Jumat, 23 Januari 2026

Buku Antologi 11 : Perempuan juga Bisa (Alineaku, Jan26)

 Ibu Mandiri, Mencintai Sepenuh Hati

Kring.. Kring.. Kring…

Pagi itu pukul 4, alarm nyaring berbunyi. Ingin rasanya ku matikan dan memeluk guling, melanjutkan tidur, hingga azan Subuh berkumandang. Namun kuurungkan, sambil setengah terkantuk-kantuk tombol stop alarm ditekan, mati. Entah mengapa bayangan Ibu tiba-tiba berkelebat di kepala. Ah… Ibu.. Aku rindu..

Dahulu saat belum menikah dan masih tinggal bersama Ibu. Tentu Aku tak harus bangun terlalu pagi. Belum ada tanggung jawab sebagai Ibu dan istri yang harus kuemban setiap hari. Aku bisa berleyeh-leyeh lebih lama di tempat tidur hingga Ibu membangunkanku untuk sholat subuh. Apalagi setelah memiliki pekerjaan, Ibu akan membangunkan jika sudah waktunya berangkat kerja, dan belum dilihatnya Aku keluar dari kamar, bersiap. Menyentuh area dapur pun jarang kulakukan, jika bukan hari libur.

Ibu akan selalu memintaku untuk fokus belajar saat sekolah dan kuliah. Saat sudah bekerja dan belum menikah, Aku jarang di rumah. Waktu lebih banyak dihabiskan di kantor, atau P Perempuan Juga Bisa | 47 selebihnya kadang habis untuk jalan-jalan, hangout bersama teman-teman. Dan kini setelah memiliki anak-anak, tinggal tidak dengan orang tua, Aku menjadi lebih mandiri, baik secara fisik dan emosional. Tak bergantung pada orang tua.

Mengeluh tentu akan memberatkan pikiran mereka. Aku baru tahu rasanya memiliki tanggung jawab karena cinta. Kasih sayang yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Ah.. Aku jadi kangen masakan Ibu, yang kini tidak bisa setiap hari ku cicipi. Karena rumahnya yang cukup jauh dari tempat tinggal, tak searah dengan tempat kerja. Namun, jarak tak memisahkan kami, Aku tetap rajin berkabar dengan Ibu setiap hari. Termasuk jika Aku ingin bertanya perihal bumbu masakan.

Mungkin dahulu Ibu juga merasakan apa yang kurasakan saat ini. Memasak sendiri bukan karena masalah financial, ingin berhemat sehingga tidak bisa membeli saja makanan di luar, bukan juga anak-anak yang tak diberi uang jajan. Uang saku anak-anak yang memang bersekolah dekat dari rumah tentu cukup untuk jajan di sekolah. Tapi bagiku, menyiapkan bekal untuk anak-anak adalah murni kemauan sendiri, tanpa paksaan dari suami. Meskipun gempuran promo menarik dari aplikasi order makanan berbayar begitu mudah seperti Go-food, Grab Food, shopee food. Tentu menggugah dan menggiurkan, tinggal klik dalam hitungan detik, tak lama makanan sudah siap tersaji di meja.

Tapi saat memasak sendiri, yang terbayang adalah wajah puas anak-anak. Terutama jika mereka suka mencicipi masakan Ibundanya.

“Hm.. Masakan Bunda enak..” Kata Bimo, anak sulungku sambil tersenyum, dan mengacungkan jempolnya saat mencicipi perkedel kentang buatanku.

Pujian yang mampu membuatku tersenyum bahagia, terbang melayang ke angkasa. Seolah lelahku terhapus begitu saja. Tak kuhitung lagi waktu untuk membuat satu menu masakan, dari mulai menyiapkan bahan, memotong, meracik bumbu dan mengolahnya. Meski niat utama memasak adalah untuk ibadah kepada Allah. Namun ada buncah kegembiraan tersendiri. Apalagi jika melihat anak-anak yang makan dengan lahap, berebut mencicipi ayam goreng buatanku.

Ada haru tersendiri yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Atau Aku hanya persija? Karena Aku bukan Ibu yang bisa mendedikasikan waktu 24 jam di rumah. Sehingga waktu yang sedikit begitu dimampatkan sedemikian rupa untuk keluarga. Spontan, seperti ada kekuatan dari dalam diri, langsung Ku bergegas bangkit dari tempat tidur.

Menghindar dari area Kasur, bergegas ke kamar mandi. Mencuci muka dan menyikat gigi. Rasanya diri dikejar oleh waktu, maka dengan cekatan selepas menunaikan solat Subuh, langsung ku bergegas ke dapur. Menyiapkan bekal untuk anak-anak sekolah. 



Bagi ku yang Ibu pekerja, ingin meski sedikit saja, dengan kemampuan serta pengetahuan memasak yang terbatas. ikut berkontribusi dalam mencerdaskan anak sendiri, karena tentu mencerdaskan anak bangsa belum bisa. Hihihi Dengan memilih makanan yang sehat dan memasak secara higienis, memastikan kebersihan dan kesegaran bahan masakan untuk anak-anak. Meracik makanan raw food(bukan olahan) dengan tanganku sendiri. Seperti ada kepuasan di tengah isu kebersihan yang sering terjadi saat anak jajan di luar rumah.

“Bun.. tadi Kayla ga masuk sekolah lagi karena sakit..” Ucap Aiko, anakku yang senang bercerita kegiatannya di sekolah.

“Wah.. Kayla sakit apa De?” Tanyaku kepada si Bontot. “Kata Miss Indah Diare Bun.. Soalnya kayla sering jajan diluar sekolah” Jawab si Bungsu.

Ya, ku dengar dari obrolan di grup kelas, Kayla dan beberapa anak lain di sekolah terkena diare karena jajanan yang ada di luar sekolah. Mungkin karena pengaruh kebersihan atau jamur yang ada dari saus yang digunakan pada Burger dan kebab yang di jual oleh abang penjaja keliling.

Memang tak semua penjual makanan tak bersih, Aku pun tak bisa mengeneralisir semua pedagang makanan demikian. Namun bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Bagiku membawakan bekal untuk anak sebagai antisipasi dini dari rumah, agar anak tak terlalu lapar.

Meski mungkin tidak ada yang terlalu special dari masakanku, hanya hidangan rumahan biasa yang mungkin juga tersedia di warteg/ rumah makan biasa dekat rumah. Dan bisa jadi rasanya pun lebih enak. Tapi ada cinta dan doa yang ku sematkan disana. Sama seperti ibuku, yang selalu menyematkan doanya di dalam setiap masakannya. Dari setiap gigitan pada setiap makanan, ada ketulusan, harapan dan doa yang mengalir dari seorang ibu kepada anaknya.

Putri Eka Sari, Jakarta 16 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar