Kamis, 30 April 2026

Antologi 21 : Perempuan yang Berani Berkata Tidak (Yang Tak Terucap, Alineaku Apr26)

Perempuan yang Berani Berkata Tidak

Putri Eka Sari


Buku Antologi : Yang Tak Terucap

"Sayang.. Bisa pinjamkan Aku uang lagi? Aku ingin interview dan butuh uang pelicin agar lolos tes” Desak Mas Bimo kepadaku.

“Lagi??” Tanyaku sambil menatap matanya yang coklat bening, lama. Bulu mata lentik dan rupanya yang menawan tentu mampu meluluh lantakkan banyak hati perempuan. Entah berapa banyak wanita yang mungkin bertekuk lutut dihadapannya.

Aku menatap ke dalam mata itu, berharap Tuhan memberiku jawaban. Atas ragu, sesuatu yang berdesir dalam hatiku yang tak bisa dimengerti. Pernyataan Mas Bimo tadi membuat mataku yang mengantuk tertiup angin danau yang sepoi-sepoi seolah disentak dan ditarik kelopaknya, mataku membelalak.

Tak tau mengapa angin danau yang sejuk, sinar mentari senja yang teduh tak bisa menenangkan perasaanku yang tak enak. Tetiba terlintas pikiran aneh menelusup, Ah pantas saja tadi Mas Bim mengajakku ke Danau yang terkenal romantis bagi beberapa pasangan.

“Bukankah yang lalu saja 2juta belum Kembali mas? masa sekarang lagi?” Tanyaku menyelidik, di tahun kedua hubungan kami yang seperti jalan ditempat.

“Lalu bagaimana dengan interview sebelumnya mas? Apakah berhasil?” Cecarku dengan berbagai pertanyaan kepada Mas Bimo, seseorang yang kuanggap kekasih.  

“Masa kamu ga percaya kalau sudah lolos tes akan ku kembalikan de? bahkan lebih”Jawabnya sambil menatap dan meremas tanganku, seolah ingin meyakinkan, agar Aku mempercayai tiap kata-katanya.

”Ini berarti kali kedua Mas, apakah tak ada pekerjaan yang tak perlu pakai pelicin segala?” Ucapku sambil berpikir, karena jika Aku meminjamkan uang. Tentu setelahnya Aku yang harus berhemat selama satu bulan ke depan. Maklumlah gaji UMR, tentu harus bijak mengelola keuangan.

”Kamu kan tau, saat ini sulit mencari pekerjaan jika tak punya koneksi, maka uang pelicin itu dibutuhkan”Lanjut mas Bimo lagi.

“Anggap saja pelicin itu nanti untuk Tabungan pernikahan kita de” Pungkasnya ringan, seakan-akan Aku terlalu perhitungan kepadanya yang sedang berusaha menata masa depan kami.

Aku hanya menunduk, diam. Berusaha berdalih, mencari kata-kata untuk menyanggahnya yang menyebut pernikahan. Sebuah kata manis yang tentu saja menjadi impian banyak Perempuan. Menikah dengan pria pujaaan tentu menjadi tujuan masa depan di salah satu fase hidup.

Perempuan mana yang sudah dalam usia matang sepertiku begini, tak menginginkan pernikahan, batinku.

Bahkan perempuan sebayaku sudah beberapa menggendong anak, tak terhitung teman-teman kecil yang sebaya sudah beranak dua. Tapi Aku, masih saja merasa betah sendiri, karena menurut orang tuaku, sifat diri ini yang begitu selektif, pemilih.

Sementara kedua orangtuaku begitu takut jika anaknya disebut perawan tua, dicap tak laku oleh tetangga di kampung. Astaghfirullah, Aku beristighfar dalam hati.

Tapi, salahkah jika aku memilih untuk masa depan yang lebih baik? Pertanyaan itu entah mengapa terus hinggap di kepalaku.

Hal yang mungkin lumrah bagi perempuan terutama yang sudah cukup matang sepertiku. Jika memiliki sifat yang perasa, sensitive, dan didasari dengan insting. Sesuatu yang merupakan anugerah dari Allah untuk hambanya, Perempuan.

Meski perempuan mungkin mudah takluk oleh cinta, seperti banyak digambarkan dengan lagu-lagu. Sentuhlah ia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan sepenuh jiwa, buat hatinya terbang melayang.

Hal yang menggambarkan seolah hati, perasaan perempuan mudah ditaklukan, dan sering dieksploitasi lebih dalam oleh orang lain. Dalam beberapa cerita yang kujalani di kehidupan sehari-hari pun demikian.

Beberapa Perempuan yang ku kenal menjadi bucin, budak cinta oleh pasangannya sendiri. Ia seolah diperas habis kekuatan, dan kasih sayangnya. Seolah cintanya dimanfaatkan oleh orang lain.

Dan kini kisah pemanfaatan, eksploitasi perempuan ini khususnya oleh laki-laki yang sering disebut Mokondo, modal K***** doang. Aku bergidik ngeri ketika mendengar tanda Red Flag itu muncul.

Entah mengapa, sekelebat bayangan sahabatku, Maria hadir di kepalaku. Ia menangis sesenggukan bercerita tentang suaminya yang tidak mau bekerja. Lebih senang di rumah saja, main games atau judi online.

Jika Maria menuntut nafkah, suaminya akan memberi uang, berdalih itu hasil menang judi. Namun kenyataannya, ternyata uang itu didapatkan dari pinjaman online.

Dan tentu saja Maria harus melunasinya ketika rombongan debt collector berkali datang ke rumah orang tua tempat mereka menumpang tinggal. Para penagih menuntut pinjaman dilunasi dengan berbagai ancaman, agar uang dikembalikan.

Dan Maria terpaksa harus bekerja lebih keras dari biasanya, pontang panting kesana-kemari gali lobang tutup lobang. Sambil meratapi dan menerima kelakuan sang suami, berusaha berlapang dada.

Ah kehidupan pernikahan memang begitu rumit. Pantas saja jika banyak orang berkata bahwa pernikahan adalah ibadah yang panjang dan sangat lama. Maka tak jarang, banyak orang yang terpenjara akan pernikahannya sendiri.

Meskipun ada juga kisah beberapa teman yang memiliki keberhasilan serta kebahagiaan dalam pernikahannya. Suami yang bertanggung jawab dan menyayangi, anak-anak yang sehat serta sholih-sholihat. Tentu merupakan takdir baik yang menjadi impian tiap perempuan.

Nah sebuah kisah tadi adalah cerita tentang seorang yang berani berkata tidak, kepada hal yang mungkin mengganjal dalam hati. Keburukan, kemungkaran yang terselubung oleh kata-kata manis, bujuk rayuan. Semoga kita dan anak-anak kita dijauhkan dari yang demikian. Putri Eka Sari, Mar26

Antologi 20 : Biar Hanya Tuhan Yang Tau (Lara dalam Hening, Alineaku Apr26)

 Biar Hanya Tuhan yang Tau

Putri Eka Sari

Buku Antalogi : Lara dalam Hening

"Neng.. jangan bengong, entar kesambet jin lho..”Kata Tukang ketoprak menegurku sambil tertawa, tangannya menyodorkan piring di hadapanku, berisi ketoprak lengkap beserta telur dan kerupuknya.

“Hehe iya Bang..”Jawabku perlahan, sekenanya, pikiranku berkecamuk. Tubuhku yang terasa begitu lelah, seolah ada disini, tapi jiwaku kosong, entah tertinggal dimana.

“Lagi banyak pikiran ya Neng? Mukanya kucel gitu?” Tanya si Abang ketoprak, kepo. Pandangannya menyelidik.

“Hehe Ga kok Bang, ngantuk dan lagi capek aja”Jawabku asal, sambil berusaha makan secepatnya. Berharap setelahnya tidak ditanya-tanya lagi oleh si Abang ketoprak.

Entah mengapa rasanya begitu kesal jika ditanya-tanya oleh orang tak dikenal terutama tentang sesuatu yang sifatnya pribadi. Sedangkan kepada orang yang dikenal saja Aku malas untuk bercerita.

Bagiku yang introvert, sulit untuk berbicara terbuka kepada orang lain. Meski itu teman, saudara, mereka semua biasa ku sebut netizen. Yang seringnya terlalu ingin tahu dengan kehidupan pribadi orang lain.

Kemudian berkomentar dan hanya bisa menjudge, menghakimi saja jika tidak sesuai dengan jalan pikiraannya. Sangat jarang orang yang setelah mengetahui masalah orang lain, benar-benar berempati, berusaha menghargai dan memandang dengan penuh kasih dari sudut yang lain.

Sehingga kadang komentar netizen hanya mengacaukan batin dan pikiran, menyulut rasa kesal di dad. Serta menambah luka, perih, bahkan bisa memicu pertengkaran jika pikiran tak sejalan.

Mereka pun tak bisa memberi jawaban yang tepat, hanya sekedar penghiburan semata. Kata dan motivasi hanya sekadarnya, tanpa bisa membantu pendampingan yang utuh hingga ke dalam jiwa yang lelah. Wajar saja, mungkin karena mereka pun tentu juga memiliki masalah lain juga, hingga hanya bisa membantuku sekenanya.

Padahal masalah yang ku hadapi pun begitu kompleks, mulai dari divonis penyakit, keluarga yang kurang harmonis, pekerjaan yang sedang kurang lancar. Kehidupan percintaan yang tidak berjalan mulus, ataupun beban lain yang rasanya malas untuk dibagikan kepada orang lain.

Karena seringnya jika dishare, atau diceritakan malah dinilai tidak cakap menjalankan pekerjaan, atau bahkan dianggap kurang bersyukur. Maka, biarlah masalah yang ada itu menjadi privasi, rahasia.

Sebab ada hal yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain karena malu, khawatir malah menimbulkan gosip di belakangku, sehingga inginnya malah ditutup rapat. Khawatir nanti malah mengumbar aib diri, keluarga atau atasan di kantor.

Meski rasanya lelah untuk menyimpan beban itu sendirian. Namun jika diceritakan kepada para ahli pun, misalnya kepada psikiater, tentu Aku tak punya uang lebih untuk membayarnya. Maka menelan semua hal pahit dalam hidup adalah ku anggap sebuah kebijaksanaan.

Kupikir, tak semua luka harus disuarakan. Kadang kita hanya butuh menangis sendirian di pojokan. Setelah bosan menangis, diri akan berusaha bersikap tak acuh lagi pada dunia.  

Atau hidup sebenarnya hanya butuh penerimaan atas takdir yang telah Allah gariskan, sendirian. Sambil sesekali hanya berkaca, introspeksi dalam diam atau di keheningan yang sunyi.

Dalam kesendirian, Aku belajar untuk menerima tanpa banyak bicara dan berisik. Meski kadang diam meresahkan, namun juga terkadang menguatkan. Karena diri tak ingin bagai tong kosong yang nyaring sekali bunyinya.

Misalnya dengan mengumbar di media sosial, seolah ingin didengar, dikasihani sejagat raya. Hingga mengundang perhatian dan jadi viral, terkenal.

Padahal diluar sana ada yang nasibnya lebih parah tapi tak berisik, tak sibuk ingin diakui, divalidasi. Namun malah belajar bersembunyi, dengan tenang dan berusaha dewasa, meski harus memendam perih dan luka.

Tapi dalam diam sibuk menemukan penawar luka. Meyembuhkan diri dan bangkit  tanpa riuh, tanpa sorak sorai dan tepuk tangan.

Karena kita hanya perlu berlari kepada Allah, tempat terbaik untuk mengadu. Hanya Allah yang mendengarkan, meski kita berteriak, mengangis dengan terguling-guling.

Menghalau ketakutan yang melanda. Dan bismillah.. Aku melangkah maju sendirian, tanpa perlu terlalu berharap berlebihan pada suami, ataupun membebani orangtua.

Aku khawatir, jika suami mengetahui ia akan menjadi khawatir akan kesehatanku. Padahal toh Aku yang akan menjalani semua ini, bukan orang lain. Aku lah yang harus berusaha menguatkan hati, menerima apapun ketentuan, takdir yang Allah akan gariskan.

Dari berbagai momen dalam hidup ini, Aku belajar tentang pentingnya berserah kepada Allah. Mengantungkan segala harapan hanya kepadaNya.

Lewat berbagai masalah dalam, Allah mungkin menyentilku, untuk lebih mendekatkan diri kembali kepadaNya. Serta bermuhasabah, introspeksi diri atas segala hal yang pernah ku lakukan. Sebagai hamba yang sering lupa, banyak dosa dan lalai akan perintahNya.

Problematika hidup sebuah alarm, reminder, bahwa Aku seseungguhnya bukan siapa-siapa. Tak ada yang bisa disombongkan di dunia atas apa yang ku punya.

Aku begitu kerdil dan mengharap kebaikan dari Allah Sang maha. Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik di masa depan.

Sakit, masalah rumah tangga, pekerjaan tentu menjadi ujian, namun untuk menaikkan derajat diri kita.                     

Aku yakin, dibalik sakit dan masalah yang sedang dihadapi pasti ada kemudahan lain yang menyertainya. Seperti janji Allah, Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan (QS Al Insyirah 5-6).  Putri Eka Sari, Feb26

Antologi 19 : Bersyukur di saat Senang dan Sedih (Perjalanan Menemukan Tuhan, Alineaku Apr26)

 Bersyukur di saat Senang dan Sedih

Putri Eka Sari


Buku Antologi : Perjalanan Menemukan Tuhan

Aku tersenyum dalam hati di pojok ruangan mushola. Senyum bahagia, meski keadaan di luar dingin, penuh nuansa putih, namun pemandangannya cantik penuh salju. Hatiku diliputi takjub, hingga tak berhenti berdesir kegirangan, saat tanganku merasakan salju pertama yang Allah ciptakan.

Salju di Pulau Nami, Korea Selatan. Yang biasanya hanya bisa kusaksikan di film (drama Korea) atau medsos. Terutama begitu hits di film Winter Sonata (2002), film Korea bergenre romantis.

Salju yang biasanya sering kudengar sekilas dari cerita teman yang sudah pernah ke negara empat musim. Kini terhampar luas menutupi seluruh bagian pulau ini kala winter, musim dingin tiba.   

Sebelumnya di Jakarta Aku pernah merasakan salju buatan di salah satu mall di Bekasi. Dan sensasinya kini terasa berbeda, saat ku genggam salju asli yang Allah turunkan dari langit, dan Ia izinkan untuk ku saksikan secara nyata.

keningku menyentuh  sajadah, lama sekali. Ada getar damai, seolah otak berubah frekuensi. Masuk ke dimensi lain, saat diri berada dalam posisi terendah, mendekat ke tanah.

Aku bersujud padaMu ya Allah.. dalam keadaan penuh syukur, gembira atas rahmat, kebaikan yang Engkau berikan.

Setelah sebelum-sebelumnya Aku mungkin bersujud dalam kondisi hati yang compang camping. Sujud dengan posisi berserah, berharap beban di bahu pun seolah berjatuhan satu persatu, setelah memberatkan pundak sekian lama.

Terbayang semua kejadian beberapa tahun belakangan, yang berkelebatan silih berganti. Ujian menghantam tak kenal ampun, mulai dari sakit, keadaan ekonomi yang sulit, hambatan pekerjaan, bentrok dengan keluarga, konflik pasangan ataupun teman.

Masalah bertubi-tubi yang menghantam mebuatku ciut, tak punya nyali. Berat, dan rasanya ingin menyerah.

Kini Aku paham, pertolongan Allah itu nyata jika kita meyakininya. Berprasangka terbaik kepadanya adalah jalan untuk terus bertahan. Mungkin bagi sebagian orang lain memilih untuk mengakhiri hidupnya. Karena mengalami kebuntuan, tak ada jalan keluar.

Beragam pertanyaan yang sebelumnya juga hadir dalam diriku. Kenapa, mengapa harus Aku yang mengalami, dan terus ku tanyakan dalam lisan yang berbisik saat hidung mencium sajadah, bersujud pada yang Maha. Kata meluap, membuncahkan isi hati yang sesak, tertuju kepada Allah Sang pencipta, yang bertahun kini baru terjawab.

Aku galau, kecewa, rapuh dan tak tau kemana jalan pulang ya Allah.. Ku mohon, bimbinglah Aku.. Jangan biarkan Aku begitu patah dan tak bisa berpikir jernih, ucap bibir lirih kala itu.

Air mata pun menetes deras  layaknya hujan. Ku biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah, saat ini penuh dengan rasa syukur.

Setelah sebelumnya penuh dengan sesi menangis, dan berserah. Fragmen curhat panjang pada Allah yang paling ku tunggu saat tengah malam. Karena tanpa pura-pura, basa-basi, dan judgement (penghakiman) dari orang lain.

Lewat uraian air mata dan banyaknya ratap dalam harapan, Ku akui kelemahan dan mengharap kekuatan dari Sang pencipta.

Malam yang sebelumnya menjadi saksi bisu tentang kegundahan yang merajalela, tentang ketakutan akan aib, masa lalu yang buruk. Atau masa depan yang belum nampak seperti apa. Dan sering diliputi beragam pertanyaan.

Ya Rab.. Bisakah esok menjadi cerah seperti inginku? Pantaskah Aku yang penuh dosa ini meghiba padaMu? Bolehkah aku berharap mendapatkan cahaya?

Diri yang biasanya bermunajat dengan pilu, meminta kekuatan, kemudahan meski rasanya masalah menghujam hingga Aku bahkan tak kuat untuk berdiri, menegakkan langkah kaki dan menatap masa depan.

Kini, Aku berdiri di sini pada sebuah pulau di Korea Selatan yang diidamkan banyak orang untuk bisa berkunjung ksini. Aku berdiri dari sujud, di tempat asing jauh dari tanah kelahiran. Seolah Allah berkata padaku, inilah buah dari kesabaranmu. Hal yang selalu Ku pertanyakan dalam diam atas kuasaNya.

Aku larut dalam isak, ya Rabb ampuni Aku.. Tenggorokan tercekat, kala lafadz surat Al Fatihah ayat 6 mengalir dari bibir, Aku mengejanya dengan terbata-bata.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, Ya Allah.. ku pahami lagi ayat itu, segenap jiwa mengeja lalu mengiba. Ya Tuhanku, bimbinglah diri yang banyak khilaf ini. Aku memohon petunjuk Allah untuk kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik.

Menyadari sepenuhnya, bahwa segala yang kualami sebelumnya adalah ujian yang terbaik untuk menguatkan mentalku. Ya Rabb, kini Aku paham, ujian itu ternyata agar Aku naik kelas, menjadi level (derajat) yang berbeda. Kini Aku mengerti tentang hikmah dan kebaikan yang lebih baik yang akan Kau ganti, meski mungkin tak sesuai ingnku, tetapi sesuai yang kubutuhkan.

Begitu pula dengan pelaut yang kuat jika menghadapi banyaknya ombak, pilot yang hebat menghadapi banyaknya turbulence.

Ku yakin, bahkan sekedar daun yang jatuh, angin yang berhembus. Semua hal sudah Kau gariskan takdirnya.

Ya.. Talk to Allah lewat zikir, mengeja kebesaran namaNya. Doa panjang atau sujud lama yang mendekatkan jarak antara dirimu dan Sang pencipta. Yang mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik, sehingga bisa berpikir lebih jernih. 

Di sini, Aku pun bersyukur akan berbagai keadaan yang Allah hadirkan dalam hidupku. Terimakasih ya Allah, karena Engkau menguatkan jiwaku, untuk tetap tegar, tak kalah oleh keadaan.

*Putri Eka Sari, Nami Island-Korea Selatan, Desember 2025

Jumat, 24 April 2026

Antologi 18 : Kisah Ibu dan Caesar (Lahir bersama Tangis, Alineaku Apr26)

 Kisah Ibu dan Caesar

Putri Eka Sari

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah.. Tak henti bibirku mengucap syukur. Diselingi keharuan kala mendengar tangis pertama anakku di ruang operasi.

”Alhamdulillah.. bayinya sehat Bu” Ucap dokter setelah membersihkan bayi dan kemudian menempelkannya ke dadaku.

Ada getar rindu ketika kulit kemerahannya menyentuh kulitku. Dan untuk pertama kalinya Ku dengar degup jantungnya yang pelan menembus gendang telingaku. HIngga air mataku pun mengalir, bahagia. Allahu Akbar, Rabbi habli minasholihin, bisikku ke telinga mungilnya.

Proses melahirkan ini, memproklamirkan diriku yang kini sudah sah bertransformasi menjadi seorang Ibu. Tugas baru dengan amanah yang berat, mendidik ananda dengan segenap cinta dan kasih sayang.

Lewat proses operasi yang berjalan cepat dan lancar selang sekitar 15 menit masuk kamar operasi, anak pertamaku sudah berhasil dikeluarkan dari 7 lapisan dalam perutku. Antara percaya dan tidak, dan sejuta takjub atas kekuasaan Allah.

Dalam doa dan iringan zikir panjang, Aku merasakan pertolongan dan kasih sayang Allah yang Maha besar. Hingga akhirnya tim dokter yang ahli bisa melakukan proses operasi dengan lancar sekitar 1 jam.

Mungkin bagi sebagian orang, termasuk diriku tentu mengharapkan untuk bisa bersalin dengan normal. Apalagi belakangan muncul cibiran netizen bahwa  melahirkan dengan Caesar sering dianggap belum menjadi Ibu seutuhnya, karena tidak mengalami proses mengejan secara alami saat pembukaan hingga proses kelahiran bayi, meskipun para Ibu juga berjuang dengan cinta dan mempertaruhkan nyawa.

Namun untuk alasan medis, beberapa orang salah satunya diriku disarankan oleh dokter untuk bersalin melalui Caesar. Bagiku yang memiliki riwayat penyakit Glaukoma pada mata. Operasi SC adalah ikhtiar untuk memperkecil resiko kerusakan pada syaraf mata.

Sebab proses persalinan normal adalah hal yang sangat dihindari bagi penderita Glaukoma, yang memiliki riwayat tekanan bola mata tinggi sepertiku. Karena disinyalir dapat semakin memperparah bahkan bisa menyebabkan kebutaan pada mata, jika dipaksakan menjalani proses melahirkan normal.

Banyak orang menyepelekan dan berkata bahwa melahirkan dengan jalan operasi Caesar begitu enak dan mudah. Tinggal bedah perut, tak perlu mengejan, minim resiko. Padahal resiko dapat saja terjadi, terutama proses pemulihan pasca operasi SC yang terbilang lebih lama.  

Setelah proses pemulihan pasca operasi selesai dan Aku dipindahkan ke ruang kamar perawatan. Tetiba suhu tubuhku mulai mengalami penurunan drastis, dan menyebabkan badan terasa mengigil kedinginan meski sudah menggunakan selimut berlapis.

Yang dalam ilmu kedokteran salah satunya disebabkan respon tubuh terhadap sisa anestesi (pembiusan) spinal (mati rasa dari pinggang ke bawah kaki), yang pada sebagian orang berefek samping menggangu pengukuran suhu tubuh (gejalanya seperti hipotermia, mirip seperti saat menanjak di atas gunung yang tinggi akibat cuaca dingin yang ekstrim).  

Kabar sedih datang kala Aku mendapat kabar dari suster bahwa anakku di diagnosis mulai mengalami gejala penyakit kuning, pada mata dan tubuhnya. Menurut dokter hal ini biasa terjadi pada kasus bayi prematur, yang lahir pada usia kandungan yang tidak mencapai 9 bulan.

Pada anakku, Ia lahir pada usia 8 bulan. Menyebabkan beberapa organ di tubuhnya belum matang paripurna. Salah satunya hati yang belum sempurna memproses bilirubin, sehingga terdapat kadar birilurbin yang tinggi dalam darah.

Qadarullah, anakku pun diberi perawatan intensif di NICU dan masuk ke dalam inkubator. Untuk diberikan foto terapi (sinar biru yang dapat membantu untuk memecah bilirubin berlebih dalam tubuh).

Selain itu karena organ parunya pun masih belum berkembang sempurna, atau istilahnya seperti masih menguncup (belum berkembang ideal). Maka untuk bernafas memerlukan alat bantu ventilator untuk menjaga saluran nafas terbuka dan membantu paru menjalankan tugasnya.         

Di tengah rasa panik tidak bisa bertemu langsung dengan bayi. Aku hanya bisa berdoa dan memeras ASI, sebagai makanan terbaik yang akan diberikan kepada anakku dari botol. Karena selama perawatan intensif yang steril di NICU, anakku tidak diperkenankan dibawa ke ruang perawatan Ibunya. Meski sesekali Aku diperkenankan menjenguknya, dan hanya diperkenankan melihat dari jendela.

  Saat dilanda rasa galau, gelisah dan sedih karena kepikiran ananda di ruang NICU dalam inkubator. Aku mendengarkan tangisan diantara percakapan di ranjang sebelahku.

”Mas, maafkan Aku karena tidak bisa mempertahankan bayi kita”. Kata perempuan yang terisak, tangisannya begitu terdengar meyayat hatiku. Menembus ke telingaku, karena ranjang kami hanya terpisah dengan tirai horden yang tipis.

”Tidak apa De, mungkin belum rezeki kita”Jawab sang suami yang berusaha menenangkan kesedihan istrinya.

Tak berapa lama, sang suami keluar dari ruangan untuk membeli makanan. Meninggalkan sang istri yang akhirnya sendirian. Dan entah bagaimana Kak Wuri, begitu Ia memperkenalkan diri. Setelah akrab curhat kepadaku sebagai sesama perempuan.

Ia telah menikah selama 7tahun, dan selama ia mengalami 7 kali keguguran. Namun kali ini bayinya meninggal dalam kandungan, di usia kehamilan yang nyaris 7bulan. Hal ini menurut dokter disebabkan karena perbedaan Rhesus darah antara anak dan Ibu.

Sehingga menyebabkan antibodi Ibu menyerang sel darah merah anaknya sendiri, yang dianggap sebagai benda asing dalam tubuhnya. Meskipun sudah diantisipasi oleh dokter dengan vitamin, obat dsb. Namun kerusakan organ pada janin anak tetap terjadi.    

Air mataku mengalir deras, sungguh memiliki keturunan adalah sebuah titipan dari Allah. Layaknya harta, anak merupakan perhiasan dunia yang dapat memberikan orang tua kebahagiaan, kebanggan serta keindahan hidup di dunia (QS Al Kahfi: 46). Namun sebaliknya, anak juga bisa menjadi ujian atau fitnah bagi kedua orang tuanya.

Semoga dibalik rasa bahagia serta syukur sebagai Ibu. Allah mudahkan kita para Ibu untuk mendidik anak-anak untuk mencari ridho dan surga Allah. Aamiin..  *Putri Eka Sari, Februari 2026

Antologi 17 : Menghadapi Glaukoma dengan Lapang Dada (Tanpa Sorak Sorai, Alineaku Apr26)

                                                Menghadapi Glaukoma dengan Lapang Dada

Putri Eka Sari


Antologi 16 : Allah di meja operasi (Dengan Nama-Mu, Alineaku Apr26)

  Allah di meja Operasi

Putri Eka Sari

“Bu.. ini tekanan matanya tinggi lagi, dan mulai terjadi kerusakan syaraf penglihatan, maka sebaiknya dilaksanakan operasi Kembali agar tekanan bola mata bisa turun dan normal” Kata Dr. Srinagar, ketika selesai memeriksa tekanan bola mataku dengan alat Tonometer (alat untuk mengecek tekanan  intraocular/TIO, pada bola mata).

Kemudian Dokter menunjukkan padaku hasil humprey (laporan medis tentang lapang pandang) yang di dapatkan dari kunjunganku ke dokter sebelumnya. Ditunjukkannya beberapa titik hitam yang ada di kertas tersebut, dan menjelaskan bahwa terdapat kerusakan syaraf di gambar yang terlihat seperti bentuk bola mata. 

“Ibu bisa mulai cek laboratorium, kita mulai operasi hari kamis, 3 hari lagi, ya..” Lanjut Dr. Srinagar sambil memandang ke arahku.

Aku hanya bisa mengangguk lesu, dan bergidik sendiri. Duh.. operasi lagi, batinku. Terbayang hal yang tidak-tidak saat mendengar kata 'Operasi' dilontarkan. Persis seperti adegan operasi di film-film.

Gambaran kamar operasi seketika tergambar di kepala. Sebuah ruangan putih dengan meja perkakas dokter, lampu operasi yang menyorot silau ke mata. Monitor untuk detak jantung juga nafas pasien.

Bulu kuduk meremang membayangkan jarum suntik dengan cairan anestesi (obat bius), yang kadang menyebabkan trauma bagi beberapa orang. Belum lagi selang infus yang menggelantung di tangan menyebabkan tubuh sukar bergerak bebas. Aih.. Aku makin bergidik.

***

Hari itu tiba, dimana diriku hanya bisa tergeletak di bed dalam kamar operasi, dengan harap cemas, sambil memandang keatas langit ruangan. Ditemani bau cairan antiseptik yang menusuk hidung bagi yang tidak biasa. Aroma yang makin menyiutkan nyaliku.

Sungguh sebenarnya bukan hanya kali ini Aku masuk kamar operasi. Beberapa kali Aku sudah melewatinya, diantaranya operasi caesar, dan gigi yang tumbuh miring. Namun entah mengapa operasi mata kali ini terasa berbeda.

Di dalam ruangan operasi jantung rasanya berdetak tak karuan, begitu kencang. Iramanya makin terdengar jelas dari monitor jantung, yang kabelnya terhubung ke dada. Begitu kontras dengan selang-selang dan kabel yang saling berjuntaian di sisi tempat tidur, serta masker oksigen yang menutupi mulut.  

Terdengar berbagai percakapan dokter dan perawat di sebelahku, yang terkesan riang dan simple. Mungkin berusaha mencairkan suasana hatiku yang gundah. Sesekali Ku betulkan selimut untuk menutup tubuh yang kedinginan oleh AC ruang operasi.

“Bu, Saya akan melakukan bius lokal ya.. nanti jika saat berlangsungnya operasi dan terasa saat sakit, bisa gerakkan tangan agar bisa saya teteskan biusnya lagi” Dokter berkata sambil memberiku beberapa tetes obat pada mata.

Bius lokal ini membuat Aku tetap terjaga, dan bisa merekam dan melihat jelas berbagai kegiatan yang dilakukan oleh dokter serta perawat yang berada di dalam ruang operasi.

Selama proses operasi berlangsung, Aku tak henti berdoa dengan khusyuk. Zikir pun teruntai berulang-ulang. Agar Allah melancarkan dan memudahkan dokter melakukan proses operasi. 

Di momen ini, Aku seolah tersentil, dan menjadi semakin merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat. Aku merasa begitu kecil, penuh dosa, namun tetap berupaya meminta kepada Allah. Agar dengan Rahmat, dan kebaikanNya, memberiku peluang kesembuhan.

Gambar: Perbedaan mata dengan Glaukoma dan mata Normal

Lewat muhasabah dalam hati, Aku merasa semakin mendekat dan berserah pada Sang pencipta. Menyadarkanku bahwa nyawa dalam tubuh ini ada dalam genggamanNya setiap detik waktu berdetak. Seolah Aku tidak bisa lari dan menghindar dariNya.

Sambil berharap cemas, Ku kencangkan lagi ayat Ilahi, berharap dan berpikir positive, agar dokter tidak salah sayat jaringan yang ada di mata dan tubuh ini. Atau keliru memakai pisau bedah, karena dapat berakibat fatal.

Berharap tak ada hal yang terlewatkan dari berbagai standar kerja operasi yang dilakukan. Karena tak terbayangkan jika saat operasi, Allah  tidak melancarkan. Bisa saja dokter grogi, atau galau di meja operasi. 

Mungkin teringat anak di rumah, ada masalah lain dengan pasangan, orang tua ataupun teman. Dan emosi di luar itu masih terbawa ke meja operasi. Dokter pun  juga manusia seperti lainnya, ia juga memiliki masalah, dan bisa khilaf.

Jadi Aku terus berzikir tanpa putus dalam diam. Bermunajat hanya pada Allah, sambil meyakinkan diri bahwa dokter adalah tenaga ahli di bidangnya.

Sehingga tidak akan salah sayat, salah potong ataupun salah prosedur selama menjalani operasi. Hal yang ramai dikenal dengan istilah Mal Praktik, sebuah kelalaian dalam standar profesional yang menyebabkan seorang pasien menderita kerugian.  

Sesekali jika terasa sakit atau nyeri saat operasi, Ku tahan dan beri kode dengan menggerakkan kaki atau tangan pada dokter. Seketika dokter pun akan menetes kan obat penghilang rasa sakit lagi ke dalam mata.

Dari momen operasi ini, Aku belajar tentang pentingnya berserah kepada Allah. Mengantungkan segala harapan hanya kepadaNya.

Lewat sakit, Allah menyentilku, untuk lebih mendekatkan diri kembali kepadaNya. Serta bermuhasabah, introspeksi diri atas segala hal yang pernah ku lakukan. Sebagai hamba yang sering lupa dan lalai akan perintahNya.

Pengalaman di meja operasi menjadi pengingat diri, meruntuhkan egoku. Bahwa Aku seseungguhnya bukan siapa-siapa, tak ada yang bisa disombongkan di dunia atas apa yang ku punya.

Aku begitu kerdil dan mengharap kebaikan dari Allah Sang maha. Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik di masa depan.

-Putri Eka Sari, Feb26-