Jumat, 24 April 2026

Antologi 16 : Allah di meja operasi (Dengan Nama-Mu, Alineaku Apr26)

  Allah di meja Operasi

Putri Eka Sari

“Bu.. ini tekanan matanya tinggi lagi, dan mulai terjadi kerusakan syaraf penglihatan, maka sebaiknya dilaksanakan operasi Kembali agar tekanan bola mata bisa turun dan normal” Kata Dr. Srinagar, ketika selesai memeriksa tekanan bola mataku dengan alat Tonometer (alat untuk mengecek tekanan  intraocular/TIO, pada bola mata).

Kemudian Dokter menunjukkan padaku hasil humprey (laporan medis tentang lapang pandang) yang di dapatkan dari kunjunganku ke dokter sebelumnya. Ditunjukkannya beberapa titik hitam yang ada di kertas tersebut, dan menjelaskan bahwa terdapat kerusakan syaraf di gambar yang terlihat seperti bentuk bola mata. 

“Ibu bisa mulai cek laboratorium, kita mulai operasi hari kamis, 3 hari lagi, ya..” Lanjut Dr. Srinagar sambil memandang ke arahku.

Aku hanya bisa mengangguk lesu, dan bergidik sendiri. Duh.. operasi lagi, batinku. Terbayang hal yang tidak-tidak saat mendengar kata 'Operasi' dilontarkan. Persis seperti adegan operasi di film-film.

Gambaran kamar operasi seketika tergambar di kepala. Sebuah ruangan putih dengan meja perkakas dokter, lampu operasi yang menyorot silau ke mata. Monitor untuk detak jantung juga nafas pasien.

Bulu kuduk meremang membayangkan jarum suntik dengan cairan anestesi (obat bius), yang kadang menyebabkan trauma bagi beberapa orang. Belum lagi selang infus yang menggelantung di tangan menyebabkan tubuh sukar bergerak bebas. Aih.. Aku makin bergidik.

***

Hari itu tiba, dimana diriku hanya bisa tergeletak di bed dalam kamar operasi, dengan harap cemas, sambil memandang keatas langit ruangan. Ditemani bau cairan antiseptik yang menusuk hidung bagi yang tidak biasa. Aroma yang makin menyiutkan nyaliku.

Sungguh sebenarnya bukan hanya kali ini Aku masuk kamar operasi. Beberapa kali Aku sudah melewatinya, diantaranya operasi caesar, dan gigi yang tumbuh miring. Namun entah mengapa operasi mata kali ini terasa berbeda.

Di dalam ruangan operasi jantung rasanya berdetak tak karuan, begitu kencang. Iramanya makin terdengar jelas dari monitor jantung, yang kabelnya terhubung ke dada. Begitu kontras dengan selang-selang dan kabel yang saling berjuntaian di sisi tempat tidur, serta masker oksigen yang menutupi mulut.  

Terdengar berbagai percakapan dokter dan perawat di sebelahku, yang terkesan riang dan simple. Mungkin berusaha mencairkan suasana hatiku yang gundah. Sesekali Ku betulkan selimut untuk menutup tubuh yang kedinginan oleh AC ruang operasi.

“Bu, Saya akan melakukan bius lokal ya.. nanti jika saat berlangsungnya operasi dan terasa saat sakit, bisa gerakkan tangan agar bisa saya teteskan biusnya lagi” Dokter berkata sambil memberiku beberapa tetes obat pada mata.

Bius lokal ini membuat Aku tetap terjaga, dan bisa merekam dan melihat jelas berbagai kegiatan yang dilakukan oleh dokter serta perawat yang berada di dalam ruang operasi.

Selama proses operasi berlangsung, Aku tak henti berdoa dengan khusyuk. Zikir pun teruntai berulang-ulang. Agar Allah melancarkan dan memudahkan dokter melakukan proses operasi. 

Di momen ini, Aku seolah tersentil, dan menjadi semakin merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat. Aku merasa begitu kecil, penuh dosa, namun tetap berupaya meminta kepada Allah. Agar dengan Rahmat, dan kebaikanNya, memberiku peluang kesembuhan.

Gambar: Perbedaan mata dengan Glaukoma dan mata Normal

Lewat muhasabah dalam hati, Aku merasa semakin mendekat dan berserah pada Sang pencipta. Menyadarkanku bahwa nyawa dalam tubuh ini ada dalam genggamanNya setiap detik waktu berdetak. Seolah Aku tidak bisa lari dan menghindar dariNya.

Sambil berharap cemas, Ku kencangkan lagi ayat Ilahi, berharap dan berpikir positive, agar dokter tidak salah sayat jaringan yang ada di mata dan tubuh ini. Atau keliru memakai pisau bedah, karena dapat berakibat fatal.

Berharap tak ada hal yang terlewatkan dari berbagai standar kerja operasi yang dilakukan. Karena tak terbayangkan jika saat operasi, Allah  tidak melancarkan. Bisa saja dokter grogi, atau galau di meja operasi. 

Mungkin teringat anak di rumah, ada masalah lain dengan pasangan, orang tua ataupun teman. Dan emosi di luar itu masih terbawa ke meja operasi. Dokter pun  juga manusia seperti lainnya, ia juga memiliki masalah, dan bisa khilaf.

Jadi Aku terus berzikir tanpa putus dalam diam. Bermunajat hanya pada Allah, sambil meyakinkan diri bahwa dokter adalah tenaga ahli di bidangnya.

Sehingga tidak akan salah sayat, salah potong ataupun salah prosedur selama menjalani operasi. Hal yang ramai dikenal dengan istilah Mal Praktik, sebuah kelalaian dalam standar profesional yang menyebabkan seorang pasien menderita kerugian.  

Sesekali jika terasa sakit atau nyeri saat operasi, Ku tahan dan beri kode dengan menggerakkan kaki atau tangan pada dokter. Seketika dokter pun akan menetes kan obat penghilang rasa sakit lagi ke dalam mata.

Dari momen operasi ini, Aku belajar tentang pentingnya berserah kepada Allah. Mengantungkan segala harapan hanya kepadaNya.

Lewat sakit, Allah menyentilku, untuk lebih mendekatkan diri kembali kepadaNya. Serta bermuhasabah, introspeksi diri atas segala hal yang pernah ku lakukan. Sebagai hamba yang sering lupa dan lalai akan perintahNya.

Pengalaman di meja operasi menjadi pengingat diri, meruntuhkan egoku. Bahwa Aku seseungguhnya bukan siapa-siapa, tak ada yang bisa disombongkan di dunia atas apa yang ku punya.

Aku begitu kerdil dan mengharap kebaikan dari Allah Sang maha. Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik di masa depan.

-Putri Eka Sari, Feb26-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar