Meluruskan Niat, Menata Ikhlas
Oleh Putri Eka Sari
“Nanti saya
bawakan sembako dan ketupat kalau begitu bang” Jawabku Iba sambil berusaha
memberikan solusi.
“Kalau bisa uang
aja Mba, biar anak-anak bisa beli baju lebaran, kasian Mbak kalau
teman-temannya pakai baju baru, sementara anak saya ga punya” Bang Bokir
merayuku agar memberikan uang sebagai pengganti sembako, menurutnya uang lebih
penting dan dibutuhkan saat hari lebaran.
“Bocah pengen juga
makan daging rendang ama kue nastar kayak di rumah sodara-sodaranya mba”
Lanjutnya lagi.
“Lah kalau uang
pinjaman kemarin aja belum lunas hutangnya bang..” Pungkasku, bermaksud agar
Bang Bokir tak terlalu banyak hutangnya menumpuk, mungkin Aku bisa memberikan
bahan kebutuhan saja untuk keperluan lebaran di rumahnya.
Ingin ku
melanjutkan, Bang ga usah dipaksakan, masak rendang ayam aja biar tak terlalu
mahal. Tapi kata itu tercekat di tenggorokan dan tak sampai hati terlontar,
khawatir nanti disangka menggurui orang yang lebih tua, pikirku.
“Utang mah gampang
Mba, Nanti tinggal potong aja kalau saya kerja di rumah mba, hitung aja nanti
juga pasti lunas” Celetuknya enteng, seolah itu adalah perkara mudah.
Aku hanya mengelus
dada, tak terhitung berapa banyak utang bang Bokir yang sering gali lobang
tutup lobang dariku atau tetangga lain.
“Siap..” Ujarku
mengiyakan, malas untuk mendebatnya.
Dalam hati hanya
bergumam, yang penting jangan dibeliin rokok aja ini. Bukan karena Aku tak
ikhlas meminjamkan. Bukan pula karena berburuk sangka pada Bang Bokir. Namun
sudah menjadi rahasia umum antara tetangga, tentang kebiasaan Bang Bokir yang
seorang perokok berat.
Ia yang memiliki
pekerjaan serabutan di lingkungan rumah kami, paling senang diberikan upah
dalam bentuk uang dan rokok. Ketika mengerjakan plafon rumah Ibu pun, Ia lebih
memilih diberikan uang untuk rokok daripada kami berikan snack atau makan
siang. Baginya dengan rokok beban hidup terasa lebih ringan, pikirannya lebih
tenang ketika ada rokok di tangan.
Seolah dengan asap
rokok yang membumbung keluar dari mulutnya, masalah bisa terbang terbawa angin
entah kemana, meringankan beban hidup yang ia pikul. Hingga Ia akan rela
menghabiskan berpuluh batang rokok sehari disertaI kopi, namun jarang makan.
Padahal bukankah
paling baik jika uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan pokok keluarga
atau ditabung untuk masa depan anak-anak? Sehingga mereka tak lagi kekurangan
financial. Aku beristighfar sambil bertanya-tanya sendiri dalam hati, bukankah yang
dibutuhkan tubuh adalah nutrisi dari makanan.
Mengapa malah
begitu banyak orang yang memilih memasukkan racun ke dalam tubuh mereka lewat
rokok. Hii.. Aku bergidik ngeri akan ratusan pertanyaan yang memenuhi kepala.
Begitupula sang Istri bang Bokir, Mpok Siti memiliki sifat yang mirip.
Setali tiga uang
dengan sang suami. Ia pun senang berhutang namun untuk membeli barang yang
tidak perlu. Entah kredit panci, perabotan rumah, membeli perlengkapan sekolah
anak-anak yang begitu lux, dan baju yang rupawan atau sekadar nongkrong di kafe
atau berjalan-jalan di mall kala weekend. Baginya itu adalah self reward untuk
dirinya yang ikut mencari nafkah pontang panting sebagai buruh cuci dari rumah
ke rumah tetangga.
Rasanya ikut
pening kepala, kala ku bertanya keheranan tentang perilakunya yang gemar
meminjam padaku atau tetangga lain, saat tagihan kontrakan belum terbayarkan.
“Mpok, bukannya
capek kalau punya hutang banyak?”
“Ga Kok mba, malah
saya jadi semangat berusaha lebih keras, cari duit buat bayar hutang” Jawabnya
lugas.
Tentu prinsip
hidup tiap orang berbeda-beda, Aku berusaha menerima tanpa menghakimi. Mungkin
hidupku saja yang agak berbeda dengan orang kebanyakan. Sering dicap terlalu
sederhana. Hingga nyaris menggunakan suatu barang hingga benar-benar rusak baru
membeli.
Tak terbilang
dasterku yang itu-itu saja, robek pun siap untuk ditambal sulam. Terlihat
begitu kontras di tengah gempuran fashion yang menggoda di mall, medsos, e
commerce maupun baju thrifting bermerk terkenal yang banyak ditampilkan para
selebgram.
Mungkin Aku
terlalu memandang simple sesuatu, hingga berusaha tak ikut arus konsumtif dan
hedonis sebagian besar orang. Namun ada masa depan yang sedang ku tata,
terutama untuk pendidikan anak-anak yang sedang diperjuangkan.
Mari sibukkan diri
tak hanya berpikir tentang hari ini, namun siapkan untuk berinvestasi,
memikirkan atau menata masa depan kala tua dan pensiun kelak. Agar bisa hidup
berdikari di atas kaki sendiri dan tak merepotkan anak-anak, bertekad sehat
serta mapan secara financial, slow living tanpa terlibat hutang yang membebani.
Kisah di atas adalah sebuah refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan ikhlas. Meski beberapa orang di sekeliling menguji kesabaran,dan niat kita dalam membantunya. Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (QS Al Baqarah: 155). PutriEkaSari, Apr26.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar