penganan kue lebaran bareng keluarga semakin menghidupkan suasana silaturahmi yang tak terlupakan.

Putri Eka Sari, Jakarta 30 November 2025

Jumat, 23 Januari 2026

Buku Antologi 11 : Perempuan juga Bisa (Alineaku, Jan26)

 Ibu Mandiri, Mencintai Sepenuh Hati

Kring.. Kring.. Kring…

Pagi itu pukul 4, alarm nyaring berbunyi. Ingin rasanya ku matikan dan memeluk guling, melanjutkan tidur, hingga azan Subuh berkumandang. Namun kuurungkan, sambil setengah terkantuk-kantuk tombol stop alarm ditekan, mati. Entah mengapa bayangan Ibu tiba-tiba berkelebat di kepala. Ah… Ibu.. Aku rindu..

Dahulu saat belum menikah dan masih tinggal bersama Ibu. Tentu Aku tak harus bangun terlalu pagi. Belum ada tanggung jawab sebagai Ibu dan istri yang harus kuemban setiap hari. Aku bisa berleyeh-leyeh lebih lama di tempat tidur hingga Ibu membangunkanku untuk sholat subuh. Apalagi setelah memiliki pekerjaan, Ibu akan membangunkan jika sudah waktunya berangkat kerja, dan belum dilihatnya Aku keluar dari kamar, bersiap. Menyentuh area dapur pun jarang kulakukan, jika bukan hari libur.

Ibu akan selalu memintaku untuk fokus belajar saat sekolah dan kuliah. Saat sudah bekerja dan belum menikah, Aku jarang di rumah. Waktu lebih banyak dihabiskan di kantor, atau P Perempuan Juga Bisa | 47 selebihnya kadang habis untuk jalan-jalan, hangout bersama teman-teman. Dan kini setelah memiliki anak-anak, tinggal tidak dengan orang tua, Aku menjadi lebih mandiri, baik secara fisik dan emosional. Tak bergantung pada orang tua.

Mengeluh tentu akan memberatkan pikiran mereka. Aku baru tahu rasanya memiliki tanggung jawab karena cinta. Kasih sayang yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Ah.. Aku jadi kangen masakan Ibu, yang kini tidak bisa setiap hari ku cicipi. Karena rumahnya yang cukup jauh dari tempat tinggal, tak searah dengan tempat kerja. Namun, jarak tak memisahkan kami, Aku tetap rajin berkabar dengan Ibu setiap hari. Termasuk jika Aku ingin bertanya perihal bumbu masakan.

Mungkin dahulu Ibu juga merasakan apa yang kurasakan saat ini. Memasak sendiri bukan karena masalah financial, ingin berhemat sehingga tidak bisa membeli saja makanan di luar, bukan juga anak-anak yang tak diberi uang jajan. Uang saku anak-anak yang memang bersekolah dekat dari rumah tentu cukup untuk jajan di sekolah. Tapi bagiku, menyiapkan bekal untuk anak-anak adalah murni kemauan sendiri, tanpa paksaan dari suami. Meskipun gempuran promo menarik dari aplikasi order makanan berbayar begitu mudah seperti Go-food, Grab Food, shopee food. Tentu menggugah dan menggiurkan, tinggal klik dalam hitungan detik, tak lama makanan sudah siap tersaji di meja.

Tapi saat memasak sendiri, yang terbayang adalah wajah puas anak-anak. Terutama jika mereka suka mencicipi masakan Ibundanya.

“Hm.. Masakan Bunda enak..” Kata Bimo, anak sulungku sambil tersenyum, dan mengacungkan jempolnya saat mencicipi perkedel kentang buatanku.

Pujian yang mampu membuatku tersenyum bahagia, terbang melayang ke angkasa. Seolah lelahku terhapus begitu saja. Tak kuhitung lagi waktu untuk membuat satu menu masakan, dari mulai menyiapkan bahan, memotong, meracik bumbu dan mengolahnya. Meski niat utama memasak adalah untuk ibadah kepada Allah. Namun ada buncah kegembiraan tersendiri. Apalagi jika melihat anak-anak yang makan dengan lahap, berebut mencicipi ayam goreng buatanku.

Ada haru tersendiri yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Atau Aku hanya persija? Karena Aku bukan Ibu yang bisa mendedikasikan waktu 24 jam di rumah. Sehingga waktu yang sedikit begitu dimampatkan sedemikian rupa untuk keluarga. Spontan, seperti ada kekuatan dari dalam diri, langsung Ku bergegas bangkit dari tempat tidur.

Menghindar dari area Kasur, bergegas ke kamar mandi. Mencuci muka dan menyikat gigi. Rasanya diri dikejar oleh waktu, maka dengan cekatan selepas menunaikan solat Subuh, langsung ku bergegas ke dapur. Menyiapkan bekal untuk anak-anak sekolah. 



Bagi ku yang Ibu pekerja, ingin meski sedikit saja, dengan kemampuan serta pengetahuan memasak yang terbatas. ikut berkontribusi dalam mencerdaskan anak sendiri, karena tentu mencerdaskan anak bangsa belum bisa. Hihihi Dengan memilih makanan yang sehat dan memasak secara higienis, memastikan kebersihan dan kesegaran bahan masakan untuk anak-anak. Meracik makanan raw food(bukan olahan) dengan tanganku sendiri. Seperti ada kepuasan di tengah isu kebersihan yang sering terjadi saat anak jajan di luar rumah.

“Bun.. tadi Kayla ga masuk sekolah lagi karena sakit..” Ucap Aiko, anakku yang senang bercerita kegiatannya di sekolah.

“Wah.. Kayla sakit apa De?” Tanyaku kepada si Bontot. “Kata Miss Indah Diare Bun.. Soalnya kayla sering jajan diluar sekolah” Jawab si Bungsu.

Ya, ku dengar dari obrolan di grup kelas, Kayla dan beberapa anak lain di sekolah terkena diare karena jajanan yang ada di luar sekolah. Mungkin karena pengaruh kebersihan atau jamur yang ada dari saus yang digunakan pada Burger dan kebab yang di jual oleh abang penjaja keliling.

Memang tak semua penjual makanan tak bersih, Aku pun tak bisa mengeneralisir semua pedagang makanan demikian. Namun bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Bagiku membawakan bekal untuk anak sebagai antisipasi dini dari rumah, agar anak tak terlalu lapar.

Meski mungkin tidak ada yang terlalu special dari masakanku, hanya hidangan rumahan biasa yang mungkin juga tersedia di warteg/ rumah makan biasa dekat rumah. Dan bisa jadi rasanya pun lebih enak. Tapi ada cinta dan doa yang ku sematkan disana. Sama seperti ibuku, yang selalu menyematkan doanya di dalam setiap masakannya. Dari setiap gigitan pada setiap makanan, ada ketulusan, harapan dan doa yang mengalir dari seorang ibu kepada anaknya.

Putri Eka Sari, Jakarta 16 Desember 2025

Selasa, 06 Januari 2026

Buku Antologi 10 : Di Sudut Kota Ramadhan (Alineaku Des25)

 Melangitkan Doa di Keheningan Ramadhan

Putri Eka Sari


Sayup-sayup suara lantunan ayat suci al qur’an yang dibacakan oleh Pak Amar, muadzin masjid dekat rumah sebelum mengumandangkan azan terdengar dari speaker masjid. Terasa begitu merdu diantara orang-orang yang sibuk berburu takjil untuk persiapan berbuka puasa.

 Ayat-ayat yang mengalun mengetuk hati, menarik ingatanku, layaknya diri melayang di udara, entah mengapa yang terbayang adalah masjid Nabawi- Madinah. Keheningan menuju magrib dalam frekuensi lantunan suara qur’an menggetarkan hatiku yang merindu berada dalam satu atmosfir yang sama dengan Nabi Muhammad SAW, kekasih Allah.

Kenangan indah beribadah di Masjid Nabawi berkelebatan dengan suasana Ramadhan yang syahdu. Rasa teduh merasuk hingga ke jiwa, bayangan menjejakkan kaki untuk beribadah di sana dengan khusyuk dan nyaman seperti menggelitikku.

Seketika langsung ku langitkan doa saat menjelang berbuka di penghujung Ramadhan ini, agar suatu saat bisa itikaf dan berbuka puasa di 10 terakhir Ramadhan bersama keluarga muslim lain dari seluruh dunia di sana. Plus dengan harapan mendapatkan malam Lailatul Qadr di sana, yang mungkin juga menjadi impian banyak orang muslim di Dunia.

Bagaimana tidak? Karena keutamaan solat di Masjid ini pahalanya mencapai 1000x dari pahala di masjid lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda,"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom." (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah).

Maka impian ini ku tembuskan melalui doa khusyuk, lewat jalur langit. Karena menurut sebuah Hadis Shahih, "Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka" (HR. Ibnu Majah).

Keinginanku yang lain adalah mendatangi Masjid Nabawi untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Beserta makam kedua shahabat terbaiknya: Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA.

Tentu mengunjungi tempat-tempat menarik di Masjid Nabawi adalah dambaan semua orang bukan? Karena area Raudhah dan makam Rasulullah SAW memang merupakan salah satu tempat yang mulia dan istimewa. Sebab di sinilah sekitar 1400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW beribadah, menerima wahyu, berdakwah dan juga sholat Bersama para sahabat. Maka sangat disunahkan memperbanyak ibadah di Raudhah.

Rasulullah bersabda: Tempat yang terletak di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu di antara taman-taman surga. (HR Bukhari).

Hatiku berdenyut membayangkan bisa beritikaf selepas salat Isya di sana. Melantunkan zikir serta bershalawat saat-saat 10 hari terakhir Ramadhan tentu menjadi Impian tersendiri dalam hidupku.

Kerinduan melaksanakan shalat sunah Taubat dan Shalat Hajat (sebagai shalat yang diutamakan) di area Raudah secara bergantian dengan banyaknya jamaah yang hadir di sana tentu menjadi kenangan manis. Meskipun diri ini merasa shalat di sana terasa sebentar dan terburu-buru, karena antrian panjang orang yang juga memiliki niat yang sama, shalat di tempat terbaik.

Lagi, suasana teduh menjelang magrib menyadarkanku tentang pentingnya memurnikan niat saat kita shalat, terutama di Raudah. Niatkan agar mengharap ridho Allah, mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW, bukan untuk mengkhultuskan Nabi atau benda-benda (contoh: Makam Nabi Muhammad), sehingga dijauhkan dari perilaku syirik (menduakan Allah).

Mataku mulai berkaca-kaca, diri makin terhanyut akan getar kerinduan kala kenangan itu membawaku, menderu rindu sosok Rasulullah. Yang beribu jarak tahun tak pernah berjumpa denganku, umatnya (1388 tahun lalu). Tepatnya bulan Juni 632M (11H), Rasulullah SAW wafat di area yang saat ini menjadi area makam di Masjid Nabawi.

Damai menelusup, membayangkan salah satu hal yang juga membuat rindu Masjid Nabawi. Karena memiliki arsitektur yang rupawan, dengan design interior masjid yang megah, dilengkapi payung raksasa ikonik di sekitar pelatarannya, begitu memanjakan mata.

Tentu ketika Ramadhan area ini sangat padat oleh pengujung, orang-orang yang mengaji dan solat di sana. Terutama saat menjelang waktu berbuka puasa, betapa serunya membayangkan jika ngabuburit di sana dengan muslim lain dari seluruh penjuru Dunia.

Suasana Ramadhan yang begitu religius tentu membuat banyak orang ingin mengisi waktu secara efektif, dan berlomba bersedekah pula di sana. Ah… Aku yang di Indonesia juga tidak boleh kalah, mungkin saja di penghujung Ramadhan yang entah kapan Aku bisa merasakan Ramadhan di Madinah, ucapkan dalam hati dengan penuh keyakinan.

Nuansa Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mengecharge keimanan. Di antara 11 bulan lain yang mungkin alpa, lupa akan Sang Khalik. Karena terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Momen untuk menjadikan ibadah sebagai prioritas, bukan hanya karena besarnya ganjaran pahala dari Allah. Namun karena besarnya harapan untuk mendekat kepada Allah. Berharao mendapatkan keridhoan serta keberkahan dalam hidup. Sehingga didapatkan kedamaian jiwa yang gundah, galau dan sering kecewa kepada manusia.

Semoga kerinduan dan doa di penghujung Ramadhan ini Allah kabulkan. Dengan memanggil kami sekeluarga untuk bisa beribadah Umroh ke Madinah. Aamiin..

-Putri Eka Sari, Penghujung Ramadhan 2025-

 

 

 

 

 


Sabtu, 03 Januari 2026

Buku Antologi 9 : Reruntuhan Rasa (Sepotong Jiwa yang Hilang - Alineaku, Des25)

 Separuh Jiwaku Hilang karena Glaukoma

Pengumuman dari dokter kantor selepas pemeriksaan rutin cek up tahunan, membuatku bagai disambar petir di siang bolong. Hingga harus menegakkan pendengaran dengan seksama. Saat dokter menjelaskan mengenai penyakit yang tak sadar ku derita, Glaukoma.

Menurut Dokter, Glaukoma adalah suatu kerusakan pada indra penglihatan (mata), karena terjadi kerusakan pada saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata secara terus menerus. Suatu penyakit pada mata yang kabarnya bisa menyebabkan kebutaan mata secara permanen.

Penyakit yang membuat sebagian jiwaku seolah hilang dan bertanya-tanya. Apa salahku hingga memiliki penyakit seperti ini?

Si pencuri penglihatan yang diam-diam menghantui. Ditengah sakit kepala migrain yang sering kurasakan dan dianggap hanya sakit kepala biasa.

Padahal saat itu syaraf mata sedang mengalami kerusakan perlahan, yang disebabkan oleh tekanan tinggi pada bola mata yang tak disadari oleh penderitanya. Glaukoma, penyakit yang kadang disalah artikan dan sering dianggap sebagai penyakit gula, diabetes. Karena kata yang terkesan mirip ketika mengeja.

Sebuah kata yang baru saja ku kenal, entah penyakit bawaan genetik dari siapa, keluarga Ayah ataukah Ibu. Yang ku kenal, hanya SiMbah dari Ayah yang tiba-tiba mengalami kebutaan saat usia sepuh.

Tak diketahui apakah disebabkan oleh Glaukoma atau bukan (penyakit mata lainnya, misalnya katarak atau diabetes). Karena zaman dahulu, orang di desa jarang pergi ke dokter. Mereka hanya berobat ke dukun, mantri atau bidan.

Lagi.. Overthinking mengetuk ke dalam diri, Pemikiran dan pencarian logika yang makin membuat ruwet pikiran. 

Ditambah selepas dari kantor, sampai di rumah, Ku dengar sekilas info dari radio. Seseorang nara sumber menceritakan pengalamannya yang tiba-tiba kehilangan penglihatannya – Buta, ketika bangun tidur.

”Tiba-tiba saja, ketika saya bangun tidur di pagi hari karena bunyi alarm yang biasa berbunyi jam 5 pagi untuk membangunkan solat subuh. Mata saya tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap total, hitam tanpa cahaya” Kata Pria itu sambil terbata-bata.

”Glaukoma mencuri penglihatan saya, merenggut cahaya dari mata saya dengan tiba-tiba. Dan menghancurkan banyaknya impian yang belium diraih ” Lanjutnya terisak, larut dalam kesedihan

Aku mendengarkan cerita tersebut dengan prihatin, ikut terhanyut dan menangis. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding, ya Allah.. Aku tak sanggup. Semoga Kau berikan Aku penglihatan yang baik dan bermanfaat,, Doaku dalam hati.

Kegundahan di hati pun makin merajalela karena masih menjomblo. Sehingga praktis masih sendiri tanpa pasangan untuk berbagi cerita. Yang kadang terlintas iri dihati ketika teman-teman berceloteh tentang pacar dan anak karena telah memiliki rumah tangga.

Ah.. Perasaan hampa yang tiba-tiba menyergap, seperti ada sesuatu dalam diriku yang hilang, entah apa. Aku mencoba menutup mata, menahan gelisah.

Berharap rasa itu lenyap, tapi justru semakin terasa. Seperti ada celah, ruang kosong jauh di hati terdalam yang tak bisa kuisi dengan apa pun.

***

Seperti serangan avatar, rasa anxiety terus datang. Hingga malamku tak bisa tidur nyenyak. Hati menjadi gelisah, diliputi ketakutan yang membelenggu jiwa.

Tak ayal ritualku setiap bangun pagi setelah mata melek adalah melihat ke arah atap langit-langit kamar. Memastikan ke arah lampu yang terang. Masihkah ku lihat cahaya disana. Lantas buru-buru  menghitung jari tangan, apakah masih bisa ku hitung tiap jari dengan tepat, sepuluh jumlahnya.

Keadaan ini terus berulang hingga rasanya membingungkan untukku. Membuatku akhirnya terus bertanya kepada Allah. Mengapa Ia memberiku penyakit seperti ini, kenapa di keluargaku hanya aku yang memiliki penyakit ini. Kenapa bukan si A atau si B, teman kantor yang jahat perangainya.

Aku merasa terputuk, hidupku terasa limbung, menjadi hilang arah. Kebingungan yang enggan ku ceritakan dan bagi kepada orang tua. Khawatir membebani pikiran mereka. Jika membagi cerita kepada teman malah khawatir dianggap terlalu cengeng, rapuh. Tak bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Arghhhh...

***

Entah mengapa, hari itu kudengar sebuah video di medsos, hanya sekilas lewat di beranda. Tentang ujian dari Allah untuk hambanya. Dan salah satu yang bisa menentramkan hati adalah sabar dan sholat.

Dan malam itu, aku kembali meraih sajadah. Memperbaiki sholat, lalu meluapkan isi hati kepada Allah. Air mata pun menetes deras  layaknya hujan. Ku biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah. Sesi menangis, dan berserah kala tahajud adalah sesi curhat panjang pada Allah yang tanpa judge (penghakiman) dari orang lain.

Lewat uraian air mata dan banyaknya keluhan, Ku akui kelemahan dan mengharap kekuatan dari Sang pencipta. Malam menjadi saksi tentang kegundahan yang merajalela, tentang ketakutan akan masa depan yang tak tahu juntrungannya.

Ku terima dan ridho atas takdir ini ya Allah.. Ucapku lirih. Berharap semoga dengan ridho akan takdirMU. Setelahnya Aku bisa memetik hikmah dari ketetapan yang sudah Allah gariskan.

Semoga lewat doa yang terselip disela rintihan kesedihan, Allah menghilangkan rasa hampa, menguatkan serta meneguhkan hati yang rapuh. Kemudian membuat hati menjadi lebih ringan, lega, dan plong.

Ya.. Talk to Allah mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik. 

Ketidak panikan membuatmu bisa bertindak tak hanya dengan rasa dan emosi yang terkadang menjerumuskan. Tapi dengan mengontrol pemikiran secara  sadar, penuh logika, pertimbangan dan bijaksana.

Ingat, setiap orang juga memiliki masalah dalam hidupnya. Bukan hanya kamu yang memiliki ujian, masalah dalam hidupnya. Bahkan bisa jadi ada yang lebih berat ujianNya daripada kamu.

Namun seseorang yang hebat adalah yang bisa merubah depresi lalu mengubah fokusmu, mencari solusi dari setiap kejadian. Sehingga dirimu akan lebih menerima dengan ikhlas serta sabar masalah, dengan keyakinan, bahwa AKU BISA melewatinya.

Jumat, 02 Januari 2026

Buku Antologi 8 : Kasih Ibu Sepanjang Masa (Seputar Duniaku, Alineaku Nov25)

 Kasih Ibu Sepanjang Masa

oleh : Putri Eka Sari

Cinta menangis sesenggukan di pangkuan Ibunya. Tersedu sedan meratapi lika liku hidupnya. Berkali-kali mengusap air mata yang keluar dari matanya yang mulai sembab, bersamaan dengan menghapus bayangan indah tentang kehidupan pernikahan yang ia dambakan.

”Ternyata menikah itu menyakitkan Bu..” Ujar Cinta pada Sang Ibu sambil terisak-isak.

Ibunya hanya mengusap halus pundaknya perlahan, berusaha menguatkannya. Tak membantah, hanya larut mendengarkan dalam diam, sesekali ikut terhanyut dalam sedihnya sang anak.

Bagi Cinta, Ibu adalah tempat paling nyaman untuk bercerita, Ibu selalu ada saat ia membutuhkan pelukan hangat. Ibu selalu mendengarkan tanpa menghakimi.

Sedangkan curhat dengan sahabat. Bukannya lega malah menjadi luka untuknya. Ketika sahabat adalah maut baginya. Rien, Sahabatnya malah menjadi selingkuhan suaminya, menjadi duri dalam rumah tangganya, tanpa sepengetahuannya begitu tega bermain api di belakangnya.

Berbeda dengan cerita ke teman lainnya, jika Cinta bercerita tentang permasalahan dalam rumah tangganya, alih-alih mendapat solusi, malah khawatir menjadi bahan gunjingan orang lain. Sementara aib rumah tangga sebaiknya di tutupi dengan rapat.

Maka akhirnya Cinta memilih tempat curhat terbaik, yaitu Ibunya sendiri. Meski awalnya Cinta sempat ragu, masalah yang ia alami akan membebani pikiran orang tuanya yang sudah mulai lanjut usia.

Namun, baginya hanya Ibu yang bisa membaca seluruh isi hatinya, menembus jiwa anaknya, Hingga Cinta tak harus berkata terlalu banyak dan detil.

Cinta selalu tahu bahwa Ibu adalah rumah. Tempat Ia bermula dan pulang.

”Mengapa Mas Rangga jahat Bu, kenapa pernikahanku tak seperti teman-teman lain yang bahagia?” Cinta berujar sambil kali ini memukul-mukul sofa di sebelahnya.

”Hu... Mengapa Bu? Kenapa begini?” Tanyanya lagi dengan penuh emosi.

Ternyata waktu 8 tahun Cinta mengenal suaminya sebelum menikah, tak cukup untuk memberi gambaran utuh tentang lelaki yang pernah ia puja dan cintai mati-matian. Ia begitu buta sehingga matanya hanya fokus kepada kebaikan sang kekasih, tanpa menghiraukan keburukannya.

Ia tak menyadari tanda-tanda betapa Red Flag suaminya. Ia terlalu bucin, hingga matanya tertutup kabut cinta buta. Ah.. betapa bodohnya Cinta..

Rangga, seseorang yang ia pikir bisa menjaga, melindungi dirinya, ternyata mampu berbuat kasar padanya. Dia akan marah jika Cinta bertanya kenapa pulang kantor terlambat, atau menanyakan kemana uang  gaji, hasil kerjanya.

Tamparan, pukulan, tendangan akan dilayangkan ketika ia bertanya. Mengapa Rangga lebih peduli kepada keluarganya saja, membelanjakan Ibu dan adiknya ini dan itu setiap habis gajian.

Tanpa memedulikan perasaannya. Bahkan mencukupi kebutuhan dirinya sebagai istri. Juga calon anak mereka yang kini sedang dikandungnya.

Ketika Ia tanya, Kenapa? Mengapa? Rangga mengganggap Cinta mandiri secara financial. Penghasilan Cinta yang cukup besar di kantor sehingga membuat Rangga berfikir tak perlu memberikan nafkah dan bertanggung jawab padanya.

Ya Allah.. Betapa dilema menjadi istri, jika bekerja dianggap mandiri secara financial. Namun jika tak bekerja dianggap menjadi beban Suami. Lalu apa tujuan berumah tangga bagi Rangga? bukankah pernikahan adalah ibadah dua insan yang disatukan dalam ikrar suci ijab qabul?

Apakah menikah hanya sekedar menyalurkan hubungan biologis saja? Berbagai pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran Cinta yang kacau.

Ibu mengelus lagi perlahan punggung Cinta, Ia paham dan ikut merasakan, emosi dan rasa gundah dari anaknya yang sedang terluka. Ia ingin marah pada Rangga, suami Cinta.

Rasa amarah yang mampu membakar jiwa hingga membuatnya ingin menampar, memukuli, atau mencaci Laki-laki jahat itu. Karena Rangga, suami Cinta, telah menyakiti hati anak kesayangannya.

Ibu mengusap lagi kepala Cinta, anak semata wayangnya dengan segenap kerinduan. Rasanya baru kemarin Ibu mengusap kepala Cinta sambil membacakan dongeng, ritual kecil kala menemani Cinta menjelang tidur.

Dan waktu berlalu begitu cepat, tanpa ia sadari. Putri kecilnya tumbuh dewasa, dengan segala kenangan indah yang sudah mereka lalui bersama.

Cinta, putri kesayangannya yang cantik, penurut, selalu berprestasi saat di sekolah. Anak yang Ia besarkan dengan segenap kasih sayang hingga dewasa, meskipun kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan, terutama saat sang suami telah meninggal.

Ibu pikir, dengan menyerahkan putri semata wayangnya pada orang yang dicintai oleh sang anak, Cinta akan terjamin hidupnya di masa depan. Ibu pikir Rangga adalah laki-laki gagah dan rupawan yang nampak penuh tanggung jawab. Ternyata tidak demikian, sungguh kita tak bisa melihat seseorang dari penampilan luarnya saja. Kenyataan tak semanis harapan.

”Nduk, menangislah hingga hatimu lega” Kata Ibu dengan penuh kasih.

”Ibu percaya, setelah badai ini, Allah akan ganti segala kesulitanmu dengan kemudahan yang lain. Kamu pun harus yakini itu” Lanjut ibu sambil menguatkan hati Cinta, kata Ibunda yang selayaknya Doa tulus untuk ananda.

Bagi Ibu, ujian dari Allah adalah bentuk Kasih sayang Allah untuk menguatkan hati hambaNya. Ibu yakin jika Cinta menerima takdir Allah dengan ikhlas, sabar dan ridho. Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik di waktu yang tepat.

***

Selang waktu berganti, ucapan Ibu menjadi kenyataan. Beberapa tahun kemudian, Cinta dipersunting oleh laki-laki yang menyayangi Cinta dengan segenap jiwanya.

Percayalah, Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Putri Eka Sari, Nov25

Buku Antologi 7 : Kala hati gundah, Just Talk to Allah (Allah, Ujian dan Aku - Alineaku, Oct25)

 Kala hati gundah, Just Talk to Allah

oleh : Putri Eka Sari

Aku memandang lamat-lamat sajadah di hadapanku yg bermotif Ka'bah selepas solat malam. Tak terasa air mataku menetes satu-satu. Aku membayangkan setiap inci kejadian yang terjadi hari ini.

Terasa semua masalah menyesakkan dalam dada. Dari mulai dimarahi bos di kantor, diminta untuk mengerjakan kerjaan yang menumpuk. Padahal gaji yang tak seberapa dari pekerjaan ini, telat di transfer oleh kantor, yah.. beginilah nasib karyawan kontrak.

”Idiot, Goblok”...

Kata-kata itu terngiang kembali menembus ke hati. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini beberapa kali di semprot oleh Bos di kantor.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Juga tak membantah.

Diam adalah cara terbaik agar amarah Bosku tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Jawabku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Barulah akhirnya jantungku terasa berdetak lagi.

Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang beberapa kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, salah di matanya.

Kala ku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu, Geram bertanya, bukankah seharusnya karakter Pak Bos seperti Bayu (Air), yang adem, dingin menyejukkan.

Dapat menaungi bawahannya dengan baik. Bukan malah menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya mengingatkan.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu.." Balasnya Sambil memegang lenganku.

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur, banyak loh orang yang menganggur di luar sana" Bujuk Aisyah lagi. Meski Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Namun karena posisiku persis di bawah Pak Bayu dalam struktur perusahaan, aku kerap lebih sering bersinggungan pekerjaan dengan Bosku itu.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Karakternya yang ekslosif, reaktif seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledakan amarah, tak ingat waktu dan tempat, bahkan via telpon.

Sesampainya di rumah, ku pikir hati bisa tenang. Tapi malah ku dengar omelan Bapak yang juga marah-marah kepada Ibu, karena adik yang terlambat pulang ke rumah karena asyik main bola. Dan lagi masalah ekonomi rumah tangga yang sedang seret.

Kegundahan di hati pun makin merajalela karena masih menjomblo. Sehingga praktis masih sendiri tanpa pasangan untuk berbagi cerita. Yang kadang terlintas iri dihati ketika teman-teman berceloteh tentang pacar dan anak karena telah memiliki rumah tangga.

Semua gundah, masalah dan beban di hati yang rasanya terlalu malu untuk ku bagi kepada orang tua apalagi kepada teman. Alih-alih simpati malah nanti jadi bahan tertawaan karena tak bisa bertahan menghadapi kerasnya kehidupan.

Arrrgh.. rasa kesal, sedih, galau ku lampiaskan semua rasa di dada, kepada Allah Sang pencipta alam semesta. Ku serahkan semua masalah ini kepadaNya, tempat segala hal bermula dan akan kembali.

"Ya Allah.. kenapa hidup terasa sulit.. " kataku lirih sambil menengadahkan tangan, meminta Allah untuk menghilangkan amarah dan segala rasa.

Shalat malam adalah sesi terbaik menurutku untuk talk to Allah, berbicara pada Allah. Mengadukan seluruh beban di pundak serta isi hati. Curhat kepadaNya, dengan keyakinan. Pasti Allah berikan jalan keluar dari setiap masalah yang ku miliki.

Meski ingin rasanya aku pun bertanya pada Allah. Dan bahkan jika boleh menggugat takdir, mengapa kehidupanku begitu terbatas seperti ini. Tak seperti orang lain yang memiliki banyak harta, bisa memiliki ini dan itu. Sehingga selalu terlihat gembira, bisa senang-senang sesukanya.

Begitu banyak pertanyaan, mengapa? Kenapa? dan segudang pemikiran lain yang membuat ruwet di kepala.

Air mata menetes lebih deras seperti layaknya hujan. Ku biarkan saja alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah. Sesi menangis, dan berserah kala tahajud adalah sesi curhat panjang yang tanpa judge (penghakiman) dari orang lain,  membuat hati menjadi lebih ringan, lega, dan plong.

Sehingga esoknya aku lebih siap menjalani hari meskipun terasa berat. Dengan satu harapan, semoga Allah meridhoi setiap hembusan nafas dan langkah yang aku ambil.

Percayalah, Sesungguhnya dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan. Semoga teman-teman pembaca juga bisa mengambil hikmah yang sama dari tulisan ini.

Buku Antologi 5 : Kata adalah Doa (Nasihat dan isi hati Wanita - Alineaku, Mar25)

 Kata adalah doa

                                            oleh : Putri Eka Sari

”Ni.. aku di Clarke Quay, bingung mau kemana” kata ku di telpon, sambil kebingungan melihat maps dan keadaan sekitar.

”Coba cari halte bus terdekat ke arah hotel” kata sahabatku di sebrang telpon, dengan nada khawatir.

 ”Iya, tapi aku capek ni, mau naik grab aja sepertinya” Kataku sambil menutup telepon, lelah.

Aku masih kebingungan, di hadapanku area pertokoan yang sudah sepi, karena waktu sudah diatas jam 9 malam. Di sebelah kananku sebuah dermaga, dengan beberapa yatch bersandar di perairan.

Dermaga ini terletak di ujung muara Singapore River dan Boat Quay. Grabcar sepertinya menjadi pilihan terakhir yang tepat karena malam semakin larut.

            Setelah aku terpencar dari sahabatku di Negeri yang asing, Singapura. Dan sebelumnya aku tak sengaja terpisah di bus yang membawaku ke arah hotel, tempat kami menginap.

            Aku tak sadar saat sahabatku mencolek untuk turun. Karena sibuk berfoto, mengabadikan momen dan menangkap kondisi jalanan Singapura yang tertata rapi, bebas sampah.

Saat aku sadar, bus sudah membawaku jauh dari area hotel di kawasan Arab Street. Langsung aku bertanya pada pengemudi bus, harus turun dimana, untuk melanjutkan perjalanan  menuju ke hotel. Dengan info yang ada, kemudian aku pun turun dari bus di halte.

Namun aku sepertinya salah menentukan arah dan mengecek rute bus, dari semula di area orchard road, lalu terdampar di kawasan pusat perkotaan Singapura. Dan akhirnya sampai ke area Clarke Quay.

Sebelum terpencar dan nyasar di area Singapura, aku tak sengaja mengucap kata, jika ingin berputar-putar di malam minggu ini. Menikmati udara malam di Negara yang kabarnya sebesar kota Jakarta.

Namun sahabatku ingin pulang karena waktu sudah malam. Ia kelelahan, sejak pagi kami berjalan-jalan mengelilinggi tempat-tempat wisata di Singapura.

Maka akhirnya aku pun terdampar di sudut kota Singapura, berkeliling sendirian layaknya orang hilang. Karena keteledoranku, aku yang tidak mengenal daerah Singapura menjadi berputar tak tentu arah.

Di awal perjalanan, ku kira hampir semua orang Singapura bisa berbicara melayu, layaknya bahasa Indonesia. Ternyata ada beberapa orang yang tidak bisa bahasa Melayu.

Sehingga aku yang memiliki kemampuan bahasa inggris pasif ini. Kadang kebingungan dengan perkataan orang Singapura yang tercampur dengan logat bahasa Hokian, Mandarin. Ah.. andai aku tak berucap sembarangan..     

Karena kata adalah doa..

Begitulah, aku terdampar di area Singapura tak tentu arah.

Pantaslah jika orang bilang, berkata baik atau diam..

Dan peribahasa pun mengatakan, mulutmu harimaumu..

Maka itu hendaknya kita berhati-hati dalam berkata-kata. Karena yang baik atau buruk bisa saja terjadi kepada kita.

Terngiang dalam ingatanku, kala SMA dahulu. Aku berkata pada diri, ingin bisa ke luar Negeri. Sebuah impian yang kemudian ku tulis di selembar kertas, di tempel pada dinding kamar dekat pintu.

Sehingga praktis tiap lewat pintu, aku akan melewati dan membaca kata-kata tersebut sambil tersenyum. Membayangkannya saja sudah terasa menyenangkan.

Padahal di kala itu uang saja belum ku miliki. Untuk minta ke orang tua pun terasa tak mungkin, karena hidup yang pas-pasan.

Namun kata ’Ingin ke Luar Negeri’ seolah memecut hatiku begitu dalam dan membekas. Mengajarkan tentang mimpi yang dapat diwujudkan dengan keyakinan, berbalut doa pada Sang pencipta dan tekad kuat untuk berusaha menggapainya.

Karena tentu Doa tanpa usaha adalah nihil adanya. Dan sebaliknya, usaha tanpa doa adalah bentuk kesombongan manusia.

            Hingga akhirnya, kata itupun menjadi kenyataan. Beberapa tahun setelah bekerja, aku berhasil menjejakkan kaki di luar Negeri pertama. Sebuah Negara yang terdekat dengan Indonesia, yaitu Singapura.

Jalan-jalan ke Luar Negri dengan budget teramah di kantongku saat itu. Karena untuk ke sana, aku mendapatkan tiket promo, sehingga penerbangan yang hanya 1 jam ke luar Negeri terasa dekat.

            Di sana, aku dan sahabatku mengeksplorasi berbagai tempat hits di Singapura dengan bus dan MRT. Mengunjungi berbagai kawasan ikonik Singapura seperti Marina Bay, Esplanade dan sekitarnya. Tak lupa ke Universal studio, Garden By the Bay tempat pohon buatan raksasa seperti di film avatar.

            Selama di Singapura, aku memaknai semua langkah kaki dengan senyuman dan rasa syukur. Ah.. Begitu menakjubkannya sebuah kata-kata.

            Hingga dua tahun kemudian Allah pun memanggilku ke kota lain di luar Negeri. Yang menjadi impian hampir semua muslim, yaiitu Mekah dan Madinah.

            Sebuah impian yang juga terwujud nyata. Kala penaku dahulu juga menuliskan kata ’Ingin Umroh bersama Ibunda’ di selembar kertas sederhana yang sama dengan impian ’Ingin ke luar Negeri’.

Sebuah perjalanan menuju Mekah-Madinah juga di mulai dari Impian, dikuatkan dengan visualisasi foto berbingkai, tentang indahnya Masjid Nabawi di dinding rumah. Yang makin memicu semangat untuk beribadah di sana.

Perjalanan selama di Mekah dan Madinah adalah bagai menyusuri jejak Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, merekam tiap langkahnya. Mengenang perjuangan kaum muslimin yang hijrah dan mentafakuri perjalanan Islam di Kota Suci umat Muslim ini.

Dengan Izin Allah, aku dapat menjejakkan kaki dan melaksanakan shalat di sana. Bukanlah hanya sekadar impian belaka, kata itu menjadi kenyataan. Karena Kata adalah Doa bagi yang mempercayai.