Jumat, 02 Januari 2026

Buku Antologi 7 : Kala hati gundah, Just Talk to Allah (Allah, Ujian dan Aku - Alineaku, Oct25)

 Kala hati gundah, Just Talk to Allah

oleh : Putri Eka Sari

Aku memandang lamat-lamat sajadah di hadapanku yg bermotif Ka'bah selepas solat malam. Tak terasa air mataku menetes satu-satu. Aku membayangkan setiap inci kejadian yang terjadi hari ini.

Terasa semua masalah menyesakkan dalam dada. Dari mulai dimarahi bos di kantor, diminta untuk mengerjakan kerjaan yang menumpuk. Padahal gaji yang tak seberapa dari pekerjaan ini, telat di transfer oleh kantor, yah.. beginilah nasib karyawan kontrak.

”Idiot, Goblok”...

Kata-kata itu terngiang kembali menembus ke hati. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini beberapa kali di semprot oleh Bos di kantor.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Juga tak membantah.

Diam adalah cara terbaik agar amarah Bosku tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Jawabku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Barulah akhirnya jantungku terasa berdetak lagi.

Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang beberapa kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, salah di matanya.

Kala ku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu, Geram bertanya, bukankah seharusnya karakter Pak Bos seperti Bayu (Air), yang adem, dingin menyejukkan.

Dapat menaungi bawahannya dengan baik. Bukan malah menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya mengingatkan.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu.." Balasnya Sambil memegang lenganku.

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur, banyak loh orang yang menganggur di luar sana" Bujuk Aisyah lagi. Meski Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Namun karena posisiku persis di bawah Pak Bayu dalam struktur perusahaan, aku kerap lebih sering bersinggungan pekerjaan dengan Bosku itu.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Karakternya yang ekslosif, reaktif seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledakan amarah, tak ingat waktu dan tempat, bahkan via telpon.

Sesampainya di rumah, ku pikir hati bisa tenang. Tapi malah ku dengar omelan Bapak yang juga marah-marah kepada Ibu, karena adik yang terlambat pulang ke rumah karena asyik main bola. Dan lagi masalah ekonomi rumah tangga yang sedang seret.

Kegundahan di hati pun makin merajalela karena masih menjomblo. Sehingga praktis masih sendiri tanpa pasangan untuk berbagi cerita. Yang kadang terlintas iri dihati ketika teman-teman berceloteh tentang pacar dan anak karena telah memiliki rumah tangga.

Semua gundah, masalah dan beban di hati yang rasanya terlalu malu untuk ku bagi kepada orang tua apalagi kepada teman. Alih-alih simpati malah nanti jadi bahan tertawaan karena tak bisa bertahan menghadapi kerasnya kehidupan.

Arrrgh.. rasa kesal, sedih, galau ku lampiaskan semua rasa di dada, kepada Allah Sang pencipta alam semesta. Ku serahkan semua masalah ini kepadaNya, tempat segala hal bermula dan akan kembali.

"Ya Allah.. kenapa hidup terasa sulit.. " kataku lirih sambil menengadahkan tangan, meminta Allah untuk menghilangkan amarah dan segala rasa.

Shalat malam adalah sesi terbaik menurutku untuk talk to Allah, berbicara pada Allah. Mengadukan seluruh beban di pundak serta isi hati. Curhat kepadaNya, dengan keyakinan. Pasti Allah berikan jalan keluar dari setiap masalah yang ku miliki.

Meski ingin rasanya aku pun bertanya pada Allah. Dan bahkan jika boleh menggugat takdir, mengapa kehidupanku begitu terbatas seperti ini. Tak seperti orang lain yang memiliki banyak harta, bisa memiliki ini dan itu. Sehingga selalu terlihat gembira, bisa senang-senang sesukanya.

Begitu banyak pertanyaan, mengapa? Kenapa? dan segudang pemikiran lain yang membuat ruwet di kepala.

Air mata menetes lebih deras seperti layaknya hujan. Ku biarkan saja alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah. Sesi menangis, dan berserah kala tahajud adalah sesi curhat panjang yang tanpa judge (penghakiman) dari orang lain,  membuat hati menjadi lebih ringan, lega, dan plong.

Sehingga esoknya aku lebih siap menjalani hari meskipun terasa berat. Dengan satu harapan, semoga Allah meridhoi setiap hembusan nafas dan langkah yang aku ambil.

Percayalah, Sesungguhnya dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan. Semoga teman-teman pembaca juga bisa mengambil hikmah yang sama dari tulisan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar