Jumat, 23 Oktober 2026

Antologi 26 : Bakti (Dialog dengan diri, Alineaku- Oktober26)

 Bakti

oleh Putri Eka Sari

“a.. Pa.. Ayo dimakan..”Ucapku sambil membujuk Papa menghabiskan makanannya. Dengan semangat menguyah, Papa menggigit daging rendang yang sudah ku suwir halus agar Ia bisa makan dengan nyaman tanpa tersedak.

Kali ini, menu masakan yang mama buat Adalah kesukaan Papa, rendang padang. Aku ingat, dahulu betapa Papa menyukai makan rendang padang dengan kuah yang melimpah di nasi. Ia akan bisa nambah nasi beberapa kali jika Mama memasak rendang.

 Sambil menyuapi Papa, lamunanku melayang. Ah.. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, dahulu statusku adalah seorang anak yang disuapi oleh Papa makan. Kini berbalik, Aku lah yang meyuapinya.

Tanpa sadar sang anak pun berada di fase hidup saat ini, menjadi tumpuan keluarga, sandwich generation. Seolah diri terjepit di lapisan tengah antara orang tua dan mengasuh anak sendiri, layaknya roti sandwich.

Dimana semua hal di hadapan adalah tanggung jawab, yang menuntut harus dikerjakan dan ingin didahulukan. Duh.. Kepala rasanya penuh akan berbagai peran. Sebagai seorang anak, Ibu, istri, pekerja dan juga menjadi individu.

Mungkin memang sudah takdirnya di usia ini Aku tak hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri, Namun  membantu memecahkan masalah orang lain di sekitarku, alias bermanfaat.

Meski badan terasa Lelah, jiwa terasa penat dengan beban yang bergelayut berat di pundak. Tapi sesuatu yang ku yakini. Seperti kata sebuah Hadis: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

“Uhuk.. uhuk..” tiba-tiba Papa terbatuk pelan sambil menyemburkan makanan ke arahku. Sepertinya ada sedikit daging yang tersangkut di tenggorokannya. Semenjak mengalami stroke ke tiga kalinya, Papa menjadi semakin kesulitan untuk menelan makanan dan minuman.

Menurut dokter ada gangguan di tenggorokan. Penyakit stroke menyebabkan gerak peristaltik pada otot tenggorokan melemah.

Rasanya sedih melihat Papa kesulitan untuk menelan. Padahal dahulunya Papa adalah orang yang sehat dan kuat. Ia bisa kuat bekerja shift malam, dan baru akan pulang pukul 3 dini hari ke rumah.

   Papa yang tidak pandai bercerita akan kelelahan atau kantuk yang mungkin Ia rasakan kala pulang pagi. Aku, Mama dan adik-adik tidak pernah langsung bertanya padanya, apakah Ia Lelah menjalani hidup. Ia pun tak pandai bicara, hanya citra berwibawa yang terkadang terasa sangat otoriter di hadapan kami.

Mungkin hal ini dilatar belakangi bahwa pada masa selepas penjajahan VOC, begitu banyak lelaki dewasa lainnya di era Baby Boomers, dibesarkan di saat-saat sulit setelah perang kemerdekaan. Maka sesulit apapun keadaanya, tentu laki-laki tak diizinkan menangis, bersedih, meratap dan menjadi cengeng. Seolah perasaan mereka diredam sedemikian rupa.

Yang ada laki-laki harus berjuang, kuat bertahan dan terbiasa memendam apa yang dirasa dan diinginkan dalam hati, Tanpa bisa banyak bercerita kepada orang lain, seolah laki-laki yang terlalu banyak bicara merupakan sesuatu yang dianggap tabu.

Pengalaman kecil yang tidak terlalu dekat dengan Papa mengingatkanku tentang sebuah cerita singkat di sebuah platform media sosial. Di suatu tempat di luar negri, ada sebuah adat yang mengharuskan anak membawa orang tua yang sudah lansia ke atas gunung dan meninggalkannya disana, tanpa tempat tinggal.

Si anak hanya bertugas membawa orang tuanya dan menaruhnya dengan membawa kebutuhan orang tua seadanya tanpa memikirkan keadaan orang tuanya kelak seperti apa di atas gunung tersebut. Dan orang tua pun hanya menangis ketika ditinggalkan, tanpa bisa menolak karena sudah ketentuan adatnya. Aku hanya bergidik sedih membayangkannya.

Aku sendiri seperti merasa kurang sreg jika sebagai anak menganggap bahwa memiliki tanggung jawab orang tua seolah sebagai beban. Bagaimana tidak, rasanya begitu tak pantas jika kita mengganggap kedua orang tua yang membesarkan anaknya dengan kasih sayang ketika si anak kecil, malah dianggap sebagai "sesuatu yang meresahkan" dan beban, ketika si anak telah tumbuh dewasa.

Benarlah kata pepatah, seorang Ibu bisa merawat banyak anaknya, namun belum tentu banyak anak bisa merawat seorang Ibu. Terasa sangat miris.

Namun pepatah tersebut belakangan terasa benarnya, jika dikaitkan dengan kehidupan di era milenial saat ini yang banyak orang ingin memiliki hidup praktis dan ekonomis. Jauh dari segala "keribetan" nya. Karena tentu setiap orang sangat ingin hidup nyaman dan enak. Jika perlu tanpa susah payah dan kesulitan.

Beberapa pendapat mengkaitkan bahwa membantu keuangan orang tua tentu untuk yang memiliki ekonomi (keuangan) yang cukup. Namun jika berpenghasilan pas-pasan, rasanya cukup berat untuk juga menyangga ekonomi orang tuanya. Mungkin sudut pandang tersebut bisa saja berlaku pada sebagian orang.

Beberapa orang berpegang teguh akan prinsip kemandirian hidupnya sendiri, dan sebagian lagi memiliki pandangan yang berbeda tentang hal ini. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan memandang segala aspek yang ada padanya. Karena hidup adalah pilihan, bagai dua sisi mata uang, yang di dalamnya terdapat konsekuensi dari pilihan yang diambil. Maka pilihlah sesuai hati nurani, bukan berdasarkan Ego diri.  



Namun bagiku, selama ada niat dan keikhlasan untuk merawat orang tua, akan membawa keberkahan dalam hidup. Sesuai dengan keteladanan yang di contohkan dalam islam oleh Rasulullah dan orang shalih terdahulu yaitu birrul walidain (berbakti/ berbuat baik kepada orang tua).

Hal ini pun terdapat dalam beberapa hadist Rasulullah, bahwa Allah akan memberikan umur yang panjang dan ditambahkan rejekinya, bagi kita yang berbakti kepada kedua orang tuanya (HR Ahmad).

Karena hal Itu yang Ku alami sendiri. Rejeki terasa lebih berkah dan melimpah saat merawat orang tua. SEhingga semua kebutuhan bisa terpenuhi, bahkan terasa berlebih. Semoga itulah yang dinamakan keberkahan, hal yang juga mendekatkan kepada Allah, Sang Maha Pencipta, Maha pemberi rezeki.                  Putri Eka Sari, Sept26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar