Bersyukur di saat Senang dan Sedih
Putri Eka Sari
Aku tersenyum dalam hati di pojok ruangan mushola. Senyum bahagia, meski keadaan di luar dingin, penuh nuansa putih, namun pemandangannya cantik penuh salju. Hatiku diliputi takjub, hingga tak berhenti berdesir kegirangan, saat tanganku merasakan salju pertama yang Allah ciptakan.
Salju di
Pulau Nami, Korea Selatan. Yang biasanya hanya bisa kusaksikan di film (drama
Korea) atau medsos. Terutama begitu hits di film Winter Sonata (2002), film
Korea bergenre romantis.
Salju
yang biasanya sering kudengar sekilas dari cerita teman yang sudah pernah ke
negara empat musim. Kini terhampar luas menutupi seluruh bagian pulau ini kala
winter, musim dingin tiba.
Sebelumnya
di Jakarta Aku pernah merasakan salju buatan di salah satu mall di Bekasi. Dan
sensasinya kini terasa berbeda, saat ku genggam salju asli yang Allah turunkan
dari langit, dan Ia izinkan untuk ku saksikan secara nyata.
keningku
menyentuh sajadah, lama sekali. Ada
getar damai, seolah otak berubah frekuensi. Masuk ke dimensi lain, saat diri
berada dalam posisi terendah, mendekat ke tanah.
Aku
bersujud padaMu ya Allah.. dalam keadaan penuh syukur, gembira atas rahmat,
kebaikan yang Engkau berikan.
Setelah
sebelum-sebelumnya Aku mungkin bersujud dalam kondisi hati yang compang camping.
Sujud dengan posisi berserah, berharap beban di bahu pun seolah berjatuhan satu
persatu, setelah memberatkan pundak sekian lama.
Terbayang
semua kejadian beberapa tahun belakangan, yang berkelebatan silih berganti.
Ujian menghantam tak kenal ampun, mulai dari sakit, keadaan ekonomi yang sulit,
hambatan pekerjaan, bentrok dengan keluarga, konflik pasangan ataupun teman.
Masalah
bertubi-tubi yang menghantam mebuatku ciut, tak punya nyali. Berat, dan rasanya
ingin menyerah.
Kini Aku
paham, pertolongan Allah itu nyata jika kita meyakininya. Berprasangka terbaik
kepadanya adalah jalan untuk terus bertahan. Mungkin bagi sebagian orang lain
memilih untuk mengakhiri hidupnya. Karena mengalami kebuntuan, tak ada jalan
keluar.
Beragam
pertanyaan yang sebelumnya juga hadir dalam diriku. Kenapa, mengapa harus Aku
yang mengalami, dan terus ku tanyakan dalam lisan yang berbisik saat hidung
mencium sajadah, bersujud pada yang Maha. Kata meluap, membuncahkan isi hati
yang sesak, tertuju kepada Allah Sang pencipta, yang bertahun kini baru terjawab.
Aku
galau, kecewa, rapuh dan tak tau kemana jalan pulang ya Allah.. Ku mohon,
bimbinglah Aku.. Jangan biarkan Aku begitu patah dan tak bisa berpikir jernih, ucap bibir lirih kala itu.
Air mata
pun menetes deras layaknya hujan. Ku
biarkan alirannya menganak sungai di mukena yang akhirnya basah, saat ini penuh
dengan rasa syukur.
Setelah
sebelumnya penuh dengan sesi menangis, dan berserah. Fragmen curhat panjang
pada Allah yang paling ku tunggu saat tengah malam. Karena tanpa pura-pura,
basa-basi, dan judgement (penghakiman) dari orang lain.
Lewat
uraian air mata dan banyaknya ratap dalam harapan, Ku akui kelemahan dan
mengharap kekuatan dari Sang pencipta.
Malam yang
sebelumnya menjadi saksi bisu tentang kegundahan yang merajalela, tentang
ketakutan akan aib, masa lalu yang buruk. Atau masa depan yang belum nampak
seperti apa. Dan sering diliputi beragam pertanyaan.
Ya Rab.. Bisakah
esok menjadi cerah seperti inginku? Pantaskah Aku yang penuh dosa ini meghiba
padaMu? Bolehkah aku berharap mendapatkan cahaya?
Diri yang
biasanya bermunajat dengan pilu, meminta kekuatan, kemudahan meski rasanya
masalah menghujam hingga Aku bahkan tak kuat untuk berdiri, menegakkan langkah
kaki dan menatap masa depan.
Kini, Aku
berdiri di sini pada sebuah pulau di Korea Selatan yang diidamkan banyak orang
untuk bisa berkunjung ksini. Aku berdiri dari sujud, di tempat asing jauh dari
tanah kelahiran. Seolah Allah berkata padaku, inilah buah dari kesabaranmu. Hal
yang selalu Ku pertanyakan dalam diam atas kuasaNya.
Aku larut
dalam isak, ya Rabb ampuni Aku.. Tenggorokan tercekat, kala lafadz surat Al
Fatihah ayat 6 mengalir dari bibir, Aku mengejanya dengan terbata-bata.
Tunjukilah
kami jalan yang lurus, Ya
Allah.. ku pahami lagi ayat itu, segenap jiwa mengeja lalu mengiba. Ya Tuhanku,
bimbinglah diri yang banyak khilaf ini. Aku memohon petunjuk Allah untuk
kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik.
Menyadari
sepenuhnya, bahwa segala yang kualami sebelumnya adalah ujian yang terbaik
untuk menguatkan mentalku. Ya Rabb, kini Aku paham, ujian itu ternyata agar Aku
naik kelas, menjadi level (derajat) yang berbeda. Kini Aku mengerti tentang
hikmah dan kebaikan yang lebih baik yang akan Kau ganti, meski mungkin tak
sesuai ingnku, tetapi sesuai yang kubutuhkan.
Begitu
pula dengan pelaut yang kuat jika menghadapi banyaknya ombak, pilot yang hebat
menghadapi banyaknya turbulence.
Ku yakin,
bahkan sekedar daun yang jatuh, angin yang berhembus. Semua hal sudah Kau
gariskan takdirnya.
Ya.. Talk to Allah lewat
zikir, mengeja kebesaran namaNya. Doa
panjang atau sujud lama yang mendekatkan jarak antara dirimu dan Sang pencipta.
Yang mungkin tak selalu membuatmu langsung menemukan jalan keluar. Tapi
lewatnya hatimu merasa tenang, tidak panik, sehingga bisa berpikir lebih jernih.
Di sini,
Aku pun bersyukur akan berbagai keadaan yang Allah hadirkan dalam hidupku. Terimakasih
ya Allah, karena Engkau menguatkan jiwaku, untuk tetap tegar, tak kalah oleh
keadaan.
*Putri Eka Sari, Nami Island-Korea
Selatan, Desember 2025


Tidak ada komentar:
Posting Komentar