Kasih Ibu Sepanjang Masa
oleh : Putri Eka Sari
Cinta menangis sesenggukan di pangkuan
Ibunya. Tersedu sedan meratapi lika liku hidupnya. Berkali-kali mengusap air
mata yang keluar dari matanya yang mulai sembab, bersamaan dengan menghapus
bayangan indah tentang kehidupan pernikahan yang ia dambakan.
”Ternyata menikah itu menyakitkan Bu..” Ujar
Cinta pada Sang Ibu sambil terisak-isak.
Ibunya hanya mengusap halus pundaknya
perlahan, berusaha menguatkannya. Tak membantah, hanya larut mendengarkan dalam
diam, sesekali ikut terhanyut dalam sedihnya sang anak.
Bagi Cinta, Ibu adalah tempat paling nyaman
untuk bercerita, Ibu selalu ada saat ia membutuhkan pelukan hangat. Ibu selalu
mendengarkan tanpa menghakimi.
Sedangkan curhat dengan sahabat. Bukannya
lega malah menjadi luka untuknya. Ketika sahabat adalah maut baginya. Rien,
Sahabatnya malah menjadi selingkuhan suaminya, menjadi duri dalam rumah
tangganya, tanpa sepengetahuannya begitu tega bermain api di belakangnya.
Berbeda dengan cerita ke teman lainnya, jika
Cinta bercerita tentang permasalahan dalam rumah tangganya, alih-alih mendapat
solusi, malah khawatir menjadi bahan gunjingan orang lain. Sementara aib rumah
tangga sebaiknya di tutupi dengan rapat.
Maka akhirnya Cinta memilih tempat curhat
terbaik, yaitu Ibunya sendiri. Meski awalnya Cinta sempat ragu, masalah yang ia
alami akan membebani pikiran orang tuanya yang sudah mulai lanjut usia.
Namun, baginya hanya Ibu yang bisa membaca
seluruh isi hatinya, menembus jiwa anaknya, Hingga Cinta tak harus berkata
terlalu banyak dan detil.
Cinta selalu tahu bahwa Ibu adalah rumah.
Tempat Ia bermula dan pulang.
”Mengapa Mas Rangga jahat Bu, kenapa
pernikahanku tak seperti teman-teman lain yang bahagia?” Cinta berujar sambil
kali ini memukul-mukul sofa di sebelahnya.
”Hu... Mengapa Bu? Kenapa begini?” Tanyanya
lagi dengan penuh emosi.
Ternyata waktu 8 tahun Cinta mengenal
suaminya sebelum menikah, tak cukup untuk memberi gambaran utuh tentang lelaki
yang pernah ia puja dan cintai mati-matian. Ia begitu buta sehingga matanya
hanya fokus kepada kebaikan sang kekasih, tanpa menghiraukan keburukannya.
Ia tak menyadari tanda-tanda betapa Red
Flag suaminya. Ia terlalu bucin, hingga matanya tertutup kabut cinta
buta. Ah.. betapa bodohnya Cinta..
Rangga, seseorang yang ia pikir bisa menjaga,
melindungi dirinya, ternyata mampu berbuat kasar padanya. Dia akan marah jika
Cinta bertanya kenapa pulang kantor terlambat, atau menanyakan kemana uang gaji, hasil kerjanya.
Tamparan, pukulan, tendangan akan dilayangkan
ketika ia bertanya. Mengapa Rangga lebih peduli kepada keluarganya saja,
membelanjakan Ibu dan adiknya ini dan itu setiap habis gajian.
Tanpa memedulikan perasaannya. Bahkan
mencukupi kebutuhan dirinya sebagai istri. Juga calon anak mereka yang kini
sedang dikandungnya.
Ketika Ia tanya, Kenapa? Mengapa? Rangga
mengganggap Cinta mandiri secara financial. Penghasilan Cinta yang cukup besar
di kantor sehingga membuat Rangga berfikir tak perlu memberikan nafkah dan
bertanggung jawab padanya.
Ya Allah.. Betapa dilema menjadi istri, jika
bekerja dianggap mandiri secara financial. Namun jika tak bekerja dianggap
menjadi beban Suami. Lalu apa tujuan berumah tangga bagi Rangga? bukankah
pernikahan adalah ibadah dua insan yang disatukan dalam ikrar suci ijab qabul?
Apakah menikah hanya sekedar menyalurkan
hubungan biologis saja? Berbagai pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran
Cinta yang kacau.
Ibu mengelus lagi perlahan punggung Cinta, Ia
paham dan ikut merasakan, emosi dan rasa gundah dari anaknya yang sedang
terluka. Ia ingin marah pada Rangga, suami Cinta.
Rasa amarah yang mampu membakar jiwa hingga
membuatnya ingin menampar, memukuli, atau mencaci Laki-laki jahat itu. Karena
Rangga, suami Cinta, telah menyakiti hati anak kesayangannya.
Ibu mengusap lagi kepala Cinta, anak semata
wayangnya dengan segenap kerinduan. Rasanya baru kemarin Ibu mengusap kepala
Cinta sambil membacakan dongeng, ritual kecil kala menemani Cinta menjelang
tidur.
Dan waktu berlalu begitu cepat, tanpa ia
sadari. Putri kecilnya tumbuh dewasa, dengan segala kenangan indah yang sudah
mereka lalui bersama.
Cinta, putri kesayangannya yang cantik,
penurut, selalu berprestasi saat di sekolah. Anak yang Ia besarkan dengan
segenap kasih sayang hingga dewasa, meskipun kondisi ekonomi keluarganya
pas-pasan, terutama saat sang suami telah meninggal.
Ibu pikir, dengan menyerahkan putri semata
wayangnya pada orang yang dicintai oleh sang anak, Cinta akan terjamin hidupnya
di masa depan. Ibu pikir Rangga adalah laki-laki gagah dan rupawan yang nampak penuh
tanggung jawab. Ternyata tidak demikian, sungguh kita tak bisa melihat
seseorang dari penampilan luarnya saja. Kenyataan tak semanis harapan.
”Nduk, menangislah hingga hatimu lega” Kata
Ibu dengan penuh kasih.
”Ibu percaya, setelah badai ini, Allah akan
ganti segala kesulitanmu dengan kemudahan yang lain. Kamu pun harus yakini itu”
Lanjut ibu sambil menguatkan hati Cinta, kata Ibunda yang selayaknya Doa tulus
untuk ananda.
Bagi Ibu, ujian dari Allah adalah bentuk
Kasih sayang Allah untuk menguatkan hati hambaNya. Ibu yakin jika Cinta
menerima takdir Allah dengan ikhlas, sabar dan ridho. Allah pasti akan
menggantinya dengan yang lebih baik di waktu yang tepat.
***
Selang waktu berganti, ucapan Ibu menjadi
kenyataan. Beberapa tahun kemudian, Cinta dipersunting oleh laki-laki yang
menyayangi Cinta dengan segenap jiwanya.
Percayalah, Dibalik kesulitan pasti ada
kemudahan. Putri Eka Sari, Nov25

