Jumat, 04 September 2026

Antologi 22 : Mie Ayam Kesukaan Ayah (Langit Dibahunya-Alineaku Juli26)

 Mie Ayam Kesukaan Ayah

Putri Eka Sari

Ku sendokkan suapan terakhir mie ayam pangsit rebus beserta kuahnya yang gurih ke mulut Ayah. Tentu jika dokter melihat, Ia akan melarang Ayah makan mie ayam. Karena kaldunya yang enak kaya akan micin, penyedap. Tapi kali ini biarlah, Aku ingin memberikan sedikit kelonggaran, sehari saja. Kulirik Ayah yang asyik melahap habis mie dengan antusias.

Menyisakan mangkuk kosong di hadapan, kandas tak bersisa hingga tetes terakhir. Entah mengapa melihatnya menimbulkan sesak yang tersirat di hatiku, sesuatu yang tak bisa kulukis dengan kata. Ayahanda yang dahulunya gagah perkasa, kini terkulai tanpa daya di tempat tidur. Penyakit stroke telah menggerogoti tubuhnya beberapa tahun belakangan, semakin menyebabkan Ia kesulitan untuk berjalan, berpikir bahkan menelan.

Namun sepertinya lidah sebagai indera perasanya tetap berfungsi. Maka tak ayal jika diberikan mie ayam, matanya seolah bersinar menikmati helai demi helai mie yang masuk ke dalam mulutnya. Meskipun tak terucap kata dari bibirnya yang terkunci akibat penyakit ini.

Mungkin kelezatan mie ayam masih memiliki tempat tersendiri di ruang hatinya. Meninggalkan kenangan indah saat menikmati mie favorite dengan bumbu racikan istimewa yang memanjakan lidah. Potongan hal kecil yang masih terpatri dan tersimpan di sebagian memori otaknya.

Ya, Mie ayam adalah makanan kesukaan Ayah. Menu favorite yang murah meriah, praktis, simple dan mudah dicari dimana saja. Bahkan kita banyak menemui di pinggir jalan, abang penjual mie ayam dengan gerobaknya yang khas. Kemanapun kami pergi jika keluar rumah, pasti mie ayam adalah makanan andalan yang pertama kali dicari.

Bagiku, sesi terbaik ngedate bersama Ayah adalah saat memakan penganan ini bersamanya. Akan kulihat binar indah di matanya, pertanda sukanya terhadap makanan ini. Apalagi jika dimakan di tempat kios mie ayam langganannya, wah.. dijamin semangkuk mie pun bisa tandas dengan cepat dalam hitungan menit. Jangan ditanya seberapa seringnya kami ditraktir mie ayam oleh Ayah.

Biasanya kami hanya bisa makan di waktu tertentu, di awal bulan. Satu hal yang menandakan bahwa Ayah habis gajian. Sesi dating anak-Ayah ini mungkin hanya suatu yang sederhana, tidak mewah dan biasa saja bagi sebagian orang.

 Tapi bagiku saat itu, makan mie ayam merupakan sebuah ritual makan di luar yang menyenangkan, di tengah kondisi hidup dengan ekonomi yang pas-pasan. Sehingga jajan pun hanya bisa dihitung dengan jari. Meskipun nyaris tidak setiap bulan, karena program penghematan ketat yang dijalani Ayah dan Ibu kala itu, yang sedang fokus membangun rumah.

Maka menyantap mie ayam kala itu terasa begitu wah. Karena sehari-hari Ibu hanya akan menambal penganan cemilan kami dengan memasak sendiri di rumah. Memanfaatkan bahan yang ada di kebun atau lingkungan sekitar tempat tinggal. Dari semangkuk mie ayam, Aku pun belajar arti ketulusan seorang Ayah.

Di balik diamnya dan meskipun didera kekurangan financial, pusing serta lelahnya menghadapi pekerjaan yang tak pernah Ia ceritakan. Ia sisihkan uang untuk mentraktir anaknya bergantian. Tiba-tiba ingatanku melayang ke suatu siang yang panas.

Selepas interview pekerjaan di pusat kota. Kami memarkirkan motor, dan duduk di bangku kayu Abang penjual mie ayam pinggir jalan. Sambil tak bersemangat, Ku aduk sambal diantara tumpukan mie yang sarat dengan ayam kecap, bawang goreng dan topping favoritku, pangsit rebus.

”Sudah jangan ditekuk gitu mukanya” Kata Ayah yang mungkin memperhatikan mukaku yang masam selepas interview tadi. Ia rupanya bisa membaca bahasa tubuhku yang kecewa, meski di antara debu jalanan dan bisingnya kendaraan yang hilir mudik. ”Maafin Aku yah.. sampai sekarang belum bisa diterima kerja, padahal Ayah sudah repot mondar-mandir antar” Ucapku sambil tertunduk, malu.

Ada perasaan sedih, kecewa dan rasa bersalah jadi satu yang membebani pundakku. Bagai batu berat tak terlihat yang bertengger di atas bahu sang anak pertama. Karena belum bisa mewujudkan harapan orang tua yaitu mendapatkan pekerjaan yang layak.

Energi negatif menggelayut membuat tubuh semakin lelah. Karena beberapa kali mencoba ikut interview kerja dengan diantar Ayah. Namun hasilnya masih nihil, belum juga diterima bekerja. “Tidak apa kak, insya Allah rezeki ga akan kemana” Jawab Ayah sambil tersenyum.

“Tetap berusaha lagi ya Kak, nanti akan Ayah antar. Percayalah, Allah Tidak tidur, pasti akan ada jalannya untuk Kakak” Katanya terus menyemangati hatiku yang sendu.

“Iya yah, terimakasih ya..” Mataku mulai berkaca kaca.

Dalam hati Ku kumpulkan lagi serpihan keyakinan itu, bahwa Aku pasti akan menemukan pekerjaan yang terbaik. Saat ini mungkin belum waktunya. Ingatan itu seperti flashback yang menarikku kembali. Ah.. ternyata doa terbaik itu tak hanya dari Ibu, Ayah juga berdoa dalam diamnya.

Ia mungkin tidak berisik bercerita tentang lelahnya, atau dalam mengungkapkan perasaannya. Namun jelas terlihat dalam tindakannya. Ada cinta diam-diam dan kerja keras yang dilakukan untuk anak-anaknya. Meski Ia mungkin tak sempurna dan selalu hadir saat paling genting dalam kehidupan ananda.

Namun tetap diluangkannya waktu untuk mengajak anaknya meski hanya sekedar makan sederhana. Sebuah ritual yang ku kenang indah, hingga sebelum menikah. Meninggalkan jejak waktu tentang gambaran indah hubungan Ayah dan anaknya. Sebuah doa khusyuk ku panjatkan kepada Allah,

“Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira: Ya Allah ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil (QS Al-Isra:24). PutriEkaSari April26




Tidak ada komentar:

Posting Komentar