Jumat, 24 April 2026

Antologi 18 : Kisah Ibu dan Caesar (Lahir bersama Tangis, Alineaku Apr26)

 Kisah Ibu dan Caesar

Putri Eka Sari

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah.. Tak henti bibirku mengucap syukur. Diselingi keharuan kala mendengar tangis pertama anakku di ruang operasi.

”Alhamdulillah.. bayinya sehat Bu” Ucap dokter setelah membersihkan bayi dan kemudian menempelkannya ke dadaku.

Ada getar rindu ketika kulit kemerahannya menyentuh kulitku. Dan untuk pertama kalinya Ku dengar degup jantungnya yang pelan menembus gendang telingaku. HIngga air mataku pun mengalir, bahagia. Allahu Akbar, Rabbi habli minasholihin, bisikku ke telinga mungilnya.

Proses melahirkan ini, memproklamirkan diriku yang kini sudah sah bertransformasi menjadi seorang Ibu. Tugas baru dengan amanah yang berat, mendidik ananda dengan segenap cinta dan kasih sayang.

Lewat proses operasi yang berjalan cepat dan lancar selang sekitar 15 menit masuk kamar operasi, anak pertamaku sudah berhasil dikeluarkan dari 7 lapisan dalam perutku. Antara percaya dan tidak, dan sejuta takjub atas kekuasaan Allah.

Dalam doa dan iringan zikir panjang, Aku merasakan pertolongan dan kasih sayang Allah yang Maha besar. Hingga akhirnya tim dokter yang ahli bisa melakukan proses operasi dengan lancar sekitar 1 jam.

Mungkin bagi sebagian orang, termasuk diriku tentu mengharapkan untuk bisa bersalin dengan normal. Apalagi belakangan muncul cibiran netizen bahwa  melahirkan dengan Caesar sering dianggap belum menjadi Ibu seutuhnya, karena tidak mengalami proses mengejan secara alami saat pembukaan hingga proses kelahiran bayi, meskipun para Ibu juga berjuang dengan cinta dan mempertaruhkan nyawa.

Namun untuk alasan medis, beberapa orang salah satunya diriku disarankan oleh dokter untuk bersalin melalui Caesar. Bagiku yang memiliki riwayat penyakit Glaukoma pada mata. Operasi SC adalah ikhtiar untuk memperkecil resiko kerusakan pada syaraf mata.

Sebab proses persalinan normal adalah hal yang sangat dihindari bagi penderita Glaukoma, yang memiliki riwayat tekanan bola mata tinggi sepertiku. Karena disinyalir dapat semakin memperparah bahkan bisa menyebabkan kebutaan pada mata, jika dipaksakan menjalani proses melahirkan normal.

Banyak orang menyepelekan dan berkata bahwa melahirkan dengan jalan operasi Caesar begitu enak dan mudah. Tinggal bedah perut, tak perlu mengejan, minim resiko. Padahal resiko dapat saja terjadi, terutama proses pemulihan pasca operasi SC yang terbilang lebih lama.  

Setelah proses pemulihan pasca operasi selesai dan Aku dipindahkan ke ruang kamar perawatan. Tetiba suhu tubuhku mulai mengalami penurunan drastis, dan menyebabkan badan terasa mengigil kedinginan meski sudah menggunakan selimut berlapis.

Yang dalam ilmu kedokteran salah satunya disebabkan respon tubuh terhadap sisa anestesi (pembiusan) spinal (mati rasa dari pinggang ke bawah kaki), yang pada sebagian orang berefek samping menggangu pengukuran suhu tubuh (gejalanya seperti hipotermia, mirip seperti saat menanjak di atas gunung yang tinggi akibat cuaca dingin yang ekstrim).  

Kabar sedih datang kala Aku mendapat kabar dari suster bahwa anakku di diagnosis mulai mengalami gejala penyakit kuning, pada mata dan tubuhnya. Menurut dokter hal ini biasa terjadi pada kasus bayi prematur, yang lahir pada usia kandungan yang tidak mencapai 9 bulan.

Pada anakku, Ia lahir pada usia 8 bulan. Menyebabkan beberapa organ di tubuhnya belum matang paripurna. Salah satunya hati yang belum sempurna memproses bilirubin, sehingga terdapat kadar birilurbin yang tinggi dalam darah.

Qadarullah, anakku pun diberi perawatan intensif di NICU dan masuk ke dalam inkubator. Untuk diberikan foto terapi (sinar biru yang dapat membantu untuk memecah bilirubin berlebih dalam tubuh).

Selain itu karena organ parunya pun masih belum berkembang sempurna, atau istilahnya seperti masih menguncup (belum berkembang ideal). Maka untuk bernafas memerlukan alat bantu ventilator untuk menjaga saluran nafas terbuka dan membantu paru menjalankan tugasnya.         

Di tengah rasa panik tidak bisa bertemu langsung dengan bayi. Aku hanya bisa berdoa dan memeras ASI, sebagai makanan terbaik yang akan diberikan kepada anakku dari botol. Karena selama perawatan intensif yang steril di NICU, anakku tidak diperkenankan dibawa ke ruang perawatan Ibunya. Meski sesekali Aku diperkenankan menjenguknya, dan hanya diperkenankan melihat dari jendela.

  Saat dilanda rasa galau, gelisah dan sedih karena kepikiran ananda di ruang NICU dalam inkubator. Aku mendengarkan tangisan diantara percakapan di ranjang sebelahku.

”Mas, maafkan Aku karena tidak bisa mempertahankan bayi kita”. Kata perempuan yang terisak, tangisannya begitu terdengar meyayat hatiku. Menembus ke telingaku, karena ranjang kami hanya terpisah dengan tirai horden yang tipis.

”Tidak apa De, mungkin belum rezeki kita”Jawab sang suami yang berusaha menenangkan kesedihan istrinya.

Tak berapa lama, sang suami keluar dari ruangan untuk membeli makanan. Meninggalkan sang istri yang akhirnya sendirian. Dan entah bagaimana Kak Wuri, begitu Ia memperkenalkan diri. Setelah akrab curhat kepadaku sebagai sesama perempuan.

Ia telah menikah selama 7tahun, dan selama ia mengalami 7 kali keguguran. Namun kali ini bayinya meninggal dalam kandungan, di usia kehamilan yang nyaris 7bulan. Hal ini menurut dokter disebabkan karena perbedaan Rhesus darah antara anak dan Ibu.

Sehingga menyebabkan antibodi Ibu menyerang sel darah merah anaknya sendiri, yang dianggap sebagai benda asing dalam tubuhnya. Meskipun sudah diantisipasi oleh dokter dengan vitamin, obat dsb. Namun kerusakan organ pada janin anak tetap terjadi.    

Air mataku mengalir deras, sungguh memiliki keturunan adalah sebuah titipan dari Allah. Layaknya harta, anak merupakan perhiasan dunia yang dapat memberikan orang tua kebahagiaan, kebanggan serta keindahan hidup di dunia (QS Al Kahfi: 46). Namun sebaliknya, anak juga bisa menjadi ujian atau fitnah bagi kedua orang tuanya.

Semoga dibalik rasa bahagia serta syukur sebagai Ibu. Allah mudahkan kita para Ibu untuk mendidik anak-anak untuk mencari ridho dan surga Allah. Aamiin..  *Putri Eka Sari, Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar