Mie Ayam Kesukaan Ayah
Putri Eka Sari
Ku sendokkan suapan terakhir mie ayam pangsit rebus beserta kuahnya yang gurih ke mulut Ayah. Tentu jika dokter melihat, Ia akan melarang Ayah makan mie ayam. Karena kaldunya yang enak kaya akan micin, penyedap. Tapi kali ini biarlah, Aku ingin memberikan sedikit kelonggaran, sehari saja. Kulirik Ayah yang asyik melahap habis mie dengan antusias.
Menyisakan mangkuk kosong di hadapan, kandas tak bersisa hingga tetes terakhir. Entah mengapa melihatnya menimbulkan sesak yang tersirat di hatiku, sesuatu yang tak bisa kulukis dengan kata. Ayahanda yang dahulunya gagah perkasa, kini terkulai tanpa daya di tempat tidur. Penyakit stroke telah menggerogoti tubuhnya beberapa tahun belakangan, semakin menyebabkan Ia kesulitan untuk berjalan, berpikir bahkan menelan.
Namun
sepertinya lidah sebagai indera perasanya tetap berfungsi. Maka tak ayal jika
diberikan mie ayam, matanya seolah bersinar menikmati helai demi helai mie yang
masuk ke dalam mulutnya. Meskipun tak terucap kata dari bibirnya yang terkunci
akibat penyakit ini.
Mungkin
kelezatan mie ayam masih memiliki tempat tersendiri di ruang hatinya.
Meninggalkan kenangan indah saat menikmati mie favorite dengan bumbu racikan
istimewa yang memanjakan lidah. Potongan hal kecil yang masih terpatri dan
tersimpan di sebagian memori otaknya.
Ya,
Mie ayam adalah makanan kesukaan Ayah. Menu favorite yang murah meriah,
praktis, simple dan mudah dicari dimana saja. Bahkan kita banyak menemui di
pinggir jalan, abang penjual mie ayam dengan gerobaknya yang khas. Kemanapun
kami pergi jika keluar rumah, pasti mie ayam adalah makanan andalan yang
pertama kali dicari.
Bagiku,
sesi terbaik ngedate bersama Ayah adalah saat memakan penganan ini bersamanya.
Akan kulihat binar indah di matanya, pertanda sukanya terhadap makanan ini.
Apalagi jika dimakan di tempat kios mie ayam langganannya, wah.. dijamin
semangkuk mie pun bisa tandas dengan cepat dalam hitungan menit. Jangan ditanya
seberapa seringnya kami ditraktir mie ayam oleh Ayah.
Biasanya kami hanya bisa makan di waktu tertentu, di awal bulan. Satu hal yang menandakan bahwa Ayah habis gajian. Sesi dating anak-Ayah ini mungkin hanya suatu yang sederhana, tidak mewah dan biasa saja bagi sebagian orang.
Tapi bagiku saat itu, makan mie ayam merupakan
sebuah ritual makan di luar yang menyenangkan, di tengah kondisi hidup dengan
ekonomi yang pas-pasan. Sehingga jajan pun hanya bisa dihitung dengan jari.
Meskipun nyaris tidak setiap bulan, karena program penghematan ketat yang
dijalani Ayah dan Ibu kala itu, yang sedang fokus membangun rumah.
Maka
menyantap mie ayam kala itu terasa begitu wah. Karena sehari-hari Ibu hanya
akan menambal penganan cemilan kami dengan memasak sendiri di rumah.
Memanfaatkan bahan yang ada di kebun atau lingkungan sekitar tempat tinggal.
Dari semangkuk mie ayam, Aku pun belajar arti ketulusan seorang Ayah.
Di
balik diamnya dan meskipun didera kekurangan financial, pusing serta lelahnya
menghadapi pekerjaan yang tak pernah Ia ceritakan. Ia sisihkan uang untuk
mentraktir anaknya bergantian. Tiba-tiba ingatanku melayang ke suatu siang yang
panas.
Selepas
interview pekerjaan di pusat kota. Kami memarkirkan motor, dan duduk di bangku
kayu Abang penjual mie ayam pinggir jalan. Sambil tak bersemangat, Ku aduk
sambal diantara tumpukan mie yang sarat dengan ayam kecap, bawang goreng dan
topping favoritku, pangsit rebus.
”Sudah
jangan ditekuk gitu mukanya” Kata Ayah yang mungkin memperhatikan mukaku yang
masam selepas interview tadi. Ia rupanya bisa membaca bahasa tubuhku yang
kecewa, meski di antara debu jalanan dan bisingnya kendaraan yang hilir mudik.
”Maafin Aku yah.. sampai sekarang belum bisa diterima kerja, padahal Ayah sudah
repot mondar-mandir antar” Ucapku sambil tertunduk, malu.
Ada
perasaan sedih, kecewa dan rasa bersalah jadi satu yang membebani pundakku.
Bagai batu berat tak terlihat yang bertengger di atas bahu sang anak pertama.
Karena belum bisa mewujudkan harapan orang tua yaitu mendapatkan pekerjaan yang
layak.
Energi
negatif menggelayut membuat tubuh semakin lelah. Karena beberapa kali mencoba
ikut interview kerja dengan diantar Ayah. Namun hasilnya masih nihil, belum
juga diterima bekerja. “Tidak apa kak, insya Allah rezeki ga akan kemana” Jawab
Ayah sambil tersenyum.
“Tetap
berusaha lagi ya Kak, nanti akan Ayah antar. Percayalah, Allah Tidak tidur,
pasti akan ada jalannya untuk Kakak” Katanya terus menyemangati hatiku yang
sendu.
“Iya
yah, terimakasih ya..” Mataku mulai berkaca kaca.
Dalam
hati Ku kumpulkan lagi serpihan keyakinan itu, bahwa Aku pasti akan menemukan
pekerjaan yang terbaik. Saat ini mungkin belum waktunya. Ingatan itu seperti
flashback yang menarikku kembali. Ah.. ternyata doa terbaik itu tak hanya dari
Ibu, Ayah juga berdoa dalam diamnya.
Ia
mungkin tidak berisik bercerita tentang lelahnya, atau dalam mengungkapkan
perasaannya. Namun jelas terlihat dalam tindakannya. Ada cinta diam-diam dan
kerja keras yang dilakukan untuk anak-anaknya. Meski Ia mungkin tak sempurna
dan selalu hadir saat paling genting dalam kehidupan ananda.
Namun
tetap diluangkannya waktu untuk mengajak anaknya meski hanya sekedar makan
sederhana. Sebuah ritual yang ku kenang indah, hingga sebelum menikah.
Meninggalkan jejak waktu tentang gambaran indah hubungan Ayah dan anaknya.
Sebuah doa khusyuk ku panjatkan kepada Allah,
“Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira: Ya Allah ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil (QS Al-Isra:24). PutriEkaSari April26


Tidak ada komentar:
Posting Komentar