Sabtu, 21 Maret 2026

Petualangan Ngebolang di Korea 7D5N

 Petualangan Ngebolang di Korea 7D5N

Hai teman-teman..  Apa yang terlintas dalam benak kala mendengar nama Korea Selatan disebut?

Bagi sebagian orang, yang terlintas adalah pesona Korea Selatan. Gaungnya begitu massive dan sedang booming di Media Sosial. Lagu-lagunya yang sedang hype, hits dan mendunia sehingga kerap terdengar akrab di telinga. 

K-Pop yang merajalela saat ini kerap dipakai di banyak event diantaranya piala Dunia, olimpiade dsb. Dari mulai BTS, Blackpink, NTC dan aktor-aktris yang rupawan yang sering memenuhi beranda medsos, TV, netflix seperti dalam film Drakor (K-Drama).

Hal ini yang membuat banyak orang ingin berbondong-bondong berkunjung ke Korea Selatan, dan saya termasuk salah satunya. Melihat dan berpetualang di Negeri  Ginseng ini tentu menjadi bucket list tempat yang ingin saya datangi.

Dokumentasi pribadi : Pesona Korea Selatan, perpaduan Budaya dan kehidupan modern yang Dinamis

Belum lagi kuliner lezat legendaris yang memanjakan lidah serta fasilitas umum yang dibangun dan dikemas (design) dengan futuristik. Terintegrasi dengan akomodasi/ transportasi yang memadai, dengan harga terjangkau sehingga memudahkan para pelancong untuk bisa berkeliling kota di KORSEL yang modern dan dinamis seperti Seoul (pusat pemerintahan Korea Selatan). Maka pantaslah jika Korea Selatan menjadi magnet wisata Dunia karena perpaduan unik dan ciamik antara modernitas dan warisan budayanya.

Berikut saya rangkum 5 tujuan, tempat-tempat wisata Hits utama, saat pergi ke Korea Selatan. Dirangkum untuk memudahkan perjalanan denga rute yang searah:

1. Wisata Budaya : Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace

Pengaruh Hallyu (Korean Wave) yang sangat kuat, tentu menarik turis yang ingin merasakan pengalaman langsung budaya Korea Selatan yang mendunia. Tak heran jika di sini kita juga akan melihat banyak turis bule (Eropa) yang mengujungi tempat-tempat bersejarah, dengan tradisi yang kaya namun masih terjaga oleh pemerintah Korsel. 

Banyak orang yang begitu gembira, meresapi sensasi berjalan-jalan di area halaman Istana Gyeongbokgung menggunakan Hanbook, baju tradisional Korea Selatan. Begitupula dengan Saya, dengan menyewa Hanbook di Hanbook Town di luar Istana seharga 33.000 - 55.000 KRW (sekitar Rp. 350.000 - 600.000). Kita bisa mendapatkan baju dan aksesorisnya selama 1,5jam, dan berlaku free (gratis) masuk ke dalam area Istana. 

Sobat wajib mencoba Hanbook saat berkunjung ke Korsel. Sensasinya memang terasa berbeda, seolah kita seperti masuk ke dunia Film ala Drama Kerajaan Korea. Ditambah lagi menikmati serunya berkeliling desa wisata di dekatnya yaitu Bukchon hanok village (Desa yang masih mempertahankan rumah/bangunan tradisional). Begitu khas berfoto ria dengan latar alam yang indah menentramkan hati dengan landscape memukau, tertata rapi. Jangan lupa merasakan nongkrong, ngopi cantik di Cafe nya, pengalaman yang sungguh mengesankan.

Foto pribadi memakai Hanook, pakaian tradisioanal Korea Selatan

Lokasi istana ini juga berdekatan dengan beberapa area wisata lain yang bisa dijangkau dengan sekali jalan (seharian). Dari mulai di seberang jalan istana terdapat Gwanghwamun square (Landmark utama kota Seoul, dengan patung Raja Korea Selatan yang terkenal, yaitu Raja Sejong).

Jika bosan, kita pun dapat melipir ke area shopping yaitu Gwangjang Market (terkenal dengan jajanan kaki lima tradisional), Namdaemun market(pasar grosir dan eceran tradisional besar). Serta dekat pula dengan Insandong Street (Jalan budaya yang terkenal di Korea Selatan).

2. Area Pusat perbelanjaan : Coex Mall (Starfield Library), Lotte World, Dongdaemun Design Plaza (DDP)

Artis korea (K-Pop) kerap tampil atau manggung di area ini. Area Gangnam (bahkan dibuat lagu populer Gangnam style). Juga area Hongdae (Cafe aesthetic dan seni jalanan) sering menjadi incaran para turis untuk menyaksikan mereka live lebih dekat, kala manggung maupun syuting K-Drama (jika beruntung).

Kolase foto pribadi Lotte World dan BTS dari Google.com

Branding wajah cantik dan rupawan para artis Korsel inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Hal yang dikaitkan dengan produk skincare (K-Beauty) buatan negara ini yang kabarnya terkenal bagus, inovatif dan berteknologi tinggi. Sehingga sering diidentikkan sebagian orang bahwa menggunakan produk skincare korea bisa membuat seseorang terlihat cantik, putih natural seperti artis Korea pada umumnya.

Fenomena menjadi cantik memang menjadi dambaan banyak orang. Maka tak jarang banyak orang ingin mencoba langsung membeli (berbelanja) produk kecantikan Korea Selatan ataupun melakukan operasi plastik memperbaiki wajah atau anggota tubuh lain di tempat ini, yang kabarnya hasilnya bagus dan aman karena didukung oleh tim dokter bedah plastik kompeten. Nah kalau ini saya hanya cukup puas melihat-lihat saja ya.. hahaha

Lokasi DDP (Dongdaemun Design Plaza) ini berdekatan dengan kompleks wisata lain, cukup praktis dengan beberapa tempat oleh-oleh murah di Korea Selatan (Harga relatif). Diantaranya Dongdaemun Market (pusat belanja fashion & kuliner 24 jam). 

Dan Myeongdong market (belanja & kuliner, di sini juga tersedia makanan halal). Kala malam hari terdapat ala-ala pasar kaget seperti di Indonesia yang menjajakan beragam jajanan, wah.. Pokoknya surganya kuliner. Di area Stasiun Myeongdong juga terdapat supermarket belanja murah yang terkenal, yaitu Daiso 12 lantai (terkenal karena beragam produk dijual dengan diskon harga murahnya). Nah.. Hati-hati jika berbelanja disini, jangan kalap ya.. 

Searah dengannya terdapat Cheonggyecheon Stream (sungai buatan yang di design apik). Cocok untuk bercengkrama jalan santai kala pagi, sore ataupun malam hari. Saya pun sempat berandai-andai, membayangkan Indonesia pun kelak bisa meniru konsepnya. Misalnya di Jakarta, kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) jika ditata aesthetic, dengan fasilitas memadai. Jauh dari kesan kumuh, kriminal dan dijaga oleh masyarakat sekitar, sehingga bisa juga dimanfaatkan untuk wisata kelas Dunia ya..  

 

3. Itaewon

Lokasi ini terkenal sebagai "Kampung Global" Seoul karena dihuni oleh banyak orang asing dari berbagai negara. Tempat ini populer salah satunya karena film Drakor Itaewon Class. Dan merupakan pusat Kuliner lezat dan halal yang banyak tersedia disini. Dari mulai restoran Timur tengah, India, melayu bahkan hidangan Indonesia (salah satunya Bakso Rindu Kampung).

Terdapat juga salah satu masjid terkenal di Seoul yaitu Seoul Centre Mosque, yang posisinya ada di dekat restoran dan minimarket halal di area ini.

Foto Pribadi : Masjid Seoul Center dan Lam Shish Kebab (Halal Food)

Umat muslim tentu akan senang mengunjungi area ini, karena tidak perlu was-was dalam memilih makanan. Tersedia beragam makanan halal yang bisa dikonsumsi.

 

4. Namsan Tower (Seoul Tower).

Merupakan salah satu ikon wisata hits di Korea. N Seoul Tower adalah menara gelombang radio setinggi 236 meter yang berdiri kokoh di atas Gunung Namsan Seoul Korea selatan (Wikipedia). Menikmati indahnya pemandangan dan udara yang sejuk di sini terasa seperti di area Bandung atau Puncak-Bogor jika di Indonesia.

Foto pribadi saat di Namsan Seoul Tower 

Area Namsan Seoul Tower yang paling terkenal dan ikonik yaitu area gembok cinta di pelataran T1 dekat cafe-cafe. Di sinilah tempat banyak pasangan memasang gembok bertuliskan inisial nama mereka sebagai simbol dan harapan agar cinta mereka terkunci rapat oleh gembok, sehingga tetap abadi. 

Spot ritual cinta ini sangat populer di kalangan wisatawan internasional. Apalagi karena spot ini sering muncul di drama/ film Korea, diantaranya Boys Over Flowers, My Love from the Star, The Legend of the Blue Sea, Itaewon Class, Hotel Del Luna, True Beauty, Secret Garden, dan A Korean Odyssey.  Nah.. Anda tertarik dan ingin coba juga?? 

 

5. Nami island

Pulau ini memang terletak cukup jauh dari pusat kota Seoul, yaitu sekitar 60-65 km, dengan waktu tempuh sekitar 1,5-2 jam menggunakan transportasi umum seperti kereta ITX dan shuttle bus, atau bisa lebih cepat/lama tergantung lalu lintas. 

Destinasi populer ini sering menjadi itinerary wajib untuk dikunjungi oleh wisatawan. Jika ingin menyusuri pulau Nami, sediakan waktu 1hari agar bisa pulang pergi dengan tenang. 

Dengan mengambil rute perjalanan sehari dari Seoul. Rute paling umum adalah melalui Stasiun Gapyeong.

Lokasi ini begitu menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan dan merupakan salah satu destinasi favorite banyak orang yang melancong di Korea Selatan. Popularitasnya yang meroket berkat drama Korea, Film Winter Sonata (2002), yang mengeskpos keindahan alamnya yang terkesan romantis. Di sini kita akan melihat pengaruh film yang mempromosikan Nami Island sedemikian rupa, meskipun kini sudah berpuluh tahun lalu. Namun tetap memberikan dampak terutama dalam hal ekonomi bagi masyarakat sekitar.


Foto pribadi di Nami Island

Tempat ini begitu menakjubkan di tiap musim. Terutama di setiap musim semi (sakura yang bermekaran), musim gugur (dedaunan emas yang cantik), serta di musim dingin (putihnya salju dengan background pepohonan yang meranggas). Bagi Saya yang baru pertama kali berkunjung dan melihat salju asli, tempat ini sungguh cantik dan menakjubkan dengan hamparan salju di musim dingin.

Dari perjalanan ini Saya merenung dan belajar tentang kuasa Allah dan semua cerita ini atas izinnya. Seperti yang dijelaskan dalam QS. Al Mulk.ayat 15:  Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Note : Pengalaman berkunjung ke Korea Selatan adalah petualangan yang mengesankan. Meski mungkin bagi sebagian orang kurang pas dilakukan di saat Indonesia sedang berduka karena bencana alam. Namun tiket pesawat dan hotel yang sudah di booking dari jauh hari sayang untuk dibatalkan.

Putri EkaSari Akhir Des25-awal Jan26 

Sabtu, 21 Februari 2026

Antologi 15 : Bangkit dari Keterpurukan (Titik Tak Terduga, Alineaku Feb26)

Bangkit dari Keterpurukan

Oleh Putri Eka Sari


Bunyi suara kendaraan berlalu lalang di hadapan dan samping kananku, terasa berisik sekali. Tapi nyatanya hal itu tak mengusik diri ini. Pikiranku terlalu sibuk sendiri, hingga tak memerdulikan lingkungan sekitar.

Aku terus berjalan kaki dalam diam, diliputi perasaan kesal dan amarah. Sesekali melampiaskan rasa kesal pada batu yang menghalangi jalanku.

Seonggok batu kerikil yang tak bersalah, terinjak di muka sepatu. Mendapat tendangan berkali-kali, dengan penuh tenaga. Seolah ia adalah pelampiasan empuk dari emosi yang ku tahan dalam jiwa, tanpa bisa dicurahkan, hanya bisa terendap lewat diam dan kegalauan. 

Matahari yang mulai terik menambah rasa panas yang makin membakar jiwa ketika bayanganmu berkelebat lagi dalam ingatan. Air mata tak terasa ikut menetes, menggambarkan sakitnya hatiku saat ini.

Gambaran wajah Mas Ari beberapa bulan lalu menggandeng mesra dirinya di pelaminan yang begitu megah masih terbayang di pelupuk mataku. Begitu menyesakkan, karena yang kuharapkan, tentu aku yang bersamamu di sana. Bukan dirimu yang memadu kasih dengan perempuan lain penggantiku.

Pilihan LDR (Long Distance Relationship) untuk melanjutkan kuliah di beda kota, memang tidak cocok sepertinya untuk mempertahankan hubungan kita yang mungkin bagimu baru terasa seumur jagung, baru 2 tahun lebih. Jarak dan waktu memisahkan kita yang semula seia sekata semenjak SMA, menjadi berubah dan hatimu berpindah haluan dengan cepat.

Ah.. Memikirkannya semakin membuat hatiku terasa semakin teriris. Perasaanku campur aduk setelah keluar dari gedung pernikahan waktu itu. Rasanya saat itu aku ingin berteriak marah dan memaki perempuan yang bersanding di pelaminan dan menikah denganmu. Bahkan jika tak tahu malu, ingin ku acak mahkota di atas kepala perempuan itu.

Karena setelah kenal dengan perempuan itu, kamu langsung memutuskan hubungan denganku. Keputusan yang terlalu sepihak, dan 3 bulan kemudian menikah dengannya. Dia merebutmu dan membuat hatiku terasa pilu bagai teriris sembilu. Sehingga kau berlalu tanpa menghiraukan perasaanku.

Aku tak menyangka, entah apa yang membuatmu seperti begitu terkesima olehnya. Rasa marah yang kutahan dalam diam inginnya kulampiaskan di atas panggung pelaminan waktu itu. Dengan menjambak rambut dia yang merebutmu dariku. Tapi hal yang demikian tak kulakukan, karena ku anggap itu layaknya seperti anak kecil yang berebut permen saja. Beruntungnya aku dapat mengendalikan diri.

Aku terus berjalan dalam langkah kaki yang perlahan. Rasanya kelebatan bayanganmu membuatku semakin malas membawa diri ini ke kampus. Inginnya ku benamkan wajah, menangis himgga lelap di atas bantal di dalam kamar seharian. Tentu terasa lebih nyaman dibandingkan dengan berjalan dalam terik matahari dan debu jalanan seperti ini.

Ditambah uang jajan yang terbatas, membuatku harus rela berlelah-lelah berjalan jauh menuju kampus. Menembus jalanan bising ini demi menghemat ongkos angkot.

Tapi jika berdiam diri di rumah tak kuliah, tentu Bapak akan memarahiku karena menyia-nyiakan waktu dan uang kuliah yang cukup banyak, yang sudah dikeluarkan Bapak. Hingga terpaksa banting tulang kerja hingga lembur.

Gemuruh di hati membuat tangisan perlahan turun, seolah tak bisa kubendung lagi. Ah.. mengapa nasibku begini, patah hati ditinggal pergi kekasih. Uang terbatas di kantong, bahkan terkadang harus menunda lapar dan hanya makan seadanya.

Boro-boro untuk jajan minuman segar dingin yang tersaji di kulkas kantin yang menggugah ingin mengambilnya satu, tapi mana mungkin jika uang tak ada. Atau diri harus puas memalingkan muka dari cemilan atau makan enak yang berjejer di etalase kantin kampus. Yang seolah memanggil-manggil untuk dibeli, namun hanya bisa kupandangi.  

Aku harus bersyukur untuk menu nasi dan telor ceplok di pojokan musola, yang terasa sudah cukup mewah untuk mahasiswa pas-pasan sepertiku. Yang jadwal kuliahnya begitu padat dari pagi hingga sore, karena diselingi dengan praktikum. Dan baru sampai rumah malam hari, dan disambut dengan tempe goreng yang sudah dingin. Menjadi andalan pengganjal perut.

Tentu aku harus bersyukur dan berpuas diri akan segala yang dimiliki saat ini. Hingga tak terasa 1 jam menangis di perjalanan dari rumah hingga ke kampus cukup membuat hati menjadi lega.

Setelahnya kepalaku yang lama terbenam, Aku angkat ia perlahan. Ku tegakkan tubuhku. Ah.. biarlah mungkin 2 tahun yang sia-sia itu. Berarti kamu memang bukan jodohku mas. Ku tekadkan hati seiring dengan bis kuning yang datang di hadapan.  

Warnanya yang mencolok menembus dan menghujam ke hatiku. Aku harus menghentikan perasaan ini, dan beranjak pergi mengejar hal lain yang lebih baik. Aku akan buktikan bahwa aku bisa jadi orang yang berkecukupan, hingga tak diremehkan orang lain.

Aku juga akan melupakan dirimu mas, meski ternyata prosesnya mungkin tidak semudah bayanganku. Karena sesekali masih menangisi kenangan, jika sekelebat teringat. Terutama setiap tak sengaja mendengar lagu yang biasa dinyanyikan bersama dahulu.

Atau bayangan wajahmu singgah kala menatap benda-benda pemberianmu, rasanya menerbitkan sedih itu lagi. Kecewa dan patah hati karena ditinggalkan orang yang dikasihi ternyata menimbulkan jejak, goresan yang cukup dalam. Bahkan sempat membuat nilai kuliahku semester ini anjlok.

Ah.. mungkin itulah mengapa dalam islam tidak dianjurkan untuk pacaran sebelum menikah. Karena sepertinya membuang waktu dan menyita fokus diri. Apalagi jika sudah patah hati, perasaan hancur yang ditimbulkan bisa membuat seseorang bahkan menjadi gila dan ingin mengakhiri hidup, bunuh diri. Hiiii.. Aku bergidik ngeri.

Aku harus sadar sepenuhnya, tak ingin membuang waktu dan masa depanku hanya untuk perasaan itu. Aku masih memiliki orang tua yang menyimpan harapan, agar Aku memiliki hidup yang lebih baik dari mereka.

Kenangan ini menyadarkanku bahwa dari perjalanan patah hati ini, Allah ternyata menjauhkanku dari orang yang tidak tepat, menuju hal yang lebih baik. Putrie, Januari2026

Sabtu, 14 Februari 2026

Buku Antologi 14 : Ditempa oleh Bos Killer, (Hikmah Dibalik Kisah, Wonderful Feb26)

 Ditempa oleh Bos Killer

Oleh: Putri Eka Sari

“Melalui tekanan, tempaan dan proses yang keras, barulah batu hitam bisa menjadi berlian yang indah. Begitupula manusia ketika Ia bisa melewati proses ditempa oleh berbagai macam kesulitan hidup, maka ia akan lebih bersinar (naik derajatnya) .”

 

"Go**** Idiot.." Kata itu kembali dilayangkan kepadaku.. 

Masuk ke dalam telinga lalu menembus ke hati, di panas terik ini. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini sudah beberapa kali aku di semprot oleh Bos ku.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Praktis Aku yang hanya bawahan, tak bisa membantah.

Diam adalah cara terbaik agar amarahnya tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Kataku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Akhirnya jantungku baru terasa berdetak lagi. Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang sekali dua kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, salah di matanya.

Kala ku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu, Bukankah seharusnya Namanya seperti Bayu, Air yang adem, dingin menenangkan.

Aku berharap, atasan yang menaungi bawahannya dengan baik. Bukan malah menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya bergumam.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu.." Balasnya Sambil memegang lenganku..

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur" Ujarnya lagi sambil membujukku. Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Apalagi Sifat bosku yang perfeksionis, selalu meminta tiap pekerjaan sesuai dengan keinginannya, tak boleh bercela. Bahkan untuk titik dan koma harus sesuai letaknya di proposal yang ia minta.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Kumisnya yang tebal seperti Pak Raden dalam serial Unyil, makin membuat sangar wajahnya.

Kumis tersebut akan bergerak turun naik diiringi amarah yang kadang tetiba muncul. Begitu reaktifnya seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, tak ingat waktu dan tempat.

Ingatanku melayang di suatu malam, saat libur pun hpku harus selalu stand by di telponnya. Karena Beliau ingin meminta reschedule tiket penerbangan.

Kala itu jalanan Surabaya yang macet, sehingga praktis Ia ketinggalan check in masuk ke pesawat. Dan tentu saja aku harus siap dengan tugas tanpa kenal waktu.

Gercep cek dan beli tiket pesawat, booking hotel serta akomodasi haruslah sesuai keinginannya. Ia tak peduli jika uang nya harus ku talangi dengan uang pribadiku dahulu.

Ya.. begitulah konsekuensi bekerja. Dan Aku hanya bisa mengelus dada setiap harinya. Di mana Bos selalu benar, dan tentu bawahan yang selalu di salahkan.

Namun beberapa tahun kemudian, Aku baru merasakan dampak bekerja dibawah asahan Bosku ini. Kerjaku semakin cepat, dan lebih mudah memahami arahan atasan. Menjadikanku terbiasa sat-set, gercep, membuat instingku lebih peka, serta makin terarah pula memahami keinginan klien.

Ritme kerja keras ini seolah Allah sengaja ajarkan kepadaku. Hal yang akhirnya membuat perlahan jabatanku dipromosikan naik. Dan diberikan berbagai reward, hadiah dari perusahaan.

Kini Aku merasa, sepertinya harus berterimakasih kepada Bosku yang kini sudah meninggal. Karena berkat didikannya, Aku bisa lebih kuat mental menghadapi klien yang terkadang banyak inginnya seperti Raja.

Sebuah surat dalam Quran begitu pas menggambarkan keadaan ini, QS. Al-Baqarah (2:216): "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita, meski kita tidak menyadarinya). PutriEkaSari, Jan26

 Profil Penulis:

Nama               : Putri Eka Sari S.T

Profesi             : Penulis

Domisili            : Jakarta

Alamat Pos-el   : putri.ekasari@gmail.com

Media Sosial    : putri ekasari (Fanpage Facebook), @putrie_bundapaipia (Instagram)

Selasa, 03 Februari 2026

Buku Antologi 12 : Ramadhan dan Kue Lebaran (Renungan dan Nostalgia Ramadhan, Jan26)

Ramadhan dan Kue Lebaran

    Kak.. tolong matiin kompornya..” Kata Mama dari arah kamar selepas salam, setelah salat Ashar. “Siap Ma..” Kataku sambil berjalan menghampiri oven kami yang nangkring di atas kompor minyak tanah. Pada zaman dahulu, oven listrik memang belum lazim dimiliki. Kompor gas atau listrik pun masih terbilang elite, jarang ada yang punya. Hmmmm… Harum wangi kue yang terpanggang di dapur Mama begitu semerbak, menggelitik hidung. Wangi mentega wijsman yang kaya rasa mengudara di seluruh seantero rumah.

    Pandanganku tertuju pada bulatan nastar keemasan yang menggoda jiwa, begitu bulat montok dan menul-menul bermahkota cengkeh di atasnya. Glek, spontan ku melirik keadaan sekitar. Rasanya ingin diam-diam ku comot salah satu bulatan nastar di deretan paling depan, tentu rasanya begitu enak, batinku. 

    Baunya saja membuat hidungku kembang kempis. Usus dalam perut pun seolah meronta-ronta, terbangunkan oleh rasa lapar. Setelah setengah hari berpuasa, dan melawan godaan untuk tidak mencicipi adonan kue nastar legendaris buatan Mama. Kue nastar yang menurut aku dan adik-adik juara di hati kami. Begitu lembut, lumer di mulut. Dengan isian selai nanas yang dibuat sendiri. Terutama jika dibandingkan dengan kue buatan toko-toko yang terasa sepo (hambar). Nastar buatan Mama tentu lebih menggugah selera. 

    Pegangan Istimewa yang hanya ada saat menyambut lebaran saja. Sehingga praktis kami hanya bisa mencicipinya setahun sekali. Maka sensasi ketika menggigit kue lebaran tentu akan terasa sangat menyenangkan. Apalagi saat kecil, kami masih memiliki keterbatasan (ekonomi yang pas-pasan). 

    Maka untuk dapat membuat cemilan lebaran baru bisa dilakukan setelah THR (Tunjangan Hari Raya) keluar. Maklumlah untuk membuat kue lebaran yang enak dengan citra rasa premium, dibutuhkan dana yang cukup lumayan. Sehingga makan kue lebaran terasa begitu Istimewa dan dinanti.

    Apalagi kue lebaran belum banyak diproduksi masal (hanya ada saat momen Idul Fitri atau natal saja). Hal yang menyebabkan tiap tahun terasa rindu berat sama kue yang satu ini. Dan mencicipi kue legendaris ini baru bisa dilakukan setelah azan magrib tiba. Bagiku, azan menjadi momen yang paling ditunggu bukan hanya untuk berbuka puasa. Namun juga waktu untuk bisa mencicipi kue yang baru dipanggang tadi siang. 

    Setelah menahan lapar dan keinginan untuk makan kue yang tadi Mama panggang. Rasanya berdebar Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulut. Melahap nastar yang nanasnya begitu lumer, pecah dalam rongga mulut, adalah suatu kesenangan tersendiri. Kegiatan membuat penganan lebaran memang merupakan ciri khas dari masing-masing rumah. Hal ini biasa dilakukan di 10 hari terakhir lebaran, sebelum liburan dan mudik lebaran tiba. 

    Selalu ada warna kebahagiaan dan kehangatan tersendiri saat masing-masing keluarga menyiapkan cemilan penganan untuk hari Raya Idul Fitri secara bersama-sama. Dan menjadi kenangan indah, manis, yang hingga dewasa sulit untuk dilupakan. Meskipun tak jarang dapur menjadi kotor karena tepung terigu, gula yang berhamburan di mana-mana. atau mentega belepotan yang menyebabkan dapur menjadi lengket.

    Selalu ada cerita seru dan menyenangkan disetiap membuat kue lebaran. “De.. itu selai nanasnya masa gede banget segede bakso, nanti nastarnya sebesar apa?” Tegurku sambil cekikikan kepada Adik yang membuat isian nastar kebesaran. “Biarin we.. ini kan buat nastar special, buatanku untuk Nenek yang nanasnya paling gede..” Jawab Ari sambil menjulurkan lidahnya meledek. 

“Makin besar nastarnya, siapa tau makin gede juga angpaunya Kak..” Lanjut Ari lagi. Adikku ini selalu suka memulung-mulung adonan selai nanas sebagai isian kue nastar. Ia yang paling sibuk menggelundungkan selai nanas kesana kemari. Dari pinggir oven Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. 

“De.. jangan dimainin dong adonan selainya, nanti kan dimakan sama orang yang lebih tua..” Kata Mama mulai menasihati. 

“Kita buat makanan yang baik ya De.. Terutama sebagai bentuk menghargai makanan, apalagi jika tujuanmu untuk dimakan oleh Nenek, orang tua yang harus dihormati” Ujar Mama lagi. “Tuh kan De.. dibilangin Kakak juga..” Ujarku menimpali kejahilan Adik yang selalu menganggap membuat kue bagai bermain plastisin, play dough.

Adik memang anak lelaki kecil yang sebenarnya kreatif dan senang bereksperimen, ia tak pernah melewatkan kegiatan membantu Mama membuat kue lebaran. Sepertiku dahulu saat kecil, masa bebas membentuk adonan kue menjadi berbagai macam rupa Adalah sesuatu yang menyenangkan. Kenangan masa anak-anak yang belum rusak dengan aktivitas Bersama gadget. 

    Kami akan bebas mencetak berbagai rupa kue, dari mulai bentuk ulat, kupu-kupu, bunga, matahari, dan Mama pun memperbolehkan membuat kue Pelangi, dengan menambahkan pewarna makanan pada kue. Rasanya sungguh menyenangkan sekali. Setiap keluarga tentu memiliki hidangan serta cemilan favorit untuk lebaran yang berbeda, tergantung oleh selera masing-masing. Keluargaku seperti keluarga pada umumnya, yang menyiapkan penganan berupa kue lebaran kering, misalnya nastar, kastengel (kue keju), kue semprit, lidah kucing, kue putri salju. 

Nastar dan Kue Lebaran

    Kue yang biasa dibuat dan ada hampir setiap rumah di Jakarta. Sedangkan penganan lain sebagai pendamping misalnya kacang bawang. Maupun hidangan khas seperti wajik nanas, tape uli, biji Ketapang, akar kelapa, keripik bawang ataupun cheese stick menjadi pendamping popular. Sepiring penganan kue lebaran bareng keluarga semakin menghidupkan suasana silaturahmi yang tak terlupakan.

Putri Eka Sari, Jakarta 30 November 2025

"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."

Jumat, 23 Januari 2026

Buku Antologi 11 : Ibu Mandiri, Mencintai Sepenuh Hati (Perempuan juga Bisa, Alineaku, Jan26)

 Ibu Mandiri, Mencintai Sepenuh Hati

Kring.. Kring.. Kring…

Pagi itu pukul 4, alarm nyaring berbunyi. Ingin rasanya ku matikan dan memeluk guling, melanjutkan tidur, hingga azan Subuh berkumandang. Namun kuurungkan, sambil setengah terkantuk-kantuk tombol stop alarm ditekan, mati. Entah mengapa bayangan Ibu tiba-tiba berkelebat di kepala. Ah… Ibu.. Aku rindu..

Dahulu saat belum menikah dan masih tinggal bersama Ibu. Tentu Aku tak harus bangun terlalu pagi. Belum ada tanggung jawab sebagai Ibu dan istri yang harus kuemban setiap hari. Aku bisa berleyeh-leyeh lebih lama di tempat tidur hingga Ibu membangunkanku untuk sholat subuh. Apalagi setelah memiliki pekerjaan, Ibu akan membangunkan jika sudah waktunya berangkat kerja, dan belum dilihatnya Aku keluar dari kamar, bersiap. Menyentuh area dapur pun jarang kulakukan, jika bukan hari libur.

Ibu akan selalu memintaku untuk fokus belajar saat sekolah dan kuliah. Saat sudah bekerja dan belum menikah, Aku jarang di rumah. Waktu lebih banyak dihabiskan di kantor, atau P Perempuan Juga Bisa | 47 selebihnya kadang habis untuk jalan-jalan, hangout bersama teman-teman. Dan kini setelah memiliki anak-anak, tinggal tidak dengan orang tua, Aku menjadi lebih mandiri, baik secara fisik dan emosional. Tak bergantung pada orang tua.

Mengeluh tentu akan memberatkan pikiran mereka. Aku baru tahu rasanya memiliki tanggung jawab karena cinta. Kasih sayang yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Ah.. Aku jadi kangen masakan Ibu, yang kini tidak bisa setiap hari ku cicipi. Karena rumahnya yang cukup jauh dari tempat tinggal, tak searah dengan tempat kerja. Namun, jarak tak memisahkan kami, Aku tetap rajin berkabar dengan Ibu setiap hari. Termasuk jika Aku ingin bertanya perihal bumbu masakan.

Mungkin dahulu Ibu juga merasakan apa yang kurasakan saat ini. Memasak sendiri bukan karena masalah financial, ingin berhemat sehingga tidak bisa membeli saja makanan di luar, bukan juga anak-anak yang tak diberi uang jajan. Uang saku anak-anak yang memang bersekolah dekat dari rumah tentu cukup untuk jajan di sekolah. Tapi bagiku, menyiapkan bekal untuk anak-anak adalah murni kemauan sendiri, tanpa paksaan dari suami. Meskipun gempuran promo menarik dari aplikasi order makanan berbayar begitu mudah seperti Go-food, Grab Food, shopee food. Tentu menggugah dan menggiurkan, tinggal klik dalam hitungan detik, tak lama makanan sudah siap tersaji di meja.

Tapi saat memasak sendiri, yang terbayang adalah wajah puas anak-anak. Terutama jika mereka suka mencicipi masakan Ibundanya.

“Hm.. Masakan Bunda enak..” Kata Bimo, anak sulungku sambil tersenyum, dan mengacungkan jempolnya saat mencicipi perkedel kentang buatanku.

Pujian yang mampu membuatku tersenyum bahagia, terbang melayang ke angkasa. Seolah lelahku terhapus begitu saja. Tak kuhitung lagi waktu untuk membuat satu menu masakan, dari mulai menyiapkan bahan, memotong, meracik bumbu dan mengolahnya. Meski niat utama memasak adalah untuk ibadah kepada Allah. Namun ada buncah kegembiraan tersendiri. Apalagi jika melihat anak-anak yang makan dengan lahap, berebut mencicipi ayam goreng buatanku.

Ada haru tersendiri yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Atau Aku hanya persija? Karena Aku bukan Ibu yang bisa mendedikasikan waktu 24 jam di rumah. Sehingga waktu yang sedikit begitu dimampatkan sedemikian rupa untuk keluarga. Spontan, seperti ada kekuatan dari dalam diri, langsung Ku bergegas bangkit dari tempat tidur.

Menghindar dari area Kasur, bergegas ke kamar mandi. Mencuci muka dan menyikat gigi. Rasanya diri dikejar oleh waktu, maka dengan cekatan selepas menunaikan solat Subuh, langsung ku bergegas ke dapur. Menyiapkan bekal untuk anak-anak sekolah. 



Bagi ku yang Ibu pekerja, ingin meski sedikit saja, dengan kemampuan serta pengetahuan memasak yang terbatas. ikut berkontribusi dalam mencerdaskan anak sendiri, karena tentu mencerdaskan anak bangsa belum bisa. Hihihi Dengan memilih makanan yang sehat dan memasak secara higienis, memastikan kebersihan dan kesegaran bahan masakan untuk anak-anak. Meracik makanan raw food(bukan olahan) dengan tanganku sendiri. Seperti ada kepuasan di tengah isu kebersihan yang sering terjadi saat anak jajan di luar rumah.

“Bun.. tadi Kayla ga masuk sekolah lagi karena sakit..” Ucap Aiko, anakku yang senang bercerita kegiatannya di sekolah.

“Wah.. Kayla sakit apa De?” Tanyaku kepada si Bontot. “Kata Miss Indah Diare Bun.. Soalnya kayla sering jajan diluar sekolah” Jawab si Bungsu.

Ya, ku dengar dari obrolan di grup kelas, Kayla dan beberapa anak lain di sekolah terkena diare karena jajanan yang ada di luar sekolah. Mungkin karena pengaruh kebersihan atau jamur yang ada dari saus yang digunakan pada Burger dan kebab yang di jual oleh abang penjaja keliling.

Memang tak semua penjual makanan tak bersih, Aku pun tak bisa mengeneralisir semua pedagang makanan demikian. Namun bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Bagiku membawakan bekal untuk anak sebagai antisipasi dini dari rumah, agar anak tak terlalu lapar.

Meski mungkin tidak ada yang terlalu special dari masakanku, hanya hidangan rumahan biasa yang mungkin juga tersedia di warteg/ rumah makan biasa dekat rumah. Dan bisa jadi rasanya pun lebih enak. Tapi ada cinta dan doa yang ku sematkan disana. Sama seperti ibuku, yang selalu menyematkan doanya di dalam setiap masakannya. Dari setiap gigitan pada setiap makanan, ada ketulusan, harapan dan doa yang mengalir dari seorang ibu kepada anaknya.

Putri Eka Sari, Jakarta 16 Desember 2025

Selasa, 06 Januari 2026

Buku Antologi 10 : Melanggitkan Doa di Keheningan Ramadhan (Di Sudut Kota Ramadhan, Alineaku Des25)

 Melangitkan Doa di Keheningan Ramadhan

Putri Eka Sari


Sayup-sayup suara lantunan ayat suci al qur’an yang dibacakan oleh Pak Amar, muadzin masjid dekat rumah sebelum mengumandangkan azan terdengar dari speaker masjid. Terasa begitu merdu diantara orang-orang yang sibuk berburu takjil untuk persiapan berbuka puasa.

 Ayat-ayat yang mengalun mengetuk hati, menarik ingatanku, layaknya diri melayang di udara, entah mengapa yang terbayang adalah masjid Nabawi- Madinah. Keheningan menuju magrib dalam frekuensi lantunan suara qur’an menggetarkan hatiku yang merindu berada dalam satu atmosfir yang sama dengan Nabi Muhammad SAW, kekasih Allah.

Kenangan indah beribadah di Masjid Nabawi berkelebatan dengan suasana Ramadhan yang syahdu. Rasa teduh merasuk hingga ke jiwa, bayangan menjejakkan kaki untuk beribadah di sana dengan khusyuk dan nyaman seperti menggelitikku.

Seketika langsung ku langitkan doa saat menjelang berbuka di penghujung Ramadhan ini, agar suatu saat bisa itikaf dan berbuka puasa di 10 terakhir Ramadhan bersama keluarga muslim lain dari seluruh dunia di sana. Plus dengan harapan mendapatkan malam Lailatul Qadr di sana, yang mungkin juga menjadi impian banyak orang muslim di Dunia.

Bagaimana tidak? Karena keutamaan solat di Masjid ini pahalanya mencapai 1000x dari pahala di masjid lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda,"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom." (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah).

Maka impian ini ku tembuskan melalui doa khusyuk, lewat jalur langit. Karena menurut sebuah Hadis Shahih, "Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka" (HR. Ibnu Majah).

Keinginanku yang lain adalah mendatangi Masjid Nabawi untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Beserta makam kedua shahabat terbaiknya: Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA.

Tentu mengunjungi tempat-tempat menarik di Masjid Nabawi adalah dambaan semua orang bukan? Karena area Raudhah dan makam Rasulullah SAW memang merupakan salah satu tempat yang mulia dan istimewa. Sebab di sinilah sekitar 1400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW beribadah, menerima wahyu, berdakwah dan juga sholat Bersama para sahabat. Maka sangat disunahkan memperbanyak ibadah di Raudhah.

Rasulullah bersabda: Tempat yang terletak di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu di antara taman-taman surga. (HR Bukhari).

Hatiku berdenyut membayangkan bisa beritikaf selepas salat Isya di sana. Melantunkan zikir serta bershalawat saat-saat 10 hari terakhir Ramadhan tentu menjadi Impian tersendiri dalam hidupku.

Kerinduan melaksanakan shalat sunah Taubat dan Shalat Hajat (sebagai shalat yang diutamakan) di area Raudah secara bergantian dengan banyaknya jamaah yang hadir di sana tentu menjadi kenangan manis. Meskipun diri ini merasa shalat di sana terasa sebentar dan terburu-buru, karena antrian panjang orang yang juga memiliki niat yang sama, shalat di tempat terbaik.

Lagi, suasana teduh menjelang magrib menyadarkanku tentang pentingnya memurnikan niat saat kita shalat, terutama di Raudah. Niatkan agar mengharap ridho Allah, mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW, bukan untuk mengkhultuskan Nabi atau benda-benda (contoh: Makam Nabi Muhammad), sehingga dijauhkan dari perilaku syirik (menduakan Allah).

Mataku mulai berkaca-kaca, diri makin terhanyut akan getar kerinduan kala kenangan itu membawaku, menderu rindu sosok Rasulullah. Yang beribu jarak tahun tak pernah berjumpa denganku, umatnya (1388 tahun lalu). Tepatnya bulan Juni 632M (11H), Rasulullah SAW wafat di area yang saat ini menjadi area makam di Masjid Nabawi.

Damai menelusup, membayangkan salah satu hal yang juga membuat rindu Masjid Nabawi. Karena memiliki arsitektur yang rupawan, dengan design interior masjid yang megah, dilengkapi payung raksasa ikonik di sekitar pelatarannya, begitu memanjakan mata.

Tentu ketika Ramadhan area ini sangat padat oleh pengujung, orang-orang yang mengaji dan solat di sana. Terutama saat menjelang waktu berbuka puasa, betapa serunya membayangkan jika ngabuburit di sana dengan muslim lain dari seluruh penjuru Dunia.

Suasana Ramadhan yang begitu religius tentu membuat banyak orang ingin mengisi waktu secara efektif, dan berlomba bersedekah pula di sana. Ah… Aku yang di Indonesia juga tidak boleh kalah, mungkin saja di penghujung Ramadhan yang entah kapan Aku bisa merasakan Ramadhan di Madinah, ucapkan dalam hati dengan penuh keyakinan.

Nuansa Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mengecharge keimanan. Di antara 11 bulan lain yang mungkin alpa, lupa akan Sang Khalik. Karena terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Momen untuk menjadikan ibadah sebagai prioritas, bukan hanya karena besarnya ganjaran pahala dari Allah. Namun karena besarnya harapan untuk mendekat kepada Allah. Berharao mendapatkan keridhoan serta keberkahan dalam hidup. Sehingga didapatkan kedamaian jiwa yang gundah, galau dan sering kecewa kepada manusia.

Semoga kerinduan dan doa di penghujung Ramadhan ini Allah kabulkan. Dengan memanggil kami sekeluarga untuk bisa beribadah Umroh ke Madinah. Aamiin..

-Putri Eka Sari, Penghujung Ramadhan 2025-

 

 

 

 

 


Sabtu, 03 Januari 2026

Buku Antologi 9 : Separuh Jiwaku Hilang Karena Glaukoma (Reruntuhan Asa - Alineaku, Des25)

 Separuh Jiwaku Hilang karena Glaukoma

Pengumuman dari dokter kantor selepas pemeriksaan rutin cek up tahunan, membuatku bagai disambar petir di siang bolong. Hingga harus menegakkan pendengaran dengan seksama. Saat dokter menjelaskan mengenai penyakit yang tak sadar ku derita, Glaukoma.

Menurut Dokter, Glaukoma adalah suatu kerusakan pada indra penglihatan (mata), karena terjadi kerusakan pada saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata secara terus menerus. Suatu penyakit pada mata yang kabarnya bisa menyebabkan kebutaan mata secara permanen.

Penyakit yang membuat sebagian jiwaku seolah hilang dan bertanya-tanya. Apa salahku hingga memiliki penyakit seperti ini?

Si pencuri penglihatan yang diam-diam menghantui. Ditengah sakit kepala migrain yang sering kurasakan dan dianggap hanya sakit kepala biasa.

Padahal saat itu syaraf mata sedang mengalami kerusakan perlahan, yang disebabkan oleh tekanan tinggi pada bola mata yang tak disadari oleh penderitanya. Glaukoma, penyakit yang kadang disalah artikan dan sering dianggap sebagai penyakit gula, diabetes. Karena kata yang terkesan mirip ketika mengeja.

Sebuah kata yang baru saja ku kenal, entah penyakit bawaan genetik dari siapa, keluarga Ayah ataukah Ibu. Yang ku kenal, hanya SiMbah dari Ayah yang tiba-tiba mengalami kebutaan saat usia sepuh.

Tak diketahui apakah disebabkan oleh Glaukoma atau bukan (penyakit mata lainnya, misalnya katarak atau diabetes). Karena zaman dahulu, orang di desa jarang pergi ke dokter. Mereka hanya berobat ke dukun, mantri atau bidan.

Lagi.. Overthinking mengetuk ke dalam diri, Pemikiran dan pencarian logika yang makin membuat ruwet pikiran. 

Ditambah selepas dari kantor, sampai di rumah, Ku dengar sekilas info dari radio. Seseorang nara sumber menceritakan pengalamannya yang tiba-tiba kehilangan penglihatannya – Buta, ketika bangun tidur.

”Tiba-tiba saja, ketika saya bangun tidur di pagi hari karena bunyi alarm yang biasa berbunyi jam 5 pagi untuk membangunkan solat subuh. Mata saya tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap total, hitam tanpa cahaya” Kata Pria itu sambil terbata-bata.

”Glaukoma mencuri penglihatan saya, merenggut cahaya dari mata saya dengan tiba-tiba. Dan menghancurkan banyaknya impian yang belium diraih ” Lanjutnya terisak, larut dalam kesedihan

Aku mendengarkan cerita tersebut dengan prihatin, ikut terhanyut dan menangis. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding, ya Allah.. Aku tak sanggup. Semoga Kau berikan Aku penglihatan yang baik dan bermanfaat,, Doaku dalam hati.

Kegundahan di hati pun makin merajalela karena masih menjomblo. Sehingga praktis masih sendiri tanpa pasangan untuk berbagi cerita. Yang kadang terlintas iri dihati ketika teman-teman berceloteh tentang pacar dan anak karena telah memiliki rumah tangga.

Ah.. Perasaan hampa yang tiba-tiba menyergap, seperti ada sesuatu dalam diriku yang hilang, entah apa. Aku mencoba menutup mata, menahan gelisah.

Berharap rasa itu lenyap, tapi justru semakin terasa. Seperti ada celah, ruang kosong jauh di hati terdalam yang tak bisa kuisi dengan apa pun.

***

Seperti serangan avatar, rasa anxiety terus datang. Hingga malamku tak bisa tidur nyenyak. Hati menjadi gelisah, diliputi ketakutan yang membelenggu jiwa.

Tak ayal ritualku setiap bangun pagi setelah mata melek adalah melihat ke arah atap langit-langit kamar. Memastikan ke arah lampu yang terang. Masihkah ku lihat cahaya disana. Lantas buru-buru  menghitung jari tangan, apakah masih bisa ku hitung tiap jari dengan tepat, sepuluh jumlahnya.

Keadaan ini terus berulang hingga rasanya membingungkan untukku. Membuatku akhirnya terus bertanya kepada Allah. Mengapa Ia memberiku penyakit seperti ini, kenapa di keluargaku hanya aku yang memiliki penyakit ini. Kenapa bukan si A atau si B, teman kantor yang jahat perangainya.

Aku merasa terputuk, hidupku terasa limbung, menjadi hilang arah. Kebingungan yang enggan ku ceritakan dan bagi kepada orang tua. Khawatir membebani pikiran mereka. Jika membagi cerita kepada teman malah khawatir dianggap terlalu cengeng, rapuh. Tak bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Arghhhh...

***

Entah mengapa, hari itu kudengar sebuah video di medsos, hanya sekilas lewat di beranda. Tentang ujian dari Allah untuk hambanya. Dan salah satu yang bisa menentramkan hati adalah sabar dan sholat.

Dan malam itu, aku kembali meraih sajadah. Memperbaiki sholat, lalu meluapkan isi hati kepada Allah. Air mata pun menetes deras  layaknya hujan. Ku biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah. Sesi menangis, dan berserah kala tahajud adalah sesi curhat panjang pada Allah yang tanpa judge (penghakiman) dari orang lain.

Lewat uraian air mata dan banyaknya keluhan, Ku akui kelemahan dan mengharap kekuatan dari Sang pencipta. Malam menjadi saksi tentang kegundahan yang merajalela, tentang ketakutan akan masa depan yang tak tahu juntrungannya.

Ku terima dan ridho atas takdir ini ya Allah.. Ucapku lirih. Berharap semoga dengan ridho akan takdirMU. Setelahnya Aku bisa memetik hikmah dari ketetapan yang sudah Allah gariskan.

Semoga lewat doa yang terselip disela rintihan kesedihan, Allah menghilangkan rasa hampa, menguatkan serta meneguhkan hati yang rapuh. Kemudian membuat hati menjadi lebih ringan, lega, dan plong.

Ya.. Talk to Allah mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik. 

Ketidak panikan membuatmu bisa bertindak tak hanya dengan rasa dan emosi yang terkadang menjerumuskan. Tapi dengan mengontrol pemikiran secara  sadar, penuh logika, pertimbangan dan bijaksana.

Ingat, setiap orang juga memiliki masalah dalam hidupnya. Bukan hanya kamu yang memiliki ujian, masalah dalam hidupnya. Bahkan bisa jadi ada yang lebih berat ujianNya daripada kamu.

Namun seseorang yang hebat adalah yang bisa merubah depresi lalu mengubah fokusmu, mencari solusi dari setiap kejadian. Sehingga dirimu akan lebih menerima dengan ikhlas serta sabar masalah, dengan keyakinan, bahwa AKU BISA melewatinya.