Kamis, 30 April 2026

Antologi 21 : Perempuan yang Berani Berkata Tidak (Yang Tak Terucap, Alineaku Apr26)

Perempuan yang Berani Berkata Tidak

Putri Eka Sari


Buku Antologi : Yang Tak Terucap

"Sayang.. Bisa pinjamkan Aku uang lagi? Aku ingin interview dan butuh uang pelicin agar lolos tes” Desak Mas Bimo kepadaku.

“Lagi??” Tanyaku sambil menatap matanya yang coklat bening, lama. Bulu mata lentik dan rupanya yang menawan tentu mampu meluluh lantakkan banyak hati perempuan. Entah berapa banyak wanita yang mungkin bertekuk lutut dihadapannya.

Aku menatap ke dalam mata itu, berharap Tuhan memberiku jawaban. Atas ragu, sesuatu yang berdesir dalam hatiku yang tak bisa dimengerti. Pernyataan Mas Bimo tadi membuat mataku yang mengantuk tertiup angin danau yang sepoi-sepoi seolah disentak dan ditarik kelopaknya, mataku membelalak.

Tak tau mengapa angin danau yang sejuk, sinar mentari senja yang teduh tak bisa menenangkan perasaanku yang tak enak. Tetiba terlintas pikiran aneh menelusup, Ah pantas saja tadi Mas Bim mengajakku ke Danau yang terkenal romantis bagi beberapa pasangan.

“Bukankah yang lalu saja 2juta belum Kembali mas? masa sekarang lagi?” Tanyaku menyelidik, di tahun kedua hubungan kami yang seperti jalan ditempat.

“Lalu bagaimana dengan interview sebelumnya mas? Apakah berhasil?” Cecarku dengan berbagai pertanyaan kepada Mas Bimo, seseorang yang kuanggap kekasih.  

“Masa kamu ga percaya kalau sudah lolos tes akan ku kembalikan de? bahkan lebih”Jawabnya sambil menatap dan meremas tanganku, seolah ingin meyakinkan, agar Aku mempercayai tiap kata-katanya.

”Ini berarti kali kedua Mas, apakah tak ada pekerjaan yang tak perlu pakai pelicin segala?” Ucapku sambil berpikir, karena jika Aku meminjamkan uang. Tentu setelahnya Aku yang harus berhemat selama satu bulan ke depan. Maklumlah gaji UMR, tentu harus bijak mengelola keuangan.

”Kamu kan tau, saat ini sulit mencari pekerjaan jika tak punya koneksi, maka uang pelicin itu dibutuhkan”Lanjut mas Bimo lagi.

“Anggap saja pelicin itu nanti untuk Tabungan pernikahan kita de” Pungkasnya ringan, seakan-akan Aku terlalu perhitungan kepadanya yang sedang berusaha menata masa depan kami.

Aku hanya menunduk, diam. Berusaha berdalih, mencari kata-kata untuk menyanggahnya yang menyebut pernikahan. Sebuah kata manis yang tentu saja menjadi impian banyak Perempuan. Menikah dengan pria pujaaan tentu menjadi tujuan masa depan di salah satu fase hidup.

Perempuan mana yang sudah dalam usia matang sepertiku begini, tak menginginkan pernikahan, batinku.

Bahkan perempuan sebayaku sudah beberapa menggendong anak, tak terhitung teman-teman kecil yang sebaya sudah beranak dua. Tapi Aku, masih saja merasa betah sendiri, karena menurut orang tuaku, sifat diri ini yang begitu selektif, pemilih.

Sementara kedua orangtuaku begitu takut jika anaknya disebut perawan tua, dicap tak laku oleh tetangga di kampung. Astaghfirullah, Aku beristighfar dalam hati.

Tapi, salahkah jika aku memilih untuk masa depan yang lebih baik? Pertanyaan itu entah mengapa terus hinggap di kepalaku.

Hal yang mungkin lumrah bagi perempuan terutama yang sudah cukup matang sepertiku. Jika memiliki sifat yang perasa, sensitive, dan didasari dengan insting. Sesuatu yang merupakan anugerah dari Allah untuk hambanya, Perempuan.

Meski perempuan mungkin mudah takluk oleh cinta, seperti banyak digambarkan dengan lagu-lagu. Sentuhlah ia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan sepenuh jiwa, buat hatinya terbang melayang.

Hal yang menggambarkan seolah hati, perasaan perempuan mudah ditaklukan, dan sering dieksploitasi lebih dalam oleh orang lain. Dalam beberapa cerita yang kujalani di kehidupan sehari-hari pun demikian.

Beberapa Perempuan yang ku kenal menjadi bucin, budak cinta oleh pasangannya sendiri. Ia seolah diperas habis kekuatan, dan kasih sayangnya. Seolah cintanya dimanfaatkan oleh orang lain.

Dan kini kisah pemanfaatan, eksploitasi perempuan ini khususnya oleh laki-laki yang sering disebut Mokondo, modal K***** doang. Aku bergidik ngeri ketika mendengar tanda Red Flag itu muncul.

Entah mengapa, sekelebat bayangan sahabatku, Maria hadir di kepalaku. Ia menangis sesenggukan bercerita tentang suaminya yang tidak mau bekerja. Lebih senang di rumah saja, main games atau judi online.

Jika Maria menuntut nafkah, suaminya akan memberi uang, berdalih itu hasil menang judi. Namun kenyataannya, ternyata uang itu didapatkan dari pinjaman online.

Dan tentu saja Maria harus melunasinya ketika rombongan debt collector berkali datang ke rumah orang tua tempat mereka menumpang tinggal. Para penagih menuntut pinjaman dilunasi dengan berbagai ancaman, agar uang dikembalikan.

Dan Maria terpaksa harus bekerja lebih keras dari biasanya, pontang panting kesana-kemari gali lobang tutup lobang. Sambil meratapi dan menerima kelakuan sang suami, berusaha berlapang dada.

Ah kehidupan pernikahan memang begitu rumit. Pantas saja jika banyak orang berkata bahwa pernikahan adalah ibadah yang panjang dan sangat lama. Maka tak jarang, banyak orang yang terpenjara akan pernikahannya sendiri.

Meskipun ada juga kisah beberapa teman yang memiliki keberhasilan serta kebahagiaan dalam pernikahannya. Suami yang bertanggung jawab dan menyayangi, anak-anak yang sehat serta sholih-sholihat. Tentu merupakan takdir baik yang menjadi impian tiap perempuan.

Nah sebuah kisah tadi adalah cerita tentang seorang yang berani berkata tidak, kepada hal yang mungkin mengganjal dalam hati. Keburukan, kemungkaran yang terselubung oleh kata-kata manis, bujuk rayuan. Semoga kita dan anak-anak kita dijauhkan dari yang demikian. Putri Eka Sari, Mar26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar