Dibalik
Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
oleh Putri Eka Sari
"Go**** Idiot.." Kata itu kembali dilayangkan kepadaku..
Terasa bergetar sakit masuk ke dalam telinga lalu
menembus ke hati, di panas terik ini. Rasanya membakar jiwa, karena seharian
ini sudah beberapa kali aku di semprot oleh Bos ku.
Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas
bosku yang sedang marah. Juga tak bisa membantah kata-katanya.
Diam adalah cara terbaik agar amarahnya tak semakin
menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin
membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.
"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu
tagihannya" Ujar Bosku
"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!"
Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di
sebelahku terasa ikut bergetar.
"Iya Pak, maaf" Kataku lirih sambil menunduk.
Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.
Saat Pak Bayu beranjak pergi. Akhirnya jantungku baru
terasa berdetak lagi.
Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang
takut padanya. Tak jarang sekali dua kali aku dibentaknya dalam sehari.
Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, selalu salah di matanya.
Beberapa kali aku curhat dengan teman sebaya di kantor,
berkeluh kesah mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu kepadaku. Bukankah
seharusnya Namanya seperti Bayu, Air yang adem, dingin menenangkan.
Aku sering bertanya tanya pada sobatku, bukankah
seharusnya atasan bisa menaungi bawahannya dengan baik? Bukan malah sering menyemprotku
dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.
Temanku, Aisyah hanya bergumam.. "Ingat Res.. Pasal
1.. Bos selalu benar.. "
"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja
ini melawan senior, apalagi bos.." Ujarnya lagi, menasehati.
"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek
hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..
"Mending aku resign aja Syah sepertinya.."
Tukasku lagi.
"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi
Stroberi lagi ama Pak Bayu. Lembek.." Balas Aisyah Sambil memegang
lenganku..
"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan,
meskipun bebannya berat.. daripada nganggur" Ujarnya lagi sambil
membujukku. Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.
Namun karena posisiku persis di bawah Pak Bayu dalam
struktur perusahaan, aku kerap lebih sering bersinggungan pekerjaan dengan
Bosku itu.
Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil
melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh
yang tinggi tegap. Kumisnya yang tebal seperti Pak Raden dalam serial Unyil,
makin membuat wajahnya terlihat sangar.
Kumis tersebut akan bergerak turun naik diiringi amarah
yang kadang tetiba muncul. Begitu reaktifnya seperti bom waktu yang bisa kapan
saja meledak, tak ingat waktu dan tempat.
Pernah di suatu malam hari, saat libur pun aku di
telponnya. Karena Beliau ingin meminta reschedule tiket penerbangan. Ingatanku
melayang kala itu..
"Resti, ini saya sepertinya telat check-in di
Bandara Juanda, Ada pawai menyambut ramadhan tadi di jalan." Katanya di
seberang telepon, setengah panik karena besok pagi harus sudah sampai Jakarta
untuk meeting dengan klien.
"Coba kamu pesankan pesawat berikutnya yang bisa
langsung berangkat" Perintahnya tanpa memberi salam, atau memberiku jeda
untuk bertanya dan menjawab.
"Baik Pak.." Aku hanya bisa menjawab singkat.
Mencerna apa yang harus ku lakukan setelahnya.
Sebagai anak buah, tentu aku tak bisa menolak perintah
atasan. Aku yang di Jakarta tentu harus memahami situasi dengan cepat dan
gercep dalam bertindak.
Meski aku tak melihat langsung di lokasi, yang kala itu kabarnya
jalanan Surabaya yang macet parah. Sehingga praktis Pak Bayu ketinggalan check-in
masuk ke pesawat. Dan tentu saja aku harus siap dengan tugas, stand by untuk
mengklik tiket penerbangan berikutnya.
"Malam Pak, Itu penerbangan terakhir ke Jakarta Pak
malam ini" Sahutku kembali menelepon Pak Bayu.
"Tiket baru ada besok subuh Pak" Kataku lagi.
"Jika tak ada jadwal penerbangan, pesankan kamar
saya di hotel biasa" Jawabnya sambil mematikan telpon, tanpa ucapan
terimakasih.
Aku menjawab "Siap.." Diantara nada telpon yang
sudah di tutup, mati.
Ya, aku harus siap membooking hotel
sesuai keinginannya. Ia tak peduli jika uang nya harus ku talangi dengan uang
pribadiku dahulu. Tak peduli jika itu bukan deskripsi pekerjaanku. Anggapannya,
meski aku merupakan staff accounting, aku harus siap setiap saat untuk
melakukan pekerjaan lain yang berhubungan dengannya. huffft.. Begitulah sebuah
konsekuensi kerja di perusahaan.
Jika tak siap, dapat Ku bayangkan. Kala amarah melanda,
raut muka Pak Bayu yang merah padam. Seolah kereta api uap yang sedang mengepul
uap keluar dari atas kepalanya.
Sifatnya yang perfeksionis selalu meminta tiap pekerjaan
sesuai dengan keinginannya, tak boleh bercela. Bahkan untuk titik dan koma
harus sesuai letaknya di proposal yang ia minta. Layaknya membuat skripsi yang
sempurna.
Ya.. begitulah konsekuensi bekerja dengan orang lain. Aku
hanya bisa mengelus dada setiap harinya. Di mana Bos selalu benar, dan tentu
bawahan yang selalu di salahkan.
Beruntungnya aku makian itu bukan berupa kata-kata
binatang, seperti cerita seorang temanku di perusahaan lain. Ketika Bos nya
marah, kata makian berupa umpatan dengan nama hewan di kebun binatang. Seperti
Anjing, Monyet, Babi, akan dilayangkan padanya tanpa pandang bulu. Hingga tak
terhitung berkali-kali temanku menangis, sedih.
Padahal tentu hal seperti ini tak pantas untuk dilakukan.
Karena pasti akan menyinggung perasaan orang lain.
Pantaslah, jika bekerja dengan orang seperti ini bisa
menyebabkan stres, depresi, sebuah penyakit mental bagi sebagian orang. Bahkan
beberapa orang lain mengalami sakit hati, dan tersulut emosi kadang bisa
terjadi.
Tak terhitung banyak kasus dan kejadian yang kita dapat
jumpai di media sosial atau TV. Bermacam kasus kriminal yang disebabkan emosi
dan amarah. Mengingat tidak adanya respect, saling menghormati antara
atasan-bawahan, bos dan anak buahnya.
Waktu berganti, beberapa tahun kemudian..
Aku tiba di Bandara Haneda Tokyo, menjinjing koper dengan
gembira. Siap untuk liburan di Disneyland, dan beberapa tempat wisata lainnya
di Jepang.
Atas rekomendasi Pak Bayu, aku bisa mendapatkan reward 15
tahun bekerja di Perusahaan. Allah memberikan hadiah manis dari setiap
kesabaran yang telah kupupuk selama bertahun-tahun lamanya.
Atas izin dan karunia Allah, aku dididik dan diasah
seperti intan. Yang ditempa dengan berbagai ujian. Aku berusaha menjalani
segala ujian yang Allah berikan dengan sabar dan berusaha ikhlas. Meski
terkadang berat, galau, sedih ingin nangis bombay berhari-hari, bahkan beberapa
kali ingin resign dari pekerjaan.
Tapi Aku percaya, semua akan menjadi indah dan berbuah
manis pada waktunya. Seperti sebuah hadis Rasulullah: Man Shabara Zhafira;
Barang siapa yang bersabar, ia akan beruntung.
Aku berusaha kebal dengan cercaan, makian serta tumpukan kerjaan
yang ada. Berat tentu saja jika dirasa-rasa, namun Aku berusaha mengalihkan
perasaaan dan melihat sisi hal lain yang mungkin bisa dipelajari dari tiap
kejadian.
Sebab, diri sendiri lah yang memiliki peran atas regulasi
emosi yang ada dalam kehidupan. Diri sendiri yang harus memilih, untuk bisa
tegak serta bertahan atau terpuruk. Dan alhamdulillah perjuangan dan proses
yang ku lewati dengan ridho, keyakinan dan doa orang tua membuahkan hasil.
Teruntuk teman-teman lainnya yang masih berjuang, mari
yakin terhadap Allah dan jangan menyerah.. Karena selepas hujan, ada pelangi
yang indah dan terang yang menyertainya.
#PutriEkaSari , Maret25

Tidak ada komentar:
Posting Komentar