Separuh Jiwaku Hilang karena Glaukoma
Pengumuman dari dokter kantor
selepas pemeriksaan rutin cek up tahunan, membuatku bagai disambar petir di
siang bolong. Hingga harus menegakkan pendengaran dengan seksama. Saat dokter
menjelaskan mengenai penyakit yang tak sadar ku derita, Glaukoma.
Menurut
Dokter, Glaukoma adalah suatu kerusakan pada indra
penglihatan (mata), karena terjadi kerusakan pada saraf mata akibat
meningkatnya tekanan pada bola mata secara terus menerus. Suatu penyakit pada
mata yang kabarnya bisa menyebabkan kebutaan mata secara permanen.
Penyakit yang membuat sebagian
jiwaku seolah hilang dan bertanya-tanya. Apa salahku hingga memiliki penyakit
seperti ini?
Si pencuri penglihatan
yang diam-diam menghantui. Ditengah sakit kepala migrain yang sering kurasakan
dan dianggap hanya sakit kepala biasa.
Padahal saat
itu syaraf mata sedang mengalami kerusakan perlahan, yang disebabkan oleh
tekanan tinggi pada bola mata yang tak disadari oleh penderitanya. Glaukoma,
penyakit yang kadang disalah artikan dan sering dianggap sebagai penyakit gula,
diabetes. Karena kata yang terkesan mirip ketika mengeja.
Sebuah kata
yang baru saja ku kenal, entah penyakit bawaan genetik dari siapa, keluarga
Ayah ataukah Ibu. Yang ku kenal, hanya SiMbah dari Ayah yang tiba-tiba
mengalami kebutaan saat usia sepuh.
Tak
diketahui apakah disebabkan oleh Glaukoma atau bukan (penyakit mata lainnya,
misalnya katarak atau diabetes). Karena zaman dahulu, orang di desa jarang
pergi ke dokter. Mereka hanya berobat ke dukun, mantri atau bidan.
Ditambah
selepas dari kantor, sampai di rumah, Ku dengar sekilas info dari radio.
Seseorang nara sumber menceritakan pengalamannya yang tiba-tiba kehilangan
penglihatannya – Buta, ketika bangun tidur.
”Tiba-tiba
saja, ketika saya bangun tidur di pagi hari karena bunyi alarm yang biasa
berbunyi jam 5 pagi untuk membangunkan solat subuh. Mata saya tidak bisa
melihat apapun, semuanya gelap total, hitam tanpa cahaya” Kata Pria itu sambil
terbata-bata.
”Glaukoma
mencuri penglihatan saya, merenggut cahaya dari mata saya dengan tiba-tiba. Dan
menghancurkan banyaknya impian yang belium diraih ” Lanjutnya terisak, larut
dalam kesedihan
Aku
mendengarkan cerita tersebut dengan prihatin, ikut terhanyut dan menangis.
Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding, ya Allah.. Aku tak sanggup. Semoga
Kau berikan Aku penglihatan yang baik dan bermanfaat,, Doaku dalam hati.
Kegundahan
di hati pun makin merajalela karena masih menjomblo. Sehingga praktis masih
sendiri tanpa pasangan untuk berbagi cerita. Yang kadang terlintas iri dihati
ketika teman-teman berceloteh tentang pacar dan anak karena telah memiliki
rumah tangga.
Ah..
Perasaan hampa yang tiba-tiba menyergap, seperti ada sesuatu dalam diriku yang
hilang, entah apa. Aku mencoba menutup mata, menahan gelisah.
Berharap
rasa itu lenyap, tapi justru semakin terasa. Seperti ada celah, ruang kosong jauh
di hati terdalam yang tak bisa kuisi dengan apa pun.
***
Seperti
serangan avatar, rasa anxiety terus datang. Hingga malamku tak bisa
tidur nyenyak. Hati menjadi gelisah, diliputi ketakutan yang membelenggu jiwa.
Tak ayal
ritualku setiap bangun pagi setelah mata melek adalah melihat ke arah atap
langit-langit kamar. Memastikan ke arah lampu yang terang. Masihkah ku lihat
cahaya disana. Lantas buru-buru menghitung jari tangan, apakah masih bisa ku
hitung tiap jari dengan tepat, sepuluh jumlahnya.
Keadaan ini
terus berulang hingga rasanya membingungkan untukku. Membuatku akhirnya terus
bertanya kepada Allah. Mengapa Ia memberiku penyakit seperti ini, kenapa di
keluargaku hanya aku yang memiliki penyakit ini. Kenapa bukan si A atau si B,
teman kantor yang jahat perangainya.
Aku merasa
terputuk, hidupku terasa limbung, menjadi hilang arah. Kebingungan yang enggan
ku ceritakan dan bagi kepada orang tua. Khawatir membebani pikiran mereka. Jika
membagi cerita kepada teman malah khawatir dianggap terlalu cengeng, rapuh. Tak
bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Arghhhh...
***
Entah
mengapa, hari itu kudengar sebuah video di medsos, hanya sekilas lewat di
beranda. Tentang ujian dari Allah untuk hambanya. Dan salah satu yang bisa
menentramkan hati adalah sabar dan sholat.
Dan malam itu,
aku kembali meraih sajadah. Memperbaiki sholat, lalu meluapkan isi hati kepada Allah.
Air mata pun menetes deras layaknya
hujan. Ku biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah. Sesi
menangis, dan berserah kala tahajud adalah sesi curhat panjang pada Allah yang
tanpa judge (penghakiman) dari orang lain.
Lewat uraian
air mata dan banyaknya keluhan, Ku akui kelemahan dan mengharap kekuatan dari
Sang pencipta. Malam menjadi saksi tentang kegundahan yang merajalela, tentang
ketakutan akan masa depan yang tak tahu juntrungannya.
Ku
terima dan ridho atas takdir ini ya Allah.. Ucapku lirih. Berharap semoga dengan ridho akan
takdirMU. Setelahnya Aku bisa memetik hikmah dari ketetapan yang sudah Allah
gariskan.
Semoga lewat
doa yang terselip disela rintihan kesedihan, Allah menghilangkan rasa hampa, menguatkan
serta meneguhkan hati yang rapuh. Kemudian membuat hati menjadi lebih ringan,
lega, dan plong.
Ya.. Talk
to Allah mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi
lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik.
Ketidak
panikan membuatmu bisa bertindak tak hanya dengan rasa dan emosi yang terkadang
menjerumuskan. Tapi dengan mengontrol pemikiran secara sadar, penuh
logika, pertimbangan dan bijaksana.
Ingat,
setiap orang juga memiliki masalah dalam hidupnya. Bukan hanya kamu yang
memiliki ujian, masalah dalam hidupnya. Bahkan bisa jadi ada yang lebih berat
ujianNya daripada kamu.
Namun seseorang
yang hebat adalah yang bisa merubah depresi lalu mengubah fokusmu, mencari
solusi dari setiap kejadian. Sehingga dirimu akan lebih menerima dengan ikhlas
serta sabar masalah, dengan keyakinan, bahwa AKU BISA melewatinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar