Jumat, 04 September 2026

Antologi 25 : Kebaikan adalah warisan terbaik (Tak terhingga sepanjang masa, Wonderful Agustus26)

Kebaikan adalah Warisan Terbaik

Oleh: Putri Eka Sari

“Kebaikan adalah salah satu investasi yang tak pernah gagal .”

Hari ini adalah ramadhan pertama dalam hidupku sebagai anak rantau yang tinggal di luar kota. Jauh dari keluarga dan sanak saudara, membuatku merasa asing berada di kota kecil, Nusa Tenggara.

Padahal biasanya dahulu dimana saja Aku bisa menemukan beragam menu makanan yang bisa dikirim instant. Go-food adalah penyelamat saat Ibu sedang tak masak atau ingin mencoba menu viral terbaru di Jakarta.

Di tengah kota kecil ini Aku di tugaskan kantor pusat untuk bekerja dengan hanya didampingi dua orang rekan laki-laki yang notabene tak kenal terlalu dekat. Membuat semuanya terasa membingungkan, hampa dan sepi. Menghadirkan kilasan rindu akan kenangan ramadhan yang hangat, saat berkumpul dengan keluarga. Duh sang melankolis sedang home sick..

Tok.. tok.. Tiba-tiba ketukan di pintu menyadarkan lamunanku. 

Ah.. siapa sore-sore senja menjelang magrib begini ke rumah. Bukankah di kota ini Aku belum kenal banyak orang. Mungkinkah pekerja proyek di taman depan yang sedang merapihkan taman, atau siapa ya? Sambil terus menebak-nebak Ku hampiri pintu perlahan

"Nak.. ini ada kolak sedikit buat buka puasa.." Kata Seorang Ibu separuh baya, setelah pintu terbuka.

"Eh.. iya Bu.." Jawabku kebingungan, ini Ibu entah siapa dan darimana datangnya, kok tiba-tiba memberikan kolak, batinku.

"Saya Bu Joko, Bu RT disini.." Bu Joko memperkenalkan diri.

"Kelihatannya kamu tinggal sendiri ya.. Ayo mampir ke rumah Ibu di ujung gang itu ya kapan-kapan.. " Jari Bu Joko menunjuk ke rumah bercat orange di ujung jalan, sambil terseyum ramah dan bersiap meninggalkan rumahku karena sebentar lagi azan akan tiba.

Oh.. ternyata Bu RT di komplek perumahan ini. Aku yang orang baru, memang masih belum banyak kenal orang di sini, masih gagap dengan kehadiran orang lain.

"Baik Bu.. terimakasih ya.." Jawabku sambil membalas senyumannya. Memperhatikannya pergi dan menutup pintu.

Aroma kolak yang manis dan harum pandan menyeruak masuk ke hidung dan mengudara di sekitarku. Hidangan itu terlihat menari-nari cantik dalam mangkuk, berisi pisang, ubi dan pacar cina berpadu dalam warna-warni. Tersaji dengan menggiurkan.

Semerbak sendu menghadirkan bayangan wajah Ibunda di kampung halaman. Sesuatu yang dulu mungkin rasanya biasa saja ketika masih bersama. Kala Ibu membuatkanku kolak sebagai hidangan berbuka puasa dahulu, sebelum aku pindah untuk dinas kerja di luar kota. 

Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Tak terasa, azan magrib pun berkumandang di masjid dekat rumah. Menandakan waktu magrib dan berbuka puasa telah tiba. Selepas membatalkan puasa dengan membaca doa berbuka, meminum segelas air putih dan sebiji kurma. Aku pun tak sabar menikmati hidangan kolak yang tersaji di meja.



Suapan pertama ketika kuahnya meluncur di lidah, entah mengapa menimbulkan rasa yang istimewa. Hmm.. Enak, tak terlalu manis. Ada sensasi menenangkan mulai mengalir dari tenggorokan ke hatiku.

Aliran energi yang sebagian orang bisa rasakan, jika menyantap makanan yang dimasak dengan penuh cinta, suka cita dan keikhlasan. Dan Aku pun menyesapi rasa itu di sana lewat suapan kolak dengan gembira.

Yang Allah izinkan hadir dari seorang Ibu tetangga yang tak ku kenal secara akrab. Meski Aku yang jauh di sebrang pulau. T atas kasih Allah jugalah yang menggerakkan hati Bu RT untuk memberikan semangkuk kolak kepadaku.

Hal yang mungkin terkesan remeh bagi orang lain, namun bagiku yang sedang kesepian di kampung orang. Dan tengah dilanda rindu, semangkuk kolak datang dengan beragam makna.

Aku jadi teringat, di ribuan kilometer nun jauh di sana. Ibuku yang juga sering berbagi makanan ke tetangga sebelah rumah. Bahkan terkadang berbagi makanan ke orang yang tak ia kenal, diantaranya tukang sol sepatu yang pernah tak sengaja berteduh di depan rumah saat hujan. 

Atau Ayah yang sering mentraktir teman-temannya makan siang, terutama di saat tanggal tua, belum gajian. Ah.. ternyata kebaikan itu seperti benih. Balasan serta tunas kebaikan tak selalu datang saat itu juga, namun bisa beberapa tahun kemudian. Meski jauh jaraknya, kebaikan bisa saja sampai. Bahkan serupa tabungan yang mungkin akan di tuai ketika di akhirat kelak, selayaknya investasi jangka panjang.

Saya pun menyaksikan langsung, bahwa kebaikan adalah warisan terbaik dari orang tua pun akan sampai kepada anaknya. Meski dimanapun sang anak berada. Allahumma baarik, Terimakasih Ayah dan Ibu..

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejehatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (pula)." (QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8) #PutriEkaSari, Jan26

 

Profil Penulis:

Nama               : Putri Eka Sari S.T

Profesi            : Penulis

Domisili           : Jakarta

Alamat Pos-el : putri.ekasari@gmail.com

Media Sosial  : putri ekasari (Fanpage Facebook), @putrie_bundapaipia (Instagram)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar