Jumat, 23 Oktober 2026

Buku Antologi 27 : Secangkir kopi, berjuta rasa - Meja sudut kedai (Alineaku - Okt26)

 Secangkir kopi, berjuta rasa

Putri Eka Sari

Aku terpana memandang ramainya orang berlalu-lalang dari balik kaca Hoshino café, salah satu  café di sisi sungai Dotonbori, Osaka-Jepang. Sambil menyeruput kopi latte hangat yang tersaji di meja. Dalam tiap tegukan, ada rasa syukur yang menyeruak dalam dada.

Alhamdulillah Aku bisa sampai juga di Jepang- Negeri Sakura, bisikku dalam hati. Tak terbayangkan dulu hanya melihat anime, kartun saja di TV. Kini raga bisa berwisata di Negeri Doraemon ini.

Sesi me time ini terasa semakin menyenangkan, karena tanpa deadline kerjaan kantor. Netraku pun kembali mengitari sekeliling, mengamati para pelancong yang mengobrol. Bersisian dengan rombongan parade musik yang melintas membelah Kanal Dotonbori, salah satu Sungai hits di Jepang ini. Orkestra musik dengan perahu yang melintasi Sungai seperti ini mirip seperti layaknya di Venice-Italia.

Di antara kopi dan gemerlap Dotonbori, tak hentinya syukur menggema dalam hati. Daerah ini memang sangat terkenal sebagai pusat hiburan dan surganya kuliner dan tempat belanja.

Jadi tak heran jika wilayah ini ramai hampir 24jam. Terutama malam hari, pusat kehidupan malam begitu gemerlap oleh cahaya lampu neon yang terang dari berbagai papan reklame 3D yang ikonik dan sorot lampu dari Gedung sekitar, menambah semarak.

Sebelumnya Aku pun salah satu orang yang ikut mengantri diantara banyaknya orang Indonesia yang ingin berkeliling dan berswafoto dengan latar papan iklan Glico-Running Man, salah satu billboard legendaris. Kabarnya belum Sah ke Osaka, jika belum mengabadikan foto di sana.

Di Seberang café, Ku lihat beberapa orang turis asyik menonton spiderman jalanan yang berakrobat di atas sepeda, layaknya pengamen jalanan. Wah.. Hal yang juga sering ku lihat di sudut lampu merah Jakarta ternyata ada juga di Jepang lho. Namun tampaknya di Jepang belum ku lihat manusia silver, Hahaha.

Di tengah asyiknya melihat keramaian, panggilan alam pun menuntunku ke WC. Sepertinya kombinasi udara dingin dan kopi membuatku ingin buang air kecil alias beser.

Duk.. Aduh..

“Sumimasen..” Seorang pemuda menabrakku yang tak memperhatikan Langkah saat terburu-buru.

Sambil mengatupkan tangan di dada, Aku membalas dengan senyuman. Rasanya malu sekali, karena mataku tak memperhatikan orang yang lewat dan tak sengaja menabraknya.

Namun lucunya, orang Jepang memang terkenal sangat sopan. Hingga tak jarang mereka meminta maaf duluan, meskipun orang lain, dalam hal ini Aku yang melakukan kesalahan.   

Sebenarnya, tak terhitung berapa kali Aku yang terantuk, tersandung tangga, lutut kejedot meja saat makan di restoran Jepang. Pengelihatanku yang tak awas menyebabkan terkadang diri tak bisa memperkirakan jarak dengan tepat, maka tak jarang ada saja bagian tubuh yang sering benjol, tersandung, memar atau luka karena sering tersenggol benda-benda di sekitar.

Di awal saat penglihatanku bermasalah, sempat anxiety, galau. Bahkan depresi melanda dalam jiwa, membayangkan masa depan yang sepertinya terasa suram dan tidak baik-baik saja,

Namun setelah 17 tahun lebih, Aku mulai berdamai, bahkan bersahabat dengan penyakit Glaukoma ini. Nampaknya keresahanku dahulu tentang penyakit yang menyebabkan kerusakan saraf pada mata ini hanya kekhawatiran semata. Karena nyatanya Aku juga bisa berdikari, mandiri dan menyelesaikan segala permasalahan tentang kekurangan di mataku, dan sadar bahwa benar adanya.

Tuhan memberi cobaan karena Ia Maha mengetahui, bahwa Aku mampu. Bisa melewati setiap proses dalam kehidupan ini dengan baik. Namun Aku malah yang sering meragukan diri sendiri.

Sambil meneruskan tegukan kopi latte dan mencicipi roti panggang, aku merenung Kembali tentang jalan hidup yang telah Allah gariskan. Berkaca dan berintrospkesi ke dalam diri, sudah sejauh mana perjalanan hidup yang ku tempuh kini. Adakah pelajaran yang bisa kupetik?

Seketika Aku tersadar, bahwa waktu begitu berharga. Setiap penglihatan yang ku miliki adalah kesempatan untuk melihat dunia, ciptaan Allah yang indah.

Hidup harus dinikmati dan disyukuri, tak patut untuk menyiakan waktu serta kesempatan yang ada. Adalah sebuah anugerah, karunia yang harus diisi dengan penuh rasa syukur dan menjadi manfaat untuk orang lain di sekitar. Apalagi jika diberikan hadiah dari Allah seperti kali ini di Jepang. Untuk beribadah dengan berjalan-jalan di muka bumi Allah yang luas.

Ku percaya bahwa di balik kesulitanku pasti ada kemudahan. Sesuai dengan janji Allah dalam QS Al Insyirah ayat 5.

Dengan kesulitan, kekurangan yang Ku miliki, Allah berikan kemudahan lain dalam hidupku. Mengunjungi beberapa Negara Impian yang ada dalam bucket listku menjadi sebuah kenyataan dan bukan sebuah kemustahilan.

Kesadaran ini menghapus berbagai pikiran negative yang kerap singgah. Membuatku menata hati kembali, sehingga semakin berbaik sangka terhadup Rabb ku. Law of attaction (hukum tarik menarik) tentu akan bekerja kepada semesta di sekitar kita.

 Sambil menyesap aroma kopi yang menguar di udara, pikiranku Kembali melayang. Rasa manis kopi mempresentasikan bayangan diriku yang memiliki kekurangan ini pun ternyata bisa menjelajah tak hanya di dalam Negeri. Tapi Allah izinkan untuk berkelana ke luar Negeri seperti Jepang, Arab Saudi (Mekah-Madinah), Singapura dan Korea.

Dengan segala keterbatasan yang kupunya, ternyata tak ada yang mustahil bagi Allah. Kun Fayakun, Jika Allah berkehendak maka terjadilah.

Aku yang awalnya dahulu merasa begitu lemah, tak berdaya karena kurangnya financial, memiliki kekurangan pada mata. Namun dimampukan oleh Allah yang Maha Hebat.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi teman-teman lain, bahwa jangan takut bermimpi, berdoa dan meletakkan keyakinan pada Allah yang Maha Besar. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya

-Putri Eka Sari, Sept26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar