Biar Hanya Tuhan yang Tau
Putri Eka Sari
Buku Antalogi : Lara dalam Hening
"Neng.. jangan bengong, entar kesambet jin lho..”Kata Tukang ketoprak menegurku sambil tertawa, tangannya menyodorkan piring di hadapanku, berisi ketoprak lengkap beserta telur dan kerupuknya.
“Hehe iya
Bang..”Jawabku perlahan, sekenanya, pikiranku berkecamuk. Tubuhku yang terasa
begitu lelah, seolah ada disini, tapi jiwaku kosong, entah tertinggal dimana.
“Lagi
banyak pikiran ya Neng? Mukanya kucel gitu?” Tanya si Abang ketoprak, kepo.
Pandangannya menyelidik.
“Hehe Ga
kok Bang, ngantuk dan lagi capek aja”Jawabku asal, sambil berusaha makan
secepatnya. Berharap setelahnya tidak ditanya-tanya lagi oleh si Abang
ketoprak.
Entah
mengapa rasanya begitu kesal jika ditanya-tanya oleh orang tak dikenal terutama
tentang sesuatu yang sifatnya pribadi. Sedangkan kepada orang yang dikenal saja
Aku malas untuk bercerita.
Bagiku
yang introvert, sulit untuk berbicara terbuka kepada orang lain. Meski itu
teman, saudara, mereka semua biasa ku sebut netizen. Yang seringnya terlalu
ingin tahu dengan kehidupan pribadi orang lain.
Kemudian berkomentar
dan hanya bisa menjudge, menghakimi saja jika tidak sesuai dengan jalan
pikiraannya. Sangat jarang orang yang setelah mengetahui masalah orang lain,
benar-benar berempati, berusaha menghargai dan memandang dengan penuh kasih
dari sudut yang lain.
Sehingga
kadang komentar netizen hanya mengacaukan batin dan pikiran, menyulut rasa
kesal di dad. Serta menambah luka, perih, bahkan bisa memicu pertengkaran jika
pikiran tak sejalan.
Mereka
pun tak bisa memberi jawaban yang tepat, hanya sekedar penghiburan semata. Kata
dan motivasi hanya sekadarnya, tanpa bisa membantu pendampingan yang utuh
hingga ke dalam jiwa yang lelah. Wajar saja, mungkin karena mereka pun tentu
juga memiliki masalah lain juga, hingga hanya bisa membantuku sekenanya.
Padahal masalah
yang ku hadapi pun begitu kompleks, mulai dari divonis penyakit, keluarga yang
kurang harmonis, pekerjaan yang sedang kurang lancar. Kehidupan percintaan yang
tidak berjalan mulus, ataupun beban lain yang rasanya malas untuk dibagikan
kepada orang lain.
Karena
seringnya jika dishare, atau diceritakan malah dinilai tidak cakap
menjalankan pekerjaan, atau bahkan dianggap kurang bersyukur. Maka, biarlah masalah
yang ada itu menjadi privasi, rahasia.
Sebab ada
hal yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain karena malu, khawatir malah
menimbulkan gosip di belakangku, sehingga inginnya malah ditutup rapat. Khawatir
nanti malah mengumbar aib diri, keluarga atau atasan di kantor.
Meski
rasanya lelah untuk menyimpan beban itu sendirian. Namun jika diceritakan
kepada para ahli pun, misalnya kepada psikiater, tentu Aku tak punya uang lebih
untuk membayarnya. Maka menelan semua hal pahit dalam hidup adalah ku anggap
sebuah kebijaksanaan.
Kupikir,
tak semua luka harus disuarakan. Kadang kita hanya butuh menangis sendirian di
pojokan. Setelah bosan menangis, diri akan berusaha bersikap tak acuh lagi pada
dunia.
Atau
hidup sebenarnya hanya butuh penerimaan atas takdir yang telah Allah gariskan, sendirian.
Sambil sesekali hanya berkaca, introspeksi dalam diam atau di keheningan yang
sunyi.
Dalam
kesendirian, Aku belajar untuk menerima tanpa banyak bicara dan berisik. Meski
kadang diam meresahkan, namun juga terkadang menguatkan. Karena diri tak ingin bagai
tong kosong yang nyaring sekali bunyinya.
Misalnya dengan
mengumbar di media sosial, seolah ingin didengar, dikasihani sejagat raya.
Hingga mengundang perhatian dan jadi viral, terkenal.
Padahal
diluar sana ada yang nasibnya lebih parah tapi tak berisik, tak sibuk ingin diakui,
divalidasi. Namun malah belajar bersembunyi, dengan tenang dan berusaha dewasa,
meski harus memendam perih dan luka.
Tapi
dalam diam sibuk menemukan penawar luka. Meyembuhkan diri dan bangkit tanpa riuh, tanpa sorak sorai dan tepuk
tangan.
Karena
kita hanya perlu berlari kepada Allah, tempat terbaik untuk mengadu. Hanya
Allah yang mendengarkan, meski kita berteriak, mengangis dengan
terguling-guling.
Menghalau
ketakutan yang melanda. Dan bismillah.. Aku melangkah maju sendirian, tanpa perlu
terlalu berharap berlebihan pada suami, ataupun membebani orangtua.
Aku
khawatir, jika suami mengetahui ia akan menjadi khawatir akan kesehatanku.
Padahal toh Aku yang akan menjalani semua ini, bukan orang lain. Aku lah yang
harus berusaha menguatkan hati, menerima apapun ketentuan, takdir yang Allah
akan gariskan.
Dari
berbagai momen dalam hidup ini, Aku belajar tentang pentingnya berserah kepada
Allah. Mengantungkan segala harapan hanya kepadaNya.
Lewat berbagai
masalah dalam, Allah mungkin menyentilku, untuk lebih mendekatkan diri kembali
kepadaNya. Serta bermuhasabah, introspeksi diri atas segala hal yang pernah ku
lakukan. Sebagai hamba yang sering lupa, banyak dosa dan lalai akan
perintahNya.
Problematika
hidup sebuah alarm, reminder, bahwa Aku seseungguhnya bukan siapa-siapa.
Tak ada yang bisa disombongkan di dunia atas apa yang ku punya.
Aku
begitu kerdil dan mengharap kebaikan dari Allah Sang maha. Semoga masih ada
kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik di masa depan.
Sakit,
masalah rumah tangga, pekerjaan tentu menjadi ujian, namun untuk menaikkan
derajat diri kita.
Aku
yakin, dibalik sakit dan masalah yang sedang dihadapi pasti ada kemudahan lain
yang menyertainya. Seperti janji Allah, Sesungguhnya dibalik kesulitan ada
kemudahan (QS Al Insyirah 5-6). Putri Eka Sari, Feb26

Tidak ada komentar:
Posting Komentar