Jumat, 02 Januari 2026

Buku Antologi 5 : Kata adalah Doa (Nasihat dan isi hati Wanita - Alineaku, Mar25)

 Kata adalah doa

                                            oleh : Putri Eka Sari

”Ni.. aku di Clarke Quay, bingung mau kemana” kata ku di telpon, sambil kebingungan melihat maps dan keadaan sekitar.

”Coba cari halte bus terdekat ke arah hotel” kata sahabatku di sebrang telpon, dengan nada khawatir.

 ”Iya, tapi aku capek ni, mau naik grab aja sepertinya” Kataku sambil menutup telepon, lelah.

Aku masih kebingungan, di hadapanku area pertokoan yang sudah sepi, karena waktu sudah diatas jam 9 malam. Di sebelah kananku sebuah dermaga, dengan beberapa yatch bersandar di perairan.

Dermaga ini terletak di ujung muara Singapore River dan Boat Quay. Grabcar sepertinya menjadi pilihan terakhir yang tepat karena malam semakin larut.

            Setelah aku terpencar dari sahabatku di Negeri yang asing, Singapura. Dan sebelumnya aku tak sengaja terpisah di bus yang membawaku ke arah hotel, tempat kami menginap.

            Aku tak sadar saat sahabatku mencolek untuk turun. Karena sibuk berfoto, mengabadikan momen dan menangkap kondisi jalanan Singapura yang tertata rapi, bebas sampah.

Saat aku sadar, bus sudah membawaku jauh dari area hotel di kawasan Arab Street. Langsung aku bertanya pada pengemudi bus, harus turun dimana, untuk melanjutkan perjalanan  menuju ke hotel. Dengan info yang ada, kemudian aku pun turun dari bus di halte.

Namun aku sepertinya salah menentukan arah dan mengecek rute bus, dari semula di area orchard road, lalu terdampar di kawasan pusat perkotaan Singapura. Dan akhirnya sampai ke area Clarke Quay.

Sebelum terpencar dan nyasar di area Singapura, aku tak sengaja mengucap kata, jika ingin berputar-putar di malam minggu ini. Menikmati udara malam di Negara yang kabarnya sebesar kota Jakarta.

Namun sahabatku ingin pulang karena waktu sudah malam. Ia kelelahan, sejak pagi kami berjalan-jalan mengelilinggi tempat-tempat wisata di Singapura.

Maka akhirnya aku pun terdampar di sudut kota Singapura, berkeliling sendirian layaknya orang hilang. Karena keteledoranku, aku yang tidak mengenal daerah Singapura menjadi berputar tak tentu arah.

Di awal perjalanan, ku kira hampir semua orang Singapura bisa berbicara melayu, layaknya bahasa Indonesia. Ternyata ada beberapa orang yang tidak bisa bahasa Melayu.

Sehingga aku yang memiliki kemampuan bahasa inggris pasif ini. Kadang kebingungan dengan perkataan orang Singapura yang tercampur dengan logat bahasa Hokian, Mandarin. Ah.. andai aku tak berucap sembarangan..     

Karena kata adalah doa..

Begitulah, aku terdampar di area Singapura tak tentu arah.

Pantaslah jika orang bilang, berkata baik atau diam..

Dan peribahasa pun mengatakan, mulutmu harimaumu..

Maka itu hendaknya kita berhati-hati dalam berkata-kata. Karena yang baik atau buruk bisa saja terjadi kepada kita.

Terngiang dalam ingatanku, kala SMA dahulu. Aku berkata pada diri, ingin bisa ke luar Negeri. Sebuah impian yang kemudian ku tulis di selembar kertas, di tempel pada dinding kamar dekat pintu.

Sehingga praktis tiap lewat pintu, aku akan melewati dan membaca kata-kata tersebut sambil tersenyum. Membayangkannya saja sudah terasa menyenangkan.

Padahal di kala itu uang saja belum ku miliki. Untuk minta ke orang tua pun terasa tak mungkin, karena hidup yang pas-pasan.

Namun kata ’Ingin ke Luar Negeri’ seolah memecut hatiku begitu dalam dan membekas. Mengajarkan tentang mimpi yang dapat diwujudkan dengan keyakinan, berbalut doa pada Sang pencipta dan tekad kuat untuk berusaha menggapainya.

Karena tentu Doa tanpa usaha adalah nihil adanya. Dan sebaliknya, usaha tanpa doa adalah bentuk kesombongan manusia.

            Hingga akhirnya, kata itupun menjadi kenyataan. Beberapa tahun setelah bekerja, aku berhasil menjejakkan kaki di luar Negeri pertama. Sebuah Negara yang terdekat dengan Indonesia, yaitu Singapura.

Jalan-jalan ke Luar Negri dengan budget teramah di kantongku saat itu. Karena untuk ke sana, aku mendapatkan tiket promo, sehingga penerbangan yang hanya 1 jam ke luar Negeri terasa dekat.

            Di sana, aku dan sahabatku mengeksplorasi berbagai tempat hits di Singapura dengan bus dan MRT. Mengunjungi berbagai kawasan ikonik Singapura seperti Marina Bay, Esplanade dan sekitarnya. Tak lupa ke Universal studio, Garden By the Bay tempat pohon buatan raksasa seperti di film avatar.

            Selama di Singapura, aku memaknai semua langkah kaki dengan senyuman dan rasa syukur. Ah.. Begitu menakjubkannya sebuah kata-kata.

            Hingga dua tahun kemudian Allah pun memanggilku ke kota lain di luar Negeri. Yang menjadi impian hampir semua muslim, yaiitu Mekah dan Madinah.

            Sebuah impian yang juga terwujud nyata. Kala penaku dahulu juga menuliskan kata ’Ingin Umroh bersama Ibunda’ di selembar kertas sederhana yang sama dengan impian ’Ingin ke luar Negeri’.

Sebuah perjalanan menuju Mekah-Madinah juga di mulai dari Impian, dikuatkan dengan visualisasi foto berbingkai, tentang indahnya Masjid Nabawi di dinding rumah. Yang makin memicu semangat untuk beribadah di sana.

Perjalanan selama di Mekah dan Madinah adalah bagai menyusuri jejak Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, merekam tiap langkahnya. Mengenang perjuangan kaum muslimin yang hijrah dan mentafakuri perjalanan Islam di Kota Suci umat Muslim ini.

Dengan Izin Allah, aku dapat menjejakkan kaki dan melaksanakan shalat di sana. Bukanlah hanya sekadar impian belaka, kata itu menjadi kenyataan. Karena Kata adalah Doa bagi yang mempercayai.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar