Bangkit dari Keterpurukan
Oleh Putri Eka Sari
Bunyi suara kendaraan berlalu lalang di hadapan dan samping kananku, terasa berisik sekali. Tapi nyatanya hal itu tak mengusik diri ini. Pikiranku terlalu sibuk sendiri, hingga tak memerdulikan lingkungan sekitar.
Aku terus berjalan kaki dalam diam, diliputi
perasaan kesal dan amarah. Sesekali melampiaskan rasa kesal pada batu yang
menghalangi jalanku.
Seonggok batu kerikil yang tak bersalah,
terinjak di muka sepatu. Mendapat tendangan berkali-kali, dengan penuh tenaga.
Seolah ia adalah pelampiasan empuk dari emosi yang ku tahan dalam jiwa, tanpa
bisa dicurahkan, hanya bisa terendap lewat diam dan kegalauan.
Matahari yang mulai terik menambah rasa panas
yang makin membakar jiwa ketika bayanganmu berkelebat lagi dalam ingatan. Air
mata tak terasa ikut menetes, menggambarkan sakitnya hatiku saat ini.
Gambaran wajah Mas Ari beberapa bulan lalu menggandeng
mesra dirinya di pelaminan yang begitu megah masih terbayang di pelupuk mataku.
Begitu menyesakkan, karena yang kuharapkan, tentu aku yang bersamamu di sana.
Bukan dirimu yang memadu kasih dengan perempuan lain penggantiku.
Pilihan LDR (Long Distance Relationship) untuk
melanjutkan kuliah di beda kota, memang tidak cocok sepertinya untuk
mempertahankan hubungan kita yang mungkin bagimu baru terasa seumur jagung,
baru 2 tahun lebih. Jarak dan waktu memisahkan kita yang semula seia sekata
semenjak SMA, menjadi berubah dan hatimu berpindah haluan dengan cepat.
Ah.. Memikirkannya semakin membuat hatiku
terasa semakin teriris. Perasaanku campur aduk setelah keluar dari gedung
pernikahan waktu itu. Rasanya saat itu aku ingin berteriak marah dan memaki
perempuan yang bersanding di pelaminan dan menikah denganmu. Bahkan jika tak
tahu malu, ingin ku acak mahkota di atas kepala perempuan itu.
Karena setelah kenal dengan perempuan itu,
kamu langsung memutuskan hubungan denganku. Keputusan yang terlalu sepihak, dan
3 bulan kemudian menikah dengannya. Dia merebutmu dan membuat hatiku terasa
pilu bagai teriris sembilu. Sehingga kau berlalu tanpa menghiraukan perasaanku.
Aku tak menyangka, entah apa yang membuatmu
seperti begitu terkesima olehnya. Rasa marah yang kutahan dalam diam inginnya
kulampiaskan di atas panggung pelaminan waktu itu. Dengan menjambak rambut dia
yang merebutmu dariku. Tapi hal yang demikian tak kulakukan, karena ku anggap
itu layaknya seperti anak kecil yang berebut permen saja. Beruntungnya aku
dapat mengendalikan diri.
Aku terus berjalan dalam langkah kaki yang
perlahan. Rasanya kelebatan bayanganmu membuatku semakin malas membawa diri ini
ke kampus. Inginnya ku benamkan wajah, menangis himgga lelap di atas bantal di
dalam kamar seharian. Tentu terasa lebih nyaman dibandingkan dengan berjalan dalam
terik matahari dan debu jalanan seperti ini.
Ditambah uang jajan yang terbatas, membuatku
harus rela berlelah-lelah berjalan jauh menuju kampus. Menembus jalanan bising ini
demi menghemat ongkos angkot.
Tapi jika berdiam diri di rumah tak kuliah,
tentu Bapak akan memarahiku karena menyia-nyiakan waktu dan uang kuliah yang
cukup banyak, yang sudah dikeluarkan Bapak. Hingga terpaksa banting tulang
kerja hingga lembur.
Gemuruh di hati membuat tangisan perlahan
turun, seolah tak bisa kubendung lagi. Ah.. mengapa nasibku begini, patah hati
ditinggal pergi kekasih. Uang terbatas di kantong, bahkan terkadang harus
menunda lapar dan hanya makan seadanya.
Boro-boro untuk jajan minuman segar dingin
yang tersaji di kulkas kantin yang menggugah ingin mengambilnya satu, tapi mana
mungkin jika uang tak ada. Atau diri harus puas memalingkan muka dari cemilan
atau makan enak yang berjejer di etalase kantin kampus. Yang seolah
memanggil-manggil untuk dibeli, namun hanya bisa kupandangi.
Aku harus bersyukur untuk menu nasi dan telor
ceplok di pojokan musola, yang terasa sudah cukup mewah untuk mahasiswa
pas-pasan sepertiku. Yang jadwal kuliahnya begitu padat dari pagi hingga sore,
karena diselingi dengan praktikum. Dan baru sampai rumah malam hari, dan
disambut dengan tempe goreng yang sudah dingin. Menjadi andalan pengganjal
perut.
Tentu aku harus bersyukur dan berpuas diri
akan segala yang dimiliki saat ini. Hingga tak terasa 1 jam menangis di
perjalanan dari rumah hingga ke kampus cukup membuat hati menjadi lega.
Setelahnya kepalaku yang lama terbenam, Aku
angkat ia perlahan. Ku tegakkan tubuhku. Ah.. biarlah mungkin 2 tahun yang
sia-sia itu. Berarti kamu memang bukan jodohku mas. Ku tekadkan hati seiring dengan
bis kuning yang datang di hadapan.
Warnanya yang mencolok menembus dan menghujam
ke hatiku. Aku harus menghentikan perasaan ini, dan beranjak pergi mengejar hal
lain yang lebih baik. Aku akan buktikan bahwa aku bisa jadi orang yang
berkecukupan, hingga tak diremehkan orang lain.
Aku juga akan melupakan dirimu mas, meski ternyata
prosesnya mungkin tidak semudah bayanganku. Karena sesekali masih menangisi
kenangan, jika sekelebat teringat. Terutama setiap tak sengaja mendengar lagu
yang biasa dinyanyikan bersama dahulu.
Atau bayangan wajahmu singgah kala menatap
benda-benda pemberianmu, rasanya menerbitkan sedih itu lagi. Kecewa dan patah
hati karena ditinggalkan orang yang dikasihi ternyata menimbulkan jejak,
goresan yang cukup dalam. Bahkan sempat membuat nilai kuliahku semester ini anjlok.
Ah.. mungkin itulah mengapa dalam islam tidak
dianjurkan untuk pacaran sebelum menikah. Karena sepertinya membuang waktu dan
menyita fokus diri. Apalagi jika sudah patah hati, perasaan hancur yang
ditimbulkan bisa membuat seseorang bahkan menjadi gila dan ingin mengakhiri
hidup, bunuh diri. Hiiii.. Aku bergidik ngeri.
Aku harus sadar sepenuhnya, tak ingin
membuang waktu dan masa depanku hanya untuk perasaan itu. Aku masih memiliki
orang tua yang menyimpan harapan, agar Aku memiliki hidup yang lebih baik dari
mereka.
Kenangan ini menyadarkanku bahwa dari
perjalanan patah hati ini, Allah ternyata menjauhkanku dari orang yang tidak
tepat, menuju hal yang lebih baik. Putrie, Januari2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar