Ibu Mandiri, Mencintai Sepenuh Hati
Kring.. Kring.. Kring…
Pagi itu pukul 4, alarm nyaring berbunyi.
Ingin rasanya ku matikan dan memeluk guling, melanjutkan tidur, hingga azan
Subuh berkumandang. Namun kuurungkan, sambil setengah terkantuk-kantuk tombol
stop alarm ditekan, mati. Entah mengapa bayangan Ibu tiba-tiba berkelebat di
kepala. Ah… Ibu.. Aku rindu..
Dahulu saat belum menikah dan masih
tinggal bersama Ibu. Tentu Aku tak harus bangun terlalu pagi. Belum ada
tanggung jawab sebagai Ibu dan istri yang harus kuemban setiap hari. Aku bisa
berleyeh-leyeh lebih lama di tempat tidur hingga Ibu membangunkanku untuk
sholat subuh. Apalagi setelah memiliki pekerjaan, Ibu akan membangunkan jika
sudah waktunya berangkat kerja, dan belum dilihatnya Aku keluar dari kamar,
bersiap. Menyentuh area dapur pun jarang kulakukan, jika bukan hari libur.
Ibu akan selalu memintaku untuk fokus
belajar saat sekolah dan kuliah. Saat sudah bekerja dan belum menikah, Aku
jarang di rumah. Waktu lebih banyak dihabiskan di kantor, atau P Perempuan Juga
Bisa | 47 selebihnya kadang habis untuk jalan-jalan, hangout bersama
teman-teman. Dan kini setelah memiliki anak-anak, tinggal tidak dengan orang
tua, Aku menjadi lebih mandiri, baik secara fisik dan emosional. Tak bergantung
pada orang tua.
Mengeluh tentu akan memberatkan pikiran
mereka. Aku baru tahu rasanya memiliki tanggung jawab karena cinta. Kasih
sayang yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Ah.. Aku jadi kangen masakan Ibu,
yang kini tidak bisa setiap hari ku cicipi. Karena rumahnya yang cukup jauh
dari tempat tinggal, tak searah dengan tempat kerja. Namun, jarak tak
memisahkan kami, Aku tetap rajin berkabar dengan Ibu setiap hari. Termasuk jika
Aku ingin bertanya perihal bumbu masakan.
Mungkin dahulu Ibu juga merasakan apa
yang kurasakan saat ini. Memasak sendiri bukan karena masalah financial, ingin
berhemat sehingga tidak bisa membeli saja makanan di luar, bukan juga anak-anak
yang tak diberi uang jajan. Uang saku anak-anak yang memang bersekolah dekat
dari rumah tentu cukup untuk jajan di sekolah. Tapi bagiku, menyiapkan bekal
untuk anak-anak adalah murni kemauan sendiri, tanpa paksaan dari suami.
Meskipun gempuran promo menarik dari aplikasi order makanan berbayar begitu
mudah seperti Go-food, Grab Food, shopee food. Tentu menggugah dan menggiurkan,
tinggal klik dalam hitungan detik, tak lama makanan sudah siap tersaji di meja.
Tapi saat memasak sendiri, yang terbayang
adalah wajah puas anak-anak. Terutama jika mereka suka mencicipi masakan
Ibundanya.
“Hm.. Masakan Bunda enak..” Kata Bimo,
anak sulungku sambil tersenyum, dan mengacungkan jempolnya saat mencicipi
perkedel kentang buatanku.
Pujian yang mampu membuatku tersenyum
bahagia, terbang melayang ke angkasa. Seolah lelahku terhapus begitu saja. Tak
kuhitung lagi waktu untuk membuat satu menu masakan, dari mulai menyiapkan
bahan, memotong, meracik bumbu dan mengolahnya. Meski niat utama memasak adalah
untuk ibadah kepada Allah. Namun ada buncah kegembiraan tersendiri. Apalagi
jika melihat anak-anak yang makan dengan lahap, berebut mencicipi ayam goreng
buatanku.
Ada haru tersendiri yang tak bisa
dilukiskan dengan kata. Atau Aku hanya persija? Karena Aku bukan Ibu yang bisa
mendedikasikan waktu 24 jam di rumah. Sehingga waktu yang sedikit begitu
dimampatkan sedemikian rupa untuk keluarga. Spontan, seperti ada kekuatan dari
dalam diri, langsung Ku bergegas bangkit dari tempat tidur.
Menghindar dari area Kasur, bergegas ke kamar mandi. Mencuci muka dan menyikat gigi. Rasanya diri dikejar oleh waktu, maka dengan cekatan selepas menunaikan solat Subuh, langsung ku bergegas ke dapur. Menyiapkan bekal untuk anak-anak sekolah.
Bagi
ku yang Ibu pekerja, ingin meski sedikit saja, dengan kemampuan serta
pengetahuan memasak yang terbatas. ikut berkontribusi dalam mencerdaskan anak
sendiri, karena tentu mencerdaskan anak bangsa belum bisa. Hihihi Dengan
memilih makanan yang sehat dan memasak secara higienis, memastikan kebersihan
dan kesegaran bahan masakan untuk anak-anak. Meracik makanan raw food(bukan
olahan) dengan tanganku sendiri. Seperti ada kepuasan di tengah isu kebersihan
yang sering terjadi saat anak jajan di luar rumah.
“Bun.. tadi Kayla ga masuk sekolah lagi
karena sakit..” Ucap Aiko, anakku yang senang bercerita kegiatannya di sekolah.
“Wah.. Kayla sakit apa De?” Tanyaku
kepada si Bontot. “Kata Miss Indah Diare Bun.. Soalnya kayla sering jajan
diluar sekolah” Jawab si Bungsu.
Ya, ku dengar dari obrolan di grup kelas,
Kayla dan beberapa anak lain di sekolah terkena diare karena jajanan yang ada
di luar sekolah. Mungkin karena pengaruh kebersihan atau jamur yang ada dari
saus yang digunakan pada Burger dan kebab yang di jual oleh abang penjaja
keliling.
Memang tak semua penjual makanan tak
bersih, Aku pun tak bisa mengeneralisir semua pedagang makanan demikian. Namun
bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Bagiku membawakan bekal
untuk anak sebagai antisipasi dini dari rumah, agar anak tak terlalu lapar.
Meski mungkin tidak ada yang terlalu
special dari masakanku, hanya hidangan rumahan biasa yang mungkin juga tersedia
di warteg/ rumah makan biasa dekat rumah. Dan bisa jadi rasanya pun lebih enak.
Tapi ada cinta dan doa yang ku sematkan disana. Sama seperti ibuku, yang selalu
menyematkan doanya di dalam setiap masakannya. Dari setiap gigitan pada setiap
makanan, ada ketulusan, harapan dan doa yang mengalir dari seorang ibu kepada
anaknya.
Putri Eka Sari, Jakarta 16 Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar