Kamis, 30 April 2026

Antologi 20 : Biar Hanya Tuhan Yang Tau (Lara dalam Hening, Alineaku Apr26)

 Biar Hanya Tuhan yang Tau

Putri Eka Sari

Buku Antalogi : Lara dalam Hening

"Neng.. jangan bengong, entar kesambet jin lho..”Kata Tukang ketoprak menegurku sambil tertawa, tangannya menyodorkan piring di hadapanku, berisi ketoprak lengkap beserta telur dan kerupuknya.

“Hehe iya Bang..”Jawabku perlahan, sekenanya, pikiranku berkecamuk. Tubuhku yang terasa begitu lelah, seolah ada disini, tapi jiwaku kosong, entah tertinggal dimana.

“Lagi banyak pikiran ya Neng? Mukanya kucel gitu?” Tanya si Abang ketoprak, kepo. Pandangannya menyelidik.

“Hehe Ga kok Bang, ngantuk dan lagi capek aja”Jawabku asal, sambil berusaha makan secepatnya. Berharap setelahnya tidak ditanya-tanya lagi oleh si Abang ketoprak.

Entah mengapa rasanya begitu kesal jika ditanya-tanya oleh orang tak dikenal terutama tentang sesuatu yang sifatnya pribadi. Sedangkan kepada orang yang dikenal saja Aku malas untuk bercerita.

Bagiku yang introvert, sulit untuk berbicara terbuka kepada orang lain. Meski itu teman, saudara, mereka semua biasa ku sebut netizen. Yang seringnya terlalu ingin tahu dengan kehidupan pribadi orang lain.

Kemudian berkomentar dan hanya bisa menjudge, menghakimi saja jika tidak sesuai dengan jalan pikiraannya. Sangat jarang orang yang setelah mengetahui masalah orang lain, benar-benar berempati, berusaha menghargai dan memandang dengan penuh kasih dari sudut yang lain.

Sehingga kadang komentar netizen hanya mengacaukan batin dan pikiran, menyulut rasa kesal di dad. Serta menambah luka, perih, bahkan bisa memicu pertengkaran jika pikiran tak sejalan.

Mereka pun tak bisa memberi jawaban yang tepat, hanya sekedar penghiburan semata. Kata dan motivasi hanya sekadarnya, tanpa bisa membantu pendampingan yang utuh hingga ke dalam jiwa yang lelah. Wajar saja, mungkin karena mereka pun tentu juga memiliki masalah lain juga, hingga hanya bisa membantuku sekenanya.

Padahal masalah yang ku hadapi pun begitu kompleks, mulai dari divonis penyakit, keluarga yang kurang harmonis, pekerjaan yang sedang kurang lancar. Kehidupan percintaan yang tidak berjalan mulus, ataupun beban lain yang rasanya malas untuk dibagikan kepada orang lain.

Karena seringnya jika dishare, atau diceritakan malah dinilai tidak cakap menjalankan pekerjaan, atau bahkan dianggap kurang bersyukur. Maka, biarlah masalah yang ada itu menjadi privasi, rahasia.

Sebab ada hal yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain karena malu, khawatir malah menimbulkan gosip di belakangku, sehingga inginnya malah ditutup rapat. Khawatir nanti malah mengumbar aib diri, keluarga atau atasan di kantor.

Meski rasanya lelah untuk menyimpan beban itu sendirian. Namun jika diceritakan kepada para ahli pun, misalnya kepada psikiater, tentu Aku tak punya uang lebih untuk membayarnya. Maka menelan semua hal pahit dalam hidup adalah ku anggap sebuah kebijaksanaan.

Kupikir, tak semua luka harus disuarakan. Kadang kita hanya butuh menangis sendirian di pojokan. Setelah bosan menangis, diri akan berusaha bersikap tak acuh lagi pada dunia.  

Atau hidup sebenarnya hanya butuh penerimaan atas takdir yang telah Allah gariskan, sendirian. Sambil sesekali hanya berkaca, introspeksi dalam diam atau di keheningan yang sunyi.

Dalam kesendirian, Aku belajar untuk menerima tanpa banyak bicara dan berisik. Meski kadang diam meresahkan, namun juga terkadang menguatkan. Karena diri tak ingin bagai tong kosong yang nyaring sekali bunyinya.

Misalnya dengan mengumbar di media sosial, seolah ingin didengar, dikasihani sejagat raya. Hingga mengundang perhatian dan jadi viral, terkenal.

Padahal diluar sana ada yang nasibnya lebih parah tapi tak berisik, tak sibuk ingin diakui, divalidasi. Namun malah belajar bersembunyi, dengan tenang dan berusaha dewasa, meski harus memendam perih dan luka.

Tapi dalam diam sibuk menemukan penawar luka. Meyembuhkan diri dan bangkit  tanpa riuh, tanpa sorak sorai dan tepuk tangan.

Karena kita hanya perlu berlari kepada Allah, tempat terbaik untuk mengadu. Hanya Allah yang mendengarkan, meski kita berteriak, mengangis dengan terguling-guling.

Menghalau ketakutan yang melanda. Dan bismillah.. Aku melangkah maju sendirian, tanpa perlu terlalu berharap berlebihan pada suami, ataupun membebani orangtua.

Aku khawatir, jika suami mengetahui ia akan menjadi khawatir akan kesehatanku. Padahal toh Aku yang akan menjalani semua ini, bukan orang lain. Aku lah yang harus berusaha menguatkan hati, menerima apapun ketentuan, takdir yang Allah akan gariskan.

Dari berbagai momen dalam hidup ini, Aku belajar tentang pentingnya berserah kepada Allah. Mengantungkan segala harapan hanya kepadaNya.

Lewat berbagai masalah dalam, Allah mungkin menyentilku, untuk lebih mendekatkan diri kembali kepadaNya. Serta bermuhasabah, introspeksi diri atas segala hal yang pernah ku lakukan. Sebagai hamba yang sering lupa, banyak dosa dan lalai akan perintahNya.

Problematika hidup sebuah alarm, reminder, bahwa Aku seseungguhnya bukan siapa-siapa. Tak ada yang bisa disombongkan di dunia atas apa yang ku punya.

Aku begitu kerdil dan mengharap kebaikan dari Allah Sang maha. Semoga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik di masa depan.

Sakit, masalah rumah tangga, pekerjaan tentu menjadi ujian, namun untuk menaikkan derajat diri kita.                     

Aku yakin, dibalik sakit dan masalah yang sedang dihadapi pasti ada kemudahan lain yang menyertainya. Seperti janji Allah, Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan (QS Al Insyirah 5-6).  Putri Eka Sari, Feb26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar