Jumat, 04 September 2026

Antologi 24 : Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan (Keping Lazuardi Hidupku, Agustus26)

Dibalik Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

oleh Putri Eka Sari

"Go**** Idiot.." Kata itu kembali dilayangkan kepadaku.. 

Terasa bergetar sakit masuk ke dalam telinga lalu menembus ke hati, di panas terik ini. Rasanya membakar jiwa, karena seharian ini sudah beberapa kali aku di semprot oleh Bos ku.

Aku hanya tertunduk kelu dalam diam, tak bisa membalas bosku yang sedang marah. Juga tak bisa membantah kata-katanya.

Diam adalah cara terbaik agar amarahnya tak semakin menyala. Jika menyahut sedikit tanpa dipinta, tentu api amarah akan semakin membara. Layaknya menambah kayu bakar ke dalam api.

"Itu ga benar Res, mana bisa diproses seperti itu tagihannya" Ujar Bosku

"Masa gitu aja ga bisa Res.. Sana perbaiki!" Katanya lagi sambil menggebrak meja. Begitu kerasnya hingga dinding di sebelahku terasa ikut bergetar.

"Iya Pak, maaf" Kataku lirih sambil menunduk. Tak beringsut, beranjak melirik ke arah Bosku.

Saat Pak Bayu beranjak pergi. Akhirnya jantungku baru terasa berdetak lagi.

Tabiatnya yang galak dan pemarah membuat semua orang takut padanya. Tak jarang sekali dua kali aku dibentaknya dalam sehari. Sepertinya hampir semua kerjaku tidak benar, selalu salah di matanya.

Beberapa kali aku curhat dengan teman sebaya di kantor, berkeluh kesah mengapa perlakuan Pak Bayu seperti itu kepadaku. Bukankah seharusnya Namanya seperti Bayu, Air yang adem, dingin menenangkan.

Aku sering bertanya tanya pada sobatku, bukankah seharusnya atasan bisa menaungi bawahannya dengan baik? Bukan malah sering menyemprotku dengan kata kasar, yang kadang membuat hatiku mendidih, kesal.

Temanku, Aisyah hanya bergumam.. "Ingat Res.. Pasal 1.. Bos selalu benar.. "

"Bisa apa kita.. anak bawang yang baru mulai bekerja ini melawan senior, apalagi bos.." Ujarnya lagi, menasehati.

"Tapi kan ga diomelin juga tiap hari Syah.. capek hati kerja begini.." Balasku sambil cemberut..

"Mending aku resign aja Syah sepertinya.." Tukasku lagi.

"Duh jangan dong Res.. nanti dibilang generasi Stroberi lagi ama Pak Bayu. Lembek.." Balas Aisyah Sambil memegang lenganku..

"Kita harus bertahan.. gaji di sini lumayan, meskipun bebannya berat.. daripada nganggur" Ujarnya lagi sambil membujukku. Ia pun kadang menjadi sasaran empuk amarah Pak Bayu.

Namun karena posisiku persis di bawah Pak Bayu dalam struktur perusahaan, aku kerap lebih sering bersinggungan pekerjaan dengan Bosku itu.

Aku hanya menghembuskan nafas beristighfar, sambil melirik ke ruangan Bosku. Pak Bayu sedang menelpon klien, berdiri dengan tubuh yang tinggi tegap. Kumisnya yang tebal seperti Pak Raden dalam serial Unyil, makin membuat wajahnya terlihat sangar.

Kumis tersebut akan bergerak turun naik diiringi amarah yang kadang tetiba muncul. Begitu reaktifnya seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, tak ingat waktu dan tempat.

Pernah di suatu malam hari, saat libur pun aku di telponnya. Karena Beliau ingin meminta reschedule tiket penerbangan. Ingatanku melayang kala itu..

"Resti, ini saya sepertinya telat check-in di Bandara Juanda, Ada pawai menyambut ramadhan tadi di jalan." Katanya di seberang telepon, setengah panik karena besok pagi harus sudah sampai Jakarta untuk meeting dengan klien.

"Coba kamu pesankan pesawat berikutnya yang bisa langsung berangkat" Perintahnya tanpa memberi salam, atau memberiku jeda untuk bertanya dan menjawab.

"Baik Pak.." Aku hanya bisa menjawab singkat. Mencerna apa yang harus ku lakukan setelahnya.

Sebagai anak buah, tentu aku tak bisa menolak perintah atasan. Aku yang di Jakarta tentu harus memahami situasi dengan cepat dan gercep dalam bertindak.

Meski aku tak melihat langsung di lokasi, yang kala itu kabarnya jalanan Surabaya yang macet parah. Sehingga praktis Pak Bayu ketinggalan check-in masuk ke pesawat. Dan tentu saja aku harus siap dengan tugas, stand by untuk mengklik tiket penerbangan berikutnya.

"Malam Pak, Itu penerbangan terakhir ke Jakarta Pak malam ini" Sahutku kembali menelepon Pak Bayu.

"Tiket baru ada besok subuh Pak" Kataku lagi.

"Jika tak ada jadwal penerbangan, pesankan kamar saya di hotel biasa" Jawabnya sambil mematikan telpon, tanpa ucapan terimakasih.

Aku menjawab "Siap.." Diantara nada telpon yang sudah di tutup, mati.

Ya, aku harus siap membooking hotel sesuai keinginannya. Ia tak peduli jika uang nya harus ku talangi dengan uang pribadiku dahulu. Tak peduli jika itu bukan deskripsi pekerjaanku. Anggapannya, meski aku merupakan staff accounting, aku harus siap setiap saat untuk melakukan pekerjaan lain yang berhubungan dengannya. huffft.. Begitulah sebuah konsekuensi kerja di perusahaan.

Jika tak siap, dapat Ku bayangkan. Kala amarah melanda, raut muka Pak Bayu yang merah padam. Seolah kereta api uap yang sedang mengepul uap keluar dari atas kepalanya.

Sifatnya yang perfeksionis selalu meminta tiap pekerjaan sesuai dengan keinginannya, tak boleh bercela. Bahkan untuk titik dan koma harus sesuai letaknya di proposal yang ia minta. Layaknya membuat skripsi yang sempurna.

Ya.. begitulah konsekuensi bekerja dengan orang lain. Aku hanya bisa mengelus dada setiap harinya. Di mana Bos selalu benar, dan tentu bawahan yang selalu di salahkan.

Beruntungnya aku makian itu bukan berupa kata-kata binatang, seperti cerita seorang temanku di perusahaan lain. Ketika Bos nya marah, kata makian berupa umpatan dengan nama hewan di kebun binatang. Seperti Anjing, Monyet, Babi, akan dilayangkan padanya tanpa pandang bulu. Hingga tak terhitung berkali-kali temanku menangis, sedih.

Padahal tentu hal seperti ini tak pantas untuk dilakukan. Karena pasti akan menyinggung perasaan orang lain.

Pantaslah, jika bekerja dengan orang seperti ini bisa menyebabkan stres, depresi, sebuah penyakit mental bagi sebagian orang. Bahkan beberapa orang lain mengalami sakit hati, dan tersulut emosi kadang bisa terjadi.

Tak terhitung banyak kasus dan kejadian yang kita dapat jumpai di media sosial atau TV. Bermacam kasus kriminal yang disebabkan emosi dan amarah. Mengingat tidak adanya respect, saling menghormati antara atasan-bawahan, bos dan anak buahnya.

Waktu berganti, beberapa tahun kemudian..

Aku tiba di Bandara Haneda Tokyo, menjinjing koper dengan gembira. Siap untuk liburan di Disneyland, dan beberapa tempat wisata lainnya di Jepang.

Atas rekomendasi Pak Bayu, aku bisa mendapatkan reward 15 tahun bekerja di Perusahaan. Allah memberikan hadiah manis dari setiap kesabaran yang telah kupupuk selama bertahun-tahun lamanya.

Atas izin dan karunia Allah, aku dididik dan diasah seperti intan. Yang ditempa dengan berbagai ujian. Aku berusaha menjalani segala ujian yang Allah berikan dengan sabar dan berusaha ikhlas. Meski terkadang berat, galau, sedih ingin nangis bombay berhari-hari, bahkan beberapa kali ingin resign dari pekerjaan.

Tapi Aku percaya, semua akan menjadi indah dan berbuah manis pada waktunya. Seperti sebuah hadis Rasulullah: Man Shabara Zhafira; Barang siapa yang bersabar, ia akan beruntung.

Aku berusaha kebal dengan cercaan, makian serta tumpukan kerjaan yang ada. Berat tentu saja jika dirasa-rasa, namun Aku berusaha mengalihkan perasaaan dan melihat sisi hal lain yang mungkin bisa dipelajari dari tiap kejadian.

Sebab, diri sendiri lah yang memiliki peran atas regulasi emosi yang ada dalam kehidupan. Diri sendiri yang harus memilih, untuk bisa tegak serta bertahan atau terpuruk. Dan alhamdulillah perjuangan dan proses yang ku lewati dengan ridho, keyakinan dan doa orang tua membuahkan hasil.

Teruntuk teman-teman lainnya yang masih berjuang, mari yakin terhadap Allah dan jangan menyerah.. Karena selepas hujan, ada pelangi yang indah dan terang yang menyertainya.

#PutriEkaSari , Maret25

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar