Selasa, 06 Januari 2026

Buku Antologi 10 : Di Sudut Kota Ramadhan (Alineaku Des25)

 Melangitkan Doa di Keheningan Ramadhan

Putri Eka Sari


Sayup-sayup suara lantunan ayat suci al qur’an yang dibacakan oleh Pak Amar, muadzin masjid dekat rumah sebelum mengumandangkan azan terdengar dari speaker masjid. Terasa begitu merdu diantara orang-orang yang sibuk berburu takjil untuk persiapan berbuka puasa.

 Ayat-ayat yang mengalun mengetuk hati, menarik ingatanku, layaknya diri melayang di udara, entah mengapa yang terbayang adalah masjid Nabawi- Madinah. Keheningan menuju magrib dalam frekuensi lantunan suara qur’an menggetarkan hatiku yang merindu berada dalam satu atmosfir yang sama dengan Nabi Muhammad SAW, kekasih Allah.

Kenangan indah beribadah di Masjid Nabawi berkelebatan dengan suasana Ramadhan yang syahdu. Rasa teduh merasuk hingga ke jiwa, bayangan menjejakkan kaki untuk beribadah di sana dengan khusyuk dan nyaman seperti menggelitikku.

Seketika langsung ku langitkan doa saat menjelang berbuka di penghujung Ramadhan ini, agar suatu saat bisa itikaf dan berbuka puasa di 10 terakhir Ramadhan bersama keluarga muslim lain dari seluruh dunia di sana. Plus dengan harapan mendapatkan malam Lailatul Qadr di sana, yang mungkin juga menjadi impian banyak orang muslim di Dunia.

Bagaimana tidak? Karena keutamaan solat di Masjid ini pahalanya mencapai 1000x dari pahala di masjid lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda,"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom." (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah).

Maka impian ini ku tembuskan melalui doa khusyuk, lewat jalur langit. Karena menurut sebuah Hadis Shahih, "Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka" (HR. Ibnu Majah).

Keinginanku yang lain adalah mendatangi Masjid Nabawi untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Beserta makam kedua shahabat terbaiknya: Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA.

Tentu mengunjungi tempat-tempat menarik di Masjid Nabawi adalah dambaan semua orang bukan? Karena area Raudhah dan makam Rasulullah SAW memang merupakan salah satu tempat yang mulia dan istimewa. Sebab di sinilah sekitar 1400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW beribadah, menerima wahyu, berdakwah dan juga sholat Bersama para sahabat. Maka sangat disunahkan memperbanyak ibadah di Raudhah.

Rasulullah bersabda: Tempat yang terletak di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu di antara taman-taman surga. (HR Bukhari).

Hatiku berdenyut membayangkan bisa beritikaf selepas salat Isya di sana. Melantunkan zikir serta bershalawat saat-saat 10 hari terakhir Ramadhan tentu menjadi Impian tersendiri dalam hidupku.

Kerinduan melaksanakan shalat sunah Taubat dan Shalat Hajat (sebagai shalat yang diutamakan) di area Raudah secara bergantian dengan banyaknya jamaah yang hadir di sana tentu menjadi kenangan manis. Meskipun diri ini merasa shalat di sana terasa sebentar dan terburu-buru, karena antrian panjang orang yang juga memiliki niat yang sama, shalat di tempat terbaik.

Lagi, suasana teduh menjelang magrib menyadarkanku tentang pentingnya memurnikan niat saat kita shalat, terutama di Raudah. Niatkan agar mengharap ridho Allah, mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW, bukan untuk mengkhultuskan Nabi atau benda-benda (contoh: Makam Nabi Muhammad), sehingga dijauhkan dari perilaku syirik (menduakan Allah).

Mataku mulai berkaca-kaca, diri makin terhanyut akan getar kerinduan kala kenangan itu membawaku, menderu rindu sosok Rasulullah. Yang beribu jarak tahun tak pernah berjumpa denganku, umatnya (1388 tahun lalu). Tepatnya bulan Juni 632M (11H), Rasulullah SAW wafat di area yang saat ini menjadi area makam di Masjid Nabawi.

Damai menelusup, membayangkan salah satu hal yang juga membuat rindu Masjid Nabawi. Karena memiliki arsitektur yang rupawan, dengan design interior masjid yang megah, dilengkapi payung raksasa ikonik di sekitar pelatarannya, begitu memanjakan mata.

Tentu ketika Ramadhan area ini sangat padat oleh pengujung, orang-orang yang mengaji dan solat di sana. Terutama saat menjelang waktu berbuka puasa, betapa serunya membayangkan jika ngabuburit di sana dengan muslim lain dari seluruh penjuru Dunia.

Suasana Ramadhan yang begitu religius tentu membuat banyak orang ingin mengisi waktu secara efektif, dan berlomba bersedekah pula di sana. Ah… Aku yang di Indonesia juga tidak boleh kalah, mungkin saja di penghujung Ramadhan yang entah kapan Aku bisa merasakan Ramadhan di Madinah, ucapkan dalam hati dengan penuh keyakinan.

Nuansa Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mengecharge keimanan. Di antara 11 bulan lain yang mungkin alpa, lupa akan Sang Khalik. Karena terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Momen untuk menjadikan ibadah sebagai prioritas, bukan hanya karena besarnya ganjaran pahala dari Allah. Namun karena besarnya harapan untuk mendekat kepada Allah. Berharao mendapatkan keridhoan serta keberkahan dalam hidup. Sehingga didapatkan kedamaian jiwa yang gundah, galau dan sering kecewa kepada manusia.

Semoga kerinduan dan doa di penghujung Ramadhan ini Allah kabulkan. Dengan memanggil kami sekeluarga untuk bisa beribadah Umroh ke Madinah. Aamiin..

-Putri Eka Sari, Penghujung Ramadhan 2025-

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar