Perempuan yang Berani Berkata Tidak
Putri Eka Sari
"Sayang.. Bisa pinjamkan Aku uang lagi? Aku ingin interview dan butuh uang pelicin agar lolos tes” Desak Mas Bimo kepadaku.
“Lagi??” Tanyaku
sambil menatap matanya yang coklat bening, lama. Bulu mata lentik dan rupanya
yang menawan tentu mampu meluluh lantakkan banyak hati perempuan. Entah berapa
banyak wanita yang mungkin bertekuk lutut dihadapannya.
Aku
menatap ke dalam mata itu, berharap Tuhan memberiku jawaban. Atas ragu, sesuatu
yang berdesir dalam hatiku yang tak bisa dimengerti. Pernyataan Mas Bimo tadi membuat
mataku yang mengantuk tertiup angin danau yang sepoi-sepoi seolah disentak dan
ditarik kelopaknya, mataku membelalak.
Tak tau mengapa
angin danau yang sejuk, sinar mentari senja yang teduh tak bisa menenangkan perasaanku
yang tak enak. Tetiba terlintas pikiran aneh menelusup, Ah pantas saja tadi Mas
Bim mengajakku ke Danau yang terkenal romantis bagi beberapa pasangan.
“Bukankah
yang lalu saja 2juta belum Kembali mas? masa sekarang lagi?” Tanyaku menyelidik,
di tahun kedua hubungan kami yang seperti jalan ditempat.
“Lalu
bagaimana dengan interview sebelumnya mas? Apakah berhasil?” Cecarku dengan
berbagai pertanyaan kepada Mas Bimo, seseorang yang kuanggap kekasih.
“Masa
kamu ga percaya kalau sudah lolos tes akan ku kembalikan de? bahkan
lebih”Jawabnya sambil menatap dan meremas tanganku, seolah ingin meyakinkan,
agar Aku mempercayai tiap kata-katanya.
”Ini
berarti kali kedua Mas, apakah tak ada pekerjaan yang tak perlu pakai pelicin
segala?” Ucapku sambil berpikir, karena jika Aku meminjamkan uang. Tentu setelahnya
Aku yang harus berhemat selama satu bulan ke depan. Maklumlah gaji UMR, tentu
harus bijak mengelola keuangan.
”Kamu kan
tau, saat ini sulit mencari pekerjaan jika tak punya koneksi, maka uang pelicin
itu dibutuhkan”Lanjut mas Bimo lagi.
“Anggap
saja pelicin itu nanti untuk Tabungan pernikahan kita de” Pungkasnya ringan,
seakan-akan Aku terlalu perhitungan kepadanya yang sedang berusaha menata masa
depan kami.
Aku hanya
menunduk, diam. Berusaha berdalih, mencari kata-kata untuk menyanggahnya yang
menyebut pernikahan. Sebuah kata manis yang tentu saja menjadi impian banyak
Perempuan. Menikah dengan pria pujaaan tentu menjadi tujuan masa depan di salah
satu fase hidup.
Perempuan
mana yang sudah dalam usia matang sepertiku begini, tak menginginkan pernikahan, batinku.
Bahkan perempuan
sebayaku sudah beberapa menggendong anak, tak terhitung teman-teman kecil yang sebaya
sudah beranak dua. Tapi Aku, masih saja merasa betah sendiri, karena menurut
orang tuaku, sifat diri ini yang begitu selektif, pemilih.
Sementara
kedua orangtuaku begitu takut jika anaknya disebut perawan tua, dicap
tak laku oleh tetangga di kampung. Astaghfirullah, Aku beristighfar dalam hati.
Tapi,
salahkah jika aku memilih untuk masa depan yang lebih baik? Pertanyaan itu entah
mengapa terus hinggap di kepalaku.
Hal yang
mungkin lumrah bagi perempuan terutama yang sudah cukup matang sepertiku. Jika
memiliki sifat yang perasa, sensitive, dan didasari dengan insting. Sesuatu
yang merupakan anugerah dari Allah untuk hambanya, Perempuan.
Meski
perempuan mungkin mudah takluk oleh cinta, seperti banyak digambarkan dengan
lagu-lagu. Sentuhlah ia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya.
Sentuh dengan sepenuh jiwa, buat hatinya terbang melayang.
Hal yang
menggambarkan seolah hati, perasaan perempuan mudah ditaklukan, dan sering
dieksploitasi lebih dalam oleh orang lain. Dalam beberapa cerita yang kujalani
di kehidupan sehari-hari pun demikian.
Beberapa
Perempuan yang ku kenal menjadi bucin, budak cinta oleh pasangannya
sendiri. Ia seolah diperas habis kekuatan, dan kasih sayangnya. Seolah cintanya
dimanfaatkan oleh orang lain.
Dan kini
kisah pemanfaatan, eksploitasi perempuan ini khususnya oleh laki-laki yang
sering disebut Mokondo, modal K***** doang. Aku bergidik ngeri ketika
mendengar tanda Red Flag itu muncul.
Entah
mengapa, sekelebat bayangan sahabatku, Maria hadir di kepalaku. Ia menangis
sesenggukan bercerita tentang suaminya yang tidak mau bekerja. Lebih senang di rumah saja, main games
atau judi online.
Jika
Maria menuntut nafkah, suaminya akan memberi uang, berdalih itu hasil menang
judi. Namun kenyataannya, ternyata uang itu didapatkan dari pinjaman online.
Dan tentu
saja Maria harus melunasinya ketika rombongan debt collector berkali datang ke
rumah orang tua tempat mereka menumpang tinggal. Para penagih menuntut pinjaman
dilunasi dengan berbagai ancaman, agar uang dikembalikan.
Dan Maria
terpaksa harus bekerja lebih keras dari biasanya, pontang panting kesana-kemari
gali lobang tutup lobang. Sambil meratapi dan menerima kelakuan sang suami,
berusaha berlapang dada.
Ah
kehidupan pernikahan memang begitu rumit. Pantas saja jika banyak orang berkata
bahwa pernikahan adalah ibadah yang panjang dan sangat lama. Maka tak jarang,
banyak orang yang terpenjara akan pernikahannya sendiri.
Meskipun
ada juga kisah beberapa teman yang memiliki keberhasilan serta kebahagiaan
dalam pernikahannya. Suami yang bertanggung
jawab dan menyayangi, anak-anak yang sehat serta sholih-sholihat. Tentu
merupakan takdir baik yang menjadi impian tiap perempuan.
Nah sebuah kisah tadi adalah
cerita tentang seorang yang berani berkata tidak, kepada hal yang mungkin
mengganjal dalam hati. Keburukan,
kemungkaran yang terselubung oleh kata-kata manis, bujuk rayuan. Semoga kita
dan anak-anak kita dijauhkan dari yang demikian. Putri Eka Sari, Mar26

Tidak ada komentar:
Posting Komentar