Kamis, 30 April 2026

Antologi 19 : Bersyukur di saat Senang dan Sedih (Perjalanan Menemukan Tuhan, Alineaku Apr26)

 Bersyukur di saat Senang dan Sedih

Putri Eka Sari


Buku Antologi : Perjalanan Menemukan Tuhan

Aku tersenyum dalam hati di pojok ruangan mushola. Senyum bahagia, meski keadaan di luar dingin, penuh nuansa putih, namun pemandangannya cantik penuh salju. Hatiku diliputi takjub, hingga tak berhenti berdesir kegirangan, saat tanganku merasakan salju pertama yang Allah ciptakan.

Salju di Pulau Nami, Korea Selatan. Yang biasanya hanya bisa kusaksikan di film (drama Korea) atau medsos. Terutama begitu hits di film Winter Sonata (2002), film Korea bergenre romantis.

Salju yang biasanya sering kudengar sekilas dari cerita teman yang sudah pernah ke negara empat musim. Kini terhampar luas menutupi seluruh bagian pulau ini kala winter, musim dingin tiba.   

Sebelumnya di Jakarta Aku pernah merasakan salju buatan di salah satu mall di Bekasi. Dan sensasinya kini terasa berbeda, saat ku genggam salju asli yang Allah turunkan dari langit, dan Ia izinkan untuk ku saksikan secara nyata.

keningku menyentuh  sajadah, lama sekali. Ada getar damai, seolah otak berubah frekuensi. Masuk ke dimensi lain, saat diri berada dalam posisi terendah, mendekat ke tanah.

Aku bersujud padaMu ya Allah.. dalam keadaan penuh syukur, gembira atas rahmat, kebaikan yang Engkau berikan.

Setelah sebelum-sebelumnya Aku mungkin bersujud dalam kondisi hati yang compang camping. Sujud dengan posisi berserah, berharap beban di bahu pun seolah berjatuhan satu persatu, setelah memberatkan pundak sekian lama.

Terbayang semua kejadian beberapa tahun belakangan, yang berkelebatan silih berganti. Ujian menghantam tak kenal ampun, mulai dari sakit, keadaan ekonomi yang sulit, hambatan pekerjaan, bentrok dengan keluarga, konflik pasangan ataupun teman.

Masalah bertubi-tubi yang menghantam mebuatku ciut, tak punya nyali. Berat, dan rasanya ingin menyerah.

Kini Aku paham, pertolongan Allah itu nyata jika kita meyakininya. Berprasangka terbaik kepadanya adalah jalan untuk terus bertahan. Mungkin bagi sebagian orang lain memilih untuk mengakhiri hidupnya. Karena mengalami kebuntuan, tak ada jalan keluar.

Beragam pertanyaan yang sebelumnya juga hadir dalam diriku. Kenapa, mengapa harus Aku yang mengalami, dan terus ku tanyakan dalam lisan yang berbisik saat hidung mencium sajadah, bersujud pada yang Maha. Kata meluap, membuncahkan isi hati yang sesak, tertuju kepada Allah Sang pencipta, yang bertahun kini baru terjawab.

Aku galau, kecewa, rapuh dan tak tau kemana jalan pulang ya Allah.. Ku mohon, bimbinglah Aku.. Jangan biarkan Aku begitu patah dan tak bisa berpikir jernih, ucap bibir lirih kala itu.

Air mata pun menetes deras  layaknya hujan. Ku biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah, saat ini penuh dengan rasa syukur.

Setelah sebelumnya penuh dengan sesi menangis, dan berserah. Fragmen curhat panjang pada Allah yang paling ku tunggu saat tengah malam. Karena tanpa pura-pura, basa-basi, dan judgement (penghakiman) dari orang lain.

Lewat uraian air mata dan banyaknya ratap dalam harapan, Ku akui kelemahan dan mengharap kekuatan dari Sang pencipta.

Malam yang sebelumnya menjadi saksi bisu tentang kegundahan yang merajalela, tentang ketakutan akan aib, masa lalu yang buruk. Atau masa depan yang belum nampak seperti apa. Dan sering diliputi beragam pertanyaan.

Ya Rab.. Bisakah esok menjadi cerah seperti inginku? Pantaskah Aku yang penuh dosa ini meghiba padaMu? Bolehkah aku berharap mendapatkan cahaya?

Diri yang biasanya bermunajat dengan pilu, meminta kekuatan, kemudahan meski rasanya masalah menghujam hingga Aku bahkan tak kuat untuk berdiri, menegakkan langkah kaki dan menatap masa depan.

Kini, Aku berdiri di sini pada sebuah pulau di Korea Selatan yang diidamkan banyak orang untuk bisa berkunjung ksini. Aku berdiri dari sujud, di tempat asing jauh dari tanah kelahiran. Seolah Allah berkata padaku, inilah buah dari kesabaranmu. Hal yang selalu Ku pertanyakan dalam diam atas kuasaNya.

Aku larut dalam isak, ya Rabb ampuni Aku.. Tenggorokan tercekat, kala lafadz surat Al Fatihah ayat 6 mengalir dari bibir, Aku mengejanya dengan terbata-bata.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, Ya Allah.. ku pahami lagi ayat itu, segenap jiwa mengeja lalu mengiba. Ya Tuhanku, bimbinglah diri yang banyak khilaf ini. Aku memohon petunjuk Allah untuk kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik.

Menyadari sepenuhnya, bahwa segala yang kualami sebelumnya adalah ujian yang terbaik untuk menguatkan mentalku. Ya Rabb, kini Aku paham, ujian itu ternyata agar Aku naik kelas, menjadi level (derajat) yang berbeda. Kini Aku mengerti tentang hikmah dan kebaikan yang lebih baik yang akan Kau ganti, meski mungkin tak sesuai ingnku, tetapi sesuai yang kubutuhkan.

Begitu pula dengan pelaut yang kuat jika menghadapi banyaknya ombak, pilot yang hebat menghadapi banyaknya turbulence.

Ku yakin, bahkan sekedar daun yang jatuh, angin yang berhembus. Semua hal sudah Kau gariskan takdirnya.

Ya.. Talk to Allah lewat zikir, mengeja kebesaran namaNya. Doa panjang atau sujud lama yang mendekatkan jarak antara dirimu dan Sang pencipta. Yang mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik, sehingga bisa berpikir lebih jernih. 

Di sini, Aku pun bersyukur akan berbagai keadaan yang Allah hadirkan dalam hidupku. Terimakasih ya Allah, karena Engkau menguatkan jiwaku, untuk tetap tegar, tak kalah oleh keadaan.

*Putri Eka Sari, Nami Island-Korea Selatan, Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar