Jumat, 04 September 2026

Antologi 23 : Meluruskan Niat, Menata Ikhlas (Belajar Melepaskan, Alineaku26)

 Meluruskan Niat, Menata Ikhlas

Oleh Putri Eka Sari

Mbak... jangan lupa uangnya, ini saya butuh banget buat lebaran, ga punya uang, jadi tak ada makanan di rumah” Ucap Bang Bokir sambil berkata lirih.

“Nanti saya bawakan sembako dan ketupat kalau begitu bang” Jawabku Iba sambil berusaha memberikan solusi.

“Kalau bisa uang aja Mba, biar anak-anak bisa beli baju lebaran, kasian Mbak kalau teman-temannya pakai baju baru, sementara anak saya ga punya” Bang Bokir merayuku agar memberikan uang sebagai pengganti sembako, menurutnya uang lebih penting dan dibutuhkan saat hari lebaran.

“Bocah pengen juga makan daging rendang ama kue nastar kayak di rumah sodara-sodaranya mba” Lanjutnya lagi.

“Lah kalau uang pinjaman kemarin aja belum lunas hutangnya bang..” Pungkasku, bermaksud agar Bang Bokir tak terlalu banyak hutangnya menumpuk, mungkin Aku bisa memberikan bahan kebutuhan saja untuk keperluan lebaran di rumahnya.

Ingin ku melanjutkan, Bang ga usah dipaksakan, masak rendang ayam aja biar tak terlalu mahal. Tapi kata itu tercekat di tenggorokan dan tak sampai hati terlontar, khawatir nanti disangka menggurui orang yang lebih tua, pikirku.

“Utang mah gampang Mba, Nanti tinggal potong aja kalau saya kerja di rumah mba, hitung aja nanti juga pasti lunas” Celetuknya enteng, seolah itu adalah perkara mudah.

Aku hanya mengelus dada, tak terhitung berapa banyak utang bang Bokir yang sering gali lobang tutup lobang dariku atau tetangga lain.

“Siap..” Ujarku mengiyakan, malas untuk mendebatnya.

Dalam hati hanya bergumam, yang penting jangan dibeliin rokok aja ini. Bukan karena Aku tak ikhlas meminjamkan. Bukan pula karena berburuk sangka pada Bang Bokir. Namun sudah menjadi rahasia umum antara tetangga, tentang kebiasaan Bang Bokir yang seorang perokok berat.

Ia yang memiliki pekerjaan serabutan di lingkungan rumah kami, paling senang diberikan upah dalam bentuk uang dan rokok. Ketika mengerjakan plafon rumah Ibu pun, Ia lebih memilih diberikan uang untuk rokok daripada kami berikan snack atau makan siang. Baginya dengan rokok beban hidup terasa lebih ringan, pikirannya lebih tenang ketika ada rokok di tangan.

Seolah dengan asap rokok yang membumbung keluar dari mulutnya, masalah bisa terbang terbawa angin entah kemana, meringankan beban hidup yang ia pikul. Hingga Ia akan rela menghabiskan berpuluh batang rokok sehari disertaI kopi, namun jarang makan.

Padahal bukankah paling baik jika uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan pokok keluarga atau ditabung untuk masa depan anak-anak? Sehingga mereka tak lagi kekurangan financial. Aku beristighfar sambil bertanya-tanya sendiri dalam hati, bukankah yang dibutuhkan tubuh adalah nutrisi dari makanan.

Mengapa malah begitu banyak orang yang memilih memasukkan racun ke dalam tubuh mereka lewat rokok. Hii.. Aku bergidik ngeri akan ratusan pertanyaan yang memenuhi kepala. Begitupula sang Istri bang Bokir, Mpok Siti memiliki sifat yang mirip.

Setali tiga uang dengan sang suami. Ia pun senang berhutang namun untuk membeli barang yang tidak perlu. Entah kredit panci, perabotan rumah, membeli perlengkapan sekolah anak-anak yang begitu lux, dan baju yang rupawan atau sekadar nongkrong di kafe atau berjalan-jalan di mall kala weekend. Baginya itu adalah self reward untuk dirinya yang ikut mencari nafkah pontang panting sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah tetangga.

Rasanya ikut pening kepala, kala ku bertanya keheranan tentang perilakunya yang gemar meminjam padaku atau tetangga lain, saat tagihan kontrakan belum terbayarkan.

“Mpok, bukannya capek kalau punya hutang banyak?”

“Ga Kok mba, malah saya jadi semangat berusaha lebih keras, cari duit buat bayar hutang” Jawabnya lugas.

Hal yang kemudian membentuk karakter anak-anak mereka di kemudian hari. Bahwa hidup enak untuk hari ini, adalah bentuk menikmati rasa syukur. Dengan keyakinan, esok hari pasti Tuhan akan berikan jalan-Nya. Ah, Sungguh Aku tak berani menilai seberapa keras hidup orang lain. Dan bagaimana orang lain mencoba untuk bertahan tetap waras, mencari kompensasi, pengalihan stres ditengah gempuran kesulitan ekonomi serta ujian yang bertubi-tubi.

Tentu prinsip hidup tiap orang berbeda-beda, Aku berusaha menerima tanpa menghakimi. Mungkin hidupku saja yang agak berbeda dengan orang kebanyakan. Sering dicap terlalu sederhana. Hingga nyaris menggunakan suatu barang hingga benar-benar rusak baru membeli.

Tak terbilang dasterku yang itu-itu saja, robek pun siap untuk ditambal sulam. Terlihat begitu kontras di tengah gempuran fashion yang menggoda di mall, medsos, e commerce maupun baju thrifting bermerk terkenal yang banyak ditampilkan para selebgram.

Mungkin Aku terlalu memandang simple sesuatu, hingga berusaha tak ikut arus konsumtif dan hedonis sebagian besar orang. Namun ada masa depan yang sedang ku tata, terutama untuk pendidikan anak-anak yang sedang diperjuangkan.

Mari sibukkan diri tak hanya berpikir tentang hari ini, namun siapkan untuk berinvestasi, memikirkan atau menata masa depan kala tua dan pensiun kelak. Agar bisa hidup berdikari di atas kaki sendiri dan tak merepotkan anak-anak, bertekad sehat serta mapan secara financial, slow living tanpa terlibat hutang yang membebani.

Kisah di atas adalah sebuah refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan ikhlas. Meski beberapa orang di sekeliling menguji kesabaran,dan niat kita dalam membantunya. Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (QS Al Baqarah: 155). PutriEkaSari, Apr26.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar