Secangkir kopi, berjuta rasa
Putri
Eka Sari
Aku terpana memandang ramainya orang berlalu-lalang dari balik kaca Hoshino café, salah satu café di sisi sungai Dotonbori, Osaka-Jepang. Sambil menyeruput kopi latte hangat yang tersaji di meja. Dalam tiap tegukan, ada rasa syukur yang menyeruak dalam dada.
Alhamdulillah
Aku bisa sampai juga di Jepang- Negeri
Sakura, bisikku dalam hati. Tak terbayangkan dulu hanya melihat anime, kartun
saja di TV. Kini raga bisa berwisata di Negeri Doraemon ini.
Sesi me time ini terasa
semakin menyenangkan, karena tanpa deadline kerjaan kantor. Netraku pun kembali mengitari sekeliling, mengamati
para pelancong yang mengobrol. Bersisian dengan rombongan parade musik yang
melintas membelah Kanal Dotonbori, salah satu Sungai hits di Jepang ini. Orkestra
musik dengan perahu yang melintasi Sungai seperti ini mirip seperti layaknya di
Venice-Italia.
Di antara kopi dan gemerlap
Dotonbori, tak hentinya syukur menggema dalam hati. Daerah ini memang sangat
terkenal sebagai pusat hiburan dan surganya kuliner dan tempat belanja.
Jadi tak heran jika wilayah
ini ramai hampir 24jam. Terutama malam hari, pusat kehidupan malam begitu
gemerlap oleh cahaya lampu neon yang terang dari berbagai papan reklame 3D yang
ikonik dan sorot lampu dari Gedung sekitar, menambah semarak.
Sebelumnya Aku pun salah satu
orang yang ikut mengantri diantara banyaknya orang Indonesia yang ingin berkeliling
dan berswafoto dengan latar papan iklan Glico-Running Man, salah satu billboard
legendaris. Kabarnya belum Sah ke Osaka, jika belum mengabadikan foto di
sana.
Di Seberang café, Ku lihat
beberapa orang turis asyik menonton spiderman jalanan yang berakrobat di atas
sepeda, layaknya pengamen jalanan. Wah.. Hal yang juga sering ku lihat di sudut
lampu merah Jakarta ternyata ada juga di Jepang lho. Namun tampaknya di Jepang belum ku lihat
manusia silver, Hahaha.
Di tengah asyiknya melihat
keramaian, panggilan alam pun menuntunku ke WC. Sepertinya kombinasi udara
dingin dan kopi membuatku ingin buang air kecil alias beser.
Duk..
Aduh..
“Sumimasen..” Seorang pemuda
menabrakku yang tak memperhatikan Langkah saat terburu-buru.
Sambil mengatupkan tangan di
dada, Aku membalas dengan senyuman. Rasanya malu sekali, karena mataku tak
memperhatikan orang yang lewat dan tak sengaja menabraknya.
Namun lucunya, orang Jepang
memang terkenal sangat sopan. Hingga tak jarang mereka meminta maaf duluan,
meskipun orang lain, dalam hal ini Aku yang melakukan kesalahan.
Sebenarnya, tak terhitung
berapa kali Aku yang terantuk, tersandung tangga, lutut kejedot meja saat makan
di restoran Jepang. Pengelihatanku yang tak awas menyebabkan terkadang diri tak
bisa memperkirakan jarak dengan tepat, maka tak jarang ada saja bagian tubuh
yang sering benjol, tersandung, memar atau luka karena sering tersenggol
benda-benda di sekitar.
Di awal saat penglihatanku
bermasalah, sempat anxiety, galau. Bahkan depresi melanda dalam jiwa,
membayangkan masa depan yang sepertinya terasa suram dan tidak baik-baik saja,
Namun setelah 17 tahun lebih,
Aku mulai berdamai, bahkan bersahabat dengan penyakit Glaukoma ini. Nampaknya
keresahanku dahulu tentang penyakit yang menyebabkan kerusakan saraf pada mata ini
hanya kekhawatiran semata. Karena nyatanya Aku juga bisa berdikari, mandiri dan
menyelesaikan segala permasalahan tentang kekurangan di mataku, dan sadar bahwa
benar adanya.
Tuhan
memberi cobaan karena Ia Maha mengetahui, bahwa Aku mampu. Bisa melewati setiap proses dalam kehidupan
ini dengan baik. Namun Aku malah yang sering meragukan diri sendiri.
Sambil meneruskan tegukan kopi
latte dan mencicipi roti panggang, aku merenung Kembali tentang jalan hidup
yang telah Allah gariskan. Berkaca dan berintrospkesi ke dalam diri, sudah
sejauh mana perjalanan hidup yang ku tempuh kini. Adakah pelajaran yang bisa
kupetik?
Seketika Aku tersadar, bahwa
waktu begitu berharga. Setiap penglihatan yang ku miliki adalah kesempatan
untuk melihat dunia, ciptaan Allah yang indah.
Hidup harus dinikmati dan
disyukuri, tak patut untuk menyiakan waktu serta kesempatan yang ada. Adalah
sebuah anugerah, karunia yang harus diisi dengan penuh rasa syukur dan menjadi
manfaat untuk orang lain di sekitar. Apalagi jika diberikan hadiah dari Allah
seperti kali ini di Jepang. Untuk beribadah dengan berjalan-jalan di muka bumi
Allah yang luas.
Ku percaya bahwa di balik
kesulitanku pasti ada kemudahan. Sesuai dengan janji Allah dalam QS Al
Insyirah ayat 5.
Dengan kesulitan, kekurangan
yang Ku miliki, Allah berikan kemudahan lain dalam hidupku. Mengunjungi
beberapa Negara Impian yang ada dalam bucket listku menjadi sebuah
kenyataan dan bukan sebuah kemustahilan.
Kesadaran ini menghapus
berbagai pikiran negative yang kerap singgah. Membuatku menata hati kembali,
sehingga semakin berbaik sangka terhadup Rabb ku. Law of attaction (hukum
tarik menarik) tentu akan bekerja kepada semesta di sekitar kita.
Sambil menyesap aroma kopi yang menguar di
udara, pikiranku Kembali melayang. Rasa manis kopi mempresentasikan bayangan
diriku yang memiliki kekurangan ini pun ternyata bisa menjelajah tak hanya di
dalam Negeri. Tapi Allah izinkan untuk berkelana ke luar Negeri seperti Jepang,
Arab Saudi (Mekah-Madinah), Singapura dan Korea.
Dengan segala keterbatasan
yang kupunya, ternyata tak ada yang mustahil bagi Allah. Kun Fayakun,
Jika Allah berkehendak maka terjadilah.
Aku yang awalnya dahulu merasa
begitu lemah, tak berdaya karena kurangnya financial, memiliki kekurangan pada
mata. Namun dimampukan oleh Allah yang Maha Hebat.
Semoga kisah ini dapat menginspirasi teman-teman lain, bahwa jangan takut bermimpi, berdoa dan meletakkan keyakinan pada Allah yang Maha Besar. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya
-Putri Eka Sari, Sept26



