Sabtu, 21 Februari 2026

Antologi 15 : Bangkit dari Keterpurukan (Titik Tak Terduga, Alineaku Feb26)

Bangkit dari Keterpurukan

Oleh Putri Eka Sari


Bunyi suara kendaraan berlalu lalang di hadapan dan samping kananku, terasa berisik sekali. Tapi nyatanya hal itu tak mengusik diri ini. Pikiranku terlalu sibuk sendiri, hingga tak memerdulikan lingkungan sekitar.

Aku terus berjalan kaki dalam diam, diliputi perasaan kesal dan amarah. Sesekali melampiaskan rasa kesal pada batu yang menghalangi jalanku.

Seonggok batu kerikil yang tak bersalah, terinjak di muka sepatu. Mendapat tendangan berkali-kali, dengan penuh tenaga. Seolah ia adalah pelampiasan empuk dari emosi yang ku tahan dalam jiwa, tanpa bisa dicurahkan, hanya bisa terendap lewat diam dan kegalauan. 

Matahari yang mulai terik menambah rasa panas yang makin membakar jiwa ketika bayanganmu berkelebat lagi dalam ingatan. Air mata tak terasa ikut menetes, menggambarkan sakitnya hatiku saat ini.

Gambaran wajah Mas Ari beberapa bulan lalu menggandeng mesra dirinya di pelaminan yang begitu megah masih terbayang di pelupuk mataku. Begitu menyesakkan, karena yang kuharapkan, tentu aku yang bersamamu di sana. Bukan dirimu yang memadu kasih dengan perempuan lain penggantiku.

Pilihan LDR (Long Distance Relationship) untuk melanjutkan kuliah di beda kota, memang tidak cocok sepertinya untuk mempertahankan hubungan kita yang mungkin bagimu baru terasa seumur jagung, baru 2 tahun lebih. Jarak dan waktu memisahkan kita yang semula seia sekata semenjak SMA, menjadi berubah dan hatimu berpindah haluan dengan cepat.

Ah.. Memikirkannya semakin membuat hatiku terasa semakin teriris. Perasaanku campur aduk setelah keluar dari gedung pernikahan waktu itu. Rasanya saat itu aku ingin berteriak marah dan memaki perempuan yang bersanding di pelaminan dan menikah denganmu. Bahkan jika tak tahu malu, ingin ku acak mahkota di atas kepala perempuan itu.

Karena setelah kenal dengan perempuan itu, kamu langsung memutuskan hubungan denganku. Keputusan yang terlalu sepihak, dan 3 bulan kemudian menikah dengannya. Dia merebutmu dan membuat hatiku terasa pilu bagai teriris sembilu. Sehingga kau berlalu tanpa menghiraukan perasaanku.

Aku tak menyangka, entah apa yang membuatmu seperti begitu terkesima olehnya. Rasa marah yang kutahan dalam diam inginnya kulampiaskan di atas panggung pelaminan waktu itu. Dengan menjambak rambut dia yang merebutmu dariku. Tapi hal yang demikian tak kulakukan, karena ku anggap itu layaknya seperti anak kecil yang berebut permen saja. Beruntungnya aku dapat mengendalikan diri.

Aku terus berjalan dalam langkah kaki yang perlahan. Rasanya kelebatan bayanganmu membuatku semakin malas membawa diri ini ke kampus. Inginnya ku benamkan wajah, menangis himgga lelap di atas bantal di dalam kamar seharian. Tentu terasa lebih nyaman dibandingkan dengan berjalan dalam terik matahari dan debu jalanan seperti ini.

Ditambah uang jajan yang terbatas, membuatku harus rela berlelah-lelah berjalan jauh menuju kampus. Menembus jalanan bising ini demi menghemat ongkos angkot.

Tapi jika berdiam diri di rumah tak kuliah, tentu Bapak akan memarahiku karena menyia-nyiakan waktu dan uang kuliah yang cukup banyak, yang sudah dikeluarkan Bapak. Hingga terpaksa banting tulang kerja hingga lembur.

Gemuruh di hati membuat tangisan perlahan turun, seolah tak bisa kubendung lagi. Ah.. mengapa nasibku begini, patah hati ditinggal pergi kekasih. Uang terbatas di kantong, bahkan terkadang harus menunda lapar dan hanya makan seadanya.

Boro-boro untuk jajan minuman segar dingin yang tersaji di kulkas kantin yang menggugah ingin mengambilnya satu, tapi mana mungkin jika uang tak ada. Atau diri harus puas memalingkan muka dari cemilan atau makan enak yang berjejer di etalase kantin kampus. Yang seolah memanggil-manggil untuk dibeli, namun hanya bisa kupandangi.  

Aku harus bersyukur untuk menu nasi dan telor ceplok di pojokan musola, yang terasa sudah cukup mewah untuk mahasiswa pas-pasan sepertiku. Yang jadwal kuliahnya begitu padat dari pagi hingga sore, karena diselingi dengan praktikum. Dan baru sampai rumah malam hari, dan disambut dengan tempe goreng yang sudah dingin. Menjadi andalan pengganjal perut.

Tentu aku harus bersyukur dan berpuas diri akan segala yang dimiliki saat ini. Hingga tak terasa 1 jam menangis di perjalanan dari rumah hingga ke kampus cukup membuat hati menjadi lega.

Setelahnya kepalaku yang lama terbenam, Aku angkat ia perlahan. Ku tegakkan tubuhku. Ah.. biarlah mungkin 2 tahun yang sia-sia itu. Berarti kamu memang bukan jodohku mas. Ku tekadkan hati seiring dengan bis kuning yang datang di hadapan.  

Warnanya yang mencolok menembus dan menghujam ke hatiku. Aku harus menghentikan perasaan ini, dan beranjak pergi mengejar hal lain yang lebih baik. Aku akan buktikan bahwa aku bisa jadi orang yang berkecukupan, hingga tak diremehkan orang lain.

Aku juga akan melupakan dirimu mas, meski ternyata prosesnya mungkin tidak semudah bayanganku. Karena sesekali masih menangisi kenangan, jika sekelebat teringat. Terutama setiap tak sengaja mendengar lagu yang biasa dinyanyikan bersama dahulu.

Atau bayangan wajahmu singgah kala menatap benda-benda pemberianmu, rasanya menerbitkan sedih itu lagi. Kecewa dan patah hati karena ditinggalkan orang yang dikasihi ternyata menimbulkan jejak, goresan yang cukup dalam. Bahkan sempat membuat nilai kuliahku semester ini anjlok.

Ah.. mungkin itulah mengapa dalam islam tidak dianjurkan untuk pacaran sebelum menikah. Karena sepertinya membuang waktu dan menyita fokus diri. Apalagi jika sudah patah hati, perasaan hancur yang ditimbulkan bisa membuat seseorang bahkan menjadi gila dan ingin mengakhiri hidup, bunuh diri. Hiiii.. Aku bergidik ngeri.

Aku harus sadar sepenuhnya, tak ingin membuang waktu dan masa depanku hanya untuk perasaan itu. Aku masih memiliki orang tua yang menyimpan harapan, agar Aku memiliki hidup yang lebih baik dari mereka.

Kenangan ini menyadarkanku bahwa dari perjalanan patah hati ini, Allah ternyata menjauhkanku dari orang yang tidak tepat, menuju hal yang lebih baik. Putrie, Januari2026

Sabtu, 14 Februari 2026

Buku Antologi 14 : Ditempa oleh Bos Killer, (Hikmah Dibalik Kisah, Wonderful Feb26)

 Ditempa oleh Bos Killer

Oleh: Putri Eka Sari

“Melalui tekanan, tempaan dan proses yang keras, barulah batu hitam bisa menjadi berlian yang indah. Begitupula manusia ketika Ia bisa melewati proses ditempa oleh berbagai macam kesulitan hidup, maka ia akan lebih bersinar (naik derajatnya) .”

 

"Go**** Idiot.." Kata itu kembali dilayangkan kepadaku.. 

Masuk ke dalam telinga lalu menembus ke hati, di panas terik ini. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini sudah beberapa kali aku di semprot oleh Bos ku.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Praktis Aku yang hanya bawahan, tak bisa membantah.

Diam adalah cara terbaik agar amarahnya tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Kataku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Akhirnya jantungku baru terasa berdetak lagi. Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang sekali dua kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, salah di matanya.

Kala ku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu, Bukankah seharusnya Namanya seperti Bayu, Air yang adem, dingin menenangkan.

Aku berharap, atasan yang menaungi bawahannya dengan baik. Bukan malah menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya bergumam.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu.." Balasnya Sambil memegang lenganku..

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur" Ujarnya lagi sambil membujukku. Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Apalagi Sifat bosku yang perfeksionis, selalu meminta tiap pekerjaan sesuai dengan keinginannya, tak boleh bercela. Bahkan untuk titik dan koma harus sesuai letaknya di proposal yang ia minta.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Kumisnya yang tebal seperti Pak Raden dalam serial Unyil, makin membuat sangar wajahnya.

Kumis tersebut akan bergerak turun naik diiringi amarah yang kadang tetiba muncul. Begitu reaktifnya seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, tak ingat waktu dan tempat.

Ingatanku melayang di suatu malam, saat libur pun hpku harus selalu stand by di telponnya. Karena Beliau ingin meminta reschedule tiket penerbangan.

Kala itu jalanan Surabaya yang macet, sehingga praktis Ia ketinggalan check in masuk ke pesawat. Dan tentu saja aku harus siap dengan tugas tanpa kenal waktu.

Gercep cek dan beli tiket pesawat, booking hotel serta akomodasi haruslah sesuai keinginannya. Ia tak peduli jika uang nya harus ku talangi dengan uang pribadiku dahulu.

Ya.. begitulah konsekuensi bekerja. Dan Aku hanya bisa mengelus dada setiap harinya. Di mana Bos selalu benar, dan tentu bawahan yang selalu di salahkan.

Namun beberapa tahun kemudian, Aku baru merasakan dampak bekerja dibawah asahan Bosku ini. Kerjaku semakin cepat, dan lebih mudah memahami arahan atasan. Menjadikanku terbiasa sat-set, gercep, membuat instingku lebih peka, serta makin terarah pula memahami keinginan klien.

Ritme kerja keras ini seolah Allah sengaja ajarkan kepadaku. Hal yang akhirnya membuat perlahan jabatanku dipromosikan naik. Dan diberikan berbagai reward, hadiah dari perusahaan.

Kini Aku merasa, sepertinya harus berterimakasih kepada Bosku yang kini sudah meninggal. Karena berkat didikannya, Aku bisa lebih kuat mental menghadapi klien yang terkadang banyak inginnya seperti Raja.

Sebuah surat dalam Quran begitu pas menggambarkan keadaan ini, QS. Al-Baqarah (2:216): "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita, meski kita tidak menyadarinya). PutriEkaSari, Jan26

 Profil Penulis:

Nama               : Putri Eka Sari S.T

Profesi             : Penulis

Domisili            : Jakarta

Alamat Pos-el   : putri.ekasari@gmail.com

Media Sosial    : putri ekasari (Fanpage Facebook), @putrie_bundapaipia (Instagram)

Selasa, 03 Februari 2026

Buku Antologi 12 : Ramadhan dan Kue Lebaran (Renungan dan Nostalgia Ramadhan, Jan26)

Ramadhan dan Kue Lebaran

    Kak.. tolong matiin kompornya..” Kata Mama dari arah kamar selepas salam, setelah salat Ashar. “Siap Ma..” Kataku sambil berjalan menghampiri oven kami yang nangkring di atas kompor minyak tanah. Pada zaman dahulu, oven listrik memang belum lazim dimiliki. Kompor gas atau listrik pun masih terbilang elite, jarang ada yang punya. Hmmmm… Harum wangi kue yang terpanggang di dapur Mama begitu semerbak, menggelitik hidung. Wangi mentega wijsman yang kaya rasa mengudara di seluruh seantero rumah.

    Pandanganku tertuju pada bulatan nastar keemasan yang menggoda jiwa, begitu bulat montok dan menul-menul bermahkota cengkeh di atasnya. Glek, spontan ku melirik keadaan sekitar. Rasanya ingin diam-diam ku comot salah satu bulatan nastar di deretan paling depan, tentu rasanya begitu enak, batinku. 

    Baunya saja membuat hidungku kembang kempis. Usus dalam perut pun seolah meronta-ronta, terbangunkan oleh rasa lapar. Setelah setengah hari berpuasa, dan melawan godaan untuk tidak mencicipi adonan kue nastar legendaris buatan Mama. Kue nastar yang menurut aku dan adik-adik juara di hati kami. Begitu lembut, lumer di mulut. Dengan isian selai nanas yang dibuat sendiri. Terutama jika dibandingkan dengan kue buatan toko-toko yang terasa sepo (hambar). Nastar buatan Mama tentu lebih menggugah selera. 

    Pegangan Istimewa yang hanya ada saat menyambut lebaran saja. Sehingga praktis kami hanya bisa mencicipinya setahun sekali. Maka sensasi ketika menggigit kue lebaran tentu akan terasa sangat menyenangkan. Apalagi saat kecil, kami masih memiliki keterbatasan (ekonomi yang pas-pasan). 

    Maka untuk dapat membuat cemilan lebaran baru bisa dilakukan setelah THR (Tunjangan Hari Raya) keluar. Maklumlah untuk membuat kue lebaran yang enak dengan citra rasa premium, dibutuhkan dana yang cukup lumayan. Sehingga makan kue lebaran terasa begitu Istimewa dan dinanti.

    Apalagi kue lebaran belum banyak diproduksi masal (hanya ada saat momen Idul Fitri atau natal saja). Hal yang menyebabkan tiap tahun terasa rindu berat sama kue yang satu ini. Dan mencicipi kue legendaris ini baru bisa dilakukan setelah azan magrib tiba. Bagiku, azan menjadi momen yang paling ditunggu bukan hanya untuk berbuka puasa. Namun juga waktu untuk bisa mencicipi kue yang baru dipanggang tadi siang. 

    Setelah menahan lapar dan keinginan untuk makan kue yang tadi Mama panggang. Rasanya berdebar Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulut. Melahap nastar yang nanasnya begitu lumer, pecah dalam rongga mulut, adalah suatu kesenangan tersendiri. Kegiatan membuat penganan lebaran memang merupakan ciri khas dari masing-masing rumah. Hal ini biasa dilakukan di 10 hari terakhir lebaran, sebelum liburan dan mudik lebaran tiba. 

    Selalu ada warna kebahagiaan dan kehangatan tersendiri saat masing-masing keluarga menyiapkan cemilan penganan untuk hari Raya Idul Fitri secara bersama-sama. Dan menjadi kenangan indah, manis, yang hingga dewasa sulit untuk dilupakan. Meskipun tak jarang dapur menjadi kotor karena tepung terigu, gula yang berhamburan di mana-mana. atau mentega belepotan yang menyebabkan dapur menjadi lengket.

    Selalu ada cerita seru dan menyenangkan disetiap membuat kue lebaran. “De.. itu selai nanasnya masa gede banget segede bakso, nanti nastarnya sebesar apa?” Tegurku sambil cekikikan kepada Adik yang membuat isian nastar kebesaran. “Biarin we.. ini kan buat nastar special, buatanku untuk Nenek yang nanasnya paling gede..” Jawab Ari sambil menjulurkan lidahnya meledek. 

“Makin besar nastarnya, siapa tau makin gede juga angpaunya Kak..” Lanjut Ari lagi. Adikku ini selalu suka memulung-mulung adonan selai nanas sebagai isian kue nastar. Ia yang paling sibuk menggelundungkan selai nanas kesana kemari. Dari pinggir oven Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. 

“De.. jangan dimainin dong adonan selainya, nanti kan dimakan sama orang yang lebih tua..” Kata Mama mulai menasihati. 

“Kita buat makanan yang baik ya De.. Terutama sebagai bentuk menghargai makanan, apalagi jika tujuanmu untuk dimakan oleh Nenek, orang tua yang harus dihormati” Ujar Mama lagi. “Tuh kan De.. dibilangin Kakak juga..” Ujarku menimpali kejahilan Adik yang selalu menganggap membuat kue bagai bermain plastisin, play dough.

Adik memang anak lelaki kecil yang sebenarnya kreatif dan senang bereksperimen, ia tak pernah melewatkan kegiatan membantu Mama membuat kue lebaran. Sepertiku dahulu saat kecil, masa bebas membentuk adonan kue menjadi berbagai macam rupa Adalah sesuatu yang menyenangkan. Kenangan masa anak-anak yang belum rusak dengan aktivitas Bersama gadget. 

    Kami akan bebas mencetak berbagai rupa kue, dari mulai bentuk ulat, kupu-kupu, bunga, matahari, dan Mama pun memperbolehkan membuat kue Pelangi, dengan menambahkan pewarna makanan pada kue. Rasanya sungguh menyenangkan sekali. Setiap keluarga tentu memiliki hidangan serta cemilan favorit untuk lebaran yang berbeda, tergantung oleh selera masing-masing. Keluargaku seperti keluarga pada umumnya, yang menyiapkan penganan berupa kue lebaran kering, misalnya nastar, kastengel (kue keju), kue semprit, lidah kucing, kue putri salju. 

Nastar dan Kue Lebaran

    Kue yang biasa dibuat dan ada hampir setiap rumah di Jakarta. Sedangkan penganan lain sebagai pendamping misalnya kacang bawang. Maupun hidangan khas seperti wajik nanas, tape uli, biji Ketapang, akar kelapa, keripik bawang ataupun cheese stick menjadi pendamping popular. Sepiring penganan kue lebaran bareng keluarga semakin menghidupkan suasana silaturahmi yang tak terlupakan.

Putri Eka Sari, Jakarta 30 November 2025

"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."