Allah di meja Operasi
Putri Eka Sari
“Bu.. ini
tekanan matanya tinggi lagi, dan mulai terjadi kerusakan syaraf penglihatan,
maka sebaiknya dilaksanakan operasi Kembali agar tekanan bola mata bisa turun
dan normal” Kata Dr. Srinagar, ketika selesai memeriksa tekanan bola mataku
dengan alat Tonometer (alat untuk mengecek tekanan intraocular/TIO, pada bola mata).
Kemudian Dokter
menunjukkan padaku hasil humprey (laporan medis tentang lapang pandang) yang di
dapatkan dari kunjunganku ke dokter sebelumnya. Ditunjukkannya beberapa titik
hitam yang ada di kertas tersebut, dan menjelaskan bahwa terdapat kerusakan
syaraf di gambar yang terlihat seperti bentuk bola mata.
“Ibu bisa
mulai cek laboratorium, kita mulai operasi hari kamis, 3 hari lagi, ya..” Lanjut Dr. Srinagar sambil memandang ke
arahku.
Aku hanya
bisa mengangguk lesu, dan bergidik sendiri. Duh.. operasi lagi, batinku.
Terbayang hal yang tidak-tidak saat mendengar kata 'Operasi' dilontarkan.
Persis seperti adegan operasi di film-film.
Gambaran kamar
operasi seketika tergambar di kepala. Sebuah ruangan putih dengan meja perkakas dokter,
lampu operasi yang menyorot silau ke mata. Monitor
untuk detak jantung juga nafas pasien.
Bulu
kuduk meremang membayangkan jarum suntik dengan cairan
anestesi (obat bius), yang kadang menyebabkan trauma bagi beberapa orang. Belum
lagi selang infus yang menggelantung di tangan menyebabkan tubuh sukar bergerak
bebas. Aih.. Aku makin bergidik.
***
Hari itu
tiba, dimana diriku hanya bisa tergeletak di bed dalam kamar operasi, dengan
harap cemas, sambil memandang keatas langit ruangan. Ditemani bau cairan
antiseptik yang menusuk hidung bagi yang tidak biasa. Aroma yang makin menyiutkan
nyaliku.
Sungguh
sebenarnya bukan hanya kali ini Aku masuk kamar operasi. Beberapa kali Aku
sudah melewatinya, diantaranya operasi caesar, dan gigi yang tumbuh
miring. Namun entah mengapa operasi mata kali ini terasa berbeda.
Di dalam
ruangan operasi jantung rasanya berdetak tak karuan, begitu kencang. Iramanya makin
terdengar jelas dari monitor jantung, yang kabelnya terhubung ke dada. Begitu
kontras dengan selang-selang dan kabel yang saling berjuntaian di sisi tempat
tidur, serta masker oksigen yang menutupi mulut.
Terdengar
berbagai percakapan dokter dan perawat di sebelahku, yang terkesan riang dan simple.
Mungkin berusaha mencairkan suasana hatiku yang gundah. Sesekali Ku betulkan
selimut untuk menutup tubuh yang kedinginan oleh AC ruang operasi.
“Bu, Saya
akan melakukan bius lokal ya.. nanti jika saat berlangsungnya operasi dan
terasa saat sakit, bisa gerakkan tangan agar bisa saya teteskan biusnya lagi”
Dokter berkata sambil memberiku beberapa tetes obat pada mata.
Bius
lokal ini membuat Aku tetap terjaga, dan bisa merekam dan melihat jelas
berbagai kegiatan yang dilakukan oleh dokter serta perawat yang berada di dalam
ruang operasi.
Selama
proses operasi berlangsung, Aku tak henti berdoa dengan khusyuk. Zikir pun teruntai
berulang-ulang. Agar Allah melancarkan dan memudahkan dokter melakukan proses
operasi.
Di momen
ini, Aku seolah tersentil, dan menjadi semakin merasakan kehadiran
Allah yang begitu dekat. Aku merasa begitu kecil, penuh dosa, namun tetap
berupaya meminta kepada Allah. Agar dengan Rahmat, dan kebaikanNya, memberiku
peluang kesembuhan.
Gambar: Perbedaan mata dengan Glaukoma dan mata Normal
Lewat muhasabah
dalam hati, Aku merasa semakin mendekat dan berserah pada Sang
pencipta. Menyadarkanku bahwa nyawa dalam tubuh ini ada dalam genggamanNya
setiap detik waktu berdetak. Seolah Aku tidak bisa lari dan menghindar
dariNya.
Sambil berharap cemas, Ku kencangkan lagi ayat Ilahi, berharap dan berpikir positive, agar dokter tidak salah sayat jaringan yang ada di mata dan tubuh ini. Atau keliru memakai pisau bedah, karena dapat berakibat fatal.
Berharap
tak ada hal yang terlewatkan dari berbagai standar kerja operasi yang
dilakukan. Karena tak terbayangkan jika saat operasi, Allah tidak
melancarkan. Bisa saja dokter grogi, atau galau di meja operasi.
Mungkin
teringat anak di rumah, ada masalah lain dengan pasangan, orang tua ataupun
teman. Dan emosi di luar itu masih terbawa ke meja operasi. Dokter pun
juga manusia seperti lainnya, ia juga memiliki masalah, dan bisa khilaf.
Jadi Aku
terus berzikir tanpa putus dalam diam. Bermunajat hanya pada Allah, sambil meyakinkan
diri bahwa dokter adalah tenaga ahli di bidangnya.
Sehingga
tidak akan salah sayat, salah potong ataupun salah prosedur selama menjalani
operasi. Hal yang ramai dikenal dengan istilah Mal Praktik, sebuah
kelalaian dalam standar profesional yang menyebabkan seorang pasien menderita
kerugian.
Sesekali
jika terasa sakit atau nyeri saat operasi, Ku tahan dan beri kode dengan
menggerakkan kaki atau tangan pada dokter. Seketika dokter pun akan menetes kan
obat penghilang rasa sakit lagi ke dalam mata.
Dari
momen operasi ini, Aku belajar tentang pentingnya berserah kepada Allah.
Mengantungkan segala harapan hanya kepadaNya.
Lewat
sakit, Allah menyentilku, untuk lebih mendekatkan diri kembali kepadaNya. Serta
bermuhasabah, introspeksi diri atas segala hal yang pernah ku lakukan. Sebagai
hamba yang sering lupa dan lalai akan perintahNya.
Pengalaman
di meja operasi menjadi pengingat diri, meruntuhkan egoku. Bahwa Aku
seseungguhnya bukan siapa-siapa, tak ada yang bisa disombongkan di dunia atas
apa yang ku punya.
Aku
begitu kerdil dan mengharap kebaikan dari Allah Sang maha. Semoga masih ada
kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik di masa depan.
-Putri
Eka Sari, Feb26-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar