Bakti
oleh Putri Eka Sari
Kali ini, menu masakan yang
mama buat Adalah kesukaan Papa, rendang padang. Aku ingat, dahulu betapa Papa
menyukai makan rendang padang dengan kuah yang melimpah di nasi. Ia akan bisa
nambah nasi beberapa kali jika Mama memasak rendang.
Sambil menyuapi Papa, lamunanku melayang. Ah.. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, dahulu statusku adalah seorang anak yang disuapi oleh Papa makan. Kini berbalik, Aku lah yang meyuapinya.
Tanpa sadar sang anak pun berada
di fase hidup saat ini, menjadi tumpuan keluarga, sandwich generation. Seolah
diri terjepit di lapisan tengah antara orang tua dan mengasuh anak sendiri,
layaknya roti sandwich.
Dimana semua hal di hadapan adalah
tanggung jawab, yang menuntut harus dikerjakan dan ingin didahulukan. Duh..
Kepala rasanya penuh akan berbagai peran. Sebagai seorang anak, Ibu, istri,
pekerja dan juga menjadi individu.
Mungkin memang sudah takdirnya
di usia ini Aku tak hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri, Namun membantu memecahkan masalah orang lain di
sekitarku, alias bermanfaat.
Meski badan terasa Lelah, jiwa
terasa penat dengan beban yang bergelayut berat di pundak. Tapi sesuatu yang ku
yakini. Seperti kata sebuah Hadis: Sebaik-baik manusia adalah yang paling
bermanfaat bagi orang lain.
“Uhuk.. uhuk..” tiba-tiba Papa terbatuk pelan
sambil menyemburkan makanan ke arahku. Sepertinya ada sedikit daging yang
tersangkut di tenggorokannya. Semenjak mengalami stroke ke tiga kalinya, Papa
menjadi semakin kesulitan untuk menelan makanan dan minuman.
Menurut dokter ada gangguan di tenggorokan.
Penyakit stroke menyebabkan gerak peristaltik pada otot tenggorokan melemah.
Rasanya sedih melihat Papa
kesulitan untuk menelan. Padahal dahulunya Papa adalah orang yang sehat dan
kuat. Ia bisa kuat bekerja shift malam, dan baru akan pulang pukul 3 dini hari
ke rumah.
Papa yang tidak pandai bercerita akan
kelelahan atau kantuk yang mungkin Ia rasakan kala pulang pagi. Aku, Mama dan
adik-adik tidak pernah langsung bertanya padanya, apakah Ia Lelah menjalani
hidup. Ia pun tak pandai bicara, hanya citra berwibawa yang terkadang terasa
sangat otoriter di hadapan kami.
Mungkin hal ini dilatar
belakangi bahwa pada masa selepas penjajahan VOC, begitu banyak lelaki dewasa
lainnya di era Baby Boomers, dibesarkan di saat-saat sulit setelah perang
kemerdekaan. Maka sesulit apapun keadaanya, tentu laki-laki tak diizinkan menangis,
bersedih, meratap dan menjadi cengeng. Seolah perasaan mereka diredam
sedemikian rupa.
Yang ada laki-laki harus
berjuang, kuat bertahan dan terbiasa memendam apa yang dirasa dan diinginkan
dalam hati, Tanpa bisa banyak bercerita kepada orang lain, seolah laki-laki
yang terlalu banyak bicara merupakan sesuatu yang dianggap tabu.
Pengalaman kecil yang tidak
terlalu dekat dengan Papa mengingatkanku tentang sebuah cerita singkat di
sebuah platform media sosial. Di suatu tempat di luar negri, ada sebuah adat
yang mengharuskan anak membawa orang tua yang sudah lansia ke atas gunung dan
meninggalkannya disana, tanpa tempat tinggal.
Si anak hanya bertugas membawa
orang tuanya dan menaruhnya dengan membawa kebutuhan orang tua seadanya tanpa
memikirkan keadaan orang tuanya kelak seperti apa di atas gunung tersebut. Dan
orang tua pun hanya menangis ketika ditinggalkan, tanpa bisa menolak karena
sudah ketentuan adatnya. Aku hanya bergidik sedih membayangkannya.
Aku sendiri seperti merasa
kurang sreg jika sebagai anak menganggap bahwa memiliki tanggung jawab orang
tua seolah sebagai beban. Bagaimana tidak, rasanya begitu tak pantas jika kita
mengganggap kedua orang tua yang membesarkan anaknya dengan kasih sayang ketika
si anak kecil, malah dianggap sebagai "sesuatu yang meresahkan"
dan beban, ketika si anak telah tumbuh dewasa.
Benarlah kata pepatah, seorang
Ibu bisa merawat banyak anaknya, namun belum tentu banyak anak bisa merawat
seorang Ibu. Terasa sangat miris.
Namun pepatah tersebut
belakangan terasa benarnya, jika dikaitkan dengan kehidupan di era milenial
saat ini yang banyak orang ingin memiliki hidup praktis dan ekonomis. Jauh dari
segala "keribetan" nya. Karena tentu setiap orang sangat ingin hidup
nyaman dan enak. Jika perlu tanpa susah payah dan kesulitan.
Beberapa pendapat mengkaitkan
bahwa membantu keuangan orang tua tentu untuk yang memiliki ekonomi (keuangan)
yang cukup. Namun jika berpenghasilan pas-pasan, rasanya cukup berat untuk juga
menyangga ekonomi orang tuanya. Mungkin sudut pandang tersebut bisa saja
berlaku pada sebagian orang.
Beberapa orang berpegang teguh akan prinsip kemandirian hidupnya sendiri, dan sebagian lagi memiliki pandangan yang berbeda tentang hal ini. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan memandang segala aspek yang ada padanya. Karena hidup adalah pilihan, bagai dua sisi mata uang, yang di dalamnya terdapat konsekuensi dari pilihan yang diambil. Maka pilihlah sesuai hati nurani, bukan berdasarkan Ego diri.
Namun bagiku, selama ada niat dan keikhlasan untuk merawat orang tua, akan membawa keberkahan dalam hidup. Sesuai dengan keteladanan yang di contohkan dalam islam oleh Rasulullah dan orang shalih terdahulu yaitu birrul walidain (berbakti/ berbuat baik kepada orang tua).
Hal ini pun terdapat dalam
beberapa hadist Rasulullah, bahwa Allah akan memberikan umur yang panjang
dan ditambahkan rejekinya, bagi kita yang berbakti kepada kedua orang tuanya
(HR Ahmad).
Karena hal Itu yang Ku alami
sendiri. Rejeki terasa lebih berkah dan melimpah saat merawat orang tua. SEhingga
semua kebutuhan bisa terpenuhi, bahkan terasa berlebih. Semoga itulah yang
dinamakan keberkahan, hal yang juga mendekatkan kepada Allah, Sang Maha
Pencipta, Maha pemberi rezeki. Putri Eka Sari, Sept26


Tidak ada komentar:
Posting Komentar