Jumat, 02 Januari 2026

Buku Antologi 8 : Kasih Ibu Sepanjang Masa (Seputar Duniaku, Alinea Nov25)

 Kasih Ibu Sepanjang Masa

oleh : Putri Eka Sari


Cinta menangis sesenggukan di pangkuan Ibunya. Tersedu sedan meratapi lika liku hidupnya. Berkali-kali mengusap air mata yang keluar dari matanya yang mulai sembab, bersamaan dengan menghapus bayangan indah tentang kehidupan pernikahan yang ia dambakan.

”Ternyata menikah itu menyakitkan Bu..” Ujar Cinta pada Sang Ibu sambil terisak-isak.

Ibunya hanya mengusap halus pundaknya perlahan, berusaha menguatkannya. Tak membantah, hanya larut mendengarkan dalam diam, sesekali ikut terhanyut dalam sedihnya sang anak.

Bagi Cinta, Ibu adalah tempat paling nyaman untuk bercerita, Ibu selalu ada saat ia membutuhkan pelukan hangat. Ibu selalu mendengarkan tanpa menghakimi.

Sedangkan curhat dengan sahabat. Bukannya lega malah menjadi luka untuknya. Ketika sahabat adalah maut baginya. Rien, Sahabatnya malah menjadi selingkuhan suaminya, menjadi duri dalam rumah tangganya, tanpa sepengetahuannya begitu tega bermain api di belakangnya.

Berbeda dengan cerita ke teman lainnya, jika Cinta bercerita tentang permasalahan dalam rumah tangganya, alih-alih mendapat solusi, malah khawatir menjadi bahan gunjingan orang lain. Sementara aib rumah tangga sebaiknya di tutupi dengan rapat.

Maka akhirnya Cinta memilih tempat curhat terbaik, yaitu Ibunya sendiri. Meski awalnya Cinta sempat ragu, masalah yang ia alami akan membebani pikiran orang tuanya yang sudah mulai lanjut usia.

Namun, baginya hanya Ibu yang bisa membaca seluruh isi hatinya, menembus jiwa anaknya, Hingga Cinta tak harus berkata terlalu banyak dan detil.

Cinta selalu tahu bahwa Ibu adalah rumah. Tempat Ia bermula dan pulang.

”Mengapa Mas Rangga jahat Bu, kenapa pernikahanku tak seperti teman-teman lain yang bahagia?” Cinta berujar sambil kali ini memukul-mukul sofa di sebelahnya.

”Hu... Mengapa Bu? Kenapa begini?” Tanyanya lagi dengan penuh emosi.

Ternyata waktu 8 tahun Cinta mengenal suaminya sebelum menikah, tak cukup untuk memberi gambaran utuh tentang lelaki yang pernah ia puja dan cintai mati-matian. Ia begitu buta sehingga matanya hanya fokus kepada kebaikan sang kekasih, tanpa menghiraukan keburukannya.

Ia tak menyadari tanda-tanda betapa Red Flag suaminya. Ia terlalu bucin, hingga matanya tertutup kabut cinta buta. Ah.. betapa bodohnya Cinta..

Rangga, seseorang yang ia pikir bisa menjaga, melindungi dirinya, ternyata mampu berbuat kasar padanya. Dia akan marah jika Cinta bertanya kenapa pulang kantor terlambat, atau menanyakan kemana uang  gaji, hasil kerjanya.

Tamparan, pukulan, tendangan akan dilayangkan ketika ia bertanya. Mengapa Rangga lebih peduli kepada keluarganya saja, membelanjakan Ibu dan adiknya ini dan itu setiap habis gajian.

Tanpa memedulikan perasaannya. Bahkan mencukupi kebutuhan dirinya sebagai istri. Juga calon anak mereka yang kini sedang dikandungnya.

Ketika Ia tanya, Kenapa? Mengapa? Rangga mengganggap Cinta mandiri secara financial. Penghasilan Cinta yang cukup besar di kantor sehingga membuat Rangga berfikir tak perlu memberikan nafkah dan bertanggung jawab padanya.

Ya Allah.. Betapa dilema menjadi istri, jika bekerja dianggap mandiri secara financial. Namun jika tak bekerja dianggap menjadi beban Suami. Lalu apa tujuan berumah tangga bagi Rangga? bukankah pernikahan adalah ibadah dua insan yang disatukan dalam ikrar suci ijab qabul?

Apakah menikah hanya sekedar menyalurkan hubungan biologis saja? Berbagai pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran Cinta yang kacau.

Ibu mengelus lagi perlahan punggung Cinta, Ia paham dan ikut merasakan, emosi dan rasa gundah dari anaknya yang sedang terluka. Ia ingin marah pada Rangga, suami Cinta.

Rasa amarah yang mampu membakar jiwa hingga membuatnya ingin menampar, memukuli, atau mencaci Laki-laki jahat itu. Karena Rangga, suami Cinta, telah menyakiti hati anak kesayangannya.

Ibu mengusap lagi kepala Cinta, anak semata wayangnya dengan segenap kerinduan. Rasanya baru kemarin Ibu mengusap kepala Cinta sambil membacakan dongeng, ritual kecil kala menemani Cinta menjelang tidur.

Dan waktu berlalu begitu cepat, tanpa ia sadari. Putri kecilnya tumbuh dewasa, dengan segala kenangan indah yang sudah mereka lalui bersama.

Cinta, putri kesayangannya yang cantik, penurut, selalu berprestasi saat di sekolah. Anak yang Ia besarkan dengan segenap kasih sayang hingga dewasa, meskipun kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan, terutama saat sang suami telah meninggal.

Ibu pikir, dengan menyerahkan putri semata wayangnya pada orang yang dicintai oleh sang anak, Cinta akan terjamin hidupnya di masa depan. Ibu pikir Rangga adalah laki-laki gagah dan rupawan yang nampak penuh tanggung jawab. Ternyata tidak demikian, sungguh kita tak bisa melihat seseorang dari penampilan luarnya saja. Kenyataan tak semanis harapan.

”Nduk, menangislah hingga hatimu lega” Kata Ibu dengan penuh kasih.

”Ibu percaya, setelah badai ini, Allah akan ganti segala kesulitanmu dengan kemudahan yang lain. Kamu pun harus yakini itu” Lanjut ibu sambil menguatkan hati Cinta, kata Ibunda yang selayaknya Doa tulus untuk ananda.

Bagi Ibu, ujian dari Allah adalah bentuk Kasih sayang Allah untuk menguatkan hati hambaNya. Ibu yakin jika Cinta menerima takdir Allah dengan ikhlas, sabar dan ridho. Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik di waktu yang tepat.

***

Selang waktu berganti, ucapan Ibu menjadi kenyataan. Beberapa tahun kemudian, Cinta dipersunting oleh laki-laki yang menyayangi Cinta dengan segenap jiwanya.

Percayalah, Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Putri Eka Sari, Nov25

Buku Antologi 7 : Kala hati gundah, Just Talk to Allah (Allah, Ujian dan Aku - Alineaku, Oct25)

 Kala hati gundah, Just Talk to Allah

oleh : Putri Eka Sari

Aku memandang lamat-lamat sajadah di hadapanku yg bermotif Ka'bah selepas solat malam. Tak terasa air mataku menetes satu-satu. Aku membayangkan setiap inci kejadian yang terjadi hari ini.

Terasa semua masalah menyesakkan dalam dada. Dari mulai dimarahi bos di kantor, diminta untuk mengerjakan kerjaan yang menumpuk. Padahal gaji yang tak seberapa dari pekerjaan ini, telat di transfer oleh kantor, yah.. beginilah nasib karyawan kontrak.

”Idiot, Goblok”...

Kata-kata itu terngiang kembali menembus ke hati. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini beberapa kali di semprot oleh Bos di kantor.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Juga tak membantah.

Diam adalah cara terbaik agar amarah Bosku tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Jawabku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Barulah akhirnya jantungku terasa berdetak lagi.

Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang beberapa kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, salah di matanya.

Kala ku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu, Geram bertanya, bukankah seharusnya karakter Pak Bos seperti Bayu (Air), yang adem, dingin menyejukkan.

Dapat menaungi bawahannya dengan baik. Bukan malah menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya mengingatkan.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu.." Balasnya Sambil memegang lenganku.

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur, banyak loh orang yang menganggur di luar sana" Bujuk Aisyah lagi. Meski Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Namun karena posisiku persis di bawah Pak Bayu dalam struktur perusahaan, aku kerap lebih sering bersinggungan pekerjaan dengan Bosku itu.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Karakternya yang ekslosif, reaktif seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledakan amarah, tak ingat waktu dan tempat, bahkan via telpon.

Sesampainya di rumah, ku pikir hati bisa tenang. Tapi malah ku dengar omelan Bapak yang juga marah-marah kepada Ibu, karena adik yang terlambat pulang ke rumah karena asyik main bola. Dan lagi masalah ekonomi rumah tangga yang sedang seret.

Kegundahan di hati pun makin merajalela karena masih menjomblo. Sehingga praktis masih sendiri tanpa pasangan untuk berbagi cerita. Yang kadang terlintas iri dihati ketika teman-teman berceloteh tentang pacar dan anak karena telah memiliki rumah tangga.

Semua gundah, masalah dan beban di hati yang rasanya terlalu malu untuk ku bagi kepada orang tua apalagi kepada teman. Alih-alih simpati malah nanti jadi bahan tertawaan karena tak bisa bertahan menghadapi kerasnya kehidupan.

Arrrgh.. rasa kesal, sedih, galau ku lampiaskan semua rasa di dada, kepada Allah Sang pencipta alam semesta. Ku serahkan semua masalah ini kepadaNya, tempat segala hal bermula dan akan kembali.

"Ya Allah.. kenapa hidup terasa sulit.. " kataku lirih sambil menengadahkan tangan, meminta Allah untuk menghilangkan amarah dan segala rasa.

Shalat malam adalah sesi terbaik menurutku untuk talk to Allah, berbicara pada Allah. Mengadukan seluruh beban di pundak serta isi hati. Curhat kepadaNya, dengan keyakinan. Pasti Allah berikan jalan keluar dari setiap masalah yang ku miliki.

Meski ingin rasanya aku pun bertanya pada Allah. Dan bahkan jika boleh menggugat takdir, mengapa kehidupanku begitu terbatas seperti ini. Tak seperti orang lain yang memiliki banyak harta, bisa memiliki ini dan itu. Sehingga selalu terlihat gembira, bisa senang-senang sesukanya.

Begitu banyak pertanyaan, mengapa? Kenapa? dan segudang pemikiran lain yang membuat ruwet di kepala.

Air mata menetes lebih deras seperti layaknya hujan. Ku biarkan saja alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah. Sesi menangis, dan berserah kala tahajud adalah sesi curhat panjang yang tanpa judge (penghakiman) dari orang lain,  membuat hati menjadi lebih ringan, lega, dan plong.

Sehingga esoknya aku lebih siap menjalani hari meskipun terasa berat. Dengan satu harapan, semoga Allah meridhoi setiap hembusan nafas dan langkah yang aku ambil.

Percayalah, Sesungguhnya dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan. Semoga teman-teman pembaca juga bisa mengambil hikmah yang sama dari tulisan ini.

Buku Antologi 5 : Kata adalah Doa (Nasihat dan isi hati Wanita - Alineaku, Mar25)

 Kata adalah doa

                                            oleh : Putri Eka Sari

”Ni.. aku di Clarke Quay, bingung mau kemana” kata ku di telpon, sambil kebingungan melihat maps dan keadaan sekitar.

”Coba cari halte bus terdekat ke arah hotel” kata sahabatku di sebrang telpon, dengan nada khawatir.

 ”Iya, tapi aku capek ni, mau naik grab aja sepertinya” Kataku sambil menutup telepon, lelah.

Aku masih kebingungan, di hadapanku area pertokoan yang sudah sepi, karena waktu sudah diatas jam 9 malam. Di sebelah kananku sebuah dermaga, dengan beberapa yatch bersandar di perairan.

Dermaga ini terletak di ujung muara Singapore River dan Boat Quay. Grabcar sepertinya menjadi pilihan terakhir yang tepat karena malam semakin larut.

            Setelah aku terpencar dari sahabatku di Negeri yang asing, Singapura. Dan sebelumnya aku tak sengaja terpisah di bus yang membawaku ke arah hotel, tempat kami menginap.

            Aku tak sadar saat sahabatku mencolek untuk turun. Karena sibuk berfoto, mengabadikan momen dan menangkap kondisi jalanan Singapura yang tertata rapi, bebas sampah.

Saat aku sadar, bus sudah membawaku jauh dari area hotel di kawasan Arab Street. Langsung aku bertanya pada pengemudi bus, harus turun dimana, untuk melanjutkan perjalanan  menuju ke hotel. Dengan info yang ada, kemudian aku pun turun dari bus di halte.

Namun aku sepertinya salah menentukan arah dan mengecek rute bus, dari semula di area orchard road, lalu terdampar di kawasan pusat perkotaan Singapura. Dan akhirnya sampai ke area Clarke Quay.

Sebelum terpencar dan nyasar di area Singapura, aku tak sengaja mengucap kata, jika ingin berputar-putar di malam minggu ini. Menikmati udara malam di Negara yang kabarnya sebesar kota Jakarta.

Namun sahabatku ingin pulang karena waktu sudah malam. Ia kelelahan, sejak pagi kami berjalan-jalan mengelilinggi tempat-tempat wisata di Singapura.

Maka akhirnya aku pun terdampar di sudut kota Singapura, berkeliling sendirian layaknya orang hilang. Karena keteledoranku, aku yang tidak mengenal daerah Singapura menjadi berputar tak tentu arah.

Di awal perjalanan, ku kira hampir semua orang Singapura bisa berbicara melayu, layaknya bahasa Indonesia. Ternyata ada beberapa orang yang tidak bisa bahasa Melayu.

Sehingga aku yang memiliki kemampuan bahasa inggris pasif ini. Kadang kebingungan dengan perkataan orang Singapura yang tercampur dengan logat bahasa Hokian, Mandarin. Ah.. andai aku tak berucap sembarangan..     

Karena kata adalah doa..

Begitulah, aku terdampar di area Singapura tak tentu arah.

Pantaslah jika orang bilang, berkata baik atau diam..

Dan peribahasa pun mengatakan, mulutmu harimaumu..

Maka itu hendaknya kita berhati-hati dalam berkata-kata. Karena yang baik atau buruk bisa saja terjadi kepada kita.

Terngiang dalam ingatanku, kala SMA dahulu. Aku berkata pada diri, ingin bisa ke luar Negeri. Sebuah impian yang kemudian ku tulis di selembar kertas, di tempel pada dinding kamar dekat pintu.

Sehingga praktis tiap lewat pintu, aku akan melewati dan membaca kata-kata tersebut sambil tersenyum. Membayangkannya saja sudah terasa menyenangkan.

Padahal di kala itu uang saja belum ku miliki. Untuk minta ke orang tua pun terasa tak mungkin, karena hidup yang pas-pasan.

Namun kata ’Ingin ke Luar Negeri’ seolah memecut hatiku begitu dalam dan membekas. Mengajarkan tentang mimpi yang dapat diwujudkan dengan keyakinan, berbalut doa pada Sang pencipta dan tekad kuat untuk berusaha menggapainya.

Karena tentu Doa tanpa usaha adalah nihil adanya. Dan sebaliknya, usaha tanpa doa adalah bentuk kesombongan manusia.

            Hingga akhirnya, kata itupun menjadi kenyataan. Beberapa tahun setelah bekerja, aku berhasil menjejakkan kaki di luar Negeri pertama. Sebuah Negara yang terdekat dengan Indonesia, yaitu Singapura.

Jalan-jalan ke Luar Negri dengan budget teramah di kantongku saat itu. Karena untuk ke sana, aku mendapatkan tiket promo, sehingga penerbangan yang hanya 1 jam ke luar Negeri terasa dekat.

            Di sana, aku dan sahabatku mengeksplorasi berbagai tempat hits di Singapura dengan bus dan MRT. Mengunjungi berbagai kawasan ikonik Singapura seperti Marina Bay, Esplanade dan sekitarnya. Tak lupa ke Universal studio, Garden By the Bay tempat pohon buatan raksasa seperti di film avatar.

            Selama di Singapura, aku memaknai semua langkah kaki dengan senyuman dan rasa syukur. Ah.. Begitu menakjubkannya sebuah kata-kata.

            Hingga dua tahun kemudian Allah pun memanggilku ke kota lain di luar Negeri. Yang menjadi impian hampir semua muslim, yaiitu Mekah dan Madinah.

            Sebuah impian yang juga terwujud nyata. Kala penaku dahulu juga menuliskan kata ’Ingin Umroh bersama Ibunda’ di selembar kertas sederhana yang sama dengan impian ’Ingin ke luar Negeri’.

Sebuah perjalanan menuju Mekah-Madinah juga di mulai dari Impian, dikuatkan dengan visualisasi foto berbingkai, tentang indahnya Masjid Nabawi di dinding rumah. Yang makin memicu semangat untuk beribadah di sana.

Perjalanan selama di Mekah dan Madinah adalah bagai menyusuri jejak Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, merekam tiap langkahnya. Mengenang perjuangan kaum muslimin yang hijrah dan mentafakuri perjalanan Islam di Kota Suci umat Muslim ini.

Dengan Izin Allah, aku dapat menjejakkan kaki dan melaksanakan shalat di sana. Bukanlah hanya sekadar impian belaka, kata itu menjadi kenyataan. Karena Kata adalah Doa bagi yang mempercayai.