Kata adalah doa
oleh : Putri Eka Sari
”Ni.. aku di Clarke Quay, bingung mau
kemana” kata ku di telpon, sambil kebingungan melihat maps dan keadaan sekitar.
”Coba cari halte bus terdekat ke arah
hotel” kata sahabatku di sebrang telpon, dengan nada khawatir.
”Iya, tapi aku capek ni, mau naik grab aja
sepertinya” Kataku sambil menutup telepon, lelah.
Aku masih kebingungan, di hadapanku area
pertokoan yang sudah sepi, karena waktu sudah diatas jam 9 malam. Di sebelah
kananku sebuah dermaga, dengan beberapa yatch bersandar di perairan.
Dermaga ini terletak
di ujung muara Singapore River dan Boat Quay. Grabcar sepertinya menjadi
pilihan terakhir yang tepat karena malam semakin larut.
Setelah
aku terpencar dari sahabatku di Negeri yang asing, Singapura. Dan sebelumnya
aku tak sengaja terpisah di bus yang membawaku ke arah hotel, tempat kami
menginap.
Aku
tak sadar saat sahabatku mencolek untuk turun. Karena sibuk berfoto, mengabadikan
momen dan menangkap kondisi jalanan Singapura yang tertata rapi, bebas sampah.
Saat aku sadar, bus
sudah membawaku jauh dari area hotel di kawasan Arab Street. Langsung aku bertanya
pada pengemudi bus, harus turun dimana, untuk melanjutkan perjalanan menuju ke hotel. Dengan info yang ada, kemudian
aku pun turun dari bus di halte.
Namun aku sepertinya
salah menentukan arah dan mengecek rute bus, dari semula di area orchard road,
lalu terdampar di kawasan pusat perkotaan Singapura. Dan akhirnya sampai ke
area Clarke Quay.
Sebelum terpencar dan nyasar di area Singapura, aku tak sengaja mengucap kata, jika ingin berputar-putar di malam minggu ini. Menikmati udara malam di Negara yang kabarnya sebesar kota Jakarta.
Namun sahabatku ingin
pulang karena waktu sudah malam. Ia kelelahan, sejak pagi kami berjalan-jalan
mengelilinggi tempat-tempat wisata di Singapura.
Maka akhirnya aku pun
terdampar di sudut kota Singapura, berkeliling sendirian layaknya orang hilang.
Karena keteledoranku, aku yang tidak mengenal daerah Singapura menjadi berputar
tak tentu arah.
Di awal perjalanan, ku
kira hampir semua orang Singapura bisa berbicara melayu, layaknya bahasa
Indonesia. Ternyata ada beberapa orang yang tidak bisa bahasa Melayu.
Sehingga aku yang
memiliki kemampuan bahasa inggris pasif ini. Kadang kebingungan dengan
perkataan orang Singapura yang tercampur dengan logat bahasa Hokian, Mandarin.
Ah.. andai aku tak berucap sembarangan..
Karena kata adalah doa..
Begitulah, aku terdampar di area
Singapura tak tentu arah.
Pantaslah jika orang bilang, berkata baik
atau diam..
Dan peribahasa pun mengatakan, mulutmu
harimaumu..
Maka itu hendaknya kita berhati-hati
dalam berkata-kata. Karena yang baik atau buruk bisa saja terjadi kepada kita.
Terngiang dalam ingatanku, kala SMA dahulu. Aku berkata pada diri, ingin bisa ke luar Negeri. Sebuah impian yang kemudian ku tulis di selembar kertas, di tempel pada dinding kamar dekat pintu.
Sehingga praktis tiap
lewat pintu, aku akan melewati dan membaca kata-kata tersebut sambil tersenyum.
Membayangkannya saja sudah terasa menyenangkan.
Padahal di kala itu
uang saja belum ku miliki. Untuk minta ke orang tua pun terasa tak mungkin,
karena hidup yang pas-pasan.
Namun kata ’Ingin
ke Luar Negeri’ seolah memecut hatiku begitu dalam dan membekas.
Mengajarkan tentang mimpi yang dapat diwujudkan dengan keyakinan, berbalut doa
pada Sang pencipta dan tekad kuat untuk berusaha menggapainya.
Karena tentu Doa tanpa
usaha adalah nihil adanya. Dan sebaliknya, usaha tanpa doa adalah bentuk
kesombongan manusia.
Hingga
akhirnya, kata itupun menjadi kenyataan. Beberapa tahun setelah bekerja, aku
berhasil menjejakkan kaki di luar Negeri pertama. Sebuah Negara yang terdekat
dengan Indonesia, yaitu Singapura.
Jalan-jalan ke Luar
Negri dengan budget teramah di kantongku saat itu. Karena untuk ke sana, aku
mendapatkan tiket promo, sehingga penerbangan yang hanya 1 jam ke luar Negeri
terasa dekat.
Di
sana, aku dan sahabatku mengeksplorasi berbagai tempat hits di Singapura dengan
bus dan MRT. Mengunjungi berbagai kawasan ikonik Singapura seperti Marina Bay,
Esplanade dan sekitarnya. Tak lupa ke Universal studio, Garden By the Bay
tempat pohon buatan raksasa seperti di film avatar.
Selama
di Singapura, aku memaknai semua langkah kaki dengan senyuman dan rasa syukur.
Ah.. Begitu menakjubkannya sebuah kata-kata.
Hingga
dua tahun kemudian Allah pun memanggilku ke kota lain di luar Negeri. Yang
menjadi impian hampir semua muslim, yaiitu Mekah dan Madinah.
Sebuah
impian yang juga terwujud nyata. Kala penaku dahulu juga menuliskan kata ’Ingin
Umroh bersama Ibunda’ di selembar kertas sederhana yang sama dengan impian
’Ingin ke luar Negeri’.
Sebuah perjalanan menuju
Mekah-Madinah juga di mulai dari Impian, dikuatkan dengan visualisasi foto
berbingkai, tentang indahnya Masjid Nabawi di dinding rumah. Yang makin memicu
semangat untuk beribadah di sana.
Perjalanan selama di Mekah
dan Madinah adalah bagai menyusuri jejak Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, merekam
tiap langkahnya. Mengenang perjuangan kaum muslimin yang hijrah dan mentafakuri
perjalanan Islam di Kota Suci umat Muslim ini.
Dengan Izin Allah, aku
dapat menjejakkan kaki dan melaksanakan shalat di sana. Bukanlah hanya sekadar
impian belaka, kata itu menjadi kenyataan. Karena Kata adalah Doa bagi yang
mempercayai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar