Kebaikan
adalah Warisan Terbaik
Oleh: Putri Eka Sari
“Kebaikan adalah salah satu investasi yang tak pernah gagal .”
Hari ini adalah ramadhan pertama dalam
hidupku sebagai anak rantau yang tinggal di luar kota. Jauh dari keluarga dan
sanak saudara, membuatku merasa asing berada di kota kecil, Nusa Tenggara.
Di tengah kota kecil ini Aku di tugaskan
kantor pusat untuk bekerja dengan hanya didampingi dua orang rekan laki-laki
yang notabene tak kenal terlalu dekat. Membuat semuanya terasa membingungkan,
hampa dan sepi. Menghadirkan kilasan rindu akan kenangan ramadhan yang hangat, saat
berkumpul dengan keluarga. Duh sang melankolis sedang home sick..
Tok.. tok.. Tiba-tiba ketukan di pintu
menyadarkan lamunanku.
Ah.. siapa sore-sore senja menjelang
magrib begini ke rumah. Bukankah di kota ini Aku belum kenal banyak orang.
Mungkinkah pekerja proyek di taman depan yang sedang merapihkan taman, atau
siapa ya? Sambil terus menebak-nebak Ku hampiri pintu perlahan
"Nak.. ini ada kolak sedikit buat
buka puasa.." Kata Seorang Ibu separuh baya, setelah pintu terbuka.
"Eh.. iya Bu.." Jawabku
kebingungan, ini Ibu entah siapa dan darimana datangnya, kok tiba-tiba
memberikan kolak, batinku.
"Saya Bu Joko,
Bu RT disini.." Bu Joko memperkenalkan diri.
"Kelihatannya kamu tinggal sendiri
ya.. Ayo mampir ke rumah Ibu di ujung gang itu ya kapan-kapan.. " Jari Bu
Joko menunjuk ke rumah bercat orange di ujung jalan, sambil terseyum ramah dan
bersiap meninggalkan rumahku karena sebentar lagi azan akan tiba.
Oh.. ternyata Bu RT di komplek perumahan ini. Aku yang orang baru, memang masih belum banyak kenal orang di sini, masih gagap dengan kehadiran orang lain.
"Baik Bu.. terimakasih ya.."
Jawabku sambil membalas senyumannya. Memperhatikannya pergi dan menutup pintu.
Aroma kolak yang manis dan harum pandan
menyeruak masuk ke hidung dan mengudara di sekitarku. Hidangan itu terlihat menari-nari
cantik dalam mangkuk, berisi pisang, ubi dan pacar cina berpadu dalam warna-warni.
Tersaji dengan menggiurkan.
Semerbak sendu menghadirkan bayangan
wajah Ibunda di kampung halaman. Sesuatu yang dulu mungkin rasanya biasa saja
ketika masih bersama. Kala Ibu membuatkanku kolak sebagai hidangan berbuka
puasa dahulu, sebelum aku pindah untuk dinas kerja di luar kota.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Tak terasa, azan magrib pun berkumandang
di masjid dekat rumah. Menandakan waktu magrib dan berbuka puasa telah tiba.
Selepas membatalkan puasa dengan membaca doa berbuka, meminum segelas air putih
dan sebiji kurma. Aku pun tak sabar menikmati hidangan kolak yang tersaji di
meja.
Suapan pertama ketika kuahnya meluncur di
lidah, entah mengapa menimbulkan rasa yang istimewa. Hmm.. Enak, tak terlalu
manis. Ada sensasi menenangkan mulai mengalir dari tenggorokan ke hatiku.
Aliran energi yang sebagian orang bisa
rasakan, jika menyantap makanan yang dimasak dengan penuh cinta, suka cita dan
keikhlasan. Dan Aku pun menyesapi rasa itu di sana lewat suapan kolak dengan
gembira.
Yang Allah izinkan hadir dari seorang Ibu
tetangga yang tak ku kenal secara akrab. Meski Aku yang jauh di sebrang
pulau. T atas kasih Allah jugalah yang menggerakkan hati Bu RT untuk
memberikan semangkuk kolak kepadaku.
Hal yang mungkin terkesan remeh bagi
orang lain, namun bagiku yang sedang kesepian di kampung orang. Dan tengah
dilanda rindu, semangkuk kolak datang dengan beragam makna.
Aku jadi teringat, di ribuan kilometer
nun jauh di sana. Ibuku yang juga sering berbagi makanan ke tetangga sebelah
rumah. Bahkan terkadang berbagi makanan ke orang yang tak ia kenal, diantaranya
tukang sol sepatu yang pernah tak sengaja berteduh di depan rumah saat
hujan.
Atau Ayah yang sering mentraktir
teman-temannya makan siang, terutama di saat tanggal tua, belum gajian. Ah..
ternyata kebaikan itu seperti benih. Balasan serta tunas kebaikan tak selalu
datang saat itu juga, namun bisa beberapa tahun kemudian. Meski jauh jaraknya,
kebaikan bisa saja sampai. Bahkan serupa tabungan yang mungkin akan di tuai
ketika di akhirat kelak, selayaknya investasi jangka panjang.
Saya pun menyaksikan langsung, bahwa
kebaikan adalah warisan terbaik dari orang tua pun akan sampai kepada anaknya.
Meski dimanapun sang anak berada. Allahumma baarik, Terimakasih Ayah dan Ibu..
"Barangsiapa yang mengerjakan
kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa
yang mengerjakan kejehatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya (pula)." (QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8) #PutriEkaSari, Jan26
Profil Penulis:
Nama : Putri Eka Sari S.T
Profesi : Penulis
Domisili : Jakarta
Alamat Pos-el : putri.ekasari@gmail.com
Media Sosial : putri ekasari (Fanpage
Facebook), @putrie_bundapaipia
(Instagram)






