Sabtu, 03 Januari 2026

Buku Antologi 9 : Reruntuhan Rasa (Sepotong Jiwa yang Hilang - Alineaku, Des25)

 Separuh Jiwaku Hilang karena Glaukoma

Pengumuman dari dokter kantor selepas pemeriksaan rutin cek up tahunan, membuatku bagai disambar petir di siang bolong. Hingga harus menegakkan pendengaran dengan seksama. Saat dokter menjelaskan mengenai penyakit yang tak sadar ku derita, Glaukoma.

Menurut Dokter, Glaukoma adalah suatu kerusakan pada indra penglihatan (mata), karena terjadi kerusakan pada saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata secara terus menerus. Suatu penyakit pada mata yang kabarnya bisa menyebabkan kebutaan mata secara permanen.

Penyakit yang membuat sebagian jiwaku seolah hilang dan bertanya-tanya. Apa salahku hingga memiliki penyakit seperti ini?

Si pencuri penglihatan yang diam-diam menghantui. Ditengah sakit kepala migrain yang sering kurasakan dan dianggap hanya sakit kepala biasa.

Padahal saat itu syaraf mata sedang mengalami kerusakan perlahan, yang disebabkan oleh tekanan tinggi pada bola mata yang tak disadari oleh penderitanya. Glaukoma, penyakit yang kadang disalah artikan dan sering dianggap sebagai penyakit gula, diabetes. Karena kata yang terkesan mirip ketika mengeja.

Sebuah kata yang baru saja ku kenal, entah penyakit bawaan genetik dari siapa, keluarga Ayah ataukah Ibu. Yang ku kenal, hanya SiMbah dari Ayah yang tiba-tiba mengalami kebutaan saat usia sepuh.

Tak diketahui apakah disebabkan oleh Glaukoma atau bukan (penyakit mata lainnya, misalnya katarak atau diabetes). Karena zaman dahulu, orang di desa jarang pergi ke dokter. Mereka hanya berobat ke dukun, mantri atau bidan.

Lagi.. Overthinking mengetuk ke dalam diri, Pemikiran dan pencarian logika yang makin membuat ruwet pikiran. 

Ditambah selepas dari kantor, sampai di rumah, Ku dengar sekilas info dari radio. Seseorang nara sumber menceritakan pengalamannya yang tiba-tiba kehilangan penglihatannya – Buta, ketika bangun tidur.

”Tiba-tiba saja, ketika saya bangun tidur di pagi hari karena bunyi alarm yang biasa berbunyi jam 5 pagi untuk membangunkan solat subuh. Mata saya tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap total, hitam tanpa cahaya” Kata Pria itu sambil terbata-bata.

”Glaukoma mencuri penglihatan saya, merenggut cahaya dari mata saya dengan tiba-tiba. Dan menghancurkan banyaknya impian yang belium diraih ” Lanjutnya terisak, larut dalam kesedihan

Aku mendengarkan cerita tersebut dengan prihatin, ikut terhanyut dan menangis. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding, ya Allah.. Aku tak sanggup. Semoga Kau berikan Aku penglihatan yang baik dan bermanfaat,, Doaku dalam hati.

Kegundahan di hati pun makin merajalela karena masih menjomblo. Sehingga praktis masih sendiri tanpa pasangan untuk berbagi cerita. Yang kadang terlintas iri dihati ketika teman-teman berceloteh tentang pacar dan anak karena telah memiliki rumah tangga.

Ah.. Perasaan hampa yang tiba-tiba menyergap, seperti ada sesuatu dalam diriku yang hilang, entah apa. Aku mencoba menutup mata, menahan gelisah.

Berharap rasa itu lenyap, tapi justru semakin terasa. Seperti ada celah, ruang kosong jauh di hati terdalam yang tak bisa kuisi dengan apa pun.

***

Seperti serangan avatar, rasa anxiety terus datang. Hingga malamku tak bisa tidur nyenyak. Hati menjadi gelisah, diliputi ketakutan yang membelenggu jiwa.

Tak ayal ritualku setiap bangun pagi setelah mata melek adalah melihat ke arah atap langit-langit kamar. Memastikan ke arah lampu yang terang. Masihkah ku lihat cahaya disana. Lantas buru-buru  menghitung jari tangan, apakah masih bisa ku hitung tiap jari dengan tepat, sepuluh jumlahnya.

Keadaan ini terus berulang hingga rasanya membingungkan untukku. Membuatku akhirnya terus bertanya kepada Allah. Mengapa Ia memberiku penyakit seperti ini, kenapa di keluargaku hanya aku yang memiliki penyakit ini. Kenapa bukan si A atau si B, teman kantor yang jahat perangainya.

Aku merasa terputuk, hidupku terasa limbung, menjadi hilang arah. Kebingungan yang enggan ku ceritakan dan bagi kepada orang tua. Khawatir membebani pikiran mereka. Jika membagi cerita kepada teman malah khawatir dianggap terlalu cengeng, rapuh. Tak bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Arghhhh...

***

Entah mengapa, hari itu kudengar sebuah video di medsos, hanya sekilas lewat di beranda. Tentang ujian dari Allah untuk hambanya. Dan salah satu yang bisa menentramkan hati adalah sabar dan sholat.

Dan malam itu, aku kembali meraih sajadah. Memperbaiki sholat, lalu meluapkan isi hati kepada Allah. Air mata pun menetes deras  layaknya hujan. Ku biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah. Sesi menangis, dan berserah kala tahajud adalah sesi curhat panjang pada Allah yang tanpa judge (penghakiman) dari orang lain.

Lewat uraian air mata dan banyaknya keluhan, Ku akui kelemahan dan mengharap kekuatan dari Sang pencipta. Malam menjadi saksi tentang kegundahan yang merajalela, tentang ketakutan akan masa depan yang tak tahu juntrungannya.

Ku terima dan ridho atas takdir ini ya Allah.. Ucapku lirih. Berharap semoga dengan ridho akan takdirMU. Setelahnya Aku bisa memetik hikmah dari ketetapan yang sudah Allah gariskan.

Semoga lewat doa yang terselip disela rintihan kesedihan, Allah menghilangkan rasa hampa, menguatkan serta meneguhkan hati yang rapuh. Kemudian membuat hati menjadi lebih ringan, lega, dan plong.

Ya.. Talk to Allah mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik. 

Ketidak panikan membuatmu bisa bertindak tak hanya dengan rasa dan emosi yang terkadang menjerumuskan. Tapi dengan mengontrol pemikiran secara  sadar, penuh logika, pertimbangan dan bijaksana.

Ingat, setiap orang juga memiliki masalah dalam hidupnya. Bukan hanya kamu yang memiliki ujian, masalah dalam hidupnya. Bahkan bisa jadi ada yang lebih berat ujianNya daripada kamu.

Namun seseorang yang hebat adalah yang bisa merubah depresi lalu mengubah fokusmu, mencari solusi dari setiap kejadian. Sehingga dirimu akan lebih menerima dengan ikhlas serta sabar masalah, dengan keyakinan, bahwa AKU BISA melewatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar